Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara
Kampus yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu kini berubah menjadi neraka bagi Kaylee. Fitnah yang disebarkan Angel dan komplotannya merayap seperti racun di koridor-koridor arsitektur.
Saat Kaylee berjalan menuju ruang dosen untuk mengambil hasil sidang tugas akhirnya, bisik-bisik itu terdengar semakin kencang.
"Pantas saja Atlas langsung nikah di Italia. Ternyata pacar mafianya itu sudah hamil duluan," celetuk seorang mahasiswa saat Kaylee lewat.
"Iya, denger-denger mereka sudah selingkuh lama. Atlas cuma jadiin Kaylee pelarian selama di sini. Kasihan ya, sudah diserahkan segalanya, malah ditinggal nikah sama yang lebih kaya," sahut yang lain dengan nada mengejek.
Angel, yang duduk di tengah kerumunan itu, tampak sangat menikmati momentum ini. Ia sengaja berbicara cukup keras agar Kaylee mendengarnya.
"Aduh, kalian jangan gitu. Mungkin Atlas memang butuh wanita kelas atas untuk masa depannya. Lagian, siapa yang mau bertahan sama cewek yang cuma modal masa kecil tapi nggak punya power apa-apa?" Angel tertawa sinis, matanya melirik tajam ke arah Kaylee. "Kay, mending kamu sadar diri deh. Atlas itu bahagia di sana, dia sebentar lagi jadi Papa dari anak bangsawan Italia. Jangan ngarep dia bakal balik."
Kaylee berhenti melangkah. Jantungnya berdenyut nyeri, namun kali ini ia tidak menangis di depan mereka. Ia menarik napas dalam, tangannya secara insting mengusap perutnya yang ia tutupi dengan oversized blazer. Di dalam sana, ada kebenaran yang tidak diketahui oleh siapa pun: Mini Atlas yang asli sedang bertumbuh.
Kaylee menoleh ke arah Angel dengan tatapan yang jauh lebih dewasa dan tenang. "Rumor tetaplah rumor, Angel. Dan sampah tetaplah sampah, di mana pun tempatnya, termasuk di mulutmu."
Tanpa menunggu balasan, Kaylee masuk ke ruang dosen. Ia tidak peduli pada fitnah itu. Yang ia pedulikan hanyalah pesan suara Atlas: "Wanita gila ini tidak akan pernah menyentuh jiwaku."
Di dalam ruangan, Dosen Pembimbing Atlas dan Kaylee menatap Kaylee dengan rasa bangga sekaligus prihatin.
"Kaylee, ini hasil sidang tugas akhirmu. Kamu lulus dengan nilai tertinggi di angkatanmu," ujar sang dosen sambil menyerahkan berkas. "Dan untuk Atlas... meskipun dia tidak ada di sini, tim penguji sudah memutuskan. Karya arsitekturnya tentang Rumah Masa Depan adalah yang terbaik. Dia lulus dengan predikat Cum Laude."
Kaylee menerima berkas itu dengan tangan gemetar. Ia melihat sketsa gedung yang dibuat Atlas. Di pojok kanan bawah sketsa itu, ada simbol kecil berbentuk bunga lili, bunga favorit Kaylee, yang disamarkan dalam desain pilar.
"Dia mendesain ini untukku," bisik Kaylee dalam hati.
Beberapa hari lagi adalah hari kelulusan. Kaylee tahu, ia harus berdiri di atas panggung itu sendirian tanpa Atlas di sampingnya. Ia akan memakai toga, menyembunyikan kehamilannya yang mulai memasuki bulan ketiga, dan mengambil ijazah untuk dirinya dan untuk pria yang sedang berjuang di Italia.
Kaylee keluar dari ruang dosen dengan kepala tegak. Ia tidak akan membiarkan fitnah Angel menghancurkan hari bahagianya.
"At, beberapa hari lagi kita wisuda. Aku akan ambil ijazah kita berdua. Aku harap, di mana pun kamu berada sekarang, kamu bisa ngerasain kalau anak kita bangga punya Papa sepertimu," batin Kaylee.
Dunia seolah berkonspirasi untuk menguji ketabahan Kaylee. Di saat ia mempersiapkan diri untuk wisuda, layar televisi dan portal berita internasional terus-menerus memborbardir dengan potret "pasangan paling berpengaruh tahun ini".
Bianca Valerius bukan hanya ingin menyembunyikan jati dirinya, ia ingin membangun narasi bahwa ia telah berhasil menaklukkan seorang jenius seperti Atlas Theodore.
Di Milan, sebuah pesta amal mewah diadakan. Atlas berdiri di tengah kerumunan bangsawan dan pengusaha kelas atas. Ia mengenakan setelan tuksedo emerald green yang sangat kontras dengan gaun emas Bianca.
Setiap kali lampu kilat kamera menyambar, Bianca akan melakukan aksinya. Ia merangkul lengan Atlas dengan posesif, menyandarkan kepalanya di bahu Atlas, atau bahkan menyentuh dada Atlas sambil membisikkan sesuatu yang terlihat seperti rayuan mesra, padahal sebenarnya ia hanya sedang memberikan instruksi teknis tentang siapa yang harus Atlas sapa.
Atlas, yang kini mahir bersandiwara, akan membalas dengan senyuman tipis dan tatapan yang terlihat dalam. Bagi orang awam, itu adalah tatapan cinta. Namun bagi Kaylee yang ribuan kali menatap mata itu, ia tahu Atlas sedang menatap kosong, seolah jiwanya sedang melakukan perjalanan ke belahan dunia lain.
Foto-foto kemesraan itu sampai ke Helsinki tepat sehari sebelum wisuda. Angel dengan sengaja mencetak salah satu foto di mana Bianca sedang mencium pipi Atlas dan menempelkannya di papan pengumuman kampus.
"Tuh liat, mesra banget kan? Katanya terpaksa, tapi kok mukanya Atlas menikmati banget ya?" celetuk salah satu antek Angel saat Kaylee lewat.
"Iya, liat deh tangan Atlas di pinggang Bianca. Itu sih bukan akting, itu mah emang doyan," sahut yang lain sambil tertawa.
Kaylee berhenti di depan foto itu. Dadanya terasa sesak, seolah oksigen di sekitarnya menghilang. Ia melihat tangan Atlas yang melingkar di pinggang Bianca. Ia melihat bagaimana dunia memuji mereka sebagai couple goals.
Kaylee merasakan perutnya sedikit berkedut, mungkin hanya kram ringan, atau mungkin si kecil di dalam sana sedang bereaksi terhadap kegelisahan ibunya.
"Jangan dengerin mereka, Nak," bisik Kaylee sangat pelan sambil mengelus perutnya di balik jaket. "Papa cuma lagi main peran di panggung yang sangat besar."
Kaylee kemudian mengeluarkan ponselnya, membuka folder tersembunyi berisi foto mirror selfie mereka di kamar setiap malam, foto yang asli, tanpa kilatan media, tanpa kepura-puraan. Ia membandingkan mata Atlas di foto itu dengan mata Atlas di majalah.
Berbeda. Mata Atlas di majalah itu mati. Sedangkan mata Atlas saat bersamanya... hidup.
"Besok aku akan lulus, At. Dan aku akan tunjukkan pada mereka semua kalau aku nggak hancur karena foto-foto sampah ini," tegas Kaylee dalam hati. Ia berbalik dan meninggalkan mading itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, meninggalkan Angel yang kesal karena tidak mendapatkan reaksi histeris yang ia harapkan.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍