"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puding ajaib
Javier berdiri di tengah dapur yang sedikit berantakan, matanya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas tengah hari. Sudah masuk jam makan siang.
Setiap detik yang berlalu membuat Javier semakin khawatir, kamar Yasmin terkunci rapat sedari tadi. Javier sudah melakukan segala macam cara untuk membujuk Yasmin agar tidak marah lagi, mulai dari membacakan puisi romantis, hingga menyanyikan lagu kesukaan Yasmin di luar pintu kamarnya, tapi tak ada satu pun tanggapan yang keluar dari dalam.
"Sepertinya ada yang salah dengan cara dalam membujuk wanita yang di tulis di dalam buku ini, dasar tidak berguna!" bisiknya sambil mengusap dahi yang berkeringat. Javier terus membolak-balik buku setebal seratus halaman tersebut, buku dengan judul 'Cara Menaklukan Hati Wanita' tapi sepertinya buku tersebut tidak akan bisa membantu, Javier harus mencari cara sendiri.
Tiba-tiba, sepotong kenangan masa kecilnya dengan Yasmin menerobos masuk ke dalam pikirannya, berputar seperti film dalam layar bioskop. Saat mereka masih berusia sepuluh tahun, Yasmin pernah menangis seharian karena mainannya yang paling disayangi rusak. Tanpa berpikir panjang, Javier membuatkan puding coklat dengan resep rahasia milik mendiang neneknya, dan dalam sekejap saja, wajah Yasmin yang penuh dengan air mata berubah menjadi senyum lebar.
"Ini adalah puding ajaib yang bisa menghilangkan semua kesedihan!" ucap Yasmin kala itu, sambil mengoleskan coklat yang meleleh di pipinya.
Tanpa berlama-lama, Javier segera membuka lemari es dan mengambil bahan-bahannya. Tepung terigu, coklat bubuk berkualitas tinggi, susu murni, dan telur segar, semua sudah siap untuk diolah. Selama dua jam lamanya, Javier berjuang melawan adonan yang hampir terlalu kental, mengatur panas kompor dengan cermat, dan membentuk setiap lapisan puding dengan penuh cinta.
Akhirnya, puding coklat sempurna tersaji di atas meja makan, warnanya gelap keemasan, teksturnya lembut seperti kain sutra, dan di atasnya ditaburi buah stroberi segar yang berwarna merah cerah seperti permata.
"Ini bukan sekadar makanan, ini adalah bukti bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Yasmin." gumam Javier sambil menata alas piring dengan hati-hati.
Dengan piring puding di tangan, Javier berjalan perlahan menuju kamar Yasmin. Jarinya mengetuk pintu dengan nada lembut tapi jelas.
"Yasmin, aku punya sesuatu untukmu. Tolong buka pintunya ya?" Bujuk Javier. Hanya ketika sedang bersama Yasmin saja pria dingin itu bisa bisa berubah menjadi pria yang lembut dan penyayang.
"Pergilah, Javier. Aku tidak mau melihat siapapun sekarang. Biarkan aku sendiri." Suara Yasmin yang sedikit serak terdengar dari dalam.
Javier menghela napas dalam-dalam. Ia tahu Yasmin sedang terluka hatinya, tapi ia tidak bisa pergi begitu saja. Dengan nada yang lebih tegas namun tetap penuh perhatian, Javier kembali bersuara.
"Dengar baik-baik, Yasmin! Aku akan menghitung mundur dari tiga, kalau kamu tidak juga membuka pintunya, aku akan menelepon Daddy Donald sekarang juga! tiga... dua... sat..."
Tak butuh waktu lama, pintu kamar perlahan terbuka. Yasmin berdiri di sana dengan mata merah seperti habis menangis, rambutnya berantakan, dan wajahnya sedikit pucat.
"Jangan berani lakukan itu, atau aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" ucap Yasmin dengan suara bergetar. Yasmin belum siap bertemu dengan sang ayah, lebih tepatnya merasa sangat malu dan bersalah.
"Jacob bukan lelaki yang tepat untukmu, Yasmin. Dia hanya akan menyakiti hatimu!" Kenangan pahit kembali menghantui Yasmin. Dulu, Daddy Don dengan wajah serius berkata padanya.
Tapi Yasmin tidak mau mendengarkan. Ia bertekad membuktikan bahwa cinta mereka lebih kuat dari segala sesuatu, bahkan rela menjauhi keluarganya hanya demi Jacob.
Namun kini, semua usaha itu hancur berkeping-keping. Jacob telah mengkhianati cintanya dengan wanita lain, menyisakan Yasmin dengan luka hati yang dalam dan rasa bersalah yang tak terukur.
"Aku belum siap bertemu daddy, dulu aku terlalu sombong dan tidak mau mendengarkan nasihat darinya. Dan sekarang, aku hanya mendapatkan pengkhianatan sebagai balasannya." bisik Yasmin dengan kepala menunduk.
Javier mengangkat dagunya dengan lembut, menatap mata Yasmin dengan penuh kasih sayang. Lalu Javier mengangkat piring puding yang masih hangat.
"Kesalahan adalah bagian dari hidup, Yasmin. Tapi kamu tidak sendirian dalam menghadapinya. Mari kita nikmati puding ini bersama, seperti dulu." Ucap Javier.
Yasmin menatap puding di tangan Javier, lalu melihat wajah Javier yang penuh perhatian. Sejenak, senyum kecil muncul di bibirnya, senyum pertama setelah berhari-hari ia merasa hancur.
Bersambung...