Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Kegelapan yang menyelimuti mereka tidak berlangsung lama.
Setelah pintu gerbang batu raksasa itu tertutup dengan dentuman yang menggetarkan bumi, hening yang mencekam mengambil alih. Su Mei masih terengah-engah, tubuhnya bersandar lemah pada dinding batu yang dingin. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan wajah cantiknya pucat pasi akibat pemakaian Qi yang berlebihan.
"Kita... kita selamat?" bisik Su Mei, suaranya bergetar. Dia menatap ke dalam kegelapan, takut jika tiba-tiba ada monster lain yang melompat keluar.
"Untuk sementara," jawab Lin Xiao tenang.
Cklik.
Lin Xiao menjentikkan jarinya. Sebuah bola api kecil muncul di ujung telunjuknya—bukan teknik tingkat tinggi, hanya manipulasi Qi dasar untuk penerangan.
Cahaya api itu menerangi sekeliling mereka. Mata Su Mei membelalak takjub.
Mereka tidak berada di dalam gua yang lembap dan sempit seperti yang dia bayangkan. Sebaliknya, mereka berdiri di ambang sebuah Dunia Bawah Tanah yang menakjubkan.
Di depan mereka terbentang sebuah taman raksasa seluas alun-alun kota. Langit-langit gua yang tingginya puluhan meter dipenuhi oleh lumut bercahaya (Luminous Moss) yang memancarkan sinar biru lembut, meniru cahaya bulan.
Di bawah sinar itu, ribuan tanaman aneh tumbuh subur. Ada bunga selebar piring yang kelopaknya transparan seperti kaca, ada pohon kerdil dengan buah yang berdenyut seperti jantung, dan rumput setinggi lutut yang bergoyang-goyang meski tidak ada angin.
Aroma manis yang memabukkan memenuhi udara, bercampur dengan bau tanah basah dan obat-obatan kuno.
"Indah sekali..." Su Mei menegakkan tubuhnya, rasa lelahnya seolah terusir oleh keindahan magis di depannya. "Ini... ini semua tanaman spiritual? Jika kita membawa ini keluar, Keluarga Su akan menjadi keluarga terkaya di provinsi ini!"
Matanya tertuju pada sekuntum bunga berwarna ungu cerah yang tumbuh tak jauh dari kakinya. Bunga itu sangat cantik, dengan serbuk sari yang berkilauan seperti debu emas. Tanpa sadar, Su Mei melangkah maju, tangannya terulur ingin menyentuhnya.
"Cantik sekali..." gumamnya, matanya mulai kehilangan fokus.
"Jangan sentuh."
Suara Lin Xiao terdengar tajam, memotong lamunan Su Mei.
Tangan Su Mei berhenti beberapa inci dari kelopak bunga itu.
"Kenapa? Ini hanya Bunga Anggrek Bulan, kan?" tanya Su Mei bingung, menoleh pada Lin Xiao.
"Anggrek Bulan?" Lin Xiao mendengus sinis. Dia berjalan mendekat, mencabut pedang hitamnya, dan dengan hati-hati menyentuh batang bunga itu dengan ujung pedang.
"Perhatikan."
Saat ujung pedang menyentuh batang, bunga "cantik" itu tiba-tiba membuka kelopaknya lebar-lebar, memperlihatkan deretan gigi runcing setajam jarum di bagian tengahnya!
SNAP!
Bunga itu menggigit ujung pedang besi Xuan dengan kekuatan yang mengejutkan. Cairan asam berwarna hijau menetes dari mulutnya, mendesis saat menyentuh logam pedang.
Su Mei terlonjak mundur, wajahnya semakin pucat. "Itu... tanaman pemakan daging?!"
"Bunga Iblis Ungu (Purple Demon Flower)," koreksi Lin Xiao. "Serbuk sarinya mengandung halusinogen kuat yang membuat mangsanya melihat ilusi indah, lalu memancing mereka mendekat untuk dimakan. Jika kau menyentuhnya tadi, tanganmu sudah putus."
Lin Xiao mengibaskan pedangnya, memotong kepala bunga itu dengan satu gerakan bersih. Bunga itu menjerit melengking seperti bayi menangis sebelum layu dan mati.
Su Mei menelan ludah kasar. Dia menatap taman indah di depannya dengan pandangan baru. Ini bukan surga. Ini adalah ladang ranjau.
"Makam seorang Grandmaster Alchemist tidak pernah aman," jelas Lin Xiao sambil menyarungkan pedangnya. "Bagi seorang Alkemis, tanaman adalah bahan obat sekaligus senjata pembunuh. Seluruh taman ini adalah sistem pertahanan."
Lin Xiao merogoh saku jubahnya, mengeluarkan botol kecil berisi bubuk belerang yang dia beli di kota. Dia menaburkan bubuk itu ke sekeliling mereka.
"Ikuti jejak kakiku. Jangan melangkah satu inci pun ke kiri atau ke kanan. Jangan sentuh apa pun kecuali aku menyuruhmu," perintah Lin Xiao tegas.
Su Mei, yang biasanya bangga dan keras kepala, kali ini mengangguk patuh seperti anak kecil. Pengetahuan Lin Xiao yang luas telah meruntuhkan arogansinya.
"Lin Xiao," panggil Su Mei saat mereka berjalan hati-hati melewati deretan tanaman beracun. "Bagaimana kau tahu semua ini? Orang-orang bilang kau... maksudku, kau tidak pernah keluar dari Kota Batu Hijau. Buku apa yang kau baca?"
Lin Xiao tetap fokus ke depan, matanya yang tajam memindai setiap ancaman. "Aku banyak membaca saat orang lain sibuk menghinaku. Pengetahuan adalah senjata yang tidak bisa dipatahkan oleh siapa pun."
Jawaban diplomatis. Su Mei tidak puas, tapi dia tidak berani bertanya lebih lanjut.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka sampai di ujung taman. Di depan mereka berdiri sebuah pintu gerbang logam yang terbuat dari perunggu kuno.
Tidak ada lubang kunci. Hanya ada sebuah cekungan berbentuk mangkuk di tengah pintu, dan sebuah prasasti batu di sampingnya.
Prasasti itu bertuliskan: Api memurnikan segalanya. Tunjukkan padaku kemurnian jiwamu, atau jadilah pupuk bagi tamanku.
"Teka-teki lagi," keluh Su Mei. Dia memeriksa pintu itu. "Tidak ada celah. Pintu ini terbuat dari Logam Bintang. Bahkan serangan Ranah Inti Emas tidak akan bisa menghancurkannya."
"Ini bukan teka-teki kekuatan, ini ujian alkimia," kata Lin Xiao. Dia menunjuk cekungan mangkuk itu. "Pintu ini meminta 'Api Jiwa' atau kontrol api yang presisi."
"Aku kultivator elemen Es, aku tidak bisa membantu," Su Mei mengangkat bahu, merasa tidak berguna. "Kau elemen apa? Aku melihatmu menggunakan kekuatan fisik murni sejauh ini."
Lin Xiao tersenyum tipis. Elemen? Dia menguasai semua elemen di kehidupan sebelumnya. Tapi sekarang, tubuhnya baru saja dibangkitkan.
"Minggir sedikit."
Lin Xiao berdiri di depan pintu. Dia meletakkan telapak tangannya di atas cekungan mangkuk itu.
Dia memejamkan mata. Mengakses Qi Naga di dalam Dantian-nya. Sifat dasar Naga adalah api dan kekuatan.
"Bakar."
Wusss!
Sebuah nyala api muncul di telapak tangan Lin Xiao. Tapi apinya bukan merah biasa. Api itu berwarna oranye keemasan, menari-nari dengan stabil dan tidak mengeluarkan asap.
Mata Su Mei membelalak. "Api Qi yang dimurnikan?! Bagaimana mungkin kultivator Tingkat 5 memiliki kontrol api sestabil ini? Itu butuh latihan mental bertahun-tahun!"
Lin Xiao mengabaikan kekaguman Su Mei. Dia fokus menyalurkan apinya ke dalam mekanisme pintu. Dia bisa merasakan saluran-saluran kecil di dalam pintu logam itu. Dia harus mengalirkan api ke seluruh saluran itu secara bersamaan tanpa terputus.
Satu detik. Sepuluh detik. Keringat mulai menetes di dahi Lin Xiao. Ini menguras konsentrasi mentalnya.
Klik. Klik. Klik.