Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan yang Salah Alamat
Doli tahu sesuatu berubah bukan dari reaksi keras, melainkan dari sunyi yang berbeda.
Pagi itu di Jakarta, ia datang ke kantor seperti biasa. Jaket bomber hitam masih berbau asap rokok semalam. Kopi pahit di tangan kanan, map polos di tas selempang. Semua tampak normal, sampai ia duduk di kursinya dan menyadari satu hal kecil yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika kerja semata.
Orang-orang berhenti berbicara ketika ia lewat.
Bukan mendadak, bukan mencolok. Percakapan tidak terputus. Nada suara tidak turun drastis. Mereka hanya sedikit mengubah arah tubuh, seperti refleks yang sudah dilatih tanpa sadar. Doli menangkapnya karena ia terbiasa membaca tanda-tanda kecil. Editor yang baik belajar dari jeda, bukan dari kalimat utuh.
Ia membuka laptop. Email masuk seperti biasa. Tidak ada teguran. Tidak ada panggilan. Tidak ada peringatan. Justru itu yang membuat dadanya terasa lebih berat.
Sunyi administratif selalu lebih berbahaya daripada konflik terbuka.
Doli membuka folder kerja, lalu tanpa sadar berpindah ke folder pribadi. Dokumen Catatan tentang Bahasa Penyesuaian masih ada. Tidak berubah. Tidak rusak. Ia membukanya, menggulir pelan. Kalimat-kalimat itu terasa lebih dingin pagi itu, seolah ditulis oleh orang lain.
Ia menutupnya cepat.
Di ruang redaksi, rapat kecil dimulai. Pembahasan naskah, tenggat, dan satu agenda tambahan yang diselipkan di akhir.
“Kita akan lebih selektif soal tema ke depan,” kata atasannya, santai. “Bukan sensor, ya. Cuma penyelarasan.”
Penyelarasan.
Kata itu seperti gema dari percakapan lain, di tempat lain, di hidup orang lain. Doli menahan diri untuk tidak tersenyum.
“Beberapa tulisan belakangan ini terlalu interpretatif,” lanjut atasannya. “Kita mau jaga agar penerbitan tetap kondusif.”
Doli mencatat. Ia tidak bertanya. Tidak membantah. Ia tahu, pertanyaan di ruang seperti ini jarang dicatat sebagai pertanyaan. Lebih sering sebagai sikap.
Setelah rapat, seorang rekan mendekat. Suaranya diturunkan.
“Dol, aman semua?”
Doli menatapnya. “Aman kenapa?”
Rekannya mengangkat bahu. “Ya, belakangan ini aja. Tulis-tulisan lo.”
Doli mengangguk pelan. “Tulisannya bukan di sini.”
Rekannya terdiam sejenak, lalu tersenyum canggung. “Justru itu.”
Kalimat itu menggantung.
Di meja kerjanya, Doli membuka ponsel. Tidak ada pesan baru di grup Random. Tapi ada satu notifikasi dari nomor tak dikenal, masuk sejak dini hari. Ia membukanya.
“Saya membaca catatan Anda. Kita perlu bicara.”
Tidak ada nama. Tidak ada konteks. Tidak ada ancaman. Hanya satu kalimat pendek yang membuat perutnya mengeras.
Doli mengunci layar, lalu menyalakannya kembali. Membaca ulang. Ia tidak menjawab.
Ia tahu, jika seseorang bisa membaca catatan itu, berarti ada dua kemungkinan. Catatan itu berpindah. Atau ruang privatnya bocor tanpa ia sadari.
Ia mengingat kembali malam ketika ia mencetak dokumen itu. Map polos. Rak buku. Tempat yang aman karena dianggap tidak penting. Ia merasa dingin merayap pelan.
Siang hari, Doli keluar kantor lebih cepat dengan alasan biasa. Ia tidak langsung pulang. Ia duduk di warung kopi kecil, memesan bir rendah alkohol, menyalakan rokok, dan membuka kembali pesan itu.
Nomor tak dikenal itu kini mengirim pesan kedua.
“Tenang. Saya tidak bermaksud buruk. Justru tertarik.”
Doli menghembuskan asap panjang. Kata tertarik selalu ambigu. Bisa berarti ingin memahami. Bisa juga berarti ingin memiliki.
Ia membalas singkat.
“Catatan yang mana?”
Balasan datang cepat.
“Yang tentang bahasa. Tentang penyesuaian.”
Doli menatap layar lama. Jarinya berhenti di atas papan ketik. Ia tahu, dengan membalas, ia mengonfirmasi sesuatu yang seharusnya tidak ia akui. Tapi dengan tidak membalas, ia juga mengakui ketakutan.
Ia memilih jalan tengah.
“Banyak orang menulis tentang itu.”
Balasan berikutnya datang setelah jeda singkat.
“Tidak dengan cara Anda.”
Doli tersenyum tipis, tanpa humor. Ia menyesap bir, membiarkan rasa pahit turun perlahan. Kalimat itu bukan pujian. Itu penandaan.
Ia menoleh ke sekitar. Warung kopi tetap ramai. Orang-orang bercakap ringan. Tidak ada yang tahu percakapan kecil di ponselnya sedang menarik garis baru dalam hidupnya.
Ia membuka grup Random, membaca ulang pesan-pesan lama. Kusuma tentang rute. Wijaya tentang arsip. Ari tentang tulisan. Wawan tentang doa. Yanto tentang pertanyaan. Semuanya kini terasa seperti catatan kaki dari sesuatu yang lebih besar.
Doli menyadari, selama ini ia mengira dirinya berada di luar pusaran. Ternyata, ia hanya berdiri di titik yang belum disorot lampu.
Ponselnya bergetar lagi.
“Kita bisa bertemu. Santai saja.”
Doli tidak langsung menjawab. Ia mematikan layar, memasukkan ponsel ke saku, lalu menatap jalanan Jakarta yang bergerak tanpa henti. Ia tahu, pertemuan itu bukan soal obrolan. Itu soal siapa yang lebih dulu mendefinisikan makna catatan tersebut.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia mulai menulisnya, Doli merasa catatan itu benar-benar salah alamat.
Bukan lagi miliknya.
Belum sepenuhnya milik siapa pun.
\=======
Doli datang lebih awal dari waktu yang disepakati.
Ia memilih kafe kecil di sudut Jakarta yang tidak ramai, tidak juga sepi. Tempat semacam itu tidak mengundang perhatian, tapi cukup hidup untuk membuat percakapan terdengar wajar. Ia duduk di meja dekat jendela, memesan kopi hitam, lalu menunggu tanpa membuka ponsel.
Ia tidak gugup. Tapi tubuhnya waspada.
Beberapa menit kemudian, seorang pria datang. Usianya sulit ditebak. Penampilannya rapi, tapi tidak mencolok. Kemeja polos, jam tangan sederhana, sepatu bersih. Wajahnya ramah dengan senyum yang terlatih.
“Mas Doli?” tanyanya.
Doli mengangguk. Mereka berjabat tangan singkat.
“Terima kasih sudah mau bertemu,” kata pria itu sambil duduk. “Saya R.”
“Inisial?” tanya Doli ringan.
“Cukup itu saja,” jawabnya, masih tersenyum.
Pesanan datang. Mereka saling diam beberapa detik. Tidak ada yang tergesa. Doli memperhatikan cara R meletakkan ponsel di meja, layar menghadap ke bawah. Tanda bahwa percakapan ini tidak untuk direkam. Atau justru sebaliknya.
“Saya membaca catatan Anda,” kata R akhirnya. “Menarik. Jarang ada yang menulis dengan nada seperti itu.”
“Nada yang mana?” tanya Doli.
“Tenang. Tidak emosional. Tapi jelas,” jawab R. “Biasanya orang memilih salah satu.”
Doli menyesap kopi. “Biasanya orang juga membaca sesuai kepentingannya.”
R tersenyum kecil. “Itu benar.”
Percakapan berjalan ringan. Tentang dunia penerbitan. Tentang perubahan cara orang membaca. Tentang betapa cepatnya wacana bergeser. Tidak ada kata sensitif. Tidak ada istilah besar. Semua terdengar seperti obrolan profesional.
Sampai R berkata, “Kami sedang mengumpulkan pemikiran-pemikiran seperti milik Anda.”
Doli menatapnya. “Kami siapa?”
R tidak langsung menjawab. “Kelompok diskusi,” katanya akhirnya. “Lintas latar belakang. Tujuannya memahami perubahan.”
“Memahami untuk apa?” tanya Doli.
“Untuk merespons dengan tepat,” jawab R, tanpa ragu.
Doli mengangguk pelan. Ia tidak terkejut. Kalimat itu terdengar rapi, bersih, dan terbuka. Terlalu terbuka.
“Catatan saya bukan proposal,” kata Doli tenang.
“Justru itu,” sahut R cepat. “Itulah nilainya. Tidak terikat kepentingan.”
Doli meletakkan cangkirnya. “Kalau tidak terikat, kenapa perlu dikumpulkan?”
R tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. “Karena kalau dibiarkan, ia bisa disalahartikan.”
Doli memandangnya lurus. “Atau disalahgunakan.”
R tidak menyangkal. “Semua gagasan bisa.”
Percakapan berhenti sejenak. Di luar, lalu lintas bergerak seperti biasa. Kafe tetap berisik oleh suara sendok dan cangkir. Tidak ada yang tahu arah pembicaraan ini mulai mengeras.
“Jadi apa yang Anda inginkan dari saya?” tanya Doli akhirnya.
R bersandar sedikit. “Partisipasi. Bukan keterlibatan formal. Tidak ada nama. Tidak ada publikasi. Hanya pertukaran.
“Dengan batas apa?” tanya Doli.
“Dengan tanggung jawab,” jawab R.
Doli tersenyum tipis. “Tanggung jawab versi siapa?”
R menghela napas pelan. “Mas Doli, saya rasa kita sama-sama paham bahwa netralitas mutlak itu mitos.”
“Betul,” kata Doli. “Tapi itu bukan alasan untuk memilih pihak tanpa menyadarinya.”
R menatapnya lebih serius sekarang. “Anda sudah memilih, dengan menulis.”
Doli menggeleng pelan. “Saya memilih mencatat. Itu berbeda.”
“Tidak di mata semua orang,” balas R.
Doli diam beberapa detik. Ia menimbang kalimat berikutnya, bukan karena ragu, tapi karena ia ingin tepat.
“Saya tidak tertarik bergabung,” katanya akhirnya. Nadanya datar. Tidak defensif. “Catatan itu saya tulis untuk menjaga jarak, bukan untuk membentuk barisan.”
R tidak langsung bereaksi. Senyumnya tetap ada, tapi tidak sehangat tadi. “Sayang. Jarak sering kali ilusi.”
“Mungkin,” kata Doli. “Tapi ilusi itu yang membuat saya masih bisa menulis jujur.”
R menatapnya lama. “Anda yakin?”
“Ya,” jawab Doli singkat.
Percakapan selesai tanpa kata penutup dramatis. Tidak ada ancaman. Tidak ada paksaan. R berdiri lebih dulu, menjabat tangan Doli dengan sopan.
“Kalau berubah pikiran, Anda tahu cara menghubungi kami,” katanya.
Doli mengangguk. “Saya tahu.”
R pergi, menyatu dengan keramaian trotoar. Tidak menoleh lagi.
Doli duduk beberapa menit setelahnya. Ia tidak merasa lega. Tidak juga takut. Yang ia rasakan justru kejernihan yang dingin. Penolakan itu telah menggeser posisinya. Ia tidak lagi sekadar pengamat. Tapi ia juga belum menjadi oposisi.
Ia membuka ponsel, membuka grup Random. Tidak menulis panjang.
Doli:
Catatan gue dibaca orang yang salah.
Gue nolak.
Pelan, tapi jelas.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk dari Ari.
Ari:
Berarti sekarang catatan itu punya gema.
Doli menutup ponsel. Ia memanggil pelayan, membayar, lalu berdiri. Jakarta tetap bergerak. Tidak ada yang berubah secara kasat mata.
Namun Doli tahu, setelah pertemuan itu, satu hal tidak bisa ditarik kembali. Catatannya telah keluar dari wilayah aman. Dan penolakannya, sehalus apa pun, telah dicatat oleh pihak yang terbiasa mengingat.
Ia melangkah pergi tanpa menoleh.