NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Saatnya Kita Bahas Foto Pre-wedding, Mas

Matahari sudah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat Jakarta, digantikan oleh gemerlap lampu gedung pencakar langit yang mulai menyala satu per satu.

Di lobi Lantai 15, Arga berdiri dengan gelisah sambil memutar kunci mobilnya di jari. Dia sudah siap pulang sejak jam lima tepat, tidak sabar untuk lari dari atmosfer kantor yang mencekam di bawah rezim baru, namun dia masih menunggu "tuan putri"-nya.

Pintu kaca ruangan manajer terbuka. Nadinta keluar sambil membawa tablet, wajahnya masih segar meski sudah seharian bekerja.

"Mas Arga," panggil Nadinta saat melihat tunangannya berdiri di dekat resepsionis yang sudah kosong.

Arga menoleh cepat, wajahnya cerah sesaat. "Akhirnya keluar juga. Yuk, Din. Kita cari makan dulu sebelum pulang? Aku laper banget, seharian cuma makan roti."

Nadinta menggeleng pelan, memberikan senyum penuh penyesalan yang terukur.

"Maaf, Mas. Kayaknya Mas pulang duluan aja deh. Aku masih harus review beberapa kontrak vendor buat besok pagi. Takutnya kemalaman kalau Mas nungguin aku," tolak Nadinta halus.

"Lho? Kok gitu? Kamu kan manajer, masa lembur?" protes Arga.

"Justru karena aku manajer, aku harus kasih contoh, Mas. Lagipula aku udah pesan taksi online premium kok buat nanti, jadi aman," Nadinta menepuk lengan Arga. "Mas pulang aja, istirahat. Kasihan muka Mas kelihatan capek banget."

"Y-yaudah deh kalau gitu," Arga menyerah. Sejujurnya dia lega. Dia bisa pulang cepat, mungkin mampir ke tempat Maya sebentar untuk minta dipijat kepalanya yang pening. "Hati-hati ya, Din."

Arga berbalik dan berjalan menuju lift. Nadinta menatap punggung Arga yang menghilang di balik pintu besi itu. Senyum manisnya lenyap seketika, berganti dengan ekspresi datar.

Nadinta berbalik badan, matanya menyapu ruangan kantor yang sudah mulai sepi. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, menyisakan lampu koridor yang remang-remang.

Di sudut ruangan dekat pantry, di meja kecil yang menyedihkan itu, Rudi masih duduk terpaku di depan layar komputer tabungnya. Dia mengetuk keyboard dengan satu jari, sesekali mengumpat pelan.

Nadinta menatap mantan bosnya itu dari kejauhan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin.

Nikmati lembur Anda, Pak Rudi.

Nadinta hendak kembali ke ruangannya untuk membereskan tas, ketika ekor matanya menangkap cahaya lampu meja yang masih menyala di salah satu kubikel staf.

Itu kubikel Karina.

Anak magang itu masih duduk di sana, sendirian di tengah deretan meja kosong. Dia menatap layar laptop pribadinya dengan kening berkerut dalam, sesekali menggigit ujung pulpennya dengan cemas.

Nadinta mengernyit. Setahu dia, tugas Karina hari ini sudah selesai semua. Dia bukan tipe atasan yang menyiksa anak magang tanpa alasan.

Didorong rasa penasaran, Nadinta mengubah arah langkahnya. Dia berjalan pelan mendekati meja Karina tanpa suara.

"Rin."

"Eh ayam!" Karina terlonjak kaget, nyaris melempar mouse-nya. Dia menoleh dengan wajah panik, lalu menghela napas lega saat melihat Nadinta tertawa kecil di sampingnya. "Ya ampun, Mbak Nadin! Jantungku mau copot! Aku kira siapa tadi... "

Nadinta terkekeh, menarik kursi kosong dari kubikel sebelah dan duduk di samping Karina. Suasana di antara mereka langsung cair dan hangat.

"Serius banget, Rin. Lembur?" tanya Nadinta santai. "Perasaan kerjaan dari saya udah beres deh. Atau Maya nyuruh kamu ngerjain tugas dia lagi?"

"Eh, bukan, Mbak! Bukan tugas kantor kok," Karina buru-buru melambaikan tangan, lalu tersenyum malu. "Tugas dari Mbak Nadin udah beres semua. Ini... anu... lagi bantuin temen."

"Bantuin temen apa? Skripsi?"

Karina tertawa kecil, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukan, Mbak. Jadi gini... temen aku ada yang baru buka usaha butik baju. Dia minta tolong aku buat bantuin strategi pemasarannya karena penjualannya stuck banget dua bulan ini. Padahal barangnya bagus, impor Bangkok gitu."

Karina memutar laptopnya, memperlihatkan akun media sosial butik temannya itu pada Nadinta.

"Aku lagi pusing mikirin copywriting sama feed-nya, Mbak. Kayaknya ada yang salah, tapi aku nggak tahu di mana."

Nadinta menatap layar laptop Karina. Dia melihat foto-foto baju yang difoto seadanya di lantai, caption yang kaku seperti robot, dan feed yang berantakan warnanya.

Jiwa marketer Nadinta langsung terpanggil. Dia tidak bisa membiarkan potensi yang terbuang sia-sia di depan matanya.

"Coba sini saya lihat," kata Nadinta, menggeser kursinya lebih dekat.

"Eh, nggak usah, Mbak! Nggak enak, Mbak kan capek, mau pulang. Ini kan proyek receh anak kosan," tolak Karina sungkan.

"Nggak apa-apa, Rin. Itung-itung refreshing otak. Lagipula, saya lagi nunggu macet reda," Nadinta mengambil mouse Karina dengan senyum jahil. "Sini, biar saya kasih sentuhan magic."

Nadinta mulai men-scroll feed Instagram toko itu. Matanya yang jeli langsung menemukan masalahnya.

"Lihat ini, Rin," tunjuk Nadinta ke layar dengan antusias. "Temanmu jual baju kasual untuk mahasiswa, tapi bahasa caption-nya kaku banget kayak jualan asuransi. Target audience-nya nggak akan relate."

Nadinta mengambil secarik kertas, lalu mulai mencoret-coret skema dengan pulpennya sambil menjelaskan dengan semangat.

"Kita ganti pendekatannya. Jangan jual 'Baju Murah Berkualitas'. Itu basi. Jual 'OOTD Kampus Anti Ribet'. Fokus ke masalah anak kuliah yang malas setrika pagi-pagi."

"Wah, bener juga!" mata Karina berbinar.

"Terus, foto ini," Nadinta menunjuk foto baju yang digantung di hanger kawat.

"Jangan cuma digantung, Rin. Kelihatan kayak jemuran. Minta temanmu cari model—siapa aja—suruh dia pake bajunya, foto di kafe atau taman. Orang beli imajinasi, mereka mau bayangin diri mereka terlihat keren pas pake baju itu."

"Oke, oke! Terus warnanya gimana, Mbak?" tanya Karina, mencatat dengan cepat.

"Pakai tone yang senada. Coba aplikasi ini..."

Selama dua puluh menit berikutnya, mereka berdua asyik berdiskusi layaknya dua sahabat yang sedang merencanakan proyek seru. Nadinta tertawa lepas saat Karina menceritakan ide-ide konyol temannya, dan Karina menatap Nadinta dengan kekaguman yang semakin besar.

"Gila... Mbak Nadin keren banget sih," gumam Karina. "Aku nggak kepikiran sampai ke psikologi warnanya. Dia pasti seneng banget dapet konsultan gratisan sekelas Manajer Lumina."

"Santai aja. Anggap saja ini training tambahan buat kamu. Biar nanti kalau kamu jadi karyawan tetap, kamu udah jago," ujar Nadinta tulus, mengacak pelan rambut Karina.

Karina membereskan laptopnya dengan semangat baru. "Sip!"

"Mbak mau pulang sekarang? Bareng sampai lobi yuk?"

"Duluan aja, Rin. Aku masih mau cek sesuatu sebentar di ruangan."

"Oke, Mbak. Sekali lagi makasih ya! Hati-hati di jalan, Mbak!"

Karina melambaikan tangan dengan ceria, lalu berjalan keluar dengan langkah ringan. Nadinta menatap punggung gadis itu sambil tersenyum. Membantu orang yang tepat memberikan kepuasan tersendiri bagi Nadinta.

Nadinta berdiri, merapikan blazernya. Dia mengambil tasnya, lalu berjalan keluar dari area kubikel.

Saat melewati meja Rudi di sudut gelap, Nadinta masih mempertahankan senyuman miringnya. Rudi masih di sana, matanya merah menatap layar.

"Pak Rudi," panggil Nadinta.

Rudi mendengus kasar tanpa menoleh. "Apa lagi? Saya sedang kerjakan revisinya."

Nadinta terkikik. "Jangan sering marah-marah, Pak. Nanti lekas tua, lho!"

"Lagipula, saya cuma mau mengingatkan, malam ini laporannya sudah harus ada di meja saya. Kalau sampai ada satu angka saja yang salah, Bapak tahu prosedurnya. SP3 langsung dari HRD," ucap Nadinta tegas, tanpa sedikitpun rasa kasihan.

Rudi memicingkan mata pada Nadinta. Wanita itu membalasnya dengan senyuman yang sama.

"Semangat, ya, Pak. Kalau ngantuk, seduh kopi di pantry aja," ucap Nadinta, mulai berjalan jauh, lalu berbalik badan sekali lagi, "oh! Dan jangan lupa minta tolong ke OB untuk check ruangan saya, ya. Barangkali saya lupa matiin lampu. Terimakasih, Pak Rudi!"

Nadinta berbalik dan kembali berjalan menuju lift. Emosi Rudi benar-benar tersulut karena kalimat itu. Dia merasa dirinya benar-benar direndahkan.

Nadinta tidak peduli, begitu tubuh rampingnya telah menghadap lift secara penuh, senyuman itu kembali hilang. Pada saat bersamaan, ponsel yang berada di tasnya bergetar.

Pesan WhatsApp dari Arga.

Nadinta membuka pesan itu.

Arga: Sayang, kamu lemburnya jangan lama-lama, ya. Soalnya, nanti malam aku mau ke apartemen kamu. Mau bahas soal rencana foto pre-wedding kita.

Nadinta menatap pesan itu dengan tatapan kosong.

Arga masih hidup dalam fantasinya. Dia masih berpikir prewedding itu akan terjadi. Dia masih berpikir dia adalah eksekutif sukses yang akan menikahi Nadinta.

Nadinta mengetik balasan singkat.

Nadinta: Iya, Mas. Aku udah OTW pulang, kok.

Nadinta menekan send, lalu masuk ke dalam lift yang terbuka. Pikirannya kembali berkelana ke kehidupan sebelumnya di mana foto Pre-wedding mereka dikomentari oleh Ibu Arga. Konon, Nadinta tidak mampu berpose feminim, pose Nadinta kaku, dandanannya menor.

Namun, di kehidupan ini, tidak akan ada lagi. Nadinta menutup ponselnya dan kembali menenggelamkannya ke tas.

1
Chimpanzini Banananini
ohh rupanya authornya cwe gaes ehe
Xlyzy
hahahah baru di gitukan si Mamas langsung turun emosi nya ya
Xlyzy
Beh nin mantep 👍🏻 semanis madu nin perkataan mu
Xlyzy
Ayo nan langsung cekokin racun manis mu
Afriyeni
ckckck, otakmu brilian sekali nindi,, kamu pintar menggiring si Arga masuk lubang dan terjerat hutang 🤦
Afriyeni
Nindita, kamu licik banget ya. Hebat, kamu bisa berubah pintar dalam seketika 🤭
Afriyeni
hooekk.. Nindita pasti capek nih pura pura lebay dekat si Arga 😅
Blueberry Solenne
makin bangkrut si Arga
sjulerjn29
alesan ah km Rudi bilang aja gk ada ide kan?🤣
Blueberry Solenne
males banget nemu orang kek gini, sok ngatur si maya
sjulerjn29
bukan divisi kita...itu mah demi hidup mati km kali Rudi
sjulerjn29
kebayang baunya ihh..pasti langsung auto pingsan 🤭🤣
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!