NovelToon NovelToon
Satu Wajah Dua Kehidupan

Satu Wajah Dua Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Penalaran di Tempat Kejadian

Lin Dongxue mengernyit dan menahan napasnya yang sempat tercekat. “Hei, kenapa kita masuk? Seharusnya kita menunggu tim forensik datang untuk mengambil sampel dan sidik jari dulu! Kalau kita mengacaukan TKP, kakakku pasti akan menghukumku!”

Chen Shi menjawab dengan suara tenang namun tegas, “Kalau ternyata masih ada orang hidup di dalam?”

Ucapan itu membuat Lin Dongxue terdiam sesaat. Mau tidak mau ia mengakui logikanya masuk akal. “Baiklah… yang kamu katakan benar juga.” Ia menarik napas panjang sebelum melangkah lebih jauh ke dalam rumah, merinding melihat cipratan darah hitam kemerahan di lantai seperti percikan tinta yang berantakan.

Perabot di rumah itu tidak banyak yang terganggu. Posisi kursi, meja, hiasan dinding—semuanya relatif tersusun rapi. Ini tanda bahwa pelaku bergerak cepat, efisien, dan tidak banyak memberi perlawanan bagi korbannya. Dengan kata lain, pembunuhan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Keduanya mendekati sofa ruang tamu. Di balik sandaran sofa, seorang perempuan usia lebih dari tiga puluh tahun tergeletak dalam pakaian rumah. Bagian kepalanya sudah tidak lagi menyerupai bentuk kepala manusia; seolah-olah hancur seperti bubur darah.

Chen Shi hendak memeriksa nadi korban, namun Lin Dongxue mencegahnya cepat-cepat. “Tunggu! Jangan sentuh dengan tangan kosong, kamu bisa meninggalkan sidik jari.”

Chen Shi mengeluarkan ponsel dari saku, menyalakan layarnya, lalu menempatkannya di bawah hidung korban. Mereka menunggu beberapa detik. Tidak ada embun atau tanda pernapasan. Chen Shi mengangguk pelan. “Dia sudah meninggal.”

Keduanya lalu bergerak ke kamar berikutnya. Begitu masuk, Lin Dongxue langsung merasakan hawa ruangan berbeda—dekornya kuno, didominasi kayu jati tua. Ada kursi goyang rotan, meja kecil yang tampak antik, serta foto-foto lama di dinding. Ini jelas kamar seorang lansia.

Di lantai kamar itu, seorang nenek berusia lanjut terbaring dengan kondisi mengenaskan. Lehernya sobek besar, seolah-olah digigit makhluk buas. Darah yang mengalir membentuk genangan gelap di atas lantai kayu.

Chen Shi menyapu pandangan ke seluruh ruangan dan menemukan sebilah pisau dapur besar—sejenis golok—tergeletak begitu saja, penuh darah kering. “Sepertinya ini senjata pembunuhannya.”

Mereka berpindah ke kamar terakhir. Ini kamar pasangan suami istri pemilik rumah. Foto pernikahan mereka tergantung rapi di atas kepala ranjang. Namun kamar itu kosong; tidak ada mayat.

Chen Shi mendekati meja kecil di samping tempat tidur dan mencium aroma dari semangkuk sup yang masih tersisa. “Sup talas salju dengan biji teratai.” Ia mengangkat kepalanya melihat balkon kecil yang semi-tertutup. Salah satu jendelanya terbuka, angin masuk menerpa tirai tipis. Sebuah bangku kecil berada tepat di bawah jendela.

“Ketika kau meminta tukang kunci membuka pintu tadi… pintunya terkunci dari dalam?” tanya Chen Shi.

“Tidak,” jawab Lin Dongxue.

“Itu berarti anak laki-laki tadi kabur lewat sini. Dia pasti sangat ketakutan. Dia melompat dari balkon ini karena panik.”

Melihat ke bawah, Lin Dongxue menatap taman kecil tempat anak itu jatuh. “Kesian sekali. Mungkin dia terbangun dan mendapati seluruh keluarganya sudah terbunuh. Lalu—”

“Maksudmu, ‘ketika dia terbangun’?” Chen Shi mengernyit.

Lin Dongxue buru-buru mengibaskan tangannya. “Aku hanya bicara asal! Jangan terpaku pada setiap kata-kataku. Lagipula kita harus menunggu forensik menentukan waktu kematian yang tepat.”

Chen Shi berjalan ke dapur. “Mari kita lihat bagian dapur.”

Dapur dan kamar mandi bersebelahan, dipisahkan oleh pintu geser. Di antara kedua ruang itu, mereka menemukan jasad pria—pemilik rumah—tergeletak dengan kepala hancur total. Darah tumpah membentuk pola berantakan seperti hujan deras yang membeku.

Chen Shi membungkuk dan memeriksa dengan seksama. “Senjata yang dipakai untuk membunuh pria ini berbeda dari dua korban sebelumnya.”

Mendadak ia berlari masuk ke dapur dan mengobrak-abrik lemari. Lin Dongxue memprotes, “Hei! Jangan mengacaukan barang! Kakakku sebentar lagi datang—”

“Kalau kakakmu sudah sampai, apa dia akan mengizinkan aku memeriksa?” Chen Shi menjawab cepat tanpa menoleh.

“Kamu tadi bilang takut! Kok sekarang tidak takut?” Lin Dongxue mendesis tak percaya.

Chen Shi tidak menjawab. Ia kembali ke tubuh korban pria dan menyingkap sedikit rambut di kepalanya. “Lihat ini. Ada serpihan putih di rambutnya.”

Lin Dongxue membungkuk dan mengamatinya. “Benar!”

Chen Shi menuju ke kamar mandi. Di lantai keramik yang putih, ada banyak serpihan kecil—serpihan porselen. Ia memandang ke arah toilet dan menemukan tutup toilet hilang. Serpihan-serpihan itu sangat mirip komposisi dan bentuknya.

Lin Dongxue mengernyit, berusaha menggambarkan adegan kejadian di kepalanya. “Mungkin pembunuhnya awalnya bersembunyi di kamar mandi. Lalu ketika pemilik rumah masuk dan melihatnya, ia panik, mengambil tutup toilet, dan memukul kepala korban.”

Chen Shi mengangkat tangan sebagai penanda menahan. “Jangan terburu-buru menyimpulkan. Kita harus verifikasi semua kemungkinan.”

Ia masuk ke kamar mandi, menutup pintu, dan berbicara dari dalam. “Dari luar, apakah kau bisa melihat bayangan tubuhku?”

“Tidak terlihat.”

“Hidupkan lampunya.”

Setelah lampu dinyalakan, siluet Chen Shi tampak samar melalui kaca buram.

“Biasanya sulit dikenali,” kata Lin Dongxue.

“Tapi dari dalam, aku bisa melihatmu.” Chen Shi keluar dan menunjuk jendela dapur. “Karena jendela dapur menghadap timur. Cahaya pagi sangat kuat dan akan menciptakan bayangan jelas pada kaca buram.”

Lin Dongxue tersenyum puas. “Berarti analisis yang tadi kuutarakan benar?”

Chen Shi tertawa kecil. “Dalam penalaran kriminal, tidak ada istilah benar atau salah. Hanya ada ‘masuk akal’ atau ‘tidak masuk akal’.”

“Cih, sulit sekali memuji orang, ya?”

Chen Shi hanya mengangkat alis tanpa menjawab.

Ia kembali ke tubuh pria dan memeriksanya secara lebih menyeluruh: membuka kelopak mata, menekan otot-otot lengan, memeriksa sendi, hingga mengamati permukaan kulit.

“Kornea sudah mulai berkabut. Rigor mortis sudah berlangsung; ototnya kaku. Warna kulit menunjukkan adanya livor mortis yang masih dapat berubah saat ditekan. Suhu semalam sekitar 10 hingga 15 derajat. Berdasarkan tanda-tanda ini, perkiraan waktu kematian sekitar pukul 12 malam, dengan deviasi sekitar dua jam.”

Lin Dongxue menatapnya takjub. “Kamu… seperti dokter forensik saja.”

Chen Shi mengangkat bahu. “Semua ini ada di buku-buku dasar forensik. Kalau kau mau membaca, semua orang bisa menguasainya.”

Lin Dongxue meringis. “Tidak ada kata-kata untuk menggambarkanmu…”

Tiba-tiba ekspresi Chen Shi berubah serius. Ia menatap pria mati itu lama, sebelum akhirnya berkata pelan, “Tidak beres. Mengapa dua perempuan memakai pakaian rumah, tapi pria ini memakai jaket?”

“Mungkin dia baru pulang dari shift malam,” jawab Lin Dongxue.

“Hei.” Chen Shi menunjuk gantungan baju di dekat pintu. “Ada setelan pakaian rumah yang rapi tergantung di sana. Rumah ini bersih dan teratur. Orang seperti ini pasti terbiasa langsung berganti pakaian begitu masuk rumah. Kebiasaan manusia kuat sekali. Kenapa kali ini berbeda?”

Lin Dongxue terdiam beberapa detik. Tiba-tiba ia membalas cepat, “Atau… dia buru-buru ingin ke kamar mandi?”

Chen Shi menghela napas panjang. “Itu bukan penalaran. Itu hanya tebakan acak.”

Lin Dongxue memprotes. “Kenapa punyamu disebut penalaran, dan punyaku disebut tebakan?”

“Penalaran adalah ketika semua petunjuk digabung menjadi pola logis. Teorimu tadi hanya hipotesis. Dan hipotesis harus diuji.”

Chen Shi memiringkan tubuh korban dan menunjukkan sesuatu. “Lihat ini.”

“Apa?”

“Tidak ada bekas inkontinensia. Jika dia benar-benar sangat ingin buang air kecil, lalu mendapatkan pukulan keras di kepala, biasanya ada pelepasan spontan. Tapi celananya bersih… bahkan terlalu bersih.”

Chen Shi kemudian membuka tutup toilet dan memeriksa. Aroma urin yang menyengat langsung keluar.

“Ini dia.” Chen Shi menatap Lin Dongxue, matanya berbinar. “Urin di toilet belum disiram. Korban sempat ke kamar mandi sebelum dia dibunuh.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!