NovelToon NovelToon
WANG SHIN

WANG SHIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengawal / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

왕신 ー 22

...왕신...

...•...

...•...

ˢᵉˡᵃᵐᵃᵗ ᵐᵉᵐᵇᵃᶜᵃ!

••

Han Tae-ja sedang melaporkan pekerjaannya pada Lim Suyu, masih di restoran yang sama. Di sana Shin tak dilibatkan, hanya duduk dengan segelas kopi di meja yang berbeda. Itu masih terlalu bagus untuk seorang pengawalーbagi Han Taeja.

“Sepertinya aku meninggalkan dokumen itu di ruanganku,” kata Lim Suyu saat memeriksa ke dalam tas dan tidak menemukan apa yang hendak diambil.

“Benarkah?”

“Kurasa begitu. Aku akan meminta sekretaris Myung membawakannya.”

“Sebaiknya jangan, Bu Pimpinan!” Han Tae-ja mencegah saat Lim Suyu meraih ponselnya untuk menghubungi sang sekretaris.

“Kenapa?”

“Itu ... bagaimana kalau minta Pengawal Anda saja mengambilnya? Um, maksudku ... mungkin saja Sekretaris Myung sedang makan di luar juga seperti kita. Kasihan kalau waktu istirahatnya diganggu. Dia juga ada hak yang sama untuk bersandar pada satu kursi restoran dan menikmati makan siangnya.”

Dari meja sebelah, Shin menatap lelaki itu, senyum cibiran dibuang sambil menyesap kopi. Han Tae-ja sedang berusaha menjauhkannya dari Lim Suyu demi sebuah kepentingan, semacam mengutip hal yang ingin diketahui.

Cara klasik yang mudah terbaca.

Lim Suyu nampak berpikir sekarang. Lambat matanya melirik Wang Shin, lalu ke wajah Taeja lagi. “Kau benar. Kalau begitu, Shin! Tolong ....”

*

Senyuman miring dengan lirikan tipis ada di wajah Shin saat melantingkan diri keluar dari restoran untuk melaksanakan perintah Lim Suyu hasil arahan Han Taejaーmengambil dokumen penting ke kantor wanita itu.

“Sepertinya kehadiranku di dekat Lim Suyu banyak mengusikmu ya, Pengacara Han,” cicitnya.

Terbukti benar. Saat ini pengacara itu sedang mencecar Lim Suyu dengan banyak pertanyaan terkait kehadiran Wang Shin dan posisinya. Dari bawah, Shin mendongak ke ketinggian lantai dua restoran. Wajah Han Taeja sangat serius terhalang kaca, tangannya bergerak-gerak mendukung kata-kata dari mulutnya yang mungkin saja mengalahkan dosen kedokteran saat bicara.

“Ck.”

Masa bodo setelah itu, Shin masuk ke dalam mobil kemudian melaju ke gedung perusahaan yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Sampai di sana, langkah lebar sudah membawanya ke lantai enam di mana ruang kerja pribadi Lim Suyu berada.

Dia masuk dan tak butuh waktu lama untuk menemukan dokumen yang dimaksudkan.

Sekilas matanya mengedar ruang, lalu melirik sesuatu sedikit lebih lama.

Kamera kecil, tertanam di dalam lampu berbentuk bunga di atas meja yang merapat ke dinding kanan.

Itu salah satu keahliannya, seulas senyum mendeskripsikan rasa yang menggelitik.

Di restoran itu, Shin tahu ... “Han Taeja, dia pikir aku pencuri.” Dia sedang diawasi di kejauhan.

Tidak peduli dan itu bukan masalah.

Langkah lebar kembali terayun untuk kembali, namun hentakan itu terhenti saat hampir melewati sebuah ruangan luas tempat beristirahat para petinggi.

Belum ada yang sempat melihatnya. Satu langkah mundur diambil untuk menyembunyikan diri di batas dinding.

Shin menguping dan mengintip tipisーsampai beberapa saat. Ada beberapa orang di dalam sana, yang sedikitnya dia tahu siapa merekaーsalah satunya ada Kwon Minho, adik tiri Lim Suyu yang wajahnya masih nampak buruk setelah idenya di ruang rapat ditolak Suyu.

Meski hanya mendapatkan sisa percakapan mereka, Shin bukan si bodoh yang tidak paham makna pembicaraan. Rangkuman tertampung dalam kepalaーsebuah narasi deskripsi yang ada kepentingan terkait Lim Suyu di dalamnya.

“Di dunia bisnis seperti ini, penjilat dan pemberontak, nyaris tak ada beda. Nyonya Lim ... telunjukmu sedang dipermainkan.”

Senyuman miring melengkung tipis, mendorong diri untuk segera beranjak, dia harus pergi menuju Lim Suyu yang tengah menunggu. Jalan yang dilalui tetap melewati ruangan itu, tidak berbalik mengambil alternatif lain demi menghindari hal yang tidak aman, baginya tidak perlu.

Justru dengan santai Shin berjalan melewati mereka, sesaat menoleh untuk merunduk memberi hormat bersama senyum yang dipaksakan demi harga sopan santun sebagai kelas terbawah.

Tanggapan semua wajah nyaris samaーmelebarkan mata lalu saling beradu pandang.

“Bukankah dia ... pengawal baru Pimpinan Lim?”

“Apa dia mendengar semua percakapan kita?”

Kwon Minho menegakkan badan, menatap malas ke tempat kosong yang sesaat lalu dilewati Shin.

“Biarkan saja. Orang rendahan seperti itu tidak akan bisa berbuat banyak. Tinggal lihat saja, apakah ada yang berubah dari Lim Suyu setelah ini.”

Dua puluh menit terhitung dari awal undur dirinya, Shin sudah tiba di hadapan Lim Suyu.

“Ini dokumen yang Anda minta, Bu Pimpinan.”

Lim Suyu menerimanya sambil mengangguk. “Terima kasih.”

“Sama-sama.”

“Kenapa kau lama sekali?”

Perhatiannya direbut Han Taeja beserta pertanyaan yang nadanya sedikit sebal.

“Maaf, Pengacara Han, aku mampir ke toilet sebentar saat di kantor.”

Bohong sedikit tidak akan ada pengaruh.

“Tidak apa-apa, Taeja. Kau jangan terlalu mengintimidasi dia.” Lim Suyu menengahi segera.

"Ck."

...----------------...

Minggu ini, seperti yang lainnya, Shin kebagian libur, kecuali satu pelayan khusus yang masuk di akhir pekan untuk melayani kebutuhan nyonya besar Lim.

Shin sudah keluar, tanpa membawa apa pun kecuali sejumlah uang bonus dari Lim Suyu juga kendaraannya.

Di perjalanan dengan mobil yang biasa saja itu, matanya terganggu saat mendapati hal yang cukup merepotkanー terlihat dari spion luar sejajar kemudi.

“Ck! Dia menguntitku.”

Sebuah mobil hitam yang cukup dia kenali mengikutinya dari belakang.

“Baiklah. Mari ajak dia makan bersama,” katanya, senyum tercetak saat kemudian gas dipautnya kuat. “Ikuti aku sampai di rumah ... Han Taeja."

Kentara jelas, mobil pengacara itu langsung melaju kencang untuk mengejar.

Bagusnya jalanan tidak padat, meski tertinggal jauh, dia masih bisa melihat punggung mobil yang dikendarai Shin.

Sudah memasuki Incheon.

Karena aksi kejar-kejaran itu, jarak tempuh Seoul - Incheon yang seharusnya memakan sekitar kurang lebih 70 menit, terpungkas menjadi 50 menit saja.

Han Taeja mulai merasa aneh. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas searah atau berlawanan dengannyaーsama sekali kosong.

“Apa ini jalanan pribadi?"

Dan akhirnya ... mobil Shin terlihat juga oleh sepasang matanya, terparkir di depan sebuah halaman rumah.

Dia berhenti beberapa jarak sedikit jauh agar tidak terlihat, namun saat turun dan kakinya menapak aspal ....

“Ada yang bisa kubantu?”

“Ya ...? Astaga!"

Han Tae-ja memekik sampai mengelus dada karena terkejut. “Kau!”

Shin bersandar di sebuah pohon yang menjulang di sisi kanan, santai bersilang lengan dengan lengkungan senyum miring dari bibirnya. “Kau mengikutiku sampai ke sini? Apa ada hal yang mendesak yang ingin kau sampaikan secara khusus padaku, Pengacara Han? Atau ....” Kaki diayunnya untuk mendekat “... Ada sesuatu yang ingin kau tahu dariku?”

“Ti-tidak!” jawab Taeja gagap. Jarak tatap yang dekat tidak membuat nyaman, lekas dia membuang wajah ke arah lain. Namun niatnya untuk menghindari tatapan Shin malah berubah menjadi sebersit rasa penasaran karena pemandangan menjulang di depan mata. “Ini ... rumahmu, atau ...?” tanyanya gamang. “Rumah majikanmu yang lain?” Kembali tatapannya ke wajah Shin untuk meminta jawaban.

Pendengaran Shin terasa geli, jadi tak tahan untuk terkekeh.

“Apa yang kau tertawakan?”

Shin menarik napas setelah mengurangi kadar kekehannya. Dua tangan diselipkannya ke kiri dan kanan saku celana, berbalik badan lalu melangkah. “Jika kau ingin jawabannya ... ikut aku.”

1
chaa
semangat 💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: nggak, Kak.
gk semangat aku ... 😭
total 1 replies
Be___Mei
Hemmm, pekerjaan Shin nggak jauh jauh dari orang berkuasa.
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: emang gitu, Mak?🤓
total 1 replies
Be___Mei
Nahhh, kan. Gerak-gerik Nyonya Lim nggak bisa. Orang kaya elit emang begitu 🤧
Be___Mei
Pinter juga Nyonya ini
Be___Mei
Ian, cewek???
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Laki, Mak.
Ian Haris🤓
total 1 replies
Be___Mei
Cobain masakan Kalimantan juga ya 😂
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Jangan bilang buaya goreng?🤣
total 1 replies
Be___Mei
kwkwkwk barulah terungkap bahwa Shin tajir melintir 😂😂
Be___Mei
Udahlah, Shin. Cewek banyak kok di dunia. Salah satunya aku 🤭 cuma aku sedikit berbeda dengan Ana. Kalau Ana biasanya pakai gaun seksoi, aku pakainya daster 😂😂
Be___Mei
Aishhh!! Ana Sibal ****
Be___Mei
Ya elah, Neng! Dikasih aman malah kabur.
Be___Mei
Mamam tuh calon mantu idaman
Be___Mei
Iya juga. Ngapain coba meladeni Gibek padahal dia udah hapus ikatan kontrak sama Shin. Apakah dia mau berpijak di dua perahu?? Ana oh Ana
Be___Mei
Bayangin wajah visual artis kpopnya kebingungan. Pasti lucu tapi kasihan juga 🥲🤣
Be___Mei
Istri mana yang bisa menolak pesona seorang Shin?! Walaupun nikah kontrak, tapi mereka pasangan sah 🤧
Be___Mei
Teman Anda! Teman baru Anda 🤧 orang yang selalu kau andalkan, itu dia suami Ana
Be___Mei
Perasaanku mengatakan Takeda masih hidup. Pria sekuat itu tidak mudah jadi ubi kan mak???
Machan
kurang menantang ye, Shin😆
Machan
bisa jujur juga ternyata mulutnya
Machan
anjay, keren tatonya
Machan
pernah ngalamin ini saat rapat pembentukan anggota OSIS🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!