NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pemandangan di depan ruang OSIS siang itu adalah tontonan paling menghibur bagi seantero SMA Garuda. Pintu kayu jati yang biasanya menjadi simbol kekuasaan itu terbuka, menampakkan Jonathan dan Claudia yang berjalan keluar dengan kepala tertunduk. Wajah Jonathan yang biasanya kaku dan angkuh kini tampak layu, sementara Claudia terus menutupi wajahnya yang sembap dengan rambut panjangnya.

Mereka baru saja keluar dari sidang darurat bersama Dewan Guru dan Kepala Sekolah. Keputusannya mutlak: Jonathan dicopot dari jabatan Ketua OSIS karena dianggap gagal menjaga integritas dan moralitas sebagai pemimpin siswa, sementara Claudia kehilangan posisinya sebagai bendahara sekaligus haknya untuk mencalonkan diri dalam organisasi apa pun hingga lulus.

Jenny, yang sedang berdiri di dekat mading bersama Emy, tidak bisa menahan diri. Ia melihat mereka dari kejauhan dan langsung tertawa cekikikan, sebuah tawa puas yang terdengar sangat renyah.

"Rasain! Emang enak urusan sama gue?" gumam Jenny sambil melipat tangannya di dada. Matanya berkilat penuh kemenangan saat melihat Jonathan sempat melirik ke arahnya dengan tatapan memohon, namun Jenny hanya membalasnya dengan lambaian tangan kecil yang sangat sarkastik.

"Gila, Jen. Gue baru kali ini liat Jonathan sehancur itu," bisik Emy takjub.

"Itu namanya konsekuensi, Em. Kalau nggak mau hancur, jangan main api, apalagi apinya di belakang gue," sahut Jenny santai.

Setelah berita putusnya Jenny dan Jonathan menyebar luas—bersamaan dengan terungkapnya skandal "Parkiran Apartemen"—sebuah fenomena aneh terjadi. Alih-alih terpuruk, pesona Jenny justru meledak dua kali lipat. Status single-nya menjadi buruan utama para siswa yang selama tiga tahun ini hanya bisa memandang dari jauh karena segan pada Jonathan.

Salah satu yang paling terang-terangan adalah Angga. Cowok kelas 12 IPA 1 itu adalah anggota tim voli, rekan setim Romeo yang dikenal memiliki senyum manis dan tubuh atletis. Ironisnya, Angga adalah teman sekelas Jonathan.

Sore itu di kantin, saat Jenny sedang asyik meminum es jeruknya, Angga tiba-tiba duduk di depannya tanpa diundang.

"Hai, Jenny. Latihan cheers-nya capek nggak hari ini?" tanya Angga dengan nada ramah, memberikan sebungkus cokelat bar ke atas meja.

Jenny menaikkan alisnya. "Nggak terlalu. Kenapa, Ngga?"

"Nggak apa-apa. Cuma mau kasih ini aja, biar lo semangat. Gue denger cokelat bisa bikin mood lebih bagus," Angga tersenyum lebar, sengaja memperlihatkan lesung pipinya. "Oh iya, kalau lo butuh tumpangan pulang atau sekadar temen buat nonton film akhir pekan ini, jangan sungkan hubungin gue ya. Nomor gue kan udah lo simpen dari grup angkatan."

Di meja seberang, Jonathan yang sedang duduk sendirian sambil membawa nampan makanannya hanya bisa terdiam membeku. Ia harus menyaksikan teman sekelasnya sendiri menggoda mantan pacarnya tepat di depan matanya. Rasa sakitnya berkali lipat saat melihat Jenny tidak menolak cokelat itu.

"Makasih ya, Angga. Gue pertimbangin nanti," jawab Jenny dengan nada menggantung yang membuat Angga semakin penasaran.

Namun, tidak semua orang senang dengan "Butterfly Era" milik Jenny. Di pojok koridor arah gym, suara pekikan Lisa terdengar membahana. Gadis itu sedang mengamuk di depan Romeo yang baru saja selesai latihan.

"Lo apa-apaan sih, Romeo?! Kemarin lo nganterin dia pulang, tadi pagi lo belain dia di depan Jonathan, sekarang lo malah jagain dia pas latihan cheers?! Lo itu pacar gue atau pengawal pribadinya?!" teriak Lisa sambil memukul-mukul lengan Romeo.

Romeo menghela napas, tampak sangat jengah. "Lisa, bisa nggak lo nggak teriak-teriak kayak orang kesurupan? Gue nggak ada apa-apa sama Jenny. Gue cuma bantu dia karena gue benci liat Jonathan menang."

"Bohong! Mata lo nggak bisa bohong tiap kali liat dia! Lo sengaja kan manfaatin momen mereka putus buat deketin Jenny?" Lisa mulai menangis histeris, membuat drama yang sangat mencolok di depan siswa lain. "Gue benci dia! Jenny itu cuma pura-pura baik, aslinya dia licik!"

"Yang licik itu temen lo, Claudia. Bukan Jenny," sahut Romeo dingin. Ia melepaskan cengkeraman tangan Lisa di lengannya. "Gue butuh udara seger. Jangan cari gue dulu."

Romeo berjalan meninggalkan Lisa yang masih meronta-ronta di tempat. Ia melangkah menuju gerbang sekolah, namun langkahnya terhenti saat melihat Jenny sedang tertawa bersama Angga di dekat parkiran motor.

Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di ulu hati Romeo. Sesuatu yang lebih mengganggu daripada omelan Lisa.

Jenny menyadari kehadiran Romeo. Ia segera berpamitan pada Angga dan berjalan menghampiri cowok red flag itu.

"Wah, kapten kita mukanya ditekuk banget. Abis kena semprot Lisa lagi?" goda Jenny sambil menyandarkan tubuhnya di motor besar milik Romeo.

"Pacar lo di IPA 1 itu nggak cukup buat lo? Sekarang lo mau nambah koleksi dari tim voli juga?" tanya Romeo sinis, merujuk pada Angga.

Jenny tertawa kecil. "Kenapa? Lo cemburu, Rom?"

"Dih, ogah. Gue cuma kasihan sama Angga. Dia nggak tau kalau lo itu cewek yang bisa bikin kerajaan orang runtuh dalam semalam," balas Romeo, meski matanya terus memperhatikan wajah Jenny yang tampak sangat bercahaya sore itu.

"Gue nggak bakal ngeruntuhin kerajaan orang kalau orangnya jujur," sahut Jenny. Ia mendekat, menatap mata Romeo dengan berani. "Makasih ya buat tadi pagi. Gue tau lo sebenernya punya hati, meski lo bungkus pakai jaket kulit yang serem ini."

Romeo terdiam. Untuk pertama kalinya, si mulut tajam itu kehilangan kata-kata.

"Besok latihan bareng lagi? Gue denger tim voli mau tanding persahabatan sama sekolah sebelah. Gue bakal ada di pinggir lapangan buat nyemangatin... tim kita," ucap Jenny sambil mengedipkan mata, lalu berjalan pergi meninggalkan Romeo yang masih terpaku.

Romeo menatap punggung Jenny yang menjauh, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Sial. Gue rasa gue emang dalam masalah besar."

Sementara itu, dari kejauhan, Claudia memperhatikan interaksi mereka dengan mata yang penuh kebencian. Ia telah kehilangan segalanya—posisi, kekasih, dan reputasi. Dan ia tidak akan membiarkan Jenny bahagia begitu saja setelah menghancurkan hidupnya.

"Kita liat siapa yang bakal ketawa terakhir, Jenny," bisik Claudia dengan suara parau yang dipenuhi dendam.

Apa yang akan dilakukan Claudia untuk membalas dendam?

Bekerja sama dengan Lisa: Keduanya bergabung untuk memfitnah Jenny agar dikeluarkan dari tim cheerleader.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!