Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari-hari setelah kejadian itu, Rani memang tidak datang, ke sekolah Mahesa ataupun Mahendra, karena memang pihak sekolah sudah mulai mencegahnya, namun bagai Rani ia tidak ingin berhenti sampai di situ saja.
Kali ini ia langsung datang ke kantor Cokro, dihadapan gedung tinggi itu senyum Rani terukir jelas, matanya menyapu logo besar beberapa detik, seolah kagum dengan pencapaian Cokro selama ini.
"Gak nyangka kamu akan sehebat ini," ungkap Rani. "Andai dulu aku tidak ninggalin kamu," kata-kata itu terhenti seolah menyimpan makna yang ia sendiri tahu jawabannya.
Rani melangkah perlahan, ia mendatangi staf adminitrasi.
“Selamat siang,” sapanya manis pada petugas administrasi.
“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?”
“Pak Cokro ada? Saya ingin bertemu.”
“Sudah ada janji sebelumnya?”
Rani tersenyum, kali ini sedikit lebih tipis. “Belum. Kami… teman lama.”
Petugas itu tetap tersenyum profesional. “Maaf Bu, tanpa janji kami tidak bisa mengizinkan masuk.”
Untuk sepersekian detik, senyum Rani mengeras. Jadi sekarang… bahkan untuk bertemu pun ia butuh izin?
Rani mengeraskan rahangnya seolah tidak terima dengan penolakan itu, namun ia berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Tapi saya butuh bertemu dengan beliau sekarang, ada sesuatu penting yang ingin saya sampaikan," ucap Rani sedikit menekankan di kalimat akhirnya.
Petugas itu terdiam, tapi tangannya langsung memegang telepon untuk menghubungi sekretariat atasannya itu.
"Selamat siang, Bu Niken," kata staf itu dalam panggilannya.
"Iya ada apa?"
"Di depan ada seorang perempuan yang ingin bertemu Pak Cokro, dia belum melakukan janji terlebih dahulu," jelas staf itu.
Sekretaris itu langsung menolak karena memang peraturan kantor seperti itu, dan setelah sambungan itu selesai, staf adminitrasi langsung menjelaskan pada Rani, meskipun reaksi perempuan itu seolah belum bisa menerimanya.
"Bu, sudah dengar sendiri kan? Atau gak besok saja ibu datang lagi, tapi jangan lupa buat janji terlebih dahulu ya," ujar staf itu dengan tegas.
Rani tidak bisa berbuat apa-apa, namun apakah langkahnya terhenti sampai di sini?" jawabannya justru tidak, wanita itu menatap pergelangan tangannya. Di lihat dari situ waktu hampir menunjukkan jam makan siang.
"Aku tidak akan nyerah, lihat saja sebentar lagi aku akan menemui mu," gumamnya dengan seringai.
Ia tahu jam istirahat merupakan satu-satunya celah, agar ia bisa menemui Cokro secara langsung.
Tak lama kemudian pintu lif itu terbuka dengan sendirinya, suara langkah kaki Cokro dan sekretarisnya Bu Niken terdengar pelan, setelan jasnya rapi aura dingin yang ia bawah sontak membuat beberapa orang memberinya jalan. Ia sedang membahas sesuatu dengan nada rendah ketika langkahnya terhenti sepersekian menit.
Dari kejauhan sana Rani menatap sosok itu, sosok yang ia tinggal dalam keadaan runtuh, dulu pria itu tidak sedingin dan mempunyai wibawa seperti sekarang.
Langkah kaki Rani segera mendekat, dan suaranya menghentikan percakapan itu.
"Mas," ucapnya pelan.
Suara itu spontan membuat Bu Niken menoleh. Cokro menatap sepersekian detik, sorot matanya tajam, seolah merasa terganggu dengan kedatangan wanita di masa lalunya itu.
Untuk sesaat, hanya ada tatapan yang saling beradu. Rani tersenyum tipis, seolah pertemuan itu kebetulan belaka.
“Kita perlu bicara.”
Cokro berbalik penuh menghadapnya. “Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Beberapa karyawan mulai melambatkan langkah. Situasi itu terlalu tegang untuk diabaikan.
Rani melangkah mendekat, cepat sebelum Cokro benar-benar pergi. “Cuma sebentar. Tentang anak-anak.”
Kalimat itu membuat langkah Cokro berhenti. Ia menoleh sedikit pada Bu Niken. “Saya bisa sendiri.”
Sekretarisnya mengangguk, meski raut wajahnya jelas tidak nyaman, lalu mundur memberi jarak.
Rani mendekat lagi, kali ini hanya terpaut dua langkah. “Kamu nggak bisa terus-terusan nutup akses aku ke Mahesa dan Mahendra.”
“Bisa,” jawab Cokro singkat.
Nada suaranya rendah, terkendali tapi justru itu yang membuat nyali Rani kembali menciut.
“Kamu datang ke sekolah tanpa izin. Kamu bikin anak-anak bingung. Kamu pikir itu tindakan ibu yang baik?”
Wajah Rani berubah. “Aku ibu kandung mereka!”
“Dan kamu juga orang yang pergi tanpa menoleh ke belakang,” potong Cokro tajam.
Beberapa kepala kini benar-benar menoleh terang-terangan. Rani menyadarinya. Harga dirinya terusik, dengan tatapan para karyawan itu.
“Apa kamu mau bikin drama di sini?” desis Cokro pelan, matanya menyapu sekitar.
Rani menarik napas dalam. Ia merendahkan nada suaranya. “Aku cuma mau hakku.”
“Hak?” Cokro tertawa kecil tanpa humor. “Hak itu datang bersama tanggung jawab. Waktu Mahesa demam tinggi tiga malam berturut-turut, kamu di mana? Waktu Mahendra nangis cari ibunya tiap ulang tahun, kamu di mana?”
Rani terdiam. Bibirnya bergetar, tapi entah karena marah atau malu.
“Aku salah. Iya, aku salah,” ucapnya akhirnya, lebih lirih. “Tapi bukan berarti aku berhenti jadi ibu mereka.”
Cokro menatapnya lama. Tidak ada kebencian yang meledak, hanya kekecewaan yang mengendap.
“Kamu ingin bertemu mereka?” tanyanya akhirnya.
Rani mengangguk cepat.
“Lewat jalur yang benar. Datang ke rumah. Bicara baik-baik. Jangan menyusup ke sekolah. Jangan datang ke kantor saya seperti ini.”
“Dan istrimu?” tanya Rani, nada sinisnya muncul lagi. “Dia pasti nggak akan suka.”
“Itu urusan saya.”
Rani menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia terlihat goyah, Cokro melangkah mendekat satu langkah, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit namun lebih dingin.
“Saya tidak akan melarang kamu jadi ibu,” ucapnya tegas. “Tapi saya juga tidak akan membiarkan kamu mengacaukan hidup anak-anak saya.”
Kata “saya” itu jelas. Batas itu jelas.
Rani menggenggam tasnya erat. Ia sadar, ia tidak lagi menghadapi pria yang dulu bisa ia kendalikan dengan emosi atau rayuan.
Cokro berbalik.
“Kalau mau bertemu, hubungi pengacara saya. Kita atur resmi. Sampai saat itu, jangan datang lagi tanpa izin.”
Langkahnya mantap menuju pintu keluar gedung. Rani berdiri terpaku di tengah lobi, tatapannya mengikuti punggung pria itu yang semakin menjauh.
Namun di balik wajah tegar itu, pikirannya bekerja cepat. Kalau jalur baik-baik tidak mempan… mungkin ia memang harus bermain lebih jauh. Dan Rani tidak akan datang tanpa strategi.
Bersambung ....