NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Dingin Dan Trauma

Menikahi Duda Dingin Dan Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Ibu Pengganti
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.

Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.

Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Hari-hari setelah kejadian itu, Rani memang tidak datang, ke sekolah Mahesa ataupun Mahendra, karena memang pihak sekolah sudah mulai mencegahnya, namun bagai Rani ia tidak ingin berhenti sampai di situ saja.

  Kali ini ia langsung datang ke kantor Cokro, dihadapan gedung tinggi itu senyum Rani terukir jelas, matanya menyapu logo besar beberapa detik, seolah kagum dengan pencapaian Cokro selama ini.

  "Gak nyangka kamu akan sehebat ini," ungkap Rani. "Andai dulu aku tidak ninggalin kamu," kata-kata itu terhenti seolah menyimpan makna yang ia sendiri tahu jawabannya.

  Rani melangkah perlahan, ia mendatangi staf adminitrasi.

“Selamat siang,” sapanya manis pada petugas administrasi.

“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?”

“Pak Cokro ada? Saya ingin bertemu.”

“Sudah ada janji sebelumnya?”

Rani tersenyum, kali ini sedikit lebih tipis. “Belum. Kami… teman lama.”

Petugas itu tetap tersenyum profesional. “Maaf Bu, tanpa janji kami tidak bisa mengizinkan masuk.”

Untuk sepersekian detik, senyum Rani mengeras. Jadi sekarang… bahkan untuk bertemu pun ia butuh izin?

  Rani mengeraskan rahangnya seolah tidak terima dengan penolakan itu, namun ia berusaha untuk mengontrol emosinya.

  "Tapi saya butuh bertemu dengan beliau sekarang, ada sesuatu penting yang ingin saya sampaikan," ucap Rani sedikit menekankan di kalimat akhirnya.

  Petugas itu terdiam, tapi tangannya langsung memegang telepon untuk menghubungi sekretariat atasannya itu.

  "Selamat siang, Bu Niken," kata staf itu dalam panggilannya.

  "Iya ada apa?"

  "Di depan ada seorang perempuan yang ingin bertemu Pak Cokro, dia belum melakukan janji terlebih dahulu," jelas staf itu.

  Sekretaris itu langsung menolak karena memang peraturan kantor seperti itu, dan setelah sambungan itu selesai, staf adminitrasi langsung menjelaskan pada Rani, meskipun reaksi perempuan itu seolah belum bisa menerimanya.

  "Bu, sudah dengar sendiri kan? Atau gak besok saja ibu datang lagi, tapi jangan lupa buat janji terlebih dahulu ya," ujar staf itu dengan tegas.

 Rani tidak bisa berbuat apa-apa, namun apakah langkahnya terhenti sampai di sini?" jawabannya justru tidak, wanita itu menatap pergelangan tangannya. Di lihat dari situ waktu hampir menunjukkan jam makan siang.

  "Aku tidak akan nyerah, lihat saja sebentar lagi aku akan menemui mu," gumamnya dengan seringai.

Ia tahu jam istirahat merupakan satu-satunya celah, agar ia bisa menemui Cokro secara langsung.

  Tak lama kemudian pintu lif itu terbuka dengan sendirinya, suara langkah kaki Cokro dan sekretarisnya Bu Niken terdengar pelan, setelan jasnya rapi aura dingin yang ia bawah sontak membuat beberapa orang memberinya jalan. Ia sedang membahas sesuatu dengan nada rendah ketika langkahnya terhenti sepersekian menit.

  Dari kejauhan sana Rani menatap sosok itu, sosok yang ia tinggal dalam keadaan runtuh, dulu pria itu tidak sedingin dan mempunyai wibawa seperti sekarang.

  Langkah kaki Rani segera mendekat, dan suaranya menghentikan percakapan itu.

 "Mas," ucapnya pelan.

 Suara itu spontan membuat Bu Niken menoleh. Cokro menatap sepersekian detik, sorot matanya tajam, seolah merasa terganggu dengan kedatangan wanita di masa lalunya itu.

Untuk sesaat, hanya ada tatapan yang saling beradu. Rani tersenyum tipis, seolah pertemuan itu kebetulan belaka.

“Kita perlu bicara.”

Cokro berbalik penuh menghadapnya. “Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Beberapa karyawan mulai melambatkan langkah. Situasi itu terlalu tegang untuk diabaikan.

Rani melangkah mendekat, cepat sebelum Cokro benar-benar pergi. “Cuma sebentar. Tentang anak-anak.”

Kalimat itu membuat langkah Cokro berhenti. Ia menoleh sedikit pada Bu Niken. “Saya bisa sendiri.”

Sekretarisnya mengangguk, meski raut wajahnya jelas tidak nyaman, lalu mundur memberi jarak.

Rani mendekat lagi, kali ini hanya terpaut dua langkah. “Kamu nggak bisa terus-terusan nutup akses aku ke Mahesa dan Mahendra.”

“Bisa,” jawab Cokro singkat.

Nada suaranya rendah, terkendali tapi justru itu yang membuat nyali Rani kembali menciut.

“Kamu datang ke sekolah tanpa izin. Kamu bikin anak-anak bingung. Kamu pikir itu tindakan ibu yang baik?”

Wajah Rani berubah. “Aku ibu kandung mereka!”

“Dan kamu juga orang yang pergi tanpa menoleh ke belakang,” potong Cokro tajam.

Beberapa kepala kini benar-benar menoleh terang-terangan. Rani menyadarinya. Harga dirinya terusik, dengan tatapan para karyawan itu.

“Apa kamu mau bikin drama di sini?” desis Cokro pelan, matanya menyapu sekitar.

Rani menarik napas dalam. Ia merendahkan nada suaranya. “Aku cuma mau hakku.”

“Hak?” Cokro tertawa kecil tanpa humor. “Hak itu datang bersama tanggung jawab. Waktu Mahesa demam tinggi tiga malam berturut-turut, kamu di mana? Waktu Mahendra nangis cari ibunya tiap ulang tahun, kamu di mana?”

Rani terdiam. Bibirnya bergetar, tapi entah karena marah atau malu.

“Aku salah. Iya, aku salah,” ucapnya akhirnya, lebih lirih. “Tapi bukan berarti aku berhenti jadi ibu mereka.”

Cokro menatapnya lama. Tidak ada kebencian yang meledak, hanya kekecewaan yang mengendap.

“Kamu ingin bertemu mereka?” tanyanya akhirnya.

Rani mengangguk cepat.

“Lewat jalur yang benar. Datang ke rumah. Bicara baik-baik. Jangan menyusup ke sekolah. Jangan datang ke kantor saya seperti ini.”

“Dan istrimu?” tanya Rani, nada sinisnya muncul lagi. “Dia pasti nggak akan suka.”

“Itu urusan saya.”

Rani menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia terlihat goyah, Cokro melangkah mendekat satu langkah, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit namun lebih dingin.

“Saya tidak akan melarang kamu jadi ibu,” ucapnya tegas. “Tapi saya juga tidak akan membiarkan kamu mengacaukan hidup anak-anak saya.”

Kata “saya” itu jelas. Batas itu jelas.

Rani menggenggam tasnya erat. Ia sadar, ia tidak lagi menghadapi pria yang dulu bisa ia kendalikan dengan emosi atau rayuan.

Cokro berbalik.

“Kalau mau bertemu, hubungi pengacara saya. Kita atur resmi. Sampai saat itu, jangan datang lagi tanpa izin.”

Langkahnya mantap menuju pintu keluar gedung. Rani berdiri terpaku di tengah lobi, tatapannya mengikuti punggung pria itu yang semakin menjauh.

Namun di balik wajah tegar itu, pikirannya bekerja cepat. Kalau jalur baik-baik tidak mempan… mungkin ia memang harus bermain lebih jauh. Dan Rani tidak akan datang tanpa strategi.

Bersambung ....

1
Sugiharti Rusli
dan meski saat ini Rani merasa dia sudah mendapatkan jalan buat kembali ke Cokro melalui anak" nya, tapi dia lupa kalo sang mantan suami sudah berubah banyak dan belajar dari pengalaman, dan memang kuncinya di Mahendra dan Mahesa nanti sih, karena anak" tuh bisa merasa ketulusan dari seseorang itu asli apa palsu
Sugiharti Rusli
memang sih sang mediator sejatinya pasti bersikap netral dan hanya melihat kepentingan dari kedua anak mereka yah
Sugiharti Rusli
dan sejatinya Cokro amat sangat tahu sifat asli mantan istrinya itu, meski orang bisa berubah yah,,,
Sugiharti Rusli
tapi sedari awal si Rani sudah mulai bermain curang dan juga tidak dengan ijin dari Cokro sebagai wakinya datang ke sekolah diam",,,
Sugiharti Rusli
sebetulnya kalo niat awal si Rani memang baik, pasti Cokro tidak akan pernah menghalanginya bertemu anak" mereka yah
Oma Gavin
dulu kabor ngejar kesenangan pribadi ngga mikir anak sekarang lihat cokro sukses ngiler pengen balikan dasar jalang murahan
Sugiharti Rusli
kalo kamu memang memiliki bukti sangat kuat tentang surat atau apapun tentang anak kalian, hadapì saja Cokro, nanti akan terlihat apa yang jadi motif sebenarnya si Rani,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya dia menganggap remeh keberadaan Melati di sisi Cokro yang terlihat masih muda dan bisa dia abaikan keberadaannya,,,
Sugiharti Rusli
dia merasa sangat percaya diri kalo mantan suaminya serapuh dulu saat dia tinggalkan karena yakin Cokro masih ada cinta di hatinya,,,
Sugiharti Rusli
karena dia tahu ga mungkin masuk melalui Cokro langsung demi memenuhi ambisi dirinya yang sudah melihat bagaimana mantan suaminya sekarang,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya dari niatnya sudah terbaca kalo anak" nya cuma dijadikan sasaran antara si Rani sih ini,,,
Bak Mis
semoga kebaikan yg bisa memenangkan kasus ini dan ke 2 anak itu bisa berada di sisi ayahnya
Bak Mis
dasar wanita munafik,smg kebenaran terungkap
Sugiharti Rusli
sepertinya niat si Rani ga murni karena anak" nya sih, tapi kedudukan Cokro sekarang yang jauh lebih mentereng,,,
Sugiharti Rusli
semoga sekarang pun di saat Cokro harus menghadapi mantan istrinya dan kali ini bersangkutan dengan anak" nya, semoga Melati bisa jadi penyokong terkuatnya yah,,,
Sugiharti Rusli
padahal di awal mereka menikah, Cokro dan putra pertamanya memasang tembok tinggi terhadapnya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi meski secara usia Melati masih muda, tapi untuk kematangan dan kedewasaan berpikir dia bisa mengimbanginya,,,
Sugiharti Rusli
tapi kali ini Cokro tidak sendiri dan ada Melati istrinya sekarang,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya sekarang Cokro harus menghadapi mantan istrinya dengan keras lagi yah,,,
Oma Gavin
kembali lagi pasti nya demi uang cokro dan posisinya kembali dasar jalang murahan ngga sadar diri banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!