NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Notifikasi dari Liang Lahat

​Langit di atas TPU Jeruk Purut seolah ikut berkabung, namun dengan cara yang mencekam. Mendung menggantung rendah, berwarna abu-abu pekat seperti layar televisi rusak. Maya berdiri di barisan paling depan, meremas sapu tangan hingga kuku-kuku jarinya memutih. Di hadapannya, peti mati kayu jati yang mahal permintaan terakhir ibu Vanya yang masih histeris perlahan diturunkan ke dalam liang lahat yang lembap.

​Suara gesekan tali tambang dengan pinggiran peti kayu itu menciptakan bunyi ngit-ngit yang menyayat hati, beradu dengan isak tangis pelan para pelayat yang mayoritas adalah sesama influencer. Namun, Maya tahu, sebagian besar dari mereka yang hadir di sini lebih sibuk memastikan sudut kamera ponsel mereka tepat untuk mengambil foto "berduka" demi konten feed daripada mendoakan arwah sahabatnya.

​"Tanah... tolong tanahnya," instruksi sang penggali kubur memecah lamunan Maya.

​Baru saja Maya hendak mengambil segenggam tanah, sebuah getaran kuat muncul dari saku blusnya. Getaran itu tidak berhenti. Beruntun. Bzzzt... bzzzt... bzzzt...

​Maya mencoba mengabaikannya, namun rasa penasaran yang dibalut ketakutan membuatnya merogoh saku. Layar ponselnya menyala, membiaskan cahaya biru pucat di tengah remang sore. Jantung Maya seolah berhenti berdetak saat membaca notifikasi yang muncul di barisan paling atas:

​[T*kTok] @Vanya_Eternal is inviting you to watch her LIVE!

​Darah Maya terasa surut ke ujung kaki. Napasnya tercekat di tenggorokan. Mustahil, pikirnya. Ponsel Vanya saat ini berada di kantor polisi sebagai barang bukti penyelidikan atas kasus kematiannya yang dianggap "kecelakaan akibat gangguan psikis". Akun itu seharusnya sudah dinonaktifkan atau setidaknya tidak bisa diakses siapa pun.

​Dengan tangan gemetar, Maya menyentuh notifikasi itu. Layar beralih ke aplikasi.

​Hitam. Awalnya hanya layar hitam dengan angka penonton yang melonjak gila-gilaan: 2k, 5k, 12k... netizen yang haus darah dan sensasi langsung berkumpul seperti lalat mengerumuni bangkai. Kolom komentar bergerak sangat cepat hingga sulit dibaca.

​"Vanya hidup lagi?!"

"Ini prank kan?"

"Woy, dia kan lagi dikubur sekarang!"

​Maya menatap peti mati yang kini sudah separuh tertutup tanah di bawah sana. Lalu ia kembali menatap layar. Tiba-tiba, suara statis yang tajam keluar dari speaker ponselnya—suara seperti kaset kusut yang diputar paksa. Layar yang tadinya hitam mulai memperlihatkan visual, namun sangat buram.

​Kamera itu tampak diletakkan di sudut yang sempit. Sangat sempit. Cahayanya hanya berasal dari celah-celah kecil di bagian atas. Maya menyadari sesuatu yang mengerikan: itu adalah sudut pandang dari dalam sebuah kotak kayu.

​Di dalam peti mati.

​Layar ponsel Maya memperlihatkan wajah Vanya. Bukan wajah cantik dengan filter flawless yang biasa ia lihat, melainkan wajah yang sudah kaku, pucat pasi dengan rona kebiruan di sekitar bibir. Mata Vanya masih tertutup rapat, namun tiba-tiba... kelopak mata itu bergetar.

​DEG.

​Di layar ponsel, mata Vanya terbuka lebar. Bola matanya putih seluruhnya, tanpa pupil. Ia tidak melihat ke arah kamera, melainkan menatap kosong ke langit-langit peti yang gelap. Suara bisikan mulai terdengar, sangat halus namun jelas di telinga Maya seolah Vanya berbisik tepat di samping lehernya:

​"Maya... dingin..."

​Maya hampir menjatuhkan ponselnya ke dalam lubang kubur. Ia menoleh ke sekeliling dengan panik. Tak ada satu pun pelayat lain yang menyadari hal ini. Mereka masih terpaku pada prosesi penguburan, atau sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya Maya yang terhubung dengan frekuensi terkutuk ini.

​Tiba-tiba, di layar ponsel, tangan Vanya yang kaku mulai bergerak ke arah kamera. Kuku-kukunya yang dicat merah marun tampak patah dan berdarah, seolah ia baru saja mencakar sesuatu dengan liar. Tangan itu mendekat, semakin dekat, hingga seolah-olah akan menembus kaca layar ponsel Maya.

​Lalu, sebuah notifikasi baru muncul tepat di tengah siaran langsung tersebut. Sebuah kotak merah menyala yang berkedip-kedip, menutupi wajah mayat Vanya.

​[SYSTEM]: @Vanya_Eternal has invited @Maya_Pratama to a PK MAUT!

Remaining time to accept: 00:59... 00:58...

​"Tidak... tidak mungkin," gumam Maya dengan bibir bergetar.

​Ia mencoba menekan tombol 'Decline' atau menolak, namun tombol itu tidak bisa ditekan. Sebaliknya, setiap kali jarinya mendekati layar, ponsel itu justru mengeluarkan aliran listrik statis yang menyengat ujung jarinya.

​Bersamaan dengan itu, dari dalam liang lahat yang sedang diurug tanah, terdengar suara ketukan pelan. Tok... tok... tok...

​Bukan suara cangkul yang menghantam tanah, tapi suara dari dalam peti. Maya menunduk, menatap gundukan tanah yang terus bertambah. Suara ketukan itu semakin keras, berirama dengan hitungan mundur di layar ponselnya.

​00:30... 00:29...

​"Vanya?" bisik Maya dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.

​Tiba-tiba, sebuah tangan pucat dengan kuku merah marun yang rusak mencuat keluar dari sela-sela tanah kuburan yang masih basah. Tangan itu menggapai udara, bergerak-gerak liar tepat di depan sepatu hitam Maya. Semua orang berteriak histeris, lari berhamburan. Suasana pemakaman berubah menjadi medan kekacauan dalam sekejap.

​Di tengah kepanikan itu, ponsel Maya bergetar untuk terakhir kalinya sebelum layar berubah menjadi merah darah.

​[SYSTEM]: NO RESPONSE. AUTO-ACCEPTING CHALLENGE.

PK START! GOAL: 1.000.000 POINTS OR DIE.

​Maya berdiri terpaku di tepi lubang kubur yang menganga, sementara dari dalam tanah, suara tawa Vanya yang melengking keluar dari speaker ponselnya, membaur dengan suara guntur yang akhirnya pecah menyambar bumi. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada tombol log out.

1
Hunk
Ku kira Physicopat ternyata hantu. Gue baca malem lagi🤣🤣👍
Panda
wakakaka gue tuh Uda baca ini

cukup seru sih terlihat menjanjikan
APRILAH
mantap, satu mawar meluncur thor
APRILAH
Mulai baca Thor 🙏
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!