Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Kejahatan Suami Yuki
Kai berjalan menuju kamar sebelah tempat Yuki beristirahat, Tangannya sedikit menggenggam pintu kamar Yuki berniat melihat keadaan Yuki. Tapi langkahnya berhenti ketika Ibu Kai duluan membuka pintu muncul dengan tatapan tajam.
“Kai, sebentar,” ucap Ibu Kai, tangannya meraih pergelangan tangan Kai, menahan langkahnya. Nada suara ibu itu tegas, namun ada kekhawatiran yang mendalam.
Kai menoleh, ekspresinya sedikit tegang. “Ibu… ada apa?” Suaranya rendah, namun terdengar jelas rasa penasaran dan sedikit cemas.
Ibu Kai menarik Kai masuk ke dalam kamar Kai, menutup pintu perlahan di belakangnya. “Kita perlu bicara mengenai gadis yang kau bawa semalam. Yuki.” Suaranya tenang, tapi matanya berbinar, menandakan keseriusan.
Kai menatap ibu, rahangnya menegang. “Apa yang Ibu maksud? Aku hanya menolong mereka lalu aku bawak pulang ke tempat ini… itu saja.”
Ibu Kai menghela napas, mengingat Yuki dan Ai Chikara yang masih tidur di kamar sebelah. Bayi itu tersenyum kecil dalam tidur, sementara Yuki tampak lelap, napasnya stabil dan damai. “Aku tahu kau membawanya ke sini untuk menyelamatkan mereka, Kai. Tapi aku ingin kau mengerti semuanya… dari awal sampai akhir, agar kau tidak hanya bertindak berdasarkan insting saja. Ini bukan hanya soal keselamatan, tapi juga masalah hati dan tanggung jawab.”
Kai mengerutkan kening, menahan emosi yang mulai memuncak. “Ibu… aku paham tanggung jawab itu. Tapi aku hanya tidak bisa membiarkan mereka dalam bahaya. Yuki dan anaknya… mereka mungkin dalam ancaman."
Ibu Kai menatapnya tajam. “Ya, itu benar mereka dalam ancaman suami Yuki. Tapi aku ingin kau mendengar kisahnya secara lengkap. Tadi pagi sampai siang ini Yuki menceritakan tentang suaminya, laki-laki itu… Kai, kau harus tahu—kau tidak akan suka mendengarnya.”
Kai menatap Ibu, rahangnya mengeras. “Aku paling benci laki-laki yang kasar pada wanita. Kalau dia berani menyakiti Yuki atau bayinya… aku tidak akan menahan diri, Apa bener seperti itu Ibu.”
Ibu Kai mengangguk perlahan. “Iya bener itu yang ingin ibu sampaikan. Suaminya, Kai… laki-laki itu tidak hanya kasar, tapi juga kejam. Dia selingkuh, Yuki menceritakan bahwa selingkuhannya selalu memprovokasi dan menekan dia. Setiap kali Yuki menolak atau melawan, suaminya memukuli dan memaki dia tanpa ampun. Dan yang lebih parah lagi… dia sempat mengancam bayi itu sendiri. Laki-laki itu ingin membunuh Ai Chikara bayinya mereka karena selingkuhannya merasa kalah cantik daripada Yuki. Itu titik paling membuat Yuki menyerah pada semua tekanan itu.”
Kai menatap ibunya dengan mata membara. Napasnya berat, tinjunya mengepal, tapi ia berusaha menahan kemarahan agar tidak meledak di ruangan itu. “Tidak… tidak ada toleransi untuk laki-laki seperti itu Ibu. Dia… dia tidak pantas hidup jika berani menyakiti anaknya sendiri. Aku bisa rasakan betapa Yuki menderita semalam.”
Ibu Kai menepuk bahu Kai perlahan. “Ibu tahu kau geram, tapi dengarkan aku dulu. Yuki berlari malam itu… dia melarikan diri dengan bayi di pelukannya. Hujan deras, jalan licin, dan rasa takut yang luar biasa… dia menghadapi kemungkinan terburuk, Kai. Tapi dia berhasil sampai ke sini berkat Tuhan mempertemukan kamu, kamu orang baik yang bisa menolongnya. Maka terjadi insiden semalam kan. Itulah yang ibu ingin kau pahami. Kau harus menghargai keberaniannya, bukan hanya fokus pada amarahmu terhadap suaminya.”
Kai menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Aku tahu… aku menghargai keberaniannya. Tapi… aku tidak bisa menahan rasa ingin menghukum suaminya bersama wanita jalang itu Bu. Aku ingin laki-laki itu merasakan setengah dari penderitaan yang Yuki rasakan. Tidak bisa dimaafkan. Tidak bisa.”
Ibu Kai menatapnya dengan tegas. “Kai… dengarkan ibu. Aku tahu kau kesal, dan kemarahanmu wajar. Tapi kita harus bertindak dengan kepala dingin. Yuki dan Ai Chikara aman sekarang, dan mereka membutuhkan perlindungan, bukan balas dendam. Kita bisa menuntut keadilan nanti, tapi yang paling penting adalah memastikan mereka pulih, Kai. Tidak ada yang boleh mengetahui mereka berada disini."
Kai mengangguk, matanya masih berapi-api. “Ibu benar… tapi kau tahu bagaimana rasanya melihat seorang laki-laki mengancam seorang wanita dan anaknya. Aku merasa ingin melompat dan menendangnya sendiri.”
Ibu Kai tersenyum tipis, menyadari emosi anaknya. “Kai… itu wajar. Tapi jangan biarkan emosi itu mengambil alih diri mu, Kendalikan amarah mu, Kau sudah berjanji tidak akan melakukan hal seperti dulu, bayangan hitam pada dirimu harus kau kendali kan nak. Kita harus berpikir rasional. Yuki saat ini lemah, Ai Chikara masih bayi. Mereka membutuhkan ketenangan, bukan kekacauan. Aku ingin kau fokus pada itu.”
Kai mengerutkan kening, matanya menatap Yuki yang tidur damai. “Ibu… aku… aku janji akan menjaga mereka berdua. Tidak ada yang akan menyakiti mereka lagi. Tapi aku tidak bisa menjanjikan… aku tidak bisa menahan rasa geramku pada laki-laki itu. Setiap kali aku mengingat atau bahkan membayangkan apa yang dia lakukannya… amarah ini…” Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tetapi matanya masih berbinar karena kemarahan yang sulit ia padamkan.
Ibu Kai mengangguk perlahan. “Aku mengerti. Aku tahu kau tidak bisa menahan itu. Tapi gunakan kemarahanmu untuk melindungi, bukan menghancurkan. Yuki dan bayi ini butuhmu sebagai pelindung, Kai. Bukan sebagai pembalas dendam. Kita bisa menyusun rencana nanti, memastikan keadilan ditegakkan, tapi fokus sekarang adalah keselamatan mereka.”
Lalu mereka keluar dari kamar Kai untuk melihat kondisi Yuki dan Bayinya. Ketika sudah masuk kekamar Yuki, Kai menunduk, menatap bayi yang tertidur di samping Ibu nya. Hati Kai sedikit melunak melihat bayi itu, rasa ingin melindungi semakin kuat. “Aku akan memastikan mereka aman… aman sepenuhnya. Tidak ada yang boleh menyakiti Yuki dan Ai Chikara lagi.”
Ibu Kai tersenyum, menepuk tangan Kai lembut. “Itu yang ibu ingin dengar. Kau anak yang bijak, meskipun hatimu penuh amarah. Sekarang, kita harus fokus pada langkah selanjutnya. Yuki perlu pulih. Ia lelah secara fisik dan mental. Bayi ini butuh tidur, dan kau harus tetap waspada. Semua bisa ditangani dengan sabar dan hati yang tenang.”
Kai menatap ibu dengan mata masih menahan bara kemarahan. “Ibu… aku akan menjaga mereka. Tapi… aku ingin laki-laki itu merasakan akibatnya. Aku tidak akan diam jika dia mencoba mendekati mereka lagi. Aku ingin dia tahu bahwa kekejamannya tidak bisa dibiarkan.”
Setelah melihat mereka Ibu dan Kai keluar kamar, mereka menuruni anak tangga secara berlahan. Ibu Kai menarik napas dalam sambil menggadeng lengan anak, menatap Kai dengan lembut tapi tegas. “Aku tahu. Kau memiliki hati yang kuat dan keberanian yang besar. Tapi sabar, Kai… kesabaran adalah kunci. Kita bisa menegakkan keadilan, tapi jangan biarkan emosi menghancurkan rencana kita. Aku ingin kau tetap menjadi pelindung, bukan pembalas dendam yang gegabah. Yuki dan Ai Chikara membutuhkanmu sebagai penopang, bukan sebagai alat kemarahanmu.”
Kai menunduk, menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. “Baik, Ibu… aku mengerti. Aku akan fokus pada perlindungan mereka. Tapi rasa geram ini… tidak bisa hilang begitu saja.”
Ibu Kai tersenyum tipis, matanya berbinar penuh pengertian. “Tidak perlu hilang, Nak. Biarkan itu menjadi energi untuk melindungi, bukan merusak. Kau punya kesempatan untuk menjadi malaikat pelindung bagi mereka. Gunakan amarahmu sebagai kekuatan, bukan sebagai senjata.”
Kai mengangguk pelan, merasakan ketenangan sedikit menyusup. “Aku akan melakukannya… aku akan menjaga mereka. Tidak ada yang akan menyakiti Yuki dan Ai Chikara lagi. Aku janji.”