Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sebenarnya Jatisangkar memang dikenal agak pemalas dan penakut. Namun Ki Baraya tidak pernah benar-benar mempersoalkannya. Ia teringat masa kecilnya sendiri—ia pun dulu pengecut dan enggan berlatih. Baginya, keberanian dan kepandaian silat adalah perkara proses, bukan bawaan lahir.
“Tapi, Yah… bagaimana dengan bocah siluman itu? Dia memang pernah menyelamatkanku. Tapi aku melihat sendiri waktu dia menghabisi buaya. Perawakannya berubah seperti siluman. Menyeramkan…” jelas Jatisangkar dengan suara pelan.
Ki Baraya menghela napas panjang.
“Itulah yang akan Ayah pastikan. Yang Ayah rasakan memang ada hawa siluman padanya. Namun seberapa besar pengaruh hawa itu dalam dirinya—itulah yang ingin Ayah ketahui. Kalau hati manusianya mampu mengatasi hawa itu, menurut Ayah tak menjadi soal. Tapi Ayah belum sepenuhnya yakin. Ayah harus tahu asal-usulnya. Sayang, dia belum bisa bicara dengan jelas.”
“Bagaimana cara Ayah mengetahui apakah hati manusianya mampu menguasai hawa silumannya?” tanya Jatisangkar penasaran.
Ki Baraya tersenyum tipis. Ada kilat keyakinan di matanya.
“Oh, Ayah ahlinya. Kita akan lihat malam ini. Bagaimana reaksi Braja terhadap ramuan yang sudah Ayah siapkan. Kalau dia benar-benar siluman… maka wujud aslinya akan tampak.”
“Apakah Ayah akan memberinya minuman?”
“Ya. Tepat sekali. Sekarang ayo keluar. Kita makan di ruang makan. Ajak Laras dan Braja masuk.”
“Baik, Yah.”
Jatisangkar pun beranjak keluar memanggil adik dan bocah berkulit kehijauan itu. Sementara itu, Ki Baraya berjalan lebih dahulu menuju ruang makan. Lampu minyak di atas meja telah dinyalakan. Cahayanya berpendar redup, memantulkan bayangan panjang di dinding bambu.
Dari balik lipatan bajunya, Ki Baraya mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi serbuk halus berwarna keabu-abuan. Bau ramuan itu samar, hampir tak tercium. Dengan gerakan tenang dan terlatih, ia menaburkan serbuk itu ke dalam cangkir yang telah disiapkan untuk Braja. Ia lalu menuangkan air hangat hingga serbuk itu larut tanpa meninggalkan jejak.
Tak ada perubahan warna.
Tak ada aroma mencurigakan.
Namun di dalam hati Ki Baraya, gelombang pertanyaan bergemuruh.
Apakah yang akan terungkap malam ini?
Apakah bocah itu benar manusia… atau sesuatu yang lain?
Tak lama kemudian, Laras dan Jatisangkar masuk bersama Braja. Nyi Lestari telah duduk lebih dulu di meja makan. Suasana tampak biasa saja, seolah tak ada rencana tersembunyi di balik hidangan malam itu.
Braja duduk kaku di kursinya. Matanya memperhatikan nasi putih yang mengepul dan lauk-pauk yang tersaji di atas meja. Ia tampak bingung. Selama ini ia terbiasa memakan buah-buahan hutan atau daging mentah hasil buruannya. Nasi dan sayur matang adalah sesuatu yang asing baginya.
Laras yang duduk di sampingnya tersenyum sabar. Ia mengambil sendok, memperagakan cara menyendok nasi, mencampurnya dengan lauk, lalu menyuapkannya ke mulut.
“Begini, Kang Braja,” ucapnya lembut.
Braja meniru dengan gerakan canggung. Jemarinya sempat salah memegang sendok. Nasi tumpah di tepi piring. Lauk tercecer di meja. Cara makannya kaku, seolah sedang mempelajari sesuatu yang benar-benar baru.
Melihat itu, Nyi Lestari tersenyum kecil. Bahkan Ki Baraya yang biasanya serius pun tak kuasa menahan senyum tipis. Jatisangkar ikut terkekeh pelan.
Pemandangan itu terasa ganjil, namun hangat.
Setelah beberapa suapan, Braja mulai terbiasa. Meski masih berantakan, setidaknya ia sudah bisa mengikuti cara makan mereka.
Selesai makan, Laras kembali membimbingnya.
“Minumnya pelan-pelan,” katanya sambil mengangkat cangkir.
Braja meniru. Ia mengangkat cangkir yang telah disiapkan untuknya—cangkir yang telah dicampuri ramuan oleh Ki Baraya.
Ki Baraya dan Jatisangkar saling berpandangan sekilas. Jantung mereka berdebar lebih cepat. Wajah keduanya tetap tenang, berpura-pura larut dalam percakapan ringan tentang ladang dan cuaca.
Braja meneguk isi cangkir itu perlahan.
Hening sesaat.
Ki Baraya memperhatikan setiap gerak tubuhnya. Matanya tajam, seolah tak ingin melewatkan perubahan sekecil apa pun—warna kulit, sorot mata, napas, bahkan bayangan di dinding.
Mereka terus berbincang seperti biasa. Nyi Lestari tak mengetahui apa yang sebenarnya tengah diuji malam itu. Laras pun hanya tersenyum, sesekali berbicara pada Braja yang membalas dengan anggukan dan senyum polos.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
Lima menit.
Tak ada perubahan.
Kulit Braja tetap kehijauan seperti sediakala. Matanya tetap jernih. Tubuhnya tidak mengeluarkan hawa ganjil yang meningkat. Bahkan ia terlihat lebih tenang daripada biasanya.
Ki Baraya menarik napas dalam-dalam, perlahan melepaskannya.
Ramuan itu adalah campuran khusus—biasanya cukup untuk memaksa makhluk jelmaan memperlihatkan wujud aslinya, atau setidaknya membuat hawa silumannya memberontak.
Namun pada diri Braja… tak terjadi apa-apa.
Di dalam hatinya, Ki Baraya mulai sampai pada satu kesimpulan.
Bocah itu memang memiliki hawa siluman. Itu tak dapat disangkal.
Namun hawa itu tidak menguasainya.
Yang menguasai adalah hatinya.
Dan hati itu… masih hati manusia.
Malam makin larut. Angin berembus pelan menyusup di sela-sela dinding bambu. Lampu minyak bergoyang kecil tertiup udara.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara seperti bilah-bilah bambu yang saling beradu.
“Trak… tak… tak… tak…”
Bunyinya teratur, namun samar. Seperti berasal dari rumpun bambu di pinggir pesawahan.
Tak seorang pun di ruang itu merasa terganggu. Ki Baraya hanya mengangkat kepala sebentar.
“Ah, mungkin bambu saling beradu tertiup angin,” gumamnya.
Nyi Lestari pun tak menaruh curiga. Malam di desa memang akrab dengan bunyi-bunyian aneh.
Namun berbeda dengan Braja.
Tubuhnya yang semula tenang mendadak menegang. Matanya menatap ke arah luar rumah. Suara itu bukan sekadar bunyi bambu baginya.
Itu panggilan.
“Agh… aghh… agh…” suara Braja terdengar lirih, hampir seperti balasan.
Laras yang duduk di dekatnya menoleh cemas. “Kau kenapa, Braja?”
Braja memandang Laras sesaat. Senyumnya tipis, seolah menenangkan. Tanpa sepatah kata pun, ia berdiri.
Suara bambu itu kembali terdengar.
“Trak… tak… tak…”
Dalam sekejap, Braja berlari keluar rumah. Gerakannya ringan dan cepat. Ia melompat ke tiang pendapa, lalu meloncat lagi ke dahan pohon di halaman. Tubuh kecilnya bergerak lincah dari satu cabang ke cabang lain.
Dalam beberapa detik saja, ia telah menyatu dengan gelapnya pepohonan dan menghilang dari pandangan.
“Brajaaa…!!” teriak Laras panik, lalu berlari hendak mengejar.
Namun Ki Baraya segera menahan lengannya.
“Laras. Biarkanlah,” ucapnya tenang meski sorot matanya tajam memperhatikan arah hilangnya bocah itu. “Kurasa ia pun punya tempat untuk kembali. Mungkin itu rumahnya… atau sesuatu yang memanggilnya.”
“Tapi, Yah…”
“Kau akan bertemu lagi dengannya,” lanjut Ki Baraya pelan. “Tak semua yang datang harus kita ikat agar tinggal. Kadang mereka hanya singgah.”
Laras terdiam, matanya masih menatap gelapnya pepohonan.
Di kejauhan, suara bambu itu terdengar sekali lagi—lebih pelan, lalu lenyap bersama malam.
Dan Ki Baraya tahu, malam itu bukan sekadar angin yang memanggil.