NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:551k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Delapan

Saat istirahat siang, Kirana ke kantin sendirian. Ia duduk di pojok sambil makan nasi pecel. Kantin cukup ramai dengan mahasiswa yang tertawa, ribut, dan membicarakan tugas.

Ia sudah hampir selesai ketika suara berisik muncul dari pintu kantin.

“Sam! Duduk sini! Ayo, bro!”

“Jangan di situ, anginnya kenceng!”

“Kamera jangan taruh sembarangan!”

Kirana menoleh. Dan benar saja, Samudera masuk bersama dua temannya. Ransel besar masih menempel di punggungnya. Ia mencari tempat duduk, lalu matanya bertemu mata Kirana.

Kirana cepat-cepat menunduk. Berdoa Sam tidak melihat. Berdoa Sam tidak memanggil namanya. Tapi sepertinya keadaan belum berpihak padanya, ia mendengar namanya di panggil.

“Mbak Kirana!”

Terlambat bersembunyi. Pemuda itu telah melihat kehadirannya. Dalam hati Kirana berkata, kenapa dia baru bertemu dan menyadari kehadiran Samudera saat ini, padahal selama ini mereka satu kampus.

Sam mendekat sambil tersenyum lebar. "Mbak Kirana makan sendirian?”

Kirana menatap piringnya, dia tampak malu. “Iya.”

“Kenapa nggak bilang? Aku bisa nemenin.”

“Sam .…” Kirana memijat pelipis. “Kamu itu mahasiswa. Pergi makan sama teman-teman kamu.”

“Bisa dua-duanya,” balas Samudera ringan.

Namun, sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi lagi, seperti Sam pindah duduk ke meja Kirana, teman-temannya memanggil.

“Sam! Ayo, kelas lanjut!”

Sam mengangguk, lalu kembali menatap Kirana. “Aku pergi dulu.”

“Oke.”

Sam sempat menambahkan satu kalimat pendek sebelum benar-benar berbalik.

“Mbak Kirana.”

“Hm?”

“Seneng bisa ketemu kamu di kampus.”

Kirana terdiam. Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Sam mendongak sedikit, memberi senyum tipis, lalu pergi bersama teman-temannya. Kirana memandang punggungnya yang menjauh.

Perasaannya campur aduk, bingung, lega, hangat, takut, tapi juga, entah kenapa tidak se-sepi kemarin.

Kampus mulai sedikit lengang ketika jam kuliah sore selesai. Matahari sudah menurun, warnanya oranye pucat, memantul di kaca gedung fakultas dan membuat bayangan panjang di trotoar.

Kirana baru keluar dari ruang administrasi, menenteng map tebal yang harus ia setor ke bagian akademik. Langkahnya pelan, bahunya pegal, tapi hatinya lumayan ringan. Mungkin karena pesan iseng Samudera sepanjang hari, mungkin karena ia hari ini tidak merasa sendirian seperti biasanya.

Di tengah jalan menuju gedung akademik, Kirana berhenti sebentar untuk mengatur napas.

Dan seolah semesta memang hobi mempertemukan mereka. Lagi-lagi dia bertemu dengan Samudera

“Mbak Kirana!”

Suara itu terdengar seperti ban motor yang berhenti mendadak karena kaget melihat kucing nyelonong. Kirana spontan menoleh. Dan melihat Samudera sedang berlari.

Lari beneran. Kayak atlet. Tapi versi yang rambutnya acak-acakan dan ranselnya memantul-mantul kayak bayi kangguru.

Kirana sempat refleks mundur satu langkah. “Sam?! Kamu kenapa lari ...?”

“Tunggu aku tarik nafas bentar .…” Samudera mencondongkan tubuh, satu tangan menyangga lutut, yang satu lagi mengangkat jari telunjuk seperti meminta waktu time-out.

Kirana mengerjap. “Kenapa sih kamu?”

Sam mengatur napas, lalu berdiri tegak. Dan entah kenapa, ekspresinya seperti menemukan harta karun.

“Aku sengaja nyari Mbak,” ucap Samudera selanjutnya.

Kirana menaikkan alis. “Buat apa?”

“Buat .…” Samudera menepuk ranselnya. “Aku mau ngasih ini.”

Ia mengaduk-aduk isi tasnya. Mengaduk beneran. Sampai-sampai Kirana yakin kalau di dalam tas itu bukan buku kuliah, tapi laci dapur. Karena tak tampak buku di dalamnya.

Kirana memeluk mapnya. “Sam, kamu ngapain sih ....”

“Aha!” Sam akhirnya menemukan sesuatu. Ia mengangkatnya seperti piala.

Ternyata itu sebuah kue bolu mini dalam plastik transparan.

Kirana berkedip. “Kue ini ...?”

“Bukan sembarang kue.” Samudera mengacungkan jari. “Ini bolu paling enak di kantin fakultas seni. Tadi aku beli dua. Satu buat aku, satu buat kamu.”

Kirana menatapnya lama. "Dan kamu lari sepanjang koridor cuma buat ngasih aku bolu?”

Samudera mengangguk mantap. “Iya.”

Kirana menghela napas pelan, setengah tidak percaya. “Sam, kamu bisa aja kasih besok, atau pas ketemu di luar. Kenapa harus lari-lari?”

Samudera mengangkat bahu. “Takut keburu basi.”

“Sam … ini bolu. Baru dua jam lalu kamu beli. Masih bisa tahan hingga tiga hari.”

“Ya tapi kan .…” Samudera mundur setengah langkah, menatapnya lebih serius. “Mbak Kirana kayak butuh yang manis-manis hari ini. Agar harinya tetap ceria dan bisa lupakan hal buruk yang terjadi!"

Kirana terdiam. Kalimat itu masuk terlalu lancar. Terdengar terlalu tulus. Dan entah kenapa, membuat dada Kirana merasa aneh. Hangat dan tentram.Tapi sekaligus deg-degan dan ingin memegang kursi demi keseimbangan.

Kirana mencoba mengunci ekspresi agar tetap normal. “Aku tidak butuh hal manis, Sam.”

Sam menyeringai. “Tapi kamu harus makan ini.”

“Sam ....”

“Ayolah, aku beliin dengan susah payah. Harus kamu makan.” Ia menyodorkannya dengan dua tangan, seolah menawarkan sesaji pada dewa gunung.

Kirana akhirnya mengambilnya. “Terima kasih, Sam.”

Samudera tersenyum. Senyum lebar. Seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru.

Lalu ia tiba-tiba bertanya, “Mbak, mau aku anter pulang gak?”

Kirana mendelik. “Sam, aku naik bus kampus.”

“Ya, aku tau. Tapi aku bisa ikut busnya, terus turun di halte kamu, terus aku ....”

“Sam.”

“Hm?”

“Kamu kuliah keras-keras, bayar mahal-mahal .…” Kirana menatapnya miring. "Bukan buat jadi bodyguard aku'kan?”

Sam langsung berdiri tegap. “Kalau perlu, aku bersedia.”

Kirana hampir tersedak mendengar jawaban pemuda itu. “Samudera!”

“Kenapa?” Samudera tampak serius. “Aku kan bilang aku gak mau kamu kenapa-kenapa.”

“Tapi kamu itu mahasiswa. Harusnya fokus kuliah.”

Samudera mendekat setengah langkah. “Terus kamu gimana, Mbak?”

Kirana buru-buru memalingkan pandangan. “Aku baik-baik saja, Sam. Aku masih bisa jaga diri.”

Samudera menghela napas. “Kalau kamu butuh ditemani pulang, bilang ya.”

“Tidak.”

“Kalau kamu butuh ngeluh soal keluarga kamu, bilang ya.”

“Tidak.”

“Kalau kamu butuh pinjam buku, bilang ya.”

“Sam!”

“Kalau kamu butuh ....”

“Sam!”

Samudera langsung diam. Tapi matanya masih berbinar.

Kirana menggenggam bolu mini itu lebih erat. “Terima kasih kuenya. Sekarang pergi sana, pulang. Istirahat. Kamu terlihat kayak baru lari marathon.”

Sam melirik bajunya sendiri, yang memang basah sedikit di bagian dada karena keringat. Ia mengangguk pasrah. “Oke, oke. Aku pulang.”

Tapi sebelum ia pergi, ia kembali menatap Kirana. Kali ini lebih pelan, lebih lembut.

“Tapi serius, Mbak Kirana .…” Ia mencondongkan sedikit wajahnya.

"Seneng liat kamu hari ini, Mbak.”

Kirana berhenti bernapas satu detik mendengar ucapan Samudera. Lalu Sam mengangkat tangan, ngasih peace sign, sambil berkata, “Jangan lupa makan bolu itu ya. Jangan cuman hanya diliat sampai basi. Jangan bikin aku nangis.”

Dan setelah itu Samudera pergi. Dengan langkah besar-besar. Masih sambil kipas-kipas baju karena kegerahan. Kirana memandangi punggungnya yang menjauh.

Lalu ia menunduk menatap bolu kecil di tangannya dan tiba-tiba tertawa kecil sendiri. Tak pernah membayangkan akan dekat dengan remaja puber seperti Samudera.

“Anak aneh,” gumam Kirana pada dirinya sendiri.

Tapi senyumnya muncul. Senyum manis yang bahkan ia sendiri lupa kapan terakhir kali muncul diwajahnya.

1
Rahma Inayah
akhirnya yg bahagia
Rahma Inayah
semoga dilncrkn lahirannya aamiin
Rahma Inayah
tisa GK takut cerai dr km Krn SDH GK ada ank LG diantara kalian
Rahma Inayah
stlh ank meninggal br nyesel dan nangis GK guna
Rahma Inayah
krm mmg Irfan pantas mendptkn tamapran dr papa Kirana
Rahma Inayah
suami GK punya rasa tanggung jwb jgn2 Irfan punya wanita simpenan lgi ..
Rahma Inayah
ank yg km pilihnkasih ternyata JD dewa penolong mu ..papa.kirana baru sadr stlh usia yg hampir sepuh..atas apa yg dia lakukan PD Kiran di masa lalu
Rahma Inayah
gula lo Irfan satu juta 1 bulan ..GK mirk otak nya SDH konslet ckp apa uang segitu
Rahma Inayah
setlh. GK punya br sadr papa nya Kirana ank yg dia Anggo beban skrg membantu nya dlm kesusuhan
Rahma Inayah
orng yg km hina GK guna GK PNY kerjaan berandalan skrg JD dewa penolong BG ank mu .kira saya mama Kirana Mash hidup tau nya Mak trii nya .LP klu mama Kirana meninggal 🤭🤭.gengsi Irfan digedein tp nyata nya GK mampu byr biaya operasi ank nya lbh tepat nya syg uang nya dr pada nyawa ank nya
Rahma Inayah
kirain mama Kirana meninggal tau nya cerai hidup dr papa nya
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
Rahma Inayah
Sam akan JD ayah muda ..20 THN SDH jadi ayah 🤭🤭👍👍
Rahma Inayah
bahagia Krn akan punya cucu sam .semua Krn mu yg buat Kirana sakit
Rahma Inayah
spt keinginan mami mau punya cucu segera terlaksana ya
Rahma Inayah
untung Sam menang ..walau dia hrs terbalik motor Krn kurg fikus
Rahma Inayah
sok sok an Kirana bilg sam pst menang .nyata nya apa dan km JD taruhan
Rahma Inayah
pintar sekali tisa bersandiwara memutar BLK kn fakta km blm tau siapa Kel sam .nnt ada bukti cctv klu ucapan mu TDK sesuai dgn kenyataan bilg aja km iri dgn hidup Kirana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!