Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lama Tidak Bertemu
Keesokan harinya, Kanaya sudah tampil cantik dengan balutan dress berwarna cream dan make up yang cukup tebal dari biasanya, ini semua karena paksaan Arin. Kanaya sudah menolaknya, tapi Arin begitu keras kepala dan akhirnya Kanaya pun ikut saja apa kata Arin, ia sempat curiga. Namun, Kanaya membuang kecurigaannya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di parkiran cafe, suasana di dalam mobil Arin terasa begitu tegang, setidaknya bagi Arin dan Kanaya yang duduk di kursi penumpang pun menatap keluar jendela dengan dahi berkerut.
"Rin, jadi gak? Kok gak turun?" tanya Kanaya heran karena Arin yang hanya diam saja.
Arin mencengkeram kemudi dengan erat, napasnya memburu dan Arin tahu ia telah melakukan kesalahan besar, namun ia sudah terlanjur basah.
"Kanaya, dengar aku dulu. Aku minta maaf. Sumpah, aku minta maaf banget," ucap Arin.
Kanaya menoleh sepenuhnya, firasat buruk mulai merayap di benaknya. "Minta maaf kenapa? Kamu mau balik sama Chiko?" tanya Kanaya.
"Bukan! Bukan itu!" Arin memutar tubuhnya menghadap Kanaya.
"Terus kenapa kamu minta maaf?" tanya Kanaya.
"Se-sebenarnya Minggu lalu, aku unduh aplikasi kencan di hp kamu," ucap Arin.
Kanaya mematung di kursi penumpang, perkataan Arin barusan terasa seperti siraman air es di siang bolong. "Aplikasi... apa? Rin, tunggu... kamu unduh aplikasi di hpku? jangan bilang...," ucapan Kanaya terhenti karena ia baru menyadari maksud dari Arin.
"Maaf, Kanaya. Aku buat akun di hp kamu dan atas nama kamu, aku pikir kamu sudah terlalu lama sendirian, kamu terlalu lama menutup diri dalam kenangan yang nggak pasti dan semalam, saat kamu mandi, ada satu akun yang match sama kamu," ucap Arin.
Kanaya mengepalkan tangannya di pangkuan, mencoba mencerna kegilaan sahabatnya. "Terus? Kamu balas?" tanya Kanaya.
"I-iya," jawab Arin.
"Arin," rengek Kanaya.
"Maaf, kemarin aku terlalu semangat dan saat dia ngajak ketemuan, aku bilang iya," ucap Arin.
"Aku gak mau ketemu dia, kamu aja yang ketemu soalnya kan kamu yang balas pesan dia, bukan aku," ucap Kanaya.
"Gak bisa," ucap Arin pelan.
"Gak bisa kenapa?" tanya Kanaya.
"Akun kamu kan pakai foto kamu," ucap Arin.
Kanaya pun segera memeriksa aplikasi yang dimaksud Arin, sayangnya tidak ada aplikasi tersebut.
"Kamu udah hapus aplikasinya? kok gak ada?" tanya Kanaya.
"Belum, aplikasinya aku sembunyiin," ucap Arin lalu mengambil ponsel Kanaya dan membuka aplikasi tersebut.
"Eh, dia idah kirim pesan," ucap Arin dan membuka pesan di aplikasi tersebut.
"Nay, dia udah didalam.Kamu temuin dia ya, kalau kamu cocok, kamu boleh lanjut dan kalau kamu gak cocok kamu boleh pergi," ucap Arin.
"Gak mau, aku gak mau masuk. Aplikasinya aku hapus aja biar aja dia nunggu didalam," ucap Kanaya.
"Kanaya, tolong ya. satu kali ini aja," ucap Arin.
"Rin, aku gak mau. Aku belum siap," ucap Kanaya.
"Aku gak nyuruh kamu buat terima dia, kalau kamu gak suka, kamu bisa pergi dan putus kontak sama dia," ucap Arin.
Akhrinya setelah perdebatan panjang, Kanaya pun mau masuk kedalam. Kanaya keluar dari mobil Arin, namun baru saja Kanaya turun mobil Arin sudah meninggalkannya sendirian.
"Kanaya, aku pulang dulu ya. Nanti, kamu minta anterin pria yang ada didalam," teriak Arin dari dalam mobil dan pergi.
"Arin," gumam Kanaya kesal.
"Aku masuk atau aku pergi aja ya? Huh, Arin ini menambah bebanku aja," gumamnya.
Akhirnya Kanaya memutuskan untuk masuk kedalam dan ia akan menolak pria tersebut.
Kanaya menarik napas panjang, menekan rasa gugup yang bergejolak di dadanya. Kanaya merapikan dress cream-nya sejenak sebelum melangkah mantap menuju meja nomor 7 yang disebutkan di aplikasi.
Di sana, seorang pria duduk dengan tenang, wajahnya tertutup sepenuhnya oleh majalah otomotif yang sedang ia baca. Tanpa menunggu pria itu menyadari kehadirannya, Kanaya langsung menarik kursi dan duduk di depannya dan ia akan menyelesaikan ini secepat mungkin.
"Maaf, sebelumnya. Saya datang ke sini hanya untuk meminta maaf, sebenarnya akun aplikasi kencan itu dibuat oleh sahabat saya, saya tidak tahu kalau dia memasang aplikasi itu dan selama ini yang membalas pesan itu juga sahabat saya bukan saya. Jadi, saya rasa per...," ucapan Kanaya terhenti saat melihat pria dihadapannya menurunkan majalahnya hingga memperlihatkan wajahnya sepenuhnya.
"Kanaya?" tanya pria di depannya.
Kanya tidak menjawabnya, ia hanya berkedip-kedip karena terlalu terkejut melihat siapa yang pria yang ada dihadapannya.
"Lama tidak bertemu," ucap Narendra yang berhasil menyadarkan Kanya.
"Na-Narendra?" tanya Kanaya pelan.
"Se-sepertinya aku salah meja," lanjut Kanaya dengan canggung.
"Aku memang menunggu kamu," ucap Narendra.
"A-aku?" tanya Kanaya.
"Pria di aplikasi kamu itu aku," jawab Narendra.
Kanaya merasa seolah bumi berhenti berputar, perkataan Narendra berhasil menghantamnya dengan keras.
"Kamu pesan makan dulu," ucap Narendra dan menyerahkan buku menu pada Kanaya.
"A-aku gak lapar," jawab Kanaya.
"Kamu sudah datang kesini, jadi kamu harus makan," ucap Narendra yang tidak ingin dibantah.
Dengan tangan gemetar, Kanaya mengambil buku menu dan memesan cemilan. Saat ini, Kanaya tidak selera makan, jadi karena itu Kanaya hanya memesan cemilan saja.
"A-aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Kanaya dan diangguki Narendra.
Kanaya melangkah dengan terburu-buru menuju kamar mandi kafe dan begitu pintu tertutup, ia langsung menyandar pada daun pintu, memegang dadanya yang berdegup kencang hingga terasa sakit.
Kayla menatap pantulan dirinya di cermin besar, "Ini nggak mungkin, ini nggak masuk akal," gumam Kanaya sambil membasuh tangannya dengan air dingin dan mencoba mengusir rasa pening yang tiba-tiba menyerang.
"Dunia nggak sesempit itu," lanjutnya.
Kayla merogoh ponselnya dan jemarinya gemetar hebat saat mengetik pesan untuk Arin.
[Arin!!! Aku gak mau tahu ya. Pokoknya jemput aku, sekarang!!!]
Pesan itu hanya berstatus centang satu tanpa balasan, Arin seolah sengaja menghilang di saat Kanaya sedang berada di ambang ledakan jantung.
Setelah beberapa menit menenangkan diri dan memperbaiki riasannya yang sedikit berantakan karena keringat dingin, Kanaya keluar dengan langkah ragu. Kanaya kembali ke meja dan mendapati Narendra sedang menyesap minumannya dengan tenang seolah pertemuan ini adalah hal paling normal di dunia.
Baru saja Kanaya hendak bersuara, pesanannya pun datang. "Makan dulu," ucap Narendra dan diangguki Kanaya.
Beberapa saat kemudian, mereka selesai menikmati makanan tersebut. "Jadi, bagaimana kabarmu?" tanya Narendra.
"I-itu... Aku baik-baik saja, kamu sendiri?" tanya Kanaya gugup.
"Tentu saja baik," jawab Narendra.
Keheningan pun melanda, Kanaya ingin sekali pergi. Namun, ia bingung harus mengatakan apa ketika pergi, tangannya sudah menggenggam ponselnya dan mencoba menghubungi Arin, sayangnya Arin tidak bisa dihubungi.
'Kemana sih Arin ini?' batin Kanaya.
.
.
.
Bersambung.....