Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 6
Miranda menghela napas panjang, lalu berjalan ke ruang tengah. Ayah Anton tampak duduk menghadap taman, kausnya basah oleh keringat, dadanya naik turun teratur. Dalam hati Miranda bergumam, dia selalu terlihat bugar kalau aku sendirian, tapi kalau ada Saras, kenapa semua orang begitu mengkhawatirkannya.
“Ayah, aku buatkan susu ya,” ucap Miranda menawarkan.
“Ayah mau kopi,” jawab Ayah Anton singkat.
“Ayah enggak boleh ngopi sama ngerokok, Yah,” tutur Miranda mengingatkan dengan nada hati hati.
“Kalau tidak mau buat, enggak usah nawarin,” sahut Ayah Anton ketus, membuat Miranda serba salah.
“Aku buatkan susu ya,” ujar Miranda mengulang pelan.
“Banyak omong, kalau mau bikin ya tinggal berikan saja,” hardik Ayah Anton tanpa menoleh.
Miranda menarik napas dalam dalam. Kesal menyelinap, tapi dia memaksa dirinya tetap tenang. Dia berbalik menuju dapur. Bi Mirna baru datang besok, artinya hari ini dia harus mengurus semuanya sendiri.
Saat merebus air, telinganya menangkap percakapan lirih.
“Bagaimana kalau ibu curiga,” bisik Mang Narno.
“Baik, Pak, saya akan atur segera,” sahut Mang Narno lagi, nadanya terdengar tegang.
Miranda melangkah keluar dapur. Mang Narno berdiri dekat pintu belakang, wajahnya pucat, jemarinya menggenggam ponsel terlalu erat, seperti seseorang yang baru menerima perintah berat.
“Siapa yang telepon,” tanya Miranda tenang.
Ucapan itu membuat Mang Narno tersentak hingga bahunya terangkat.
“Istri saya, Bu,” jawabnya gugup sambil tersenyum kaku.
Miranda tahu itu bohong. Detak jantung Mang Narno lebih cepat, napasnya pendek. Orang jujur tidak perlu menarik napas sebelum menjawab.
“Oh, kenapa istrinya,” tanya Miranda datar.
Mang Narno terdiam sesaat. Matanya bergerak ke kanan, lalu ke kiri. Jeda itu terlalu panjang untuk jawaban sederhana.
“Itu saya mau ngasih uang ke ibu saya lewat adik saya, Bu. Hubungan saya dan ibu saya kurang baik, jadi kalau mau ngasih uang harus lewat adik,” jelas Mang Narno terbata.
“Oh,” gumam Miranda singkat.
Di dalam kepalanya, logika langsung bekerja. Hubungan tidak baik, tapi masih memberi uang. Kemarin Mang Narno bercerita istrinya yang bermasalah dengan ibunya, bukan dia. Dan sejak kapan seseorang minta izin istri hanya untuk mengirim uang pada ibu sendiri. Alasan itu terdengar terlalu disusun, terlalu rapi, seolah baru saja diciptakan.
Air mendidih memecah lamunannya. Miranda kembali ke dapur, menuang susu, mengaduk perlahan. Satu gelas penuh dia bawa ke depan.
Ayah Anton kini berdiri di tepi jendela, menatap Mang Ade yang baru datang dan mulai membersihkan kebun.
“Ini susunya, Yah,” ucap Miranda pelan setelah menaruh gelas susu di atas meja.
“Terima kasih,” sahut Anton singkat.
Miranda melangkah hendak menuju kamarnya, takut mengganggu waktu istirahat ayah mertuanya.
“Mir, duduk dulu,” panggil Anton menahan.
Miranda berbalik, lalu kembali dan duduk dengan sikap tenang, kedua tangannya terlipat di pangkuan.
“Ada apa, Yah,” tanya Miranda hati hati setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Anton hanya diam, matanya menatap taman di luar jendela, seolah mencari kata kata yang tepat.
“Bagaimana hubungan kamu dengan keluarga kamu,” tanya Anton akhirnya dengan suara datar.
Miranda mengernyit. Dua tahun menikah dengan Rizki, baru kali ini pertanyaan itu muncul.
“Kenapa ayah menanyakan hal ini,” tanya Miranda heran.
Anton tampak tidak senang. “Ya ayah heran saja, sudah dua tahun menikah dengan Rizki kok keluarga Sukmana tidak pernah mengunjungi kamu di rumah ini,” ujarnya menyelidik.
“Apa kamu ada masalah dengan keluarga besar kamu,” lanjut Anton menekan.
Di dalam hati, Miranda bergumam, kenapa tiba tiba dia ingin tahu masalahku dengan keluargaku. Dia menghela napas panjang sebelum menjawab.
“Aku enggak yakin kalau ayah enggak tahu statusku di keluarga Sukmana seperti apa,” ucap Miranda lirih.
“Kamu pikir ayah percaya dengan perkataan orang, ayah ingin tahu dari kamu,” sahut Anton tegas.
Miranda menunduk. “Aku ini anak tertukar. Selama dua puluh tahun aku hidup di desa, hidup menderita di sana. Sampai suatu hari Pak Joni Sukmana datang ke kampungku dan menunjukkan bukti tes DNA kalau aku anaknya,” tuturnya perlahan.
Dia menarik napas berat, suaranya sedikit bergetar.
“Siapa yang tidak senang ketemu ayah kandung, aku sangat senang,” lanjut Miranda tertahan. “Tapi sepertinya ayahku tidak senang. Waktu pertama bertemu saja dia tidak memelukku.”
Anton mendengarkan tanpa ekspresi, tapi pikirannya bekerja cepat. Setiap kalimat Miranda bagai kepingan yang menguatkan dugaannya sendiri.
“Aku tinggal di rumah Sukmana, diberi kamar bagus, baju bagus, tapi aku tidak pernah diperlakukan sebagai anak,” sambung Miranda dengan suara lirih. “Aku selalu dipandang hina oleh Rina Sukmana. Dia malu punya aku. Aku juga heran, kalau malu kenapa mereka membawaku dari desa. Di desa aku sering kelaparan, tapi di kota aku malah tidak mendapatkan kasih sayang.”
Miranda berhenti sejenak, menelan air liur.
“Aku sempat mau pergi, namun,” ucapnya terputus.
“Ayah datang dan melamar aku untuk Rizki,” lanjut Miranda menatap lantai.
Anton sebenarnya sudah mengetahui cerita itu. Dia hanya ingin memastikan. Dalam hatinya dia bergumam, pantas saja keluarga Sukmana awalnya menolak lalu menerima. Rupanya mereka membuang anak ini lewat perjodohan. Padahal aku ingin Rizki dengan Melisa Sukmana. Ternyata Melisa menolak, dan sebagai jalan tengah mereka memberikan perempuan cerewet ini.
“Ayah,” panggil Miranda pelan.
“Hm,” sahut Anton pendek.
“Kenapa ayah diam,” tanya Miranda ragu.
“Tidak apa apa,” jawab Anton sambil menghela napas. “Kamu harus nurut sama suami kamu. Selama kamu nurut sama Rizki, keluarga Sanjaya akan selalu ada bersamamu. Kalau tidak nurut, kamu benar benar tidak punya sandaran.”
“Nurut dalam hal apa, Yah,” tanya Miranda hati hati.
“Dalam semua hal,” tegas Anton.
“Aku enggak akan nurut kalau Mas Rizki melakukan tindakan melawan hukum. Apa ayah masih marah karena aku melarang Mas Rizki mau melakukan suap,” ucap Miranda berani.
Anton berdiri tiba tiba, wajahnya menegang. “Sudah, ayah mau istirahat dulu,” katanya memutus.
Miranda tahu, itu adalah cara ayah mertuanya mengakhiri percakapan.
Miranda melihat Rubicon keluar dari halaman rumah. Dalam hati ia berpikir, “Benar benar pemborosan, ke Puncak pakai mobil sebesar itu. Ini jelas berlebihan.”
Ia membawa gelas susu bekas Ayah Anton ke dapur. Gelas itu langsung dicucinya sampai bersih, lalu diletakkan rapi di rak. Setelah itu Miranda melangkah menuju kamarnya dengan perasaan masih kacau.
Miranda masuk ke kamar, duduk di pojokan kasur, memeluk lututnya, dan perlahan air mata jatuh membasahi pipi.
“Kenapa hidupku seperti ini, baru saja akan merasakan kasih sayang, tapi malah akan dikhianati.”
Miranda memandang foto pernikahan yang terpampang di dinding kamarnya.
Pernikahan yang terlalu mendadak, pernikahan karena perjodohan dengan hubungan bisnis.
Sama keluarga angkat diperlakukan buruk. Dibesarkan hanya sampai umur lima tahun, selanjutnya diperas tenaganya bagaikan binatang, diberi makan dua kali sehari dengan nasi yang banyak dan garam saja, memberi nasi yang banyak agar Miranda punya tenaga besar untuk bekerja, tidur setelah semua tidur.
Umur sepuluh tahun Miranda terlihat cantik lalu dijual ke sindikat penjualan anak, namun entah kenapa pada saat usia dua puluh tahun Miranda kembali keluarga angkatnya, tinggal sebulan kemudian keluarga Sukmana mengambilnya.
Dua puluh tahun tidak merasakan hangatnya kasih sayang orang tua, dan pada saat bertemu orang tua kandung malah diabaikan, Miranda sempat berpikir, “Apakah semua orang tidak menginginkanku.”
Dan pada saat terpuruk keluarga Sanjaya datang memperkenalkan Rizki.
Saat bertemu pertama kalinya Rizki bersikap manis dan dewasa membuat hati Miranda lirih, Miranda menerima Rizki karena berharap Rizki bisa memberikan kasih sayang padanya, tapi nyatanya sekarang.
Miranda menghela napas dan pipinya sudah basah dengan air mata.
“Ah, bodoh sekali,” gumamnya, “kenapa aku menangis.”