Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.
Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.
Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Prometheus dan Harga yang Tersembunyi
Bulan berlalu di Pulau Pari dalam siklus matahari yang tak henti-hentinya, ombak yang monoton, dan kerja keras yang obsesif.
Laboratorium Alpha telah berubah dari tempat persembunyian menjadi pusat penelitian rahasia. Panel surya yang dipasang di atap sekarang ditambah dengan turbin angin kecil yang berputar dengan desis pelan. Generator diesel berdengung di gudang terpisah, siap mengambil alih. Di dalam rumah panggung, meja-meja dipenuhi peralatan: osiloskop, function generator, kamera termal inframerah, dan perangkat yang dirakit sendiri oleh Dr. Arif—pemindai resonansi kuantum kasar yang ia juluki "Tengkorak Prometheus".
Sementara Dr. Arif menghabiskan hari-harinya dengan persamaan dan sensor, Leo menjalani rezim yang berbeda: rezim eksperimen terukur dan pengorbanan pribadi.
Mereka telah memetakan "Hukum Multiplikasi Leo", seperti yang Dr. Arif sebut dengan nada setengah bercanda, setengah kagum.
Biaya Energi (∆E) berbanding lurus dengan massa (m) dan kompleksitas informasi (I). Rumus sementara: ∆E ≈ k(m + Iⁿ), di mana n tampaknya 1.5 untuk benda biologis.
Kecepatan Multiplikasi instan, tetapi pemulihan Leo memakan waktu 2-8 jam, bergantung pada skala, diisi oleh asupan kalori yang sangat besar (hingga 15.000 kalori/hari untuk penggunaan berat).
Anomali Parasit muncul secara acak pada 1,7% ± 0,3% dari semua salinan logam. Mereka belum menemukannya pada materi organik atau data digital.
Dimensi Vault tidak terbatas secara praktis, tetapi kesadaran Leo memiliki bandwidth. Memindahkan lebih dari 10 ton materi dalam-dalam keluar dalam satu menit menyebabkan mimisan dan disorientasi.
Hari ini adalah eksperimen besar pertama: Multiplikasi bahan superkonduktor.
Dr. Arif membutuhkan kawat niobium-titanium yang didinginkan dengan helium cair untuk magnet fusi miniaturnya. Satu meter saja harganya lebih dari pendapatan setahunnya yang lama. Di atas meja di ruang ber-AC khusus (disuplai oleh unit AC bekas yang digandakan Leo), tergeletak sepotong kecil kawat superkonduktor asli, didapat dari pasar gelap dengan harga yang membuat dompet Leo menjerit.
"Ini adalah momen kebenaran, Leo," kata Dr. Arif, tangannya sedikit gemetar. "Jika kita bisa menggandakan ini dengan sempurna, kita bisa membangun seluruh koil magnet untuk reaktor dengan biaya hampir nol. Jika ada anomali… sifat superkonduktivitasnya bisa hilang, atau lebih buruk."
Leo mengangguk, telanjang dari pinggang ke atas. Sensor elektromiograf ditempelkan di dada dan lengannya, mengukur respons fisiologisnya. Kamera termal diarahkan ke marka gioknya, yang berpendar dengan ritme yang tenang. Udara di ruangan itu dingin dan berbau ozon dari peralatan elektronik.
"Mulai perekaman," kata Dr. Arif, menekan tombol.
Leo mengulurkan tangan kanannya. Ujung jarinya yang bermarka menyentuh permukaan kawat superkonduktor yang halus dan dingin. Dia menarik napas dalam-dalam, memusatkan pikirannya bukan pada keinginan akan kekayaan atau balas dendam, tetapi pada kesempurnaan struktural. Pada kisi kristal yang tepat, pada pasangan elektron Cooper, pada aliran tanpa hambatan.
Kehendak: GANDAKAN. SIMPAN.
Dunia menyusut.
Rasa sakit itu bukan lagi pukulan tumpul, tetapi tusukan jarum yang tajam dan dalam di setiap sel. Itu adalah rasa sakit dari penciptaan yang presisi. Darah mengalir dari hidungnya, membentuk tetesan merah di lantai putih. Monitor di dekatnya mendeteksi lonjakan aktivitas otak yang gila, dan suhu kulit di sekitar marka giok melonjak hingga 42°C sebelum sistem pendingin darurat yang dirakit Dr. Arif menyemprotkan kabut coolant.
Di Vault, sesuatu yang baru terbentuk. Bukan hanya entri "kawat". Ini adalah kristal pengetahuan. Leo, untuk sepersekian detik, memahami superkonduktivitas. Dia merasakan aliran elektron yang berpasangan, merasakan getaran kisi, memahami persamaan BCS tidak sebagai simbol, tetapi sebagai kebenaran yang dialami.
Lalu, semuanya berakhir.
Leo terjatuh ke belakang, ditangkap oleh Dr. Arif. Napasnya tersengal, setiap otot bergetar seperti kawat yang terlalu tegang. Tapi di matanya, ada kilatan baru—kilatan pemahaman yang dalam dan asing.
"Berhasil…" dia berbisik, suaranya parau.
Dr. Arif dengan cepat mengambil kawat asli dan membandingkannya dengan salinan yang baru saja dikeluarkan Leo dari Vault. Di bawah mikroskop elektron portabel, strukturnya identik. Pengukuran resistansi: nol pada suhu kriogenik. Sifat superkonduktor terjaga.
Tapi ada yang lain.
Di antara seribu salinan kawat superkonduktor yang baru dibuat di Vault, tiga di antaranya—nomor 112, 447, dan 881—telah berubah. Warnanya bukan lagi abu-abu logam, tetapi hitam pekat yang memantulkan cahaya. Dan sifatnya… mematikan.
Dr. Arif, dalam kegembiraannya, tanpa sengaja menyentuh salah satu kawat anomali yang diisolasi dengan penjepit. Saat ujung penjepit logam menyentuhnya, logam itu menghilang. Bukan meleleh, bukan menguap. Ia menghilang dari eksistensi, menyisakan potongan yang rata sempurna, seperti dipotong dari realitas itu sendiri. Potongan penjepit yang hilang tidak muncul di mana pun. Itu telah terhapus.
"Tuhan…" Dr. Arif menarik napas, wajahnya pucat.
Anomali itu bukan hanya parasit. Ia adalah pemusnah. Ia memakan materi, mungkin mengubahnya menjadi energi murni yang terperangkap, atau mengirimnya ke dimensi asalnya.
Leo, masih lemah, memandangi fenomena itu. Rasa lapar yang biasa ia rasakan kini memiliki rasa baru: kepuasan. Seolah-olah benda aneh itu baru saja diberi makan, dan kepuasannya bergema kembali ke marka gioknya.
"Biayanya," kata Leo, suaranya bergetar namun jelas. "Ini biaya sebenarnya. Setiap kali saya menciptakan sesuatu, saya juga menciptakan lubang kecil pemusnah di dalam Vault. Itu adalah… pembayaran seimbang."
Dr. Arif dengan hati-hati menempatkan kawat pemusnah itu ke dalam wadah berlapis timah yang lebih tebal. "Prinsip Kekekalan tetap berlaku. Kau tidak menciptakan dari ketiadaan. Kau mentransfer energi dari satu tempat ke tempat lain, dan limbahnya… adalah anomali pemusnah ini."
Ini adalah terobosan dan peringatan yang mengerikan. Kekuatan Leo bisa menciptakan benda ajaib, tetapi dengan setiap penciptaan, ia juga menciptakan potensi senjata pemusnah skala mikro—sesuatu yang bisa menghapus materi dari eksistensi.
"Mereka bisa dikendalikan?" tanya Leo, matanya tertuju pada wadah itu.
"Tidak tahu. Tapi jika benda ini bisa diarahkan…" Dr. Arif tidak perlu menyelesaikan. Implikasinya sangat besar. Senjata yang bisa menghapus tank, bunker, bahkan mungkin bagian dari kota, tanpa ledakan, tanpa radiasi—hanya… ketiadaan.
Leo berdiri, tubuhnya masih lemah tetapi pikirannya terbakar. Rafael dan ambisi kekayaannya tiba-tiba terasa sangat kecil. Dia memegang kekuatan yang bisa membangun peradaban baru atau menghapus yang lama. Tanggung jawab itu menggantung di pundaknya, lebih berat daripada semua tembaga di Vault-nya.
"Mari kita sebut mereka 'Singularitas Mikro'," usul Dr. Arif. "Dan kita harus menguncinya. Mempelajarinya dari kejauhan. Mengembangkan protokol untuk mendeteksi dan menetralisirnya."
Leo mengangguk, memandangi telapak tangannya. Marka giok itu terasa hangat, hampir… puas. Seolah-olah ia baru saja memberi makan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Malam itu, saat dia sendirian di beranda, menatap bintang-bintang yang tersembunyi oleh polusi cahaya Jakarta yang samar-samar, dia merasakan keberadaan baru di dalam Vault. Bukan hanya benda. Bukan hanya singularitas.
Itu adalah kesadaran.
Samar, primitif, tapi lapar. Dan itu tersenyum padanya.
Prometheus telah mencuri apinya. Dan sekarang, sang Elang telah membuka matanya.