"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 IDENTITAS YANG TERKOYAK
"Detektif Ghea Zanna"
Nama yang keluar dari bibir manis Adrian dengan nada yang begitu tenang, hampir terdengar seperti sebuah pujian. Namun bagi seorang Ghea terdengar seperti bukan pujian melainkan sebuah ancaman kematian.
Ghea mencoba untuk menenangkan diri, mengatur napasnya agar tidak terlihat panik di depan Adrian. Meski mencoba tenang, Ghea tidak bisa membohongi jantung terus berdetak seolah kematian akan menjemputnya. Ia memandangi Adrian, mencoba untuk mencari sisa-sisa kebohongan yang ada di mata pria itu. Namun Ghea justru teka menemukan apapun. Dia mengutuk dirinya yang tidak mengingat apapun yang telah terjadi sebelumnya.
"Apa maksudmu, Adrian?" tanya Ghea mencoba tertawa kecil meski terdengar sumbang oleh telinga sendiri. "Detektif? Aku... aku bahkan nggak mengingat apapun. Bahkan untuk sekedar mengingat cara untuk mengikat tali sepatu saja akupun nggak tahu. Bagaimana mungkin kalau aku ini seorang detektif?"
Pertanyaan itu justru tidak di jawab oleh Adrian. Pria itu sibuk memutar tuas kotak musik perak itu. Alunan musik yang melankolis memenuhi ruangan. Adrian bangkit dari tempat duduknya, berjalan perlahan mengitari ranjang Ghea seperti seekor predator yang tengah mengamati mangsanya yang sedang terbaring lemah.
" Kau selalu bisa menjadi pembohong yang hebat, Ghea Zanna. Itulah mengapa kau membuatku jatuh cinta padamu, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu di markas kepolisian pusat tiga tahun lalu." ujar Adrian santai.
Adrian berhenti tepat di dekat nakas. Bergerak cepat mengambil bantal yang berada di belakang kepala Ghea.
" Adrian! Apa yang kamu...."
Ghea tersentak ketika melihat Adrian mengangkat lencana polisi yang sudah retak tersebut tinggi-tinggi di hadapannya. Lencana yang terbuat dari logam tersebut justru berkilau di depan cahaya lampu di kamar itu.
"Kamu mencari ini, kan sayang?" tanya Adrian sedikit lebih mendekatkan wajahnya. Tatapan tajam yang terlihat begitu menyeramkan.
" Aku sengaja meninggalkannya di atas kasur agar kamu bisa menemukannya. Aku cuma ingin tahu, apakah insting mu sebagai anjing pelacak masih berfungsi meski otak mu itu sudah rusak."
Ghea terdiam, tatapan matanya mengarah kepada lencana tersebut. Namun seketika ia beralih menatap Adrian dengan tatapan penuh kebencian. Ghea seolah lupa akan jantung yang berdetak hebat karena takut jika hidupnya akan mati sebentar lagi.
"Kenapa? Kalau kamu sudah tahu itu adalah aku, kenapa kamu nggak bunuh saja aku!?"
Suara tawa Adrian menggelegar di seluruh ruangan kamar itu. Ia membungkuk, mencengkram kedua bahu Ghea menarik tubuh Ghea yang lemah itu untuk lebih mendekat. Sakit terlalu dekat, Ghea bahkan bisa mencium aroma parfum sandalwood dan sedikit baru besi dari tubuh pria itu.
"Membunuhmu? Itu terlalu bosan kalau dilakukannya dengan cepat, sayang." bisik Adrian tepat didepan bibir Ghea.
"Aku sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bisa membawa mu ke sini. Menjadikan mu milik ku sepenuhnya, tanpa ada lencana, hukum, dan tanpa ada orang lain yang menyentuhmu."
Tangan Adrian mulai menjalar ke leher Ghea. Bahkan Ghea merasakan bertapa dingin kulit tangan pria itu menyentuh lehernya. Tangan kekar itu justru tidak mencekik leher Ghea melainkan membelainya dengan lembut.
"Kamu perlu tahu, aku begitu senang. Karena kecelakaan ini adalah anugerah. Kamu lupa siapa dirimu dan itu artinya kamu bisa menjadi siapa pun yang aku inginkan."
"Kamu udah gila!!" pekik Ghea mencoba untuk mendorong tubuh kekar Adrian. Entah mengapa tubuhnya yang lemah itu tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk melawan. Padahal sebelumnya dia sudah berpikir untuk menyerahkan dirinya pada kematian yang mungkin saja datang dari tangan Adrian.
"Aku gila karena mencintaimu mu, Ghea. Kamu yang memulainya. Kamu yang terus mengejar ku, menyelidiki ku hingga akhirnya kamu masuk ke dalam sarang ku dengan sukarela." ucap Adrian sedikit menjauh, dengan melemparkan lencana bintang milik Ghea itu ke lantai.
"Mulai hari ini! Nggak ada lagi Detektif Ghea! Hanya ada Ghea, calon istri Adrian Dirgantara. Kalau kamu mencoba untuk berakting atau mencari jalan keluar lagi.." Adrian meraih pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah tadi, dengan gerakan cepat ia menyayat punggung tangannya sendiri hingga segar mengucur.
Ghea membelalak. " Adrian! Apa yang kamu lakukan!?" teriak Ghea terkejut melihat aksi nekat Adrian.
Adrian menatap luka di tangannya sambil tersenyum miring. Ia lalu mengusap kemudian darah yang di punggung tangannya itu ke pipi Ghea, ingin meninggalkan jejak merah yang hangat dan amis.
"Rasa sakit ini nggak seberapa dibandingkan rasa sakit jika aku harus kehilanganmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat emosional. "Setiap kali kamu mencoba melarikan diri, aku akan menyakiti diriku sendiri. Dan jika kamu berhasil keluar dari pintu itu... aku akan memastikan Bi Inah nggak akan pernah melihat matahari besok pagi."
Ghea membeku. Pria ini bukan hanya psikopat yang cerdas, dia adalah manipulator emosi yang ulung. Dia tahu kelemahan Ghea adalah rasa empati terhadap orang yang tidak bersalah.
"Sekarang, bersihkan wajahmu," ucap Adrian kembali lembut, seolah ledakan amarah tadi tidak pernah terjadi. Ia mengambil tisu dan mengusap darah di pipi Ghea dengan sangat hati-hati. "Kita akan makan malam bersama di bawah. Aku sudah menyiapkan gaun yang indah untukmu. Jangan buat aku menunggu lama, Sayang."
Adrian berjalan keluar, mengunci pintu kembali, meninggalkan Ghea yang terduduk lemas di atas kasur. Tatapan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.
Ghea menatap lencana polisi yang tergeletak di lantai. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Adrian tahu segalanya. Setiap gerakannya, setiap pikirannya, sudah diantisipasi oleh pria itu. Ia sedang berdansa di telapak tangan seorang iblis yang menggunakan cinta sebagai rantai.
Namun, di tengah keputusasaan itu, ingatan singkat kembali menghantam kepala Ghea. Sebuah bayangan tentang sebuah kunci kecil yang ia sembunyikan di dalam jahitan sepatunya sebelum kecelakaan itu terjadi.
Kunci gudang bukti.
Ghea segera merangkak menuju lemari pakaian. Ia harus menemukan sepatu yang ia kenakan saat kecelakaan. Jika kunci itu masih ada, mungkin ia memiliki satu kesempatan terakhir untuk melawan balik.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....