NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok di Balik Topeng

Sudah empat hari aku terkurung di vila mewah ini. Empat hari yang terasa seperti empat tahun.

Setiap pagi sama. Bangun pukul enam, pintu terbuka otomatis pukul enam setengah, sarapan dengan Leonardo yang bicara sesedikit mungkin, lalu dia pergi ke ruang kerjanya atau entah kemana dan aku ditinggal sendirian dengan Sofia dan pelayan-pelayan lain yang sopan tapi jelas takut pada sesuatu.

Aku sudah mencoba berbagai cara untuk mengisi waktu. Membaca buku di perpustakaan, meski konsentrasi ku buyar terus. Berenang di kolam dalam ruangan, tapi airnya yang dingin malah mengingatkan pada dinginnya tatapan Leonardo. Bahkan cuma duduk di taman sambil menatap danau dari balik pagar besi tinggi yang sepertinya didesain khusus agar tidak bisa dipanjat.

Tapi yang paling membuatku frustasi adalah... aku tidak tahu apa-apa tentang pria yang sekarang jadi suamiku ini.

Leonardo Valerio. Siapa dia sebenarnya? CEO perusahaan apa? Kenapa dia sekaya ini? Dan yang paling penting, kenapa dia melakukan semua ini padaku?

Pagi ini, setelah Leonardo pergi ke ruang kerjanya seperti biasa, aku memutuskan untuk mencari jawaban sendiri.

Laptop. Aku butuh laptop.

Aku turun ke perpustakaan, mencari-cari. Di meja sudut ada sebuah laptop tipis berwarna silver. Jantungku berdegup kencang saat membukanya. Layar menyala. Tidak ada password.

Aneh. Kenapa tidak ada password?

Tapi aku tidak peduli. Aku langsung membuka browser, mengetik nama Leonardo Valerio di mesin pencari.

Loading.

Loading.

Tidak ada koneksi internet.

Aku mencoba lagi. Tetap sama. Padahal ikon wifi menunjukkan sinyal penuh.

"Sialan," gumamku frustasi. Aku mencoba mencari pengaturan, mungkin ada yang salah dengan koneksinya.

"Tidak akan berhasil, Nyonya."

Aku tersentak, nyaris menjatuhkan laptop. Sofia berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi teh.

"Internet di vila ini dibatasi. Hanya Tuan Leonardo yang punya akses penuh." Dia masuk, meletakkan nampan di meja. "Untuk keamanan, katanya."

Keamanan. Lagi-lagi kata itu. Kata yang jadi pembenaran untuk semua pengekangan ini.

"Jadi saya sama sekali tidak bisa mengakses internet?" tanyaku, tidak percaya.

Sofia menggeleng pelan. "Kecuali Tuan yang memberikan izin dan login khusus. Tapi sejauh yang saya tahu, dia belum pernah memberikan itu pada siapapun."

Aku menutup laptop dengan kasar, frustrasi meluap. "Ini gila. Saya bahkan tidak bisa tahu apa yang terjadi di dunia luar?"

"Ada televisi di ruang keluarga. Channel berita masih bisa diakses." Sofia menuangkan teh ke cangkir. "Mungkin itu bisa membantu."

Tapi aku tidak mau nonton TV. Aku mau tahu tentang Leonardo. Tentang siapa dia, apa yang dia lakukan, kenapa semua orang di sini memanggilnya dengan nada penuh hormat yang tercampur takut.

Sofia duduk di sofa, menepuk tempat di sebelahnya. "Duduklah, Nyonya. Minum teh. Anda terlihat pucat."

Aku tidak punya pilihan. Aku duduk, menerima cangkir teh yang hangat. Chamomile lagi. Sepertinya Sofia pikir ini bisa menenangkanku. Mungkin memang sedikit membantu.

"Sofia," aku menatapnya. "Berapa lama kamu bekerja untuk Leonardo?"

Dia terdiam sejenak. "Hampir sepuluh tahun, Nyonya."

Sepuluh tahun. Lama sekali.

"Kamu... kamu tahu siapa dia sebenarnya, kan? Maksudku, pekerjaannya, bisnisnya..."

"Saya hanya dokter pribadi keluarga Valerio, Nyonya. Saya mengurus kesehatan, bukan urusan bisnis." Jawabnya hati-hati. Terlalu hati-hati.

"Tapi kamu pasti tahu sesuatu. Tolong, Sofia. Saya butuh tahu. Saya tidak bisa terus seperti ini, hidup dengan orang yang bahkan tidak saya kenal."

Sofia menatap tehnya lama. Ada konflik di wajahnya. Seperti sedang berjuang antara ingin bercerita dan takut akan konsekuensinya.

"Tuan Leonardo... dia orang yang rumit," ucapnya akhirnya, suaranya pelan. "Dia punya dua sisi. Sisi yang dunia lihat, dan sisi yang... sebaiknya tidak dilihat."

Jantungku berdegup cepat. "Maksudmu?"

"Di permukaan, dia pengusaha sukses. Punya perusahaan ekspor-impor, investasi di berbagai sektor. Orang-orang menghormatinya karena kekayaan dan pengaruhnya." Sofia berhenti sejenak. "Tapi ada sisi lain yang... yang tidak semua orang tahu."

"Sisi apa?"

Sofia menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca. Ada simpati di sana. Dan juga... peringatan.

"Saya tidak bisa bilang lebih banyak, Nyonya. Maafkan saya. Tapi yang bisa saya katakan adalah... jangan pernah mencoba kabur dari sini."

Kata-kata itu membuat darahku mendingin.

"Kenapa? Apa yang akan dia lakukan?"

"Dia selalu menemukan. Selalu." Suara Sofia bergetar sedikit. "Dan konsekuensinya... saya tidak mau membayangkannya."

Sebelum aku bisa bertanya lebih lanjut, ponsel Sofia berbunyi. Dia mengangkat, wajahnya berubah.

"Ya, Tuan. Baik. Saya akan ke sana sekarang." Dia menutup telepon, berdiri cepat. "Tuan Leonardo memanggil saya. Permisi, Nyonya."

Dia pergi terburu-buru, meninggalkan aku dengan pertanyaan yang semakin banyak dan rasa takut yang semakin dalam.

Sore itu, seperti janji yang bahkan tidak pernah diucapkan tapi entah kenapa aku tahu harus ada, Sofia datang ke kamarku dengan tas dokter.

"Tuan Leonardo meminta saya memeriksa kesehatan Anda, Nyonya," ucapnya sambil menyiapkan tensimeter dan alat-alat lain.

"Saya tidak sakit," protesku.

"Ini pemeriksaan rutin. Tuan ingin memastikan Anda dalam kondisi sehat." Sofia tersenyum lemah. "Boleh saya periksa tekanan darah Anda?"

Aku menghela napas, mengulurkan lengan. Sofia memasang manset tensimeter, memompa, lalu membaca hasilnya.

"Sedikit tinggi. Tapi wajar mengingat... situasi Anda." Dia mencatat sesuatu di buku kecil. "Tidur Anda bagaimana? Apa bisa tidur nyenyak?"

"Tidak terlalu." Jujur saja. "Saya sering terbangun tengah malam. Mimpi buruk."

Sofia mengangguk paham. "Itu juga wajar. Saya bisa berikan obat tidur ringan kalau Anda mau."

"Tidak usah. Saya tidak mau tergantung obat."

"Baiklah." Dia memeriksa beberapa hal lain. Detak jantung, refleks, bahkan mengambil sampel darah untuk cek laboratorium.

"Ini berlebihan," komentarku saat melihat tabung berisi darahku. "Saya cuma stress, bukan sakit parah."

"Tuan sangat perhatian pada kesehatan Anda, Nyonya. Dia ingin memastikan semuanya sempurna."

Perhatian. Kata yang salah untuk menggambarkan obsesi mengontrol seperti ini.

Setelah pemeriksaan selesai, Sofia berkemas. Tapi sebelum pergi, dia berhenti di depan pintu, memunggungi ku.

"Nyonya Nadira," bisiknya tanpa menoleh. "Apapun yang Anda lihat atau dengar tentang Tuan Leonardo... jangan pernah menunjukkan bahwa Anda takut atau ingin pergi. Itu akan membuatnya semakin... posesif."

Lalu dia keluar, menutup pintu pelan.

Aku terdiam di tempat tidur, kata-kata Sofia bergema di kepala. Semakin posesif? Memangnya sekarang belum cukup posesif?

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Gelisah. Pikiranku penuh dengan pertanyaan. Sekitar pukul sebelas, aku mendengar suara dari luar kamar. Suara pintu terbuka dan tertutup. Langkah kaki.

Leonardo pulang.

Aku diam saja di tempat tidur, pura-pura tidur. Tapi telingaku tajam mendengarkan setiap suara.

Langkah kakinya naik ke lantai dua. Berhenti di depan kamarku. Jantungku berdegup kencang. Apa dia akan masuk?

Beberapa detik yang terasa seperti jam. Lalu langkahnya menjauh, menuju kamarnya sendiri yang ada di ujung koridor seberang.

Aku menghela napas lega.

Tapi rasa lega itu tidak bertahan lama. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku mendengar suara Leonardo bicara. Suaranya terdengar jelas karena kayaknya dia ada di balkon kamarnya yang memang bersebelahan dengan jendela kamarku.

Aku bangkit pelan, mendekati jendela. Gordennya tipis, aku bisa mengintip sedikit.

Leonardo berdiri di balkonnya, memegang ponsel, wajahnya... dingin. Lebih dingin dari biasanya. Dan dia bicara dalam bahasa asing. Bahasa Inggris dengan aksen yang terdengar Italia.

"I don't care about his excuses. The shipment was supposed to arrive yesterday." Suaranya rendah tapi tajam. (Aku tidak peduli dengan alasannya. Pengiriman itu seharusnya tiba kemarin.)

Dia diam, mendengarkan orang di seberang sana.

"If he can't deliver, then he's useless to me. You know what to do with useless people, Marco." (Jika dia tidak bisa mengirim, maka dia tidak berguna bagiku. Kau tahu apa yang harus dilakukan pada orang yang tidak berguna, Marco.)

Marco. Aku ingat nama itu. Salah satu orang yang ada di daftar peran. Tangan kanannya.

"I want it done tonight. Clean. No witnesses. And make sure the next person knows what happens when they disappoint me." (Aku ingin itu selesai malam ini. Bersih. Tidak ada saksi. Dan pastikan orang berikutnya tahu apa yang terjadi ketika mereka mengecewakanku.)

Darahku membeku.

Selesai malam ini. Bersih. Tidak ada saksi.

Dia... dia memerintahkan pembunuhan? Begitu saja? Dengan nada sedingin itu?

Leonardo menutup telepon, memasukkannya ke saku. Lalu dia berbalik, dan untuk sesaat, mataku bertemu dengannya.

Aku tersentak mundur dari jendela, jantungku berdetak seperti mau meledak.

Apa dia lihat aku? Apa dia tahu aku menguping?

Aku berlari kembali ke tempat tidur, menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuhku. Gemetar. Tubuhku gemetar hebat.

Siapa dia? Siapa sebenarnya Leonardo Valerio?

Pengusaha? Atau...

Pintu kamarku terbuka pelan. Aku memejamkan mata erat, pura-pura tidur. Langkah kakinya mendekat. Aku bisa merasakan kehadirannya di samping tempat tidur.

Dia berdiri di sana. Berapa lama? Satu menit? Dua menit? Entahlah. Setiap detik terasa seperti siksaan.

Lalu aku merasakan tangannya menyentuh rambutku. Mengusapnya pelan. Sentuhan yang seharusnya lembut tapi malah terasa menyeramkan.

"Tidur yang nyenyak, Nadira," bisiknya. Suara yang berbeda dari suara yang tadi dia pakai saat bicara lewat telepon. Suara yang lebih lembut. Tapi entah kenapa lebih menakutkan.

Dia mencium keningku singkat. Lalu pergi, menutup pintu pelan.

Aku baru berani bernapas lega setelah mendengar pintu kamarnya tertutup.

Tanganku gemetar saat aku duduk, memeluk lutut. Kata-kata yang dia ucapkan lewat telepon tadi terus berputar di kepala.

Make sure the next person knows what happens when they disappoint me.

Pastikan orang berikutnya tahu apa yang terjadi ketika mereka mengecewakanku.

Apa yang terjadi kalau aku mengecewakan dia?

Apa yang akan dia lakukan padaku? Pada Ayah dan Ibu?

Air mataku jatuh lagi. Aku sudah lelah menangis, tapi sepertinya air mata ini tidak akan pernah habis.

Aku menikah dengan monster.

Monster yang bersembunyi di balik wajah tampan dan kemewahan yang menyilaukan.

Dan sekarang, aku terjebak di sarangnya, tanpa bisa kabur, tanpa bisa minta tolong.

Yang bisa kulakukan cuma bertahan. Bertahan sampai entah kapan.

Kalau memang ada akhir dari neraka ini.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!