NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Pertemuan di ruang tamu utama mansion Gonzales itu berlangsung dengan tensi yang ganjil. David Gonzales duduk di sofa tunggalnya seperti seorang raja yang sedang mengawasi transaksi masa depan, sementara di meja marmer di depannya, tiga anak muda dengan otak brilian sedang membedah strategi pasar.

Selama satu jam penuh, Leonor terpaksa menelan egonya. Ia harus mengakui satu kenyataan pahit: Edgar Castiel Martinez tidak berada di puncak dunia hanya karena nama belakangnya. Cara pria itu membedah risiko finansial, kemampuannya melihat celah pada logistik internasional, dan bagaimana ia mengintegrasikan visi desain Leonor ke dalam model bisnis yang agresif benar-benar tanpa cela.

Bahkan Ethan, meski sering kali hanya mengekor ide Edgar, menunjukkan ketajaman insting yang membuktikan bahwa darah Gonzales memang mengalirkan bakat bisnis yang mumpuni.

Leonor duduk tegak, menjelaskan konsep sustainable couture miliknya. Setiap kali ia bicara, Edgar memperhatikannya dengan intensitas yang membuat kulit Leonor meremang. Edgar tidak lagi memandangnya sebagai "gadis tanpa nama", melainkan sebagai rival intelektual yang setara.

"Selesai," ucap Edgar sambil menutup

laptopnya dengan bunyi klik yang mantap.

"Rencana bisnis ini sudah sempurna. Dengan desainmu dan manajemen operasional dari timku, proyek ini akan menjadi standar baru di universitas."

David Gonzales bertepuk tangan pelan, wajahnya tampak sangat puas. "Luar biasa. Edgar, kau benar-benar membawa perspektif yang tidak terpikirkan oleh kami sebelumnya."

Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Edgar berdiri, merapikan kemejanya yang tetap tampak licin meski setelah perdebatan panjang. Aura otoritasnya kembali pulih sepenuhnya, seolah kejadian "gila" di kamar Leonor tadi hanyalah halusinasi singkat.

"Terima kasih atas jamuannya, Mr. Gonzales," ucap Edgar dengan nada sopan namun tetap berjarak.

"Sama-sama, Edgar. Ethan, antar Edgar ke depan. Pastikan mobilnya sudah siap," perintah David dengan nada yang tidak bisa dibantah. David kemudian menoleh ke arah Leonor, memberikan kode dengan matanya agar Leonor ikut berdiri dan menunjukkan kesopanan. "Leonor, antar tamu kita."

Leonor berdiri, namun matanya tidak menatap ayahnya ataupun Edgar. Ia merasa energinya sudah terkuras habis. Ia sudah memberikan otaknya untuk proyek ini, ia sudah memberikan ruang pribadinya untuk diinvasi, dan ia tidak merasa perlu memberikan satu detik pun waktunya untuk basa-basi di teras depan.

Edgar menatap Leonor, menunggu. Ia berharap gadis itu akan berjalan di sampingnya, mungkin memberikan satu tatapan benci lagi yang bisa ia nikmati. Edgar ingin melihat apakah Leonor masih memiliki keberanian yang sama seperti saat ia memakai masker lumpur tadi.

"Ethan saja yang mengantar," ucap Leonor pendek. Suaranya dingin, seolah sedang bicara pada dinding.

"Leonor!" tegur David, suaranya merendah penuh ancaman. "Di mana sopan santun mu?"

Leonor menoleh pada ayahnya, memberikan senyum tipis yang penuh kepahitan. "Ayah, tugas kolaborasi ku sudah selesai. Aku bukan pelayan mansion ini, dan aku yakin Tuan Martinez tahu jalan keluar. Dia punya supir, punya pengawal, dan punya ego yang cukup besar untuk memandu jalannya sendiri."

Ethan meringis, merasa malu di depan Edgar. "Maafkan dia, Ed. Dia memang sedang... tidak stabil."

Edgar justru tertawa pendek. Ia menatap Leonor dengan sorot mata yang seolah ingin menelanjangi semua pertahanan gadis itu. "Tidak apa-apa, Mr. Gonzales. Aku lebih suka wanita yang tahu kapan harus berhenti bersikap manis."

Tanpa menunggu sepatah kata pun lagi, bahkan sebelum Edgar benar-benar melangkah keluar dari ruang tamu, Leonor berbalik. Ia tidak peduli pada tatapan murka ayahnya yang seolah menjanjikan hukuman esok hari. Ia tidak peduli pada Ethan yang berusaha menjilat Edgar di sepanjang jalan menuju pintu utama.

Leonor berjalan menjauh. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai marmer. Ia tidak mengantar Edgar ke pintu. Ia tidak melambaikan tangan saat mesin Lamborghini itu menderu di halaman depan.

Ia langsung menuju kamarnya di lantai atas, masuk ke dalamnya, dan mengunci pintu dengan bunyi ceklek yang keras.

Leonor menyandarkan punggungnya di balik pintu. Napasnya terengah-engah. Di dalam kamar yang sepi itu, aroma parfum Edgar, campuran antara kayu cendana dan kekuasaan, ternyata masih tertinggal, menempel di udara dan di sprei tempat pria itu tadi berbaring.

Ia berjalan menuju ranjangnya, menatap bantalnya yang sedikit berantakan. Ia merasa sangat kotor secara emosional. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus mengakui kepintaran Edgar. Ia membenci kenyataan bahwa pria itu tidak takut pada kegilaannya.

Di luar, ia mendengar suara mobil Edgar yang perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di mansion Gonzales.

"Kau pikir kau menang karena aku mengakui otakmu, Edgar?" bisik Leonor pada kegelapan kamar. "Kau salah."

Ia mengambil botol parfum miliknya yang beraroma bunga melati yang lembut dan menyemprotkannya ke seluruh ruangan, mencoba menghapus jejak kehadiran Edgar. Ia ingin menghapus setiap memori tentang pria itu dari ruang pribadinya.

Namun, saat ia berbaring di tempat Edgar berbaring tadi, jantungnya masih berdetak tidak beraturan. Ia teringat sumpah yang ia ucapkan: membuat Edgar jatuh cinta dan mencampakkannya.

Malam ini, ia menyadari satu hal. Edgar Martinez bukanlah lawan yang mudah. Pria itu tidak bisa dihancurkan hanya dengan kata-kata vulgar atau pengabaian. Untuk menghancurkan pria seperti Edgar, Leonor harus masuk lebih dalam ke dalam hidupnya. Ia harus benar-benar menjadi candu yang ia janjikan.

"Besok," gumam Leonor sambil memejamkan mata. "Besok, aku tidak akan lari lagi. Aku akan menjadi wanita yang tidak bisa kau abaikan, hingga kau sendiri yang memohon agar aku tidak pergi dari kamarmu."

Di bawah, suara David Gonzales yang memarahi pelayan terdengar samar, disusul suara Ethan yang memuji-muji Edgar. Leonor menutup telinganya dengan bantal. Di rumah ini, dia sendirian. Tapi di luar sana, dia sedang menyiapkan sebuah jaring sutra untuk menjerat sang raja Martinez.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!