NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: NERAKA DI PELABUHAN

Mobil sedan hitam lapis baja itu melaju membelah kegelapan malam dengan kecepatan tinggi. Di dalamnya, suasana begitu mencekam hingga suara napas Alana terdengar jelas. Di sampingnya, Arkano duduk dengan tenang, jemarinya tangannya bergerak lincah mengisi peluru ke dalam magasin pistol.

"Kau terlihat pucat, Alana," suara Arkano memecah kesunyian. Ia bahkan tidak menoleh, fokusnya tetap pada senjata di tangannya. "Apa kau takut melihat teman-temanmu berubah menjadi mayat?"

Alana mengepalkan tangannya di atas pangkuan hingga kukunya memutih. "Jika kau menyentuh mereka, aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Arkano. Nggak peduli jika aku harus mati setelahnya."

Arkano terkekeh, suara rendah yang bergema di kabin mobil. Ia akhirnya menoleh, menatap Alana dengan kilat jenaka sekaligus mematikan. "Itu semangat yang aku suka. Tapi ingat, mereka yang menyerangku duluan. Di duniaku, menyerang wilayah Dirgantara sama saja dengan mengetuk pintu neraka."

Mobil berhenti mendadak di balik tumpukan kontainer raksasa di Pelabuhan Tanjung Perak. Suara tembakan mulai terdengar bersahutan di kejauhan, memecah kesunyian malam di dermaga yang sepi.

"Turun," perintah Arkano singkat.

Begitu pintu mobil terbuka, bau garam laut bercampur dengan aroma mesiu langsung menyengat indra penciuman Alana. Arkano mencengkeram lengan Alana, menyeretnya menuju area sebuah gudang. Di sana, puluhan anak buah Arkano yang bersenjata lengkap sudah mengepung area tersebut.

"Tuan!" seorang pria berbadan tegap, anak buah kepercayaan Arkano bernama Marco, menghampiri. "Ada sekitar lima orang penyusup. Mereka terjepit di dalam gudang logistik. Sepertinya mereka mengincar data pengiriman barang."

Alana tahu siapa mereka. Itu pasti tim Rian. Mereka menjalankan rencana darurat yang pernah Alana buat: jika Alana hilang kontak, mereka harus menghancurkan jalur logistik Arkano. Tapi mereka tidak tahu bahwa ini adalah jebakan.

"Bawa mereka keluar. Hidup atau mati," ucap Arkano dingin.

"Tunggu!" Alana berteriak, mencoba menahan lengan Arkano. "Biar aku yang masuk. Aku akan menyuruh mereka menyerah. Jika kau menyerang sekarang, mereka semua akan mati sia-sia!"

Arkano menatap Alana dengan alis terangkat. "Kau ingin aku membiarkan tikus-tikus itu keluar begitu saja?"

"Aku akan memastikan mereka nggak akan mengganggumu lagi! Tolong, Arkano... satu nyawa saja sudah cukup untuk hari ini," Alana memohon, matanya menatap tajam namun penuh desakan.

Arkano terdiam sejenak. Ia melihat keputusasaan di mata istrinya. Ada rasa puas yang aneh saat melihat sang 'Silent Cat' memohon padanya. "Tiga menit. Jika dalam tiga menit mereka tidak keluar dengan tangan di atas kepala, aku akan memerintahkan timku untuk meledakkan gudang itu beserta isinya. Termasuk kau jika kau masih di dalam."

Tanpa membuang waktu, Alana berlari menuju pintu gudang yang setengah terbuka.

"Rian! Ini Alana! Jangan menembak!" teriak Alana saat ia memasuki ruangan yang remang-remang itu.

Dor!

Sebuah peluru melesat hanya beberapa sentimeter dari kepala Alana, menghantam tumpukan kayu di belakangnya. Alana segera berlindung di balik peti besi.

"Alana? Itu kau?" suara Rian terdengar dari balik tumpukan kontainer di dalam gudang.

"Iya, ini aku! Hentikan tembakannya! Arkano ada di luar dengan pasukan lengkap. Kalian tidak akan bisa menang!"

Rian muncul dengan wajah yang penuh keringat dan debu, memegang senapan laras panjang. "Apa yang terjadi padamu? Kami melihatmu di berita tadi... kau menikah dengannya? Apa kau sudah gila, Alana? Kau berkhianat?!"

"Aku tidak punya pilihan, Rian! Arkano tahu segalanya. Dia tahu soal Komisaris Hendra, dia tahu soal posisi kalian. Ini jebakan! Kalian harus keluar dan menyerah sekarang sebelum Arkano meratakan tempat ini!"

"Menyerah? Dan membiarkan dia membunuh kami?" Rian tertawa getir. "Lebih baik mati sebagai polisi daripada menyerah pada mafia."

"Dengarkan aku!" Alana mendekat, suaranya merendah namun tegas. "Kalian harus hidup agar bisa melaporkan soal Hendra. Jika kalian mati di sini, Hendra akan terus menjual informasi kita. Biarkan aku yang menangani Arkano dari dalam. Sekarang, jatuhkan senjata kalian!"

Rian menatap Alana dengan ragu. "Kau yakin bisa menangani monster itu?"

Alana teringat tatapan Arkano saat di kamar tadi. Perasaan aneh yang merayap di kulitnya. "Aku akan berusaha. Sekarang cepat!"

Tepat saat Rian dan tiga orang timnya menjatuhkan senjata, pintu gudang terbuka lebar. Sinar lampu sorot yang sangat terang dari luar membutakan mata mereka. Arkano berjalan masuk dengan langkah santai, tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tangan kanannya masih memegang pistol.

"Waktu habis," ucap Arkano datar.

Ia melihat Rian dan timnya yang sudah tidak bersenjata. Marco dan anak buah lainnya segera masuk dan menendang kaki para polisi itu hingga mereka berlutut di hadapan Arkano.

"Jadi, ini pahlawan-pahlawanmu, Alana?" Arkano berdiri di depan Rian, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia menghantamkan gagang pistolnya ke pelipis Rian hingga pria itu tersungkur berdarah.

"Hentikan!" Alana berlari dan berdiri di depan Rian, menghalangi Arkano. "Kau bilang jika mereka menyerah, kau tidak akan menyakiti mereka".

"Aku bilang aku tidak menjamin keselamatan mereka jika mereka tidak keluar tepat waktu. Dan mereka terlambat sepuluh detik," Arkano menyeringai dingin. Ia menjambak rambut Rian, memaksa pria itu menatapnya. "Kau tahu apa yang paling aku benci di dunia ini, Polisi Kecil? Orang yang mencoba mencuri milikku."

"Alana bukan milikmu, brengsek!" Rian meludah ke arah sepatu Arkano.

Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Anak buah Arkano sudah siap menarik pelatuk. Alana bisa merasakan ajalnya dan teman-temannya sudah di depan mata.

Arkano menghapus ludah di sepatunya dengan perlahan, lalu menatap Rian dengan tatapan yang sangat tenang dan itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.

"Marco, bawa mereka ke ruang bawah tanah. Jangan dibunuh... belum saatnya. Aku ingin istriku yang tercinta yang menentukan nasib mereka nanti."

Alana tersentak. "Apa maksudmu?"

Arkano mendekati Alana, melingkarkan lengannya di pinggang Alana dengan sangat posesif di depan teman-temannya yang masih berlutut. "Ini adalah tes kesetiaanmu, Alana. Besok pagi, kau sendiri yang akan memilih: siapa yang akan tetap hidup, dan siapa yang harus kau singkirkan untuk membuktikan bahwa kau benar-benar Nyonya Dirgantara."

Arkano menarik Alana keluar dari gudang tersebut, mengabaikan teriakan makian dari Rian. Begitu sampai di mobil, Arkano mendorong Alana masuk ke kursi belakang dan mengunci pintu.

"Kau keterlaluan," bisik Alana dengan suara serak.

"Ini adalah duniaku, Alana. Tidak ada jalan tengah. Pilih aku, atau hancur bersama mereka," jawab Arkano sembari menyalakan mesin mobil.

Malam itu, Alana sadar bahwa pernikahannya bukan sekadar perlindungan, melainkan sebuah permainan psikologis yang mematikan. Arkano tidak hanya menginginkan tubuhnya, ia menginginkan Alana menghancurkan segala hal yang pernah ia percayai.

Saat mobil melaju kembali menuju mansion, Alana menatap keluar jendela. Di kegelapan pelabuhan, ia melihat bayangan dirinya sendiri seorang agen yang kini tangannya mulai berlumuran noda hitam dunia mafia.

Dan yang paling menakutkan baginya adalah... saat Arkano menyentuhnya tadi, ada bagian dari dirinya yang merasa aman dalam dekapan sang monster.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!