NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Tribulasi Fondasi Tinta

Keheningan di ruang meditasi itu tidak lagi terasa tenang, ia terasa seperti tekanan air di dasar samudera yang paling dalam. Guiren duduk bersila, kuas serigala rohnya tergantung diam beberapa inci di atas kanvas suci yang telah tercemar oleh racun Bai Feng. Di tengah lubang hitam korosif itu, ia tidak melihat kehancuran, melainkan sebuah ruang kosong yang menuntut untuk diisi.

Saat ia mulai mengalirkan seluruh esensi jiwanya ke ujung kuas, dunia di luar seketika berubah.

Awan hitam bergulung menutupi Puncak Terasing dengan kecepatan yang tidak wajar. Langit yang seharusnya bertabur bintang mendadak tersumbat oleh gumpalan awan pekat berwarna kelabu tua, membawa aroma ozon yang menyengat dan getaran yang membuat tulang-tulang di sekte itu bergidik. Ini bukan badai biasa. Ini adalah penolakan. Alam semesta sedang menatap ke bawah, ke arah sebuah ruangan kecil, dan ia tidak menyukai apa yang ia lihat, sebuah jiwa yang mencoba mengukir jalannya sendiri di luar hukum yang telah ditetapkan.

Duar!

Sambaran petir pertama menghantam atap ruang meditasi, bukan sebagai kilatan cahaya, melainkan sebagai palu godam energi murni yang mencoba meratakan bangunan itu.

Guiren tidak mendongak. Darah mulai merembes dari sudut matanya, membasahi kain penutup mata yang kini terasa terbakar. Meridiannya menjerit saat ia memaksa Niat Tinta keluar dari tubuhnya, bukan ke arah kanvas, melainkan ke udara di atas kepalanya.

Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang nyaris tidak terlihat. Di tengah kegelapan ruangan yang diterangi kilatan guntur, ia mulai melukis di udara kosong. Garis-garis tinta hitam pekat terbentuk, menjalin struktur rumit yang meluas hingga menembus atap, menciptakan lapisan pelindung yang berdenyut searah dengan detak jantungnya.

Sambaran kedua lebih ganas. Kilat berwarna ungu kebiruan menghantam perisai tinta itu. Getarannya merambat turun melalui medium energi, menghantam bahu Guiren hingga terdengar bunyi retakan kecil. Mulutnya penuh dengan rasa logam dari darah yang ia telan agar tidak memutus konsentrasinya.

"Kau menolakku?" gumam Guiren, suaranya tenggelam dalam bringasnya guntur. "Maka aku akan menjadikan penolakanmu sebagai bagian dari karyaku."

Ia melakukan sesuatu yang gila. Bukannya membuang energi petir yang menghantam perisainya, Guiren justru membuka celah kecil di tengah struktur lukisannya. Ia mengundang murka langit untuk masuk.

Setiap kali petir menyambar, ia menangkap sisa-sisa energi destruktif itu dengan ujung kuasnya, mengubah kilatan yang menghancurkan menjadi pigmen energi yang liar. Alhasil tubuhnya bergetar hebat, kulitnya mulai menunjukkan luka bakar kecil akibat panas yang meluap, namun tangannya tetap stabil.

Di dalam Visi Qi-nya, dunia adalah kekacauan garis-garis putih yang mencoba menghapusnya dari eksistensi. Petir ketiga, keempat, dan kelima turun beruntun, mengubah malam menjadi siang yang menyakitkan. Ruang meditasi itu kini dipenuhi oleh partikel energi yang beterbangan seperti debu bintang yang marah. Setiap hantaman mencoba merobek jiwanya, mencoba membuktikan bahwa seorang manusia, apalagi yang cacat dan penuh noda kehidupan tidak berhak melukis fondasinya sendiri.

Guiren memuntahkan darah segar ke atas kanvas di hadapannya. Darah itu bercampur dengan noda korosif Bai Feng dan energi petir yang ia jinakkan.

"Teruslah menyerang," bisiknya, suaranya terus hilang di balik gemuruh. "Setiap seranganmu hanya mempertegas garis yang kubuat."

Ia menarik garis terakhir di udara, sebuah lengkungan besar yang menghubungkan langit yang marah dengan kanvas yang terluka. Energi petir yang terjebak dalam lukisan tinta itu mulai mendingin, memadat, dan perlahan-lahan merembes masuk ke dalam tubuh Guiren melalui pori-porinya.

Rasa sakitnya berada di luar batas nalar manusia. Meridiannya tidak hanya robek, mereka terbakar dan dibangun kembali secara instan oleh energi langit yang ia paksa tunduk. Tubuh Kertas Surgawi miliknya kini tidak lagi sekadar putih dan bersih, melainkan memiliki guratan-guratan samar berwarna perak keunguan, bekas luka dari sebuah tribulasi yang gagal menghancurkannya.

Guntur perlahan mereda. Awan hitam di atas Puncak Terasing mulai menipis, menyisakan keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya.

Di dalam ruangan yang kini hancur berantakan, Guiren masih duduk tegak. Jubahnya nyaris habis terbakar, kulitnya memerah dan berdarah, namun di bawah telapak tangannya, kanvas suci itu tidak lagi berlubang. Noda hitam korosif itu telah diubah menjadi fondasi sebuah struktur yang begitu kompleks dan dalam, berdenyut dengan kehidupan baru yang belum pernah memiliki nama dalam buku-buku kultivasi sekte.

Pintu menuju Pembentukan Fondasi telah terbuka. Guiren masih berada di ambang kesadaran, tangannya masih memegang kuas dengan erat, namun ia tahu, langit telah mencoba menghapusnya, dan ia baru saja membalas dengan sebuah goresan yang takkan bisa dihapus oleh waktu.

Ia telah bertahan. Namun, harga yang dibayar tubuhnya membuat setiap napas yang ia tarik terasa seperti meminum tinta yang mendidih.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!