Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alis Shin-chan dan Kalung Terkutuk
Malam Minggu yang dinanti—atau ditakuti—akhirnya tiba. Di dalam kamar sempitku yang dindingnya ditempeli poster pahlawan nasional (sisa tugas sekolah dulu), terjadi pertempuran sengit. Bukan pertempuran fisik, tapi pertempuran estetika.
Di hadapanku, tergeletak berbagai "senjata": bedak tabur Viva sachet seribuan, lipstik merah bata punya Ibu yang tinggal setengah, pensil alis yang sudah tumpul, dan maskara kering yang kucoba cairkan dengan merendamnya di air panas.
Aku menatap cermin retak di lemari dengan keringat dingin bercucuran. Waktuku tinggal dua jam sebelum acara dimulai.
"Oke, Sifa. Fokus. Kamu bisa. Tinggal tarik garis lurus di kelopak mata," gumamku menyemangati diri sendiri.
Tanganku yang gemetar memegang eyeliner cair murah itu. Aku mendekatkan ujung kuas ke mata. Tahan napas... tarik...
SRET!
Garis hitam itu melenceng jauh, naik sampai ke pelipis.
"Astaga Naga," suara Chrono terdengar kaget di kepalaku, nadanya penuh penghinaan. "Lo mau pergi ke pesta dansa atau mau main Lenong Betawi? Itu garis mata apa rute Transjakarta? Panjang amat."
Aku mendengus kesal, buru-buru mengambil kapas dan air mawar untuk menghapusnya. "Diem deh, Chrono! Susah tau! Tanganku gemetar!"
"Itu bukan gemetar, itu parkinson dini akibat kurang gizi," ejeknya lagi. "Coba liat alis lo yang sebelah kiri. Itu ketebelan, Fa. Udah kayak lintah darat abis makan kenyang. Kalau lo keluar kamar dengan alis kayak Shin-chan gitu, gue bakal auto-shutdown karena malu punya User kayak lo."
"Terus aku harus gimana?!" Aku nyaris menangis putus asa. Mukaku cemong hitam-hitam. "Aku nggak punya uang buat ke salon, Chrono! Aku cuma mau kelihatan pantas sedikit di depan Mas Adi!"
Hening sejenak. Layar jam di tanganku berkedip lembut, seolah menghela napas panjang secara digital.
"Hadeh. Nasib gue jadi baby sitter," keluh Chrono. "Aktifkan Mode: Beauty Guru Professional. Ikuti instruksi gue. Jangan ngeyel. Gue bakal proyeksikan garis panduan di retina lo. Lo tinggal warnain sesuai garis, kayak anak TK mewarnai gambar."
Tiba-tiba, pandanganku berubah. Di wajahku yang terpantul di cermin, muncul garis-garis neon hijau putus-putus. Garis itu membentuk kontur wajah yang sempurna, bentuk alis yang presisi, dan garis mata yang tajam.
"Ambil pensil alis. Arsir pelan-pelan di dalam garis hijau. Jangan ditekan kayak lagi nulis di batu prasasti. Lembut aja, Nona. Lembut," pandu Chrono sabar tapi tetap pedas.
Aku menurut. Mengikuti garis panduan Augmented Reality itu, tanganku bergerak lebih terarah. Ajaib. Alisku jadi simetris sempurna! Natural, berserat, tidak nge-blok.
"Bagus. Sekarang shading hidung. Pake bedak yang agak gelap di pinggir. Biar hidung pesek lo itu kelihatan mancung dikit. Dikit aja, jangan berharap jadi kayak artis Hollywood."
Satu jam berlalu dengan omelan Chrono yang tiada henti.
"Lipstiknya ketebelan! Hapus!"
"Jangan pake blush on di situ, nanti dikira abis ditampar orang!"
"Rambut lo disanggul modern aja, jangan disasak tinggi-tinggi, lo bukan mau kondangan pejabat tahun 80-an!"
Akhirnya, sesi penyiksaan itu selesai.
Aku mundur selangkah dari cermin. Menahan napas.
Gadis di cermin itu... benarkah itu aku?
Wajahku terlihat bersih dan segar. Riasannya tipis namun menonjolkan fitur wajahku yang selama ini tertutup kacamata dan rasa minder. Mataku terlihat lebih besar dan berbinar. Bibirku merah merona alami. Rambutku digelung sederhana di belakang tengkuk, menyisakan sedikit anak rambut yang jatuh ikal di pipi.
Tanpa kacamata lakban (malam ini aku pakai lensa kontak harian yang kubeli pakai sisa uang jajan), aku bisa melihat diriku dengan jelas. Sifa yang cantik.
Lalu, ritual terakhir. Kebaya Ibu.
Aku mengenakan kebaya putih tulang itu dengan hati-hati. Kain brokat halusnya memeluk tubuhku dengan pas, seolah memang dijahit untukku. Bau kapur barus sudah hilang, berganti dengan wangi melati segar—tadi aku menyelipkan bunga melati asli di sanggulku, petik dari pot tetangga (maaf ya, Bu RT).
Kain batik tulis cokelat tua melilit pinggangku, memberikan siluet yang anggun.
"Not bad," komentar Chrono, suaranya terdengar tulus kali ini. "Lo kelihatan... klasik. Elegan. Nggak berusaha keras buat jadi seksi, tapi justru itu yang bikin lo mahal. Skor: 8.5/10. Sisanya 1.5 poin ilang karena lo masih pake sandal jepit di dalam kamar."
Aku tertawa kecil, lalu mengganti sandal jepitku dengan heels hitam polos setinggi 5 cm. Sepatu bekas kakak sepupuku yang untungnya muat.
Aku keluar kamar. Ibu sedang duduk di kursi rotan, menjahit kancing baju tetangga. Begitu melihatku, jarum di tangan Ibu berhenti bergerak.
Mata Ibu membelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Perlahan, mata tuanya berkaca-kaca.
"Ya Allah... Gusti..." bisik Ibu, suaranya bergetar. Dia berdiri susah payah, mendekatiku. "Cantik banget, Nduk... Ibu pangling. Kayak ngeliat diri Ibu waktu muda dulu..."
Ibu mengelus pipiku, takut merusak bedakku. "Kamu beneran kayak putri keraton, Sifa."
Aku memeluk Ibu erat, berusaha agar air mataku tidak jatuh dan merusak karya seni Chrono. "Ini berkat doa Ibu. Dan kebaya Ibu yang ajaib."
"Ingat pesan Ibu ya, Nduk," kata Ibu sambil merapikan selendang di bahuku. "Di sana nanti banyak orang kaya, orang hebat. Jangan minder. Tegakkan kepalamu. Kamu anak baik, kamu berhak ada di sana."
Aku mengangguk mantap. Lalu aku memegang kedua tangan Ibu, menatap matanya lekat-lekat.
"Bu," kataku serius. "Malam ini Sifa mau berjuang. Bukan cuma buat pesta-pestaan. Tapi buat masa depan kita. Kalau nanti Sifa pulang telat, Ibu jangan khawatir ya. Sifa janji bakal pulang dengan selamat. Sifa bakal bawa kabar baik."
Ibu tersenyum, meski ada kekhawatiran di matanya. "Iya, Nduk. Ibu doakan dari rumah. Hati-hati sama orang jahat."
Orang jahat...
Kata-kata itu mengingatkanku pada Rana dan Rani. Ya, aku harus hati-hati.
Aku melirik jam tanganku. Pukul tujuh malam.
"Mobil jemputan lo udah sampai di depan gang," lapor Chrono.
"Mobil jemputan?" tanyaku bingung dalam hati. "Aku kan pesen ojek online?"
"Gue cancel. Gue ganti pesen GrabCar Premium pake promo diskon 90% hasil retas kode voucher yang nganggur. Lo pake kebaya putih, masa mau naik motor kena angin masuk angin? Rusak sanggul lo nanti."
Aku tersenyum geli. Chrono memang asisten terbaik, meski mulutnya pedas.
"Sifa berangkat ya, Bu. Assalamualaikum."
Dengan langkah anggun—yang sedikit tertatih karena belum biasa pakai heels—aku meninggalkan rumah petak kami, menuju medan perang yang gemerlap.
Sementara itu, di belahan Jakarta yang lain, di dalam kamar tidur yang luasnya tiga kali lipat rumah Sifa, atmosfer terasa jauh lebih gelap dan mencekam.
Kamar Rana berantakan seperti baru saja kena badai. Gaun-gaun branded berserakan di lantai, sepatu hak tinggi terlempar ke segala arah. Aroma parfum menyengat bercampur dengan bau hairspray.
Rana berdiri di depan cermin besar berbingkai emas. Dia mengenakan gaun malam Versace warna merah darah dengan belahan dada rendah dan belahan paha tinggi. Sangat seksi, sangat glamour, dan sangat agresif. Lehernya dihiasi kalung berlian imitasi—karena yang asli sedang dia pegang di tangannya.
"Gimana, Ran? Gue udah kelihatan kayak Nyonya Masa Depan NVT belum?" tanya Rana sambil memutar tubuhnya, mengagumi diri sendiri.
Rani, yang duduk di tepi kasur sambil memoles kutek hitam di kukunya, mendongak. Dia mengenakan gaun perak yang tak kalah heboh. "Udah, Kak. Cetar banget. Mas Adi pasti langsung ilfeel liat Sifa kalau dibandingin sama lo."
Rana tersenyum puas, lalu tatapannya jatuh pada benda berkilauan di tangannya.
Kalung berlian "The Blue Moon" milik ibunya. Kalung dengan liontin berlian biru seukuran kelereng, dikelilingi berlian-berlian kecil. Harganya fantastis, dan nilai sentimentilnya bagi Nyonya Linda sangat tinggi.
"Ini dia..." bisik Rana, mengangkat kalung itu di bawah lampu kristal. Cahayanya berpendar dingin, seolah menyimpan aura jahat. "Tiket Sifa menuju penjara."
"Lo yakin rencananya bakal mulus?" tanya Rani, meniup-niup kukunya yang basah. "Gue denger keamanan hotel diperketat lho karena banyak menteri dateng."
"Justru itu bagusnya, bego!" Rana tertawa kecil, memasukkan kalung itu ke dalam sebuah kantong beludru kecil. "Makin ketat keamanan, makin dramatis pas alarmnya bunyi."
Rana berjalan mendekati adiknya, menjelaskan rencana final mereka dengan mata berbinar sadis.
"Dengerin gue baik-baik, Ran. Nanti pas sesi mingle sebelum dansa utama, lo tugasnya alihin perhatian Sifa. Ajak dia ngobrol, pura-pura baik, minta maaf atau apalah. Bikin dia lengah."
"Oke, gampang. Gue jago akting nangis," sahut Rani.
"Nah, pas dia lengah, gue bakal nyenggol dia dari belakang. Gue bakal masukin kantong beludru ini ke dalam tasnya. Tas dia pasti tas pasar loak yang gampang dibuka," lanjut Rana.
"Terus?"
"Terus kita tunggu sampe Mas Adi naik panggung buat pidato. Pas momen hening, gue bakal teriak histeris: 'Kalung Mama hilang!' Keamanan bakal dateng, geledah semua orang. Dan... BOOM! Ketemu di tas Sifa."
Rana meremas kantong beludru itu kuat-kuat. "Dia bakal dituduh mencuri. Dipecat di tempat. Mas Adi bakal liat dia sebagai kriminal hina. Polisi bakal seret dia keluar kayak sampah. Happy Ending buat kita."
Rani bertepuk tangan girang. "Gila, sadis banget. Suka deh! Terus nasib kalungnya?"
"Ya kita ambil lagi lah, pura-pura ditemuin petugas. Aman."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Nyonya Linda masuk dengan gaun emas yang menyilaukan mata. "Hei, kalian belum siap? Papa udah nunggu di mobil. Jangan lama-lama dandan! Kita harus datang awal buat cari muka sama komisaris."
"Siap, Ma!" seru Rana dan Rani kompak.
"Mana kalungnya?" tanya Nyonya Linda curiga.
Rana buru-buru menyembunyikan kantong beludru itu ke dalam clutch bag mahalnya. "Ada kok, Ma. Aman sama Rana. Nanti pas acara Rana pake."
"Awas ya. Kalau ilang, Papa kalian bisa stroke."
Mereka bertiga berjalan menuruni tangga pualam. Tuan Adiwangsa sudah menunggu di lobi rumah, mengenakan setelan jas hitam yang menyembunyikan perut buncitnya. Wajahnya tegang namun penuh antisipasi.
"Ingat," bisik Tuan Adiwangsa saat anak-anaknya masuk ke dalam limusin hitam. "Malam ini bukan cuma pesta. Malam ini eksekusi. Jangan ada kesalahan."
"Beres, Pa," jawab Rana sambil menyeringai.
Limusin itu meluncur perlahan meninggalkan gerbang rumah mewah mereka. Di dalamnya, keluarga Adiwangsa merasa seperti raja dan ratu yang tak tersentuh. Mereka yakin malam ini akan menjadi malam kemenangan mereka.
Mereka tidak tahu bahwa di sebuah mobil taksi online sederhana yang melaju beberapa kilometer di belakang mereka, duduk seorang gadis berkebaya putih dengan "senjata" yang jauh lebih mematikan daripada berlian curian:
Kecerdasan buatan dari masa depan dan hati yang tulus.
Di dalam taksi itu, Sifa memandang jalanan Jakarta yang macet lewat jendela.
"Deteksi lokasi musuh: 5 kilometer di depan," lapor Chrono. "Mereka bawa 'paket' itu. Gue bisa deteksi sinyal mikro-karbon dari berliannya."
"Bagus," bisik Sifa pelan. "Biarkan mereka bawa. Biarkan mereka merasa menang dulu."
"Lo nggak takut, Fa?"
"Takut," aku Sifa jujur. Tangannya meremas kain kebayanya. "Tapi aku lebih takut kalau terus-terusan diinjek. Malam ini, Cinderella nggak bakal lari pas jam dua belas, Chrono. Cinderella bakal ngajak ribut."
"Itu baru User gue," puji Chrono. "Tenang aja. Gue udah siapin kejutan visual di layar LED panggung nanti kalau mereka macem-macem. Gue juga udah hack sistem sound system. Kalau mereka mulai drama, kita kasih backsound sirkus."
Sifa tertawa renyah. Tawa yang melepaskan sebagian beban di dadanya.
Malam semakin larut, lampu-lampu kota semakin terang. Dua kubu sedang menuju satu titik temu di Grand Ballroom Hotel Kempinski. Panggung sandiwara sudah siap, penonton sudah mulai datang.
Tinggal menunggu siapa yang akan mendapatkan tepuk tangan meriah, dan siapa yang akan diseret turun panggung dengan memalukan.
semangat kakak