Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 13: Pembantaian kecil
Reggiano memacu motor curiannya membelah jalanan kota yang masih remang. Pikirannya berkecamuk antara janji Seraphine dan beban masa lalunya yang mulai terkuak. Sesampainya di depan unit apartemennya, ia menarik napas panjang, mencoba menghapus raut lelah dan aroma ragi dari wajahnya.
Saat ia membuka pintu, pemandangan di depannya sempat membuatnya lega. Elena sedang tidur di tepi ranjang, mengenakan gaun tidur putih favoritnya. Gadis kecil itu sedang menyisir rambut bonekanya sambil bersenandung pelan. Wajahnya tampak jauh lebih ceria, bahkan pipinya sedikit bersemu merah.
Adiknya yang dulu lumpuh total, sekarang sudah bisa bergerak sedikit demi sedikit.
"Kak Reggiano! Kakak pulang!" seru Elena dengan suara yang terdengar jernih. Ia hendak melompat dari kasur untuk memeluk kakaknya.
Reggiano tersenyum, senyum tulus yang jarang muncul. Ia melangkah mendekat, tangannya terulur hendak mengacak rambut adiknya.
"Bersiaplah, Elena. Kita akan pergi ke tempat Nona Seraphine. Dia punya kejutan untukmu."
Namun, tepat saat jari Reggiano hampir menyentuh dahi Elena, senyum di wajah gadis itu lenyap.
Elena mendadak mematung. Matanya melebar, tangannya mencengkeram sprei dengan kencang hingga buku jarinya memutih. Suara senandungnya terhenti, digantikan oleh suara tarikan napas yang kasar dan menciut.
Srekk... Srekk...
"Elena?" Jantung Reggiano seolah berhenti berdetak.
Gadis itu tidak bisa menjawab.
Wajahnya yang tadi merona mendadak berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Ia mencengkeram dadanya sendiri, mulutnya terbuka lebar berusaha meraup oksigen yang seolah hilang dari udara di sekitarnya. Suara napasnya berubah menjadi siulan tipis yang menyiksa.
"Elena! Mana alat pernapasan mu?!" Reggiano panik. Ia menyambar tabung obat di meja nakas dan mengarahkannya ke mulut Elena.
"Tarik napas, Sayang. Ayo, tarik napas... Elena, adikku..."
Tiga kali semprotan, namun tidak ada reaksi. Tubuh Elena justru mulai membiru di sekitar bibir. Serangan ini berbeda. Ini bukan asma biasa; ini seolah-olah seluruh paru-parunya telah mengeras menjadi batu.
Tubuh kecil itu mulai gemetar hebat akibat kekurangan oksigen.
"Sial! Tidak sekarang! Jangan sekarang!" teriak Reggiano.
Ia tidak lagi peduli pada protokol keselamatan. Ia menyambar mantel tebal, membungkus tubuh Elena yang mungil, dan menggendongnya dalam satu dekapan protektif. Ia bisa merasakan jantung Elena berdetak sangat cepat dan tidak beraturan di balik dadanya.
"Bertahanlah, Elena. Sedikit lagi. Nona Florence menunggumu," bisik Reggiano dengan suara bergetar.
Reggiano menerjang keluar pintu, menghancurkan engselnya karena tidak sempat memutar kunci.
Di koridor, ia berlari seperti orang kesurupan. Setiap detik terasa seperti satu tahun. Ia tahu ambulans tidak akan cukup cepat, dan rumah sakit biasa tidak akan bisa menyembuhkan apa yang sudah "dirusak" oleh takdir genetik ini.
Hanya satu tujuan di kepalanya: Flower’s Patisserie.
Saat ia mencapai motornya di bawah guyuran hujan yang kembali turun, Reggiano mengikat tubuh Elena ke dadanya dengan ikat pinggang kulit agar adiknya tidak jatuh. Ia menggeber mesin motor hingga raungannya memecah kesunyian distrik itu.
"Nona Florence! Jangan biarkan dia mati!" raungnya di dalam hati sambil menembus lampu merah dan meliuk di antara mobil-mobil yang bergerak lambat.
Di punggungnya, Reggiano bisa merasakan napas Elena yang semakin melemah dan kepalanya yang terkulai lemas di bahunya. Ini adalah pacuan maut paling mengerikan yang pernah ia jalani, lebih mengerikan daripada saat ia dikejar oleh satu batalion musuh.
Raungan mesin motor Reggiano membelah kesunyian malam, bannya mencit di atas aspal basah tepat beberapa meter di depan sosok yang berdiri diam di tengah jalan raya. Seraphine di sana. Ia berdiri tegak di bawah siraman lampu jalan yang berkedip, namun tubuhnya memancarkan cahayanya sendiri, sebuah pendar hijau zamrud yang seolah menolak kegelapan kota.
Reggiano melompat turun bahkan sebelum motornya benar-benar berhenti. Ia melepaskan ikatan yang menyangga tubuh Elena dan mendekap adiknya yang sudah terkulai lemas, wajahnya membiru, nyaris tak bernapas.
"Nona Florence! Dia berhenti bernapas! Lakukan sesuatu!" raung Reggiano, suaranya pecah oleh keputusasaan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Seraphine tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, tangannya yang sudah berpendar cahaya hijau pekat langsung ditempelkan ke dada Elena. Seketika, getaran hebat menjalar dari telapak tangan Seraphine, membuat udara di sekitar mereka mendesis.
"Letakkan dia di atas kelopak bunga mawar ini, Tuan Herbert. Sekarang," perintah Seraphine dingin namun tegas.
Reggiano menurut dengan tangan gemetar. Di tengah jalan raya yang kosong itu, Seraphine berlutut di samping Elena. Ia tidak lagi tampak seperti gadis pembuat roti; ia tampak seperti kekuatan alam yang tidak manusiawi.
Akar-akar halus mulai merambat keluar dari ujung jarinya, menembus pakaian Elena, dan masuk langsung ke dalam kulit gadis itu menuju paru-parunya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Reggiano, matanya membelalak ngeri melihat akar itu masuk ke tubuh adiknya.
"Saya mengganti nafasnya yang rusak dengan nafas bumi," jawab Seraphine. Matanya kini bersinar hijau sepenuhnya.
"Tanah ini harus mengenalnya sebagai bagian dari dirinya, atau dia akan pergi selamanya. Berikan tanganmu, Tuan Herbert! Dia butuh jangkar manusia untuk tetap tinggal!"
Reggiano langsung berlutut di sisi lain, menggenggam tangan Elena yang terasa sedingin es.
"Elena... dengar suara Kakak. Jangan pergi. Tetap di sini... Kakak tidak mau kamu pergi sama seperti ibu, Kakak sangat mencintaimu.. "
Seraphine mulai membisikkan mantra dalam bahasa yang tidak dikenal, bahasa yang terdengar seperti suara gemersik hutan dan reruntuhan batu tua.
Cahaya hijau di dadanya Elena semakin terang, memompa keluar racun hitam dari paru-parunya. Elena tersentak hebat, tubuhnya melengkung ke atas, dan tiba-tiba sebuah tarikan napas panjang dan dalam terdengar.
Haaaaaah....
Elena menghirup udara dengan sangat rakus, seolah ia baru saja muncul dari dasar laut yang dalam. Warna biru di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh rona merah muda yang sehat. Akar-akar yang tadi masuk ke tubuhnya perlahan menarik diri, meninggalkan aroma tanah basah yang sangat segar di udara.
Seraphine terkulai lemas sejenak, wajahnya tampak sedikit pucat. Cahaya di tangannya meredup. Ia menatap Reggiano yang masih mencengkeram tangan Elena dengan erat.
"Dia selamat," bisik Seraphine.
"Tapi ingat janji kita. Dia bukan lagi milik dunia luar. Dia adalah benih yang telah ku tanam di taman ini."
Reggiano tidak peduli pada konsekuensinya lagi. Ia mengangkat Elena ke dalam pelukannya, menciumi kening adiknya yang kini bernapas dengan sangat teratur dan tenang, ketenangan yang tidak pernah ia dengar seumur hidup Elena.
"Terima kasih," bisik Reggiano, air mata jatuh di pipinya yang kotor oleh debu jalanan.
"Terima kasih, Seraphine..."
Seraphine berdiri, menatap ke arah bayangan gedung-gedung tinggi di kejauhan.
"Simpan terima kasihmu, Tuan Herbert. Kita tidak sendirian. Mereka sudah melihat apa yang baru saja kulakukan."
Reggiano mendongak, insting tempurnya kembali tajam. Di ujung jalan, beberapa unit kendaraan hitam milik Organisasi mulai muncul dari kegelapan, lampu-lampunya menyorot tajam ke arah mereka. Vauclain tidak akan membiarkan keajaiban ini berlalu tanpa penjelasan.
Reggiano berdiri tegak, bayangannya memanjang di atas aspal yang basah. Di belakangnya, ia bisa merasakan kehadiran Seraphine yang tenang meski maut sedang mengepung mereka.
Elena berada dalam dekapan wanita itu, tampak tertidur pulas dengan napas yang kini terdengar begitu lega sebuah pemandangan yang memberikan Reggiano kekuatan sepuluh kali lipat dari biasanya.
"Bawa dia masuk," perintah Reggiano tanpa menoleh.
Suaranya dingin, mantap, dan tak terbantahkan. "Jangan biarkan mereka menyentuh pintu toko itu."
Seraphine menatap punggung lebar Reggiano sejenak. Ia mengulurkan tangan bebasnya, menyentuh pundak Reggiano dengan lembut. Seketika, Reggiano merasakan aliran energi yang hangat merayap ke seluruh tubuhnya.
Penglihatannya menjadi lebih tajam, pendengarannya mampu menangkap detak jantung para agen di dalam mobil, dan luka-lukanya yang tadi masih terasa ngilu kini benar-benar mati rasa.
"Tanah ini akan menopang kakimu, Reggiano," bisik Seraphine. "Mereka tidak akan bisa menjatuhkanmu selama kau berdiri demi kehidupan."
Dengan satu lambaian tangan kecil dari Seraphine, pintu Flower’s Patisserie terbuka sendiri dengan suara gemerincing lonceng yang magis. Seraphine melangkah masuk membawa Elena, dan tepat saat kaki mereka melewati ambang pintu, pintu itu tertutup rapat dan menghilang dari pandangan mata manusia biasa, terganti oleh tembok bata tua yang tampak mati.
Kini, Reggiano berdiri sendirian di tengah jalan raya yang dikepung.
Tiga kendaraan hitam berhenti serempak.
Pintu-pintu terbuka, dan belasan agen berseragam taktis keluar dengan senapan serbu terarah tepat ke jantung Reggiano. Di tengah mereka, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal dan cerutu di tangannya keluar dari kursi belakang.
Sosok itu adalah Vauclain.
"Reggiano," suara Vauclain berat dan penuh kekecewaan.
"Kau selalu menjadi aset terbaikku. Tapi melihatmu berdiri di sana, melindungi barang yang bagus dan seorang gadis kecil yang seharusnya sudah mati... betapa menggelikan nya pemandangan dari seorang pembunuh brutal."
Reggiano tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menghunuskan pistol Custom 1911 miliknya dengan gerakan yang sangat cepat hingga mata manusia sulit mengikutinya. Di tangan kirinya, ia memegang belati yang kini berpendar cahaya hijau samar, keajaiban kecil yang ditinggalkan Seraphine.
"Elena tidak lagi dalam daftar tugasmu, Vauclain," ucap Reggiano, suaranya bergema di jalanan yang sunyi. "Dan aku? Aku sudah bukan lagi anjingmu."
"Begitu rupanya," Vauclain mengembuskan asap cerutunya. Ia mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada para agennya. "Sayang sekali. Hancurkan dia. Bawa wanita itu hidup-hidup, aku ingin tahu rahasia keabadiannya."
RAT-TAT-TAT-TAT!
Hujan peluru menyalak. Namun, keajaiban Seraphine bekerja. Setiap kali peluru hampir mengenai kulit Reggiano, aspal di bawah kakinya seolah bergelombang, membuat posisi tubuh Reggiano bergeser secara alami untuk menghindar. Reggiano bergerak maju seperti badai hitam.
Ia melepaskan dua tembakan yang langsung melubangi tangki bensin salah satu mobil, menciptakan ledakan yang mengalihkan perhatian musuh. Dalam kabut api itu, Reggiano menerjang. Pisau karambitnya menyambar udara, memotong laras senjata dan urat nadi lawan dengan presisi yang mengerikan. Ia bukan lagi sekadar eksekutor; ia adalah penjaga gerbang yang sedang mengamuk.
Setiap tetes darah yang jatuh ke aspal malam itu seolah langsung diserap oleh tanah, memberikan kekuatan tambahan bagi Reggiano. Ia tahu ini adalah tarian terakhirnya sebagai manusia yang penuh dosa, dan ia akan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melewati garis imajiner menuju toko Seraphine.
Asap mengepul dari laras pistol Reggiano yang panas. Di sekelilingnya, jalanan layaknya kuburan besi dan beton. Belasan agen Organisasi tergeletak tak bernyawa, dan kendaraan mereka hanya menyisakan kerangka yang terbakar.
Vauclain telah melarikan diri saat melihat anak buahnya dibantai oleh sesuatu yang lebih dari sekadar keterampilan manusia.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Pelatuk Reggiano, ditarik dan mengenai jantung Vauclain.
Musuh telah mati semua dan Reggiano berlutut, napasnya tersengal dan mengeluarkan uap darah.
Mantel hitamnya kini hancur, menyingkap luka tembak di perut dan bahunya.
Keajaiban Seraphine memang membuatnya tak terkalahkan selama pertarungan, namun setelah adrenalinnya turun, tubuh manusianya mulai menagih janji pada maut.
Ia menyeret tubuhnya di atas aspal yang dingin, meninggalkan jejak merah yang panjang. Ia sampai di depan tembok bata tua yang kosong tempat di mana seharusnya pintu toko itu berada.
Baginya, toko itu kini tak terlihat, tersembunyi di balik tabir sihir yang melindungi Elena.
Dengan sisa kekuatannya, Reggiano mengangkat tangan yang berlumuran darah. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk berteriak. Ia hanya bisa mengetuk tembok itu dengan buku jarinya yang gemetar.
Tok... tok... tok...
"Nona Seraphine..." bisiknya parau.
"Aku sudah menyelesaikan... tugasku."
Pandangannya mulai mengabur.
Dunia terasa berputar.
Reggiano merasa tubuhnya semakin berat, seolah tanah di bawahnya ingin menariknya masuk dan menguburnya di sana. Ia menyandarkan punggungnya pada tembok bata dingin itu, menutup mata, dan membiarkan senjatanya jatuh dari genggaman.
Tepat saat kesadarannya hampir hilang, tembok di belakangnya mendadak terasa lunak. Suara lonceng kecil yang sangat familiar berdenting di telinganya.
Udara dingin jalanan berganti dengan aroma roti jahe dan mawar yang hangat.
Reggiano tidak lagi jatuh ke aspal, melainkan ke dalam pelukan seseorang yang aromanya sangat ia kenali.
"Anda pria yang sangat keras kepala, Tuan Herbert," suara Seraphine terdengar begitu dekat, penuh dengan nada cemas yang jarang ia tunjukkan.
Reggiano membuka mata sedikit, melihat wajah Seraphine yang samar di bawah cahaya lampu toko yang kuning keemasan. Ia tersenyum getir, darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Apakah... Elena baik-baik saja?"
"Dia tidur dengan tenang. Dia bernapas seperti bayi yang baru lahir," jawab Seraphine lembut. Ia meletakkan tangan di atas luka perut Reggiano, dan rasa sakit yang menyiksa itu mendadak berubah menjadi sensasi dingin yang menenangkan.
"Bagus," gumam Reggiano. "Kalau begitu... biarkan aku pulang. Aku lelah, Nona Seraphine. Aku sangat lelah menjadi pedang."
Seraphine mencium kening Reggiano, sebuah tindakan yang terasa seperti pemberkatan kuno.
"Kau sudah pulang, Tuan Herbert. Di sini, anda bukan lagi pedang. Kau hanyalah bagian dari taman ini sekarang."
Seraphine memapah tubuh besar itu masuk ke dalam, dan saat mereka lewat, tembok bata itu kembali mengeras, menutup rapat jalan menuju dunia luar.
Di jalan raya, hanya tersisa genangan darah yang perlahan memudar disapu hujan, seolah-olah sang Eksekutor tidak pernah ada di sana.