Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jujur
Malam itu, Lala berbaring menghadap langit-langit kamar. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya tipis dari luar jendela yang masuk.
Di sampingnya, Rendra bernapas teratur belum tentu tidur, tapi cukup diam untuk tidak mengganggu. Lala memejamkan mata, Lalu membukanya lagi, ia tak bisa tidur.
Pikirannya tidak berhenti pada obrolan siang tadi, potongan-potongan kalimat yang sebenarnya tidak jahat, tapi entah kenapa terasa berat dibenaknya.
“Capeknya beda.”
Ia ingat betul nada suaranya saat menjawab itu. Capeknya beda karena sekarang hidupnya bukan cuma miliknya sendiri. Karena sekarang, setiap pilihan seperti punya ekor panjang.
“Tapi la, lo udah itu?”
Lala mengernyit pelan di kegelapan. Ia tahu maksudnya. Ia juga tahu itu bukan pertanyaan vulgar, hanya basa-basi versi orang-orang yang hidupnya sudah melewati fase itu. Tapi tetap saja, rasanya seperti disorot. Ia menggeser tubuh sedikit, berusaha mencari posisi nyaman. Tetapi tidak membantu.
“Buat anak.”
Kalimat itu terdengar ringan diucapkan Ilya, disusul tawa yang mengalir begitu saja. Seolah itu hal paling alami di dunia orang yang sudah menikah.
Dan memang begitu, bagi mereka. Bagi Lala... belum tentu. Ia bukan tidak mau. Ia hanya belum sampai ke sana secara pemikiran, dan secara perasaan. Pernikahan ini masih baru. Dua minggu. Bahkan rutinitas saja masih ia pelajari. Ia masih belajar berbagi ruang, berbagi waktu, berbagi diam.
Lala menarik napas pelan. Rendra tidak pernah menuntut. Tidak pernah menyinggung soal itu. Tidak pernah memberi isyarat. Justru itu yang membuat Lala merasa aneh.
Ia menoleh sedikit. Dalam gelap, siluet wajah Rendra terlihat samar. Tenang. Seperti tidak membawa beban apa pun. Padahal tadi sore, ia tahu Rendra memperhatikannya. Cara ia bertanya. Cara ia diam setelah jawabannya yang singkat. Cara ia tidak memaksa, tapi jelas menunggu Lala bercerita.
Lala menutup mata lagi. Ia merasa bersalah tanpa tahu persis kenapa. Karena ia belum siap? Atau karena ia takut, cepat atau lambat, ia akan mengecewakan orang-orang. orangtuanya, orang tua rendra... bahkan Rendra?. Dan pikiran itu membuat dadanya sedikit sesak.
“Belum tidur?”Suara Rendra tiba-tiba terdengar, rendah dan pelan.
Lala tersentak kecil.“Belum.”
“gabisa tidur?”
“Iya.”
Rendra bergeser sedikit, menghadap ke arahnya. Tidak terlalu dekat. Tidak menyentuh.
“Lo kepikiran apa?” tanyanya. Lala diam. Ia bisa saja menjawab nggak apa-apa. Biasanya begitu. Tapi malam ini, kata itu terasa terlalu bohong.
'apa gue ceritain aja ya' tanya Lala dalam hati pada diri nya sendiri. Ia berpikir mungkin Rendra memang menginginkan ’itu’ tapi Lala tidak peka. Tapi apa jika Lala bertanya dan jawaban rendra tepat, jika ia menginginkannya, apakah Lala siap.
Apakah Lala siap setelah dengan semua kemungkinan yang akan terjadi setelah itu. Hamil, memiliki anak. Lala hanya diam tidak menjawab pertanyaan Rendra.
“Hei kok bengong” tegur Rendra
“Emm gue mau tanya deh". ada keraguan dalam nadanya berbicara.
Rendra tidak menanggapi ia hanya menatap Lala dalam, seolah menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan
“Lo mau punya anak ga ren” ucap Lala
cepat tanpa melihat ke arah Rendra.
Rendra yang mendengarnya tertegun.
cukup kaget mendengar pertanyaan itu.
Pertanyaan itu menggantung di udara kamar yang gelap, sederhana tapi berat untuk dijawab. Lala masih menatap langit-langit, sengaja tidak menoleh. Ia takut melihat ekspresi Rendra. Takut menemukan jawaban sebelum benar-benar siap mendengarnya.
Rendra menggeser tubuhnya sedikit, bersandar pada satu siku. Napasnya terdengar lebih dalam dari biasanya.
“Gue...”
Ia berhenti. Bukan ragu lebih seperti menimbang.
“Gue mau,” katanya akhirnya, pelan tapi jujur. “Suatu hari.”
Lala menelan ludah. Dadanya mengencang, bukan karena kaget, tapi karena kata suatu hari itu punya banyak arti.
“Tapi gak harus sekarang,” lanjut Rendra cepat, seolah membaca ketegangan yang tiba-tiba mengeras di tubuh Lala.
Lala akhirnya menoleh. Dalam gelap, matanya bertemu mata Rendra. Tidak ada desakan di sana. Tidak ada tuntutan, Hanya kejujuran.
“Gue mau punya anak,” ulang Rendra, kali ini lebih tenang. “Kalau nanti... kita sama-sama siap.”
Lala menarik napas panjang, seolah baru diizinkan bernapas sejak tadi. Bahunya sedikit mengendur, meski pikirannya masih riuh.
“Gue... kepikiran. Dari obrolan hari ini. Dari cara orang-orang nanya hal itu, seakan itu harusnya udah ada.”
Rendra mengangguk pelan. “Gue ngerti.”
“Dan gue takut,” lanjut Lala, suaranya lebih lirih. “Takut kalo ternyata gue belum sampai ke sana, tapi semua orang udah nunggu gue ada di titik itu.”
Rendra tidak langsung menjawab. Ia diam cukup mengerti arti dari ucapan lala. ia tau ada ketakutan itu dalam diri Lala, yang menjadikan ia takut menikah.
“La,” katanya pelan, “gue nikah sama lo bukan buat ngejar fase hidup.” Lala menatapnya.
“Kalau suatu hari nanti lo bilang siap,” sambung Rendra, “ayo kita jalanin segimana mestinya, sengalirnya aja. Kalau lo bilang belum,” ia mengangkat bahu kecil, “yaudah kita jalanin aja dulu yang sekarang. Hidup kan nggak lomba.”
Lala tersenyum tipis. Senyum yang lebih lelah daripada bahagia, tapi jujur.
“Lo nggak kecewa?” tanyanya.
Rendra tertawa kecil, nyaris berbisik. “Kecewa kenapa?”
Hening turun perlahan. Kali ini bukan hening yang menekan, tapi yang memberi ruang. Lala memejamkan mata. Dadanya masih penuh.
“Makasih ya, lo udah mau ngerti gue” ucapnya pelan.
“Lo tenang aja,” lanjut Rendra dengan suara rendah, nadanya seperti menurunkan volume dunia di sekitar mereka. “Gausah ngerasa dikejar atau dituntut ini itu. Gue santai kok. Jangan sampe pernikahan ini malah jadi beban baru di hidup lo. itu kan bukan tujuan kita nikah.”Ia berhenti sebentar, memastikan Lala bukan sekadar mendengar, tapi meresapi apa yang ia katakan.
“Tujuan kita nikah kan bukan buat nambah beban,” ulangnya lebih pelan, lebih pasti. Lala hanya mengangguk kecil. Tidak ada kata yang keluar, tapi dadanya terasa sedikit lebih ringan. Ia tidak tahu harus membalas apa selain menerima. Ada hal-hal yang memang lebih tepat disimpan, bukan dijelaskan.
“Yaudah,” kata Rendra sambil menarik napas panjang, “tidur, La. Udah malem.”
Lampu sudah lama padam. Hanya suara lirih AC dan dengus napas yang pelan mengisi kamar. Rendra memejamkan mata, mencoba memaksa tubuhnya ikut beristirahat.
Namun beberapa menit berlalu, Lala masih terjaga. Ia menatap langit-langit lagi, tapi kali ini pikirannya tidak seberisik tadi. Masih ada degup kecil di dada, sisa dari percakapan yang jujur dan keberanian yang tidak ia sangka bisa ia keluarkan.
Rendra menyadarinya. Dari cara napas Lala yang belum benar-benar teratur. Dari tubuhnya yang masih sedikit kaku.
Ia bergeser pelan, hati-hati agar tidak mengejutkan.
“gue peluk ya,” ucapnya pelan, setengah bercanda, setengah sungguh-sungguh. “Kali aja bikin lo cepet tidur. Jangan lupa doa.”
Ia terkekeh kecil di akhir kalimat, mencoba membuatnya terdengar ringan.
“Modus,” balas Lala cepat, hampir refleks. Tapi jantungnya langsung berdegup lebih kencang.
Pelukan itu datang perlahan. Satu tangan Rendra melingkar ringan di pinggangnya, tidak menarik, sekadar hadir. Seperti memberi tahu, gue di sini.
Lala menegang sepersekian detik. Ia tidak terbiasa. Tidak pernah tidur dalam pelukan orang lain selain keluarganya. Ada rasa asing, tapi bukan yang menakutkan. Ia menarik napas. Menghembuskannya.
Lalu, tanpa sadar, tubuhnya menyesuaikan. Bahunya sedikit mengendur. Kepalanya mencari posisi paling nyaman di dada Rendra. Deg-degan itu masih ada. Tapi tidak mengganggu. Justru... menenangkan.
Rendra tidak bergerak lagi. Ia menjaga pelukan itu tetap ringan, seolah takut satu gerakan salah bisa membuat Lala berubah pikiran. Napasnya pelan, teratur, sengaja ia samakan dengan ritme Lala.
Beberapa menit berlalu. Napas Lala mulai melambat. Berat tubuhnya bertambah sedikit di lengannya. Jemarinya yang tadi kaku kini diam. Rendra tersenyum kecil dalam gelap.
Tanpa drama. Tanpa janji besar. Tanpa tuntutan apa pun.
Malam itu, Lala tertidur dengan perasaan yang lebih ringan.
semangat kak... salam dari Edelweiss...