NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: KEBANGKITAN SANG BAYANGAN

Ledakan di ruang server utama mengirimkan gelombang panas yang melontarkan tubuh Arunika melewati pintu baja yang terbuka. Telinganya berdenging hebat, aroma kabel terbakar dan gas kimia menyesakkan paru-parunya. Dunia seolah berputar dalam gerak lambat. Di sela-sela kesadarannya yang memudar, ia melihat kobaran api biru melahap laboratorium steril itu.

"Bangun! Arunika, bangun!"

Sepasang tangan kuat mengguncang bahunya. Itu Sandra. Wajah sekretaris yang biasanya rapi itu kini coreng-moreng oleh jelaga, dan helai rambutnya yang lepas memberikan kesan liar yang belum pernah dilihat Arunika sebelumnya.

"Data... datanya..." gumam Arunika sambil meraba saku pakaian tidurnya. Jemarinya merasakan benda keras berbentuk persegi. USB drive itu masih ada.

"Lupakan datanya untuk sementara, kita harus keluar sebelum sistem lockdown otomatis menutup seluruh mansion ini jadi makam beton!" teriak Sandra.

Arunika berusaha berdiri, namun matanya kembali tertuju pada kobaran api di dalam ruangan tadi. Di sana, di tengah kepulan uap dari tangki yang pecah, ia melihat sebuah siluet. Sosok wanita yang tadi tenggelam dalam tidur abadi kini berdiri tegak. Elena.

Cairan bening pemelihara nyawa itu mengalir dari tubuh Elena, membasahi lantai laboratorium yang panas. Wanita itu tidak lari. Dia justru berjalan mendekati Adrian yang masih lumpuh di lantai akibat serangan suntikan Arunika.

"Elena! Keluar dari sana!" teriak Arunika parau.

Namun Elena tidak menoleh. Gerakannya patah-patah, seperti boneka yang baru saja diberi nyawa secara paksa. Ia membungkuk, menatap wajah kakaknya yang memerah karena amarah dan kelumpuhan. Tangan Elena yang kurus dan pucat perlahan melingkar di leher Adrian. Bukan pelukan rindu, melainkan sebuah cengkeraman maut.

"Dia tidak akan ikut dengan kita, Arunika. Dia adalah bagian dari kegilaan tempat ini," tarik Sandra dengan paksa, menyeret Arunika menuju lorong darurat. "Jika kita tetap di sini, kita semua mati!"

Brak!

Pintu baja darurat tertutup tepat saat sistem keamanan mendeteksi kebocoran gas beracun. Arunika terjatuh di lantai lorong yang dingin, terengah-engah. Isak tangis akhirnya pecah dari bibirnya. Ia baru saja melihat seorang adik yang hendak membunuh kakaknya, atau mungkin, seorang korban yang hendak membalas dendam pada penciptanya.

"Kenapa kau mematikan lampunya, Sandra? Kau hampir membunuhku juga," tanya Arunika setelah berhasil mengatur napas.

Sandra memeriksa pistol di tangannya, matanya terus waspada menatap ke arah tangga. "Itu satu-satunya cara mengalihkan perhatian tim keamanan. Adrian memasang chip di otak para penjaganya—mereka tidak akan berhenti kecuali sistem pusat mati. Dan sekarang, sistem itu sudah menjadi abu."

"Lalu Adrian? Dan Elena?"

Sandra terdiam sejenak. "Adrian Valerius memiliki nyawa lebih banyak daripada kucing. Ledakan itu mungkin melukainya, tapi tidak akan membunuhnya semudah itu. Tapi Elena... Elena adalah variabel yang tidak pernah aku duga bisa bangun."

Mereka bergerak melalui terowongan pembuangan limbah yang sempit dan pengap. Sandra tampaknya sudah merencanakan jalur pelarian ini sejak lama. Di setiap persimpangan, ia menghancurkan sensor kamera dengan tembakan yang presisi.

"Ke mana kita akan pergi?" tanya Arunika.

"Ke satu-satunya tempat yang tidak bisa dijangkau oleh satelit Adrian. Sebuah gudang di dermaga tua yang sudah kuhapus dari aset perusahaan tahun lalu," jawab Sandra. "Maya dan Rendra sudah menunggu di sana."

Mendengar nama Rendra, ada sedikit kehangatan yang menjalar di hati Arunika. Namun, ia segera teringat pada janin di rahimnya. Anak dari seorang iblis yang baru saja ia tinggalkan di tengah api.

"Sandra... Adrian bilang aku hamil."

Langkah kaki Sandra terhenti. Ia berbalik, menatap perut Arunika dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, tapi juga kesedihan yang mendalam di sana.

"Bajingan itu benar-benar melakukannya," desis Sandra. "Dia tidak hanya ingin menciptakan pengganti Elena, dia ingin menciptakan subjek murni yang memiliki DNA-nya dan DNA subjek paling stabil yang pernah dia temukan. Yaitu kau, Arunika."

"Apa maksudmu?"

"Riset Project Medusa... tujuan akhirnya bukan hanya menghilangkan rasa takut, tapi menciptakan manusia yang bisa dikendalikan sepenuhnya melalui hormon. Anak itu... anak itu akan menjadi subjek uji sejak di dalam kandungan jika kau tetap tinggal."

Arunika meremas perutnya. Rasa mual kembali menyerang, tapi kali ini lebih kuat karena rasa benci. Ia bertekad, ia tidak akan membiarkan anak ini menjadi monster seperti ayahnya.

Mereka akhirnya keluar dari lubang pembuangan di sebuah pinggiran kota yang sepi. Sebuah mobil jip tua sudah menunggu. Maya berdiri di sana dengan senapan laras panjang, wajahnya tegang.

"Cepat masuk!" perintah Maya.

Begitu mobil melaju, Arunika melihat ke arah mansion Valerius di kejauhan yang berdiri angkuh di atas bukit. Asap hitam membumbung tinggi dari bagian bawah bangunan itu. Langit malam yang biasanya tenang kini dipenuhi raungan sirine pemadam kebakaran dan polisi.

Di dalam mobil, Rendra langsung memeluk Arunika. Dia tidak peduli dengan bau limbah atau jelaga yang menempel pada wanita itu. "Kau selamat... Tuhan, kau selamat."

Arunika hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu Rendra, sementara Sandra dan Maya berdiskusi keras di kursi depan tentang langkah selanjutnya.

"Kita tidak bisa lari ke luar negeri sekarang. Semua pelabuhan dan bandara pasti sudah ditutup oleh pengaruh Valerius Group," kata Maya. "Kita harus bersembunyi di dalam kota, di tempat yang paling tidak terduga."

"Aku punya tempatnya," sahut Sandra. "Apartemen lamaku. Adrian tidak pernah tahu aku menyimpannya dengan nama palsu. Kita butuh waktu untuk mengunggah data dari USB itu ke internet. Sekali data itu terbuka, dunia akan menghancurkan Adrian untuk kita."

Pukul tiga pagi, di sebuah apartemen sempit di sudut kota yang kumuh.

Arunika duduk di depan laptop milik Sandra, sementara proses pengunggahan data sedang berjalan. 35%... 36%... Prosesnya lambat karena mereka menggunakan enkripsi berlapis agar tidak bisa dilacak.

Tiba-tiba, televisi di ruangan itu menyala sendiri. Bukan karena ada yang menyalakan, tapi karena sebuah peretasan sinyal secara paksa.

Layar televisi menampilkan gambar sebuah ruangan rumah sakit yang sangat mewah. Di atas ranjang, Adrian duduk dengan perban yang membelit sebagian wajah dan lengannya. Dia tidak tampak seperti orang yang baru saja hampir mati. Dia justru sedang tersenyum—senyum yang sangat lebar hingga terlihat mengerikan.

"Selamat malam, para pengkhianatku," suara Adrian menggema di ruangan apartemen itu.

Arunika berdiri, tubuhnya gemetar.

"Kau pikir ledakan kecil itu bisa menghentikanku? Kau pikir Elena bisa membunuhku?" Adrian terkekeh, lalu kamera bergeser ke samping ranjangnya.

Di sana, Elena duduk di kursi roda. Lehernya masih memiliki bekas memar cengkeraman, dan tangannya diikat ke kursi roda dengan rantai emas. Matanya kembali kosong, seolah jiwanya telah ditarik kembali ke dalam kegelapan.

"Elena adalah milikku, selamanya. Dan kau, Arunika... kau telah membuat kesalahan besar dengan mencuri 'masa depan' keluarga kita," Adrian menunjuk ke arah kamera. "Aku tidak butuh satelit untuk menemukanmu. Aku hanya butuh detak jantungmu."

Adrian mengangkat sebuah tablet. Di layarnya, terlihat sebuah titik merah yang berkedip tepat di posisi apartemen mereka.

"Kau lupa, Sayang? Saat pemeriksaan pertama tadi, aku menyuntikkan sesuatu ke rahimmu. Bukan hanya vitamin, tapi sebuah nano-tracker yang menempel pada janin itu. Di mana pun kau lari, jantung anakku akan memberitahuku di mana kau berada."

Arunika merasa dunianya runtuh. Dia menatap perutnya dengan ngeri. Adrian tidak hanya menguasai tubuhnya, tapi dia sudah menanamkan pengintai di dalam dirinya.

"Matikan laptopnya, Sandra! Batalkan pengunggahan!" teriak Adrian di televisi. "Atau aku akan menekan tombol ini, dan frekuensi gelombang mikro dari tracker itu akan memicu keguguran seketika. Kau ingin anak itu hidup, atau kau ingin data itu terkirim?"

Arunika menatap layar laptop. 98%... 99%...

Tangan Sandra membeku di atas keyboard. Maya mengarahkan senjatanya ke televisi seolah ingin menembak wajah Adrian. Rendra menangis putus asa di samping Arunika.

"Pilih, Arunika," bisik Adrian dari layar televisi dengan nada yang sangat manis. "Keadilan untuk dunia, atau nyawa bagian dari diriku yang ada di perutmu?"

Jari Arunika perlahan bergerak menuju tombol Cancel di laptop. Namun, matanya tertuju pada Elena yang ada di televisi. Elena tiba-tiba memberikan kode tangan yang sangat halus—sebuah gerakan jari yang hanya dimengerti oleh mereka yang pernah dikurung dalam sangkar yang sama.

Artinya: Jangan berhenti.

Arunika menatap kamera, air mata mengalir di pipinya, namun senyum pahit muncul di bibirnya.

"Adrian," ucap Arunika lirih. "Anak ini... lebih baik mati bersamaku daripada hidup bersamamu."

Arunika menekan tombol ENTER dengan keras tepat saat Adrian menekan tombol di tabletnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!