Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Mata Jihan perlahan terbuka. Sinar fajar yang pucat menyusup lewat celah-celah dinding gubuk yang reot, perlahan menyingkap pemandangan yang familier, lampu minyak tua yang tergantung miring, lemari kayu yang nyaris lapuk, serta beberapa peralatan sederhana yang mulai berkarat karena dimakan waktu.
Hari ini ia terbangun lebih awal dari biasanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana di dalam gubuk terasa damai. Bukan lagi keheningan yang berat dan penuh tekanan, melainkan ketenangan yang tulus. Tak ada lagi suara batuk tertahan atau napas gelisah ibunya yang biasanya membebani fajar mereka. Sebuah kontras yang begitu menenangkan dari hari-hari sebelumnya yang selalu diselimuti awan kelabu kecemasan.
Pandangannya beralih ke sisinya, ke pembaringan kayu sederhana tempat ibunya, Wulandari, terbaring. Wanita itu tertidur pulas, jauh lebih lelap dari biasanya. Cahaya fajar yang lembut jatuh di wajahnya yang tirus, memperlihatkan kerutan di sekitar matanya yang kini terlihat rileks. Jihan menahan napas, memperhatikan dada ibunya yang naik turun dengan irama yang tenang dan teratur. Sebuah pemandangan sederhana, pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun bagi Jihan saat ini, itu adalah anugerah yang tak ternilai. Simpul ketegangan yang selama berbulan-bulan melilit hatinya terasa sedikit mengendur.
Mungkinkah secercah harapan yang kemarin ia temukan telah memberi ibunya sedikit ruang untuk beristirahat? Apa pun alasannya, momen damai seperti ini adalah sebuah kemewahan yang telah lama hilang, sejak penyakit itu datang menyerang ibunya.
Tak lama setelah ia membuka mata sepenuhnya, rasa haus mulai mengeringkan tenggorokannya. Dengan hati-hati agar tidak membangunkan ibunya, Jihan bangkit dari pembaringan. Keheningan pagi yang rapuh itu pecah perlahan oleh derit lantai tanah di bawah telapak kakinya, diiringi langkah-langkah menuju bagian belakang gubuk.
Di sana ia mengambil air, berharap seteguk dinginnya mampu menyegarkan tubuh yang masih dibalut sisa-sisa lelah dari perkelahian semalam masih terasa memberati tubuhnya, dan ia berharap seteguk air dingin bisa membantunya segar kembali.
Ia meraih gayung batok kelapa yang tergantung di sebelahnya dan memasukkannya ke dalam mulut tempayan yang lebar. Namun, alih-alih bunyi air yang dalam, yang terdengar justru suara kering saat gayung itu membentur dasar tempayan.
Jihan tertegun. Ia mencondongkan tubuhnya dan melihat ke dalam. Benar saja, air di dalamnya hanya tersisa genangan kecil di dasar, bahkan tidak cukup untuk mengisi penuh gayung itu.
Seketika ia teringat. Beberapa hari terakhir, ia cukup banyak menggunakan air dari tempayan ini, untuk membantu ibunya minum obat, dan tentu saja, untuk membersihkan lukanya sendiri setelah pulang kemarin.
‘Sial… harusnya kemarin aku ambil air, tapi kepalaku lagi berantakan,’
Di sebelahnya tergeletak sebuah pikulan kayu, permukaannya sudah halus setelah ribuan kali bergesekan dengan pundaknya, alat setia yang selalu menemaninya memanggul air dari sungai.
Ia meraih kedua ember itu tanpa suara. Gerakannya efisien, terlatih. Dengan beberapa simpul cekatan yang telah dihafal jemarinya, ia mengikatkan tali rami yang kasar pada kedua ujung pikulan.
Dengan satu tarikan napas, ia mengangkat beban itu. Pikulan kayu tersebut pas menempel di lekukan pundaknya, sebuah beban yang familier. Jihan melangkah menuju pintu dan menariknya perlahan hingga terbuka. Pintu kayu tua itu mengeluh panjang, deritnya memecah keheningan gubuk. Ia baru saja akan melangkah keluar, menembus cahaya matahari pagi yang cerah, saat sebuah suara menghentikannya
“Jihan…?”
Itu suara ibunya, lirih dan sedikit serak karena baru terbangun, memanggilnya dari pembaringan.
“Hendak kemana nak?
Jihan terhenti di ambang pintu, siluet tubuhnya membingkai cahaya pagi. Ia menoleh, menampilkan seulas senyum menenangkan di wajahnya, lalu berkata dengan suara lembut,
“Hanya ke sungai sebentar, Bu,”
“Tempayan air kita kosong. Ibu jangan khawatir, Jihan tidak akan lama.”
Wulandari tidak berkata apa-apa lagi. Dari pembaringannya, ia hanya sanggup memberikan sebuah anggukan lemah.
Bagi Jihan, anggukan kecil itu adalah restu yang ia butuhkan. Dengan hati yang sedikit lebih ringan, ia akhirnya berbalik dan bergegas melangkah keluar dari gubuk.
Perjalanan menuju Sungai Batu kali ini terasa sangat berbeda. Secercah harapan tentang Seleksi Perguruan Pedang Awan telah mengubah segalanya. Jika kemarin langkahnya terasa berat seolah menyeret beban dunia, kini langkahnya terasa ringan dan penuh tujuan.
Berkat Pil Penguat Roh, indranya memang menjadi lebih tajam. Ia mulai memperhatikan sekelilingnya dengan cara yang baru. Tatapan beberapa penduduk desa yang berpapasan dengannya terasa aneh. Ada yang menatapnya dengan kaget, mungkin teringat keributan kemarin. Ada pula beberapa ibu-ibu yang menyapanya dengan nada khawatir, menanyakan kabar Wulandari. Jihan hanya membalas semuanya dengan anggukan singkat atau lambaian tangan, tak ingin menghentikan langkahnya yang berharga.
Kemudian, ia memperhatikan detail-detail kecil yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Retakan-retakan dalam di tanah yang kering kerontang karena kemarau panjang seolah mencerminkan kekosongan di mata banyak penduduk. Langkah mereka tampak berat, wajah-wajah mereka lesu seolah ada penyakit tak terlihat yang sedang menggerogoti mereka.
Jihan menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu.
‘Mungkin hanya efek kemarau panjang, dan cuaca terik.’
Ia mempercepat langkahnya, meninggalkan bagian desa yang ramai. Perlahan, suara obrolan penduduk digantikan oleh desiran angin di antara pepohonan. Tak lama kemudian, suara yang paling ia tuju mulai terdengar, gemericik air yang jernih dan menenangkan. Hingga akhirnya, pepohonan menipis dan di hadapannya terbentang tepi Sungai Batu yang luas dan berkilauan di bawah matahari pagi.
Saat itulah matanya menangkap sesosok tubuh beberapa puluh meter tak jauh darinya. Sosok itu adalah seorang pria paruh baya, terlihat dari punggungnya yang sedikit membungkuk saat berjongkok sangat rendah di tepi air.
Namun, ada yang aneh. Pria paruh baya itu tidak terlihat seperti sedang mencari tanaman obat. Satu tangannya terbenam hingga pergelangan ke dalam air yang berlumpur, tubuhnya diam tak bergerak, seolah sedang berkonsentrasi penuh merasakan sesuatu di dasar sungai. Jihan, dengan penglihatannya yang kini lebih tajam, bisa melihat gurat keseriusan di sisi wajah pria paruh bayah itu, sebuah fokus yang berbeda dari yang pernah ia lihat pada para tetua desa lainnya.
Karena rasa hormat, Jihan tidak langsung mendekat. Ia berdeham pelan, lalu memanggil dengan suara yang cukup keras untuk terdengar di antara gemericik air.
“Paman?”
Panggilan itu sontak membuat pria paruh bayah itu tersentak. Bahunya sedikit terangkat karena kaget. Dengan gerakan yang cepat, ia menarik tangannya dari dalam air dan seolah menyembunyikan sesuatu ke dalam kantung kain di pinggangnya.
Saat pria paruh baya itu perlahan berbalik, mata Jihan melebar karena terkejut. Wajah yang familier dengan janggut putih tipis itu kini menatapnya, berusaha menampilkan senyum ramah untuk menutupi keterkejutannya.
'Tabib Sari?' Tanya Jihan heran.
'Apa yang dilakukannya di sini?'