Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Penyesalan di Balik Gerbang Pesantren
Perjalanan dari Jakarta menuju pesantren di Jawa Timur terasa sangat panjang dan melelahkan. Di dalam mobil mewah milik keluarga besar pesantren itu, hanya ada keheningan yang menyesakkan. Hannan duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela dengan mata yang kosong. Ia tidak memprotes, tidak pula melawan saat dipaksa ikut pulang. Sebagian dari jiwanya seolah telah tertinggal di area pemakaman tadi, terbawa pergi oleh taksi yang melarikan Amara dari pandangannya.
Sesampainya di gerbang pesantren yang megah, kedatangan mereka disambut oleh barisan santri yang mencium tangan Kiai Abdullah. Namun, suasana hangat itu tidak mampu mencairkan kebekuan di dalam hati keluarga kiai tersebut.
Begitu pintu ndalem (rumah kiai) tertutup rapat, Kiai Abdullah duduk di kursi kebesarannya dengan nafas yang masih memburu sisa amarah. Namun, belum sempat beliau berucap sepatah kata pun, Ummi Salamah melakukan hal yang tak pernah ia lakukan selama puluhan tahun menjadi istri kiai.
Beliau membanting tasnya ke meja dengan keras.
"Sudah puas, Abah?" tanya Ummi Salamah dengan suara yang bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah membasahi cadar dan pipinya.
Kiai Abdullah mendongak, terkejut melihat istrinya yang biasanya sangat patuh kini menatapnya dengan pandangan penuh luka. "Salamah, jaga adabmu. Abah melakukan ini demi kebaikan Hannan dan pesantren!"
"Kebaikan yang mana, Abah?!" bentak Ummi Salamah. "Kebaikan yang didasari kesombongan? Kebaikan yang membuat seorang anak kehilangan istrinya saat dia baru saja menguburkan ibunya?!"
"Wanita itu hanya pembawa sial bagi keluarga kita!" sahut Kiai Abdullah tak mau kalah.
Ummi Salamah menarik napas panjang, lalu ia menarik Aisyah yang sejak tadi menangis di pojok ruangan. "Aisyah, katakan pada Abahmu. Katakan apa yang terjadi di bandara kemarin!"
Aisyah maju dengan langkah gemetar. "Bah... tadi pagi saat Aisyah bilang ada Mbak Amara di rumah sakit, itu karena Mbak Amara yang menolong Aisyah di bandara. Aisyah dirampok oleh preman bersenjata tajam, Bah. Aisyah tersungkur, tidak ada yang menolong. Hanya Mbak Amara yang berani lari mengejar perampok itu, dia mempertaruhkan nyawanya sendiri agar Aisyah tidak terluka."
Aisyah sesenggukan, suaranya hampir hilang. "Kalau tidak ada Mbak Amara yang menendang perampok itu dan menghalangi pisau mereka, mungkin sekarang Abah bukan menjemput Hannan ke Jakarta, tapi menjemput jenazah Aisyah. Dia menyelamatkan putri bungsu Abah tanpa tahu siapa Aisyah sebenarnya!"
Ruangan itu seketika hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Wajah Kiai Abdullah berubah pucat pasi. Tangannya yang tadinya memegang tasbih dengan kencang, kini perlahan melemah. Beliau menatap istrinya, lalu beralih ke arah Hannan yang masih menatap lantai dengan tatapan hancur.
"Dia... dia yang menyelamatkan Aisyah?" gumam Kiai Abdullah lirih.
"Bukan hanya itu, Bah," tambah Ummi Salamah dengan nada yang lebih rendah namun tajam. "Saat di pemakaman tadi, dia pergi bukan karena dia takut pada Abah. Dia pergi karena dia terlalu mencintai putra kita. Dia tidak mau melihat Hannan diusir. Dia mengorbankan kebahagiaannya agar suaminya tetap bisa menjadi seorang 'Gus' yang Abah banggakan. Apakah itu yang Abah sebut wanita pembawa nafsu?"
Kiai Abdullah terhenyak di kursinya. Kalimat istrinya seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya. Beliau teringat wajah Amara yang pucat, matanya yang sembap karena baru kehilangan ibu, namun tetap berusaha tersenyum dan memberikan penghormatan terakhir kepadanya sebelum berlari pergi.
"Astaghfirullah... Astaghfirullahaladzim..." Kiai Abdullah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya yang tegap kini tampak merosot. "Abah... Abah tidak tahu, Ummi. Abah hanya takut pesantren ini hancur karena fitnah yang dibawa wanita itu dari masa lalunya."
"Ilmu tanpa kasih sayang itu hampa, Bah," ujar Ummi Salamah sambil menghapus air matanya. "Hannan, maafkan Abahmu yang buta karena egonya."
Hannan bangkit perlahan. Ia tidak menatap ayahnya dengan kebencian, melainkan dengan kelelahan yang luar biasa. "Hannan ingin mencari Amara, Bah. Izin atau tidak izin, Hannan harus menemukannya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Uang di sakunya mungkin hanya cukup untuk beberapa hari."
Kiai Abdullah mengangkat kepalanya. Matanya merah.
"Cari dia, Hannan. Bawa dia pulang ke sini. Katakan pada menantuku... Abahnya memohon maaf."
Namun, pencarian itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selama satu minggu penuh, Hannan kembali ke Jakarta. Ia mendatangi stasiun, terminal, hingga pelabuhan. Ia melacak nomor ponsel Amara, namun kartu SIM-nya telah ditemukan oleh seorang petugas kebersihan di selokan dekat makam.
Amara seolah hilang ditelan bumi. Ia tidak meninggalkan jejak digital apa pun. Ia tahu cara bersembunyi karena selama bertahun-tahun ia harus lari dari kejaran anak buah Bastian.
Hannan berdiri di depan rumah sakit tempat ibu Amara meninggal, menatap keramaian kota Jakarta. Ia meremas jilbab merah muda milik Amara yang tertinggal di dalam tas yang sempat ia pegang.
"Amara, kamu di mana?" bisik Hannan pada angin malam.
Di saat yang sama, ratusan kilometer dari sana, di sebuah desa kecil di kaki Gunung Ciremai, seorang wanita dengan jilbab sederhana baru saja turun dari bus antar kota. Ia membawa tas kecil dan sebuah identitas baru di dalam hatinya. Ia melihat sebuah papan nama di depan sebuah madrasah kecil yang butuh tenaga pengajar.
"Bismillah... bantu aku menjadi hamba-Mu yang baru di sini, Ya Allah," ucap wanita itu, yang tak lain adalah Amara. Ia telah memutuskan untuk mengubur namanya dalam-dalam, demi menjaga nama baik keluarga pria yang dicintainya.