Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 – Tara Masih Buta
Tara tidak pernah merasa rumahnya setenang ini.
Bukan tenang yang menenangkan—melainkan tenang yang menekan, seperti udara sebelum hujan besar. Sejak pertengkaran terakhir dengan Kia, sejak tatapan Kia yang terasa berbeda, sejak ayahnya mulai semakin sering diam, Tara merasa ada sesuatu yang berubah, tapi ia tidak tahu di mana letaknya.
Ia hanya tahu satu hal: semuanya terasa salah.
Pagi itu, Tara turun ke meja makan dengan langkah pelan. Ibunya sudah duduk, membaca berita di tablet. Ayahnya belum keluar kamar.
“Kamu kelihatan capek,” kata ibunya tanpa menoleh.
Tara mengangguk. “Biasa.”
Padahal tidak biasa sama sekali.
Ia memandangi cangkir tehnya yang masih mengepul. Aroma hangat itu biasanya menenangkan, tapi hari ini rasanya hambar.
“Papa pulang malam lagi?” tanya Tara.
Ibunya berhenti membaca. “Iya. Banyak kerjaan.”
Jawaban yang sama. Selalu sama.
Tara menunduk. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi setiap kali ia mencoba membuka topik tentang ayahnya, suasana selalu berubah kaku. Seperti ada aturan tak tertulis: jangan bertanya terlalu banyak.
Ayahnya akhirnya keluar dari kamar, mengenakan kemeja kerja. Wajahnya terlihat letih, tapi tetap rapi.
“Pagi,” katanya singkat.
“Pagi, Pa.”
Ayahnya mengangguk, lalu duduk. Tidak ada senyum. Tidak ada obrolan ringan. Hanya bunyi sendok menyentuh piring.
Tara memperhatikan ayahnya diam-diam.
Ada garis tegang di rahangnya. Ada sesuatu di matanya yang tidak pernah ada dulu—atau mungkin dulu ada, tapi Tara tidak pernah benar-benar memperhatikan.
“Papa,” panggil Tara pelan.
Ayahnya menoleh. “Hm?”
“Kamu kenapa akhir-akhir ini… aneh?”
Ibunya langsung menatap Tara. “Tara.”
Ayahnya menghela napas. “Papa cuma capek.”
“Bukan itu,” Tara menggeleng. “Kamu jadi sering marah. Dan…” ia ragu sejenak. “Kamu selalu berubah tiap nama Kia disebut.”
Udara di meja makan seketika berat.
Ayahnya meletakkan sendok perlahan. Terlalu perlahan.
“Kamu jangan bawa-bawa dia lagi,” ucapnya dingin.
“Kenapa?” Tara spontan berdiri. “Aku cuma pengen ngerti!”
“Tidak semua hal perlu kamu mengerti,” jawab ayahnya tegas.
Kata-kata itu seperti dinding yang tiba-tiba berdiri di antara mereka.
Tara menatap ayahnya lama. Dadanya naik turun.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau Papa nggak mau jelasin, aku juga nggak mau pura-pura nggak ngerasa ada yang salah.”
Ia berbalik, mengambil tas, dan keluar tanpa menunggu jawaban.
Ibunya memandang ayahnya dengan cemas.
“Kamu terlalu keras,” bisiknya.
Ayahnya menutup mata. “Kalau aku nggak keras, semuanya bakal hancur.”
Di sekolah, Tara mencoba menjalani hari seperti biasa.
Ia duduk di bangkunya, membuka buku, mencatat. Tapi matanya berkali-kali melirik ke arah Kia.
Kia terlihat… jauh.
Bukan menjauh secara fisik—mereka masih satu kelas, jarak bangku hanya beberapa langkah—tapi seolah ada tembok transparan yang kini berdiri di antara mereka.
Dulu, kebencian mereka terasa panas. Terlihat. Meledak-ledak.
Sekarang?
Sekarang kebencian Kia terasa dingin. Dan itu jauh lebih menakutkan.
Saat jam kosong, Tara memberanikan diri mendekat.
“Kia,” panggilnya.
Kia menoleh sekilas. “Apa?”
Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak sinis. Tidak apa-apa.
Justru itu yang membuat Tara gelisah.
“Kita perlu ngomong,” kata Tara.
“Ngomong apa?” Kia kembali menatap bukunya.
“Tentang… semua ini.”
Kia tertawa kecil, tanpa senyum. “Menurut kamu masih ada yang perlu dibahas?”
“Ada,” jawab Tara cepat. “Kamu berubah.”
“Kamu baru sadar?” balas Kia ringan, tapi ada sesuatu yang bergetar di balik kata-katanya.
Tara menarik napas. “Aku nggak ngerti kenapa kamu segitu bencinya sama aku. Aku ngerasa kayak—”
“Kayak apa?” Kia menatapnya langsung.
“Kayak aku ngambil sesuatu dari kamu,” ucap Tara jujur.
Kalimat itu membuat Kia membeku.
Satu detik. Dua detik.
Lalu Kia tersenyum miring.
“Perasaan kamu aja,” katanya pelan.
Tara menggeleng. “Bukan. Tatapan kamu… beda.”
Kia berdiri. Mengambil tasnya.
“Kadang,” kata Kia sebelum pergi, “ada hal-hal yang lebih baik kamu nggak tahu.”
Tara terpaku di tempat.
Kenapa kata-kata itu terdengar seperti peringatan?
Sepulang sekolah, Tara tidak langsung pulang.
Ia naik bus, turun satu halte lebih jauh dari rumah. Ia berjalan menyusuri jalan kecil, pikirannya penuh.
Ucapan Kia terus berputar di kepalanya.
Ada hal-hal yang lebih baik kamu nggak tahu.
Apa maksudnya?
Ia mencoba mengingat-ingat awal mula semua ini. Pertengkaran pertama. Tatapan ayahnya. Cara Papa selalu menghindari Kia. Cara Mama selalu canggung tiap topik itu muncul.
Ada benang merah di sana. Tapi setiap kali Tara hampir menangkapnya, benang itu seolah menghilang.
Ia sampai di rumah saat matahari hampir tenggelam.
Ayahnya belum pulang.
Tara masuk ke ruang kerja ayahnya—sesuatu yang jarang ia lakukan. Ruangan itu selalu rapi, hampir steril. Rak buku tertata, map-map disusun rapi.
Ia tidak berniat menggeledah.
Ia hanya… penasaran.
Tangannya menyentuh salah satu map lama di rak bawah. Map cokelat, sedikit usang.
Ia menariknya keluar.
Isinya kebanyakan dokumen kerja lama. Tidak ada yang menarik.
Hampir saja ia mengembalikannya saat satu lembar kertas kecil terjatuh.
Tara memungutnya.
Sebuah foto lama.
Seorang perempuan muda, tersenyum ke arah kamera. Rambutnya panjang, sederhana. Tatapannya lembut.
Tara belum pernah melihatnya.
Di balik foto itu, ada tulisan tangan:
Jangan sampai Tara tahu.
Jantung Tara berdegup kencang.
Ia menelan ludah, menatap foto itu lagi.
“Siapa kamu…?” bisiknya.
Langkah kaki terdengar dari luar.
Tara panik, cepat-cepat memasukkan kembali foto dan map ke tempatnya.
Pintu terbuka.
Ayahnya berdiri di ambang pintu.
“Tara,” ucapnya terkejut. “Kamu ngapain di sini?”
“Aku…” Tara ragu. “Nyari kamu.”
Ayahnya menatapnya tajam. “Di ruang kerja Papa?”
“Aku cuma—”
“Ada yang kamu lihat?” potong ayahnya cepat.
Nada suaranya membuat Tara tersentak.
“Nggak,” jawab Tara pelan. “Kenapa Papa kelihatan takut?”
Ayahnya menghela napas panjang. Wajahnya berubah lelah.
“Kamu terlalu banyak mikir,” katanya akhirnya. “Papa cuma pengen kamu fokus sekolah.”
“Dan Kia?” tanya Tara spontan.
Ayahnya menegang.
“Kamu jauhi dia,” ucapnya tegas. “Itu yang terbaik.”
“Terbaik buat siapa?” suara Tara bergetar.
Ayahnya tidak menjawab.
Dan di situlah Tara sadar—bukan Kia yang menyimpan jarak.
Tapi ayahnya.
Malam itu, Tara tidak bisa tidur.
Ia menatap langit-langit kamar, memikirkan foto perempuan itu. Tulisan di baliknya. Tatapan Kia. Ketakutan ayahnya.
Semuanya seperti potongan puzzle yang belum mau membentuk gambar utuh.
Ia mengambil ponsel, membuka chat dengan Kia. Jarum jam menunjukkan hampir tengah malam.
Jarunya mengetik.
Tara: Aku nggak tahu apa yang kamu sembunyiin.
Tapi kalau aku pernah ngambil sesuatu dari kamu tanpa sadar…
aku minta maaf.
Pesan terkirim.
Tidak ada balasan.
Di kamar lain, Kia menatap layar ponselnya lama.
Pesan itu membuat dadanya sesak.
Tara masih buta.
Masih tidak tahu bahwa yang ia miliki bukan sekadar sesuatu—melainkan seseorang.
Ayah mereka.
Kia mematikan layar ponsel.
Ia belum siap.
Belum sekarang.
Karena begitu Tara tahu, kebencian ini tidak akan sederhana lagi.
Dan mungkin… tidak akan bisa diperbaiki.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya