Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Badai Setelah Pesta
Bab ini berfokus pada dampak (aftermath) dari pesta ulang tahun itu: kemarahan Erlangga yang memuncak menjadi ancaman nyata, dan keraguan Fatih yang mulai diuji oleh realita kehidupan yang keras.
Hujan kembali turun membasahi kota Bandung malam itu, seolah langit ikut mencuci sisa-sisa kepalsuan yang baru saja terjadi di Grand Ballroom Hotel Preanger.
Di dalam kabin mobil BMW seri terbaru milik Erlangga, keheningan terasa jauh lebih mencekik daripada kemacetan Jalan Asia Afrika di luar sana. Tidak ada musik Jazz yang mengalun. Tidak ada obrolan manis. Hanya suara wiper mobil yang bergerak ritmis, menyapu air hujan dengan kasar.
Zalina duduk di kursi penumpang, memeluk erat bingkai lukisan berbalut kertas cokelat yang sudah robek itu. Ia menatap ke luar jendela, menghindari tatapan Erlangga yang sejak tadi lurus ke depan dengan rahang mengeras.
"Buang," ucap Erlangga tiba-tiba. Suaranya datar, namun dinginnya menusuk.
Zalina menoleh. "Apa?"
"Lukisan itu. Buang," ulang Erlangga. Cengkeramannya pada setir mobil menguat hingga buku-buku jarinya memutih. "Ngapain kamu peluk-peluk sampah kayak gitu? Itu cuma gambar pensil murahan, Zal. Kertasnya aja kertas bekas. Nggak pantes dibawa masuk ke mobil aku."
Zalina mengeratkan pelukannya pada bingkai itu. Rasa lelah yang ia tahan sejak tadi berubah menjadi keberanian.
"Ini bukan sampah, Angga," jawab Zalina pelan namun tegas. "Ini hadiah. Dan seseorang membuatnya dengan tangan sendiri. Itu namanya apresiasi. Sesuatu yang mungkin kamu lupa caranya."
Erlangga tertawa, tawa yang kering dan meremehkan. "Apresiasi? Kamu pikir dia bikin itu tulus? Dia itu cuma mau cari muka, Zal! Dia mau mempermalukan aku di depan relasi Papa. Dia mau tunjukin kalau dia si 'paling sederhana' dan aku si 'penjahat kapitalis'. Itu trik basi orang miskin buat dapet simpati."
"Cukup, Angga!" sentak Zalina.
Mobil mendadak direm sedikit kasar. Erlangga menepikan mobilnya ke bahu jalan Braga yang basah. Ia memutar tubuhnya menghadap Zalina. Tatapannya kini bukan lagi tatapan memuja, melainkan tatapan intimidasi.
"Denger ya, Zalina," desis Erlangga, menunjuk bingkai di pelukan Zalina. "Aku keluar duit ratusan juta buat bikin kamu seneng malam ini. Aku panggilin band terbaik, katering terbaik, dekorasi terbaik. Terus kamu lebih ngehargain coretan pensil mahasiswa arsitektur kere itu daripada usaha aku?"
Zalina balas menatap mata Erlangga. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena kecewa.
"Masalahnya bukan di harganya, Angga. Masalahnya kamu nggak pernah tanya aku maunya apa. Kamu bikin pesta buat kepuasan kamu sendiri, biar kamu bisa pamer ke temen-temen kamu kalau kamu punya pacar 'bidadari'. Kamu jadiin aku pajangan."
Zalina menarik napas panjang, suaranya bergetar.
"Sedangkan Mas Fatih... dia dengerin aku. Dia tahu aku nggak suka keramaian. Tulisan di gambar ini... 'Rumah untuk menenteramkan'. Itu yang aku butuhin, Angga. Ketenangan. Bukan kemewahan yang berisik."
Wajah Erlangga memerah padam. Urat lehernya menonjol. Kalimat itu menampar egonya lebih keras daripada tamparan fisik. Bahwa uangnya, kekuasaannya, dan segala upayanya, kalah telak oleh selembar kertas sketsa.
"Oke," Erlangga mengangguk-angguk pelan, senyum sinis kembali terukir di bibirnya. Ia kembali memegang setir, memasukkan gigi mesin dengan kasar. "Oke kalau itu mau kamu. Kamu mau main-main sama filosofi 'hidup sederhana'? Silakan. Tapi jangan salahin aku kalau nanti realita nampar kamu dan temen arsitek kamu itu."
Mobil kembali melaju kencang, membelah genangan air, membawa dua hati yang semakin berjarak di dalamnya.
Sementara itu, di sebuah warung kopi pinggir jalan yang hanya bertutupkan terpal biru, Fatih duduk sambil meniup gelas kopi hitamnya.
Hujan deras membuat atap terpal itu berbunyi gaduh. Cipratan air sesekali membasahi ujung celana bahannya yang masih ia pakai dari pesta tadi.
"Gila lu, Tih. Beneran gila," Hadi menggeleng-gelengkan kepala di sebelahnya, sambil mengunyah gorengan dingin. "Gue denger dari grup angkatan, katanya muka si Erlangga merah banget kayak kepiting rebus pas lu turun panggung. Sumpah, lu nekat banget."
Fatih tersenyum tipis, matanya menatap uap kopi yang mengepul. "Gue cuma ngasih kado, Di. Nggak ada niat bikin ribut."
"Nggak ada niat gundulmu! Itu namanya deklarasi perang terbuka!" seru Hadi gemas, tapi lalu ia tertawa bangga. Ia menepuk punggung Fatih keras-keras. "Tapi gue bangga sama lu, Bro. Sumpah. Lu membuktikan kalau nyali nggak bisa dibeli di toko material. Malam ini, skor sementara: Jalur Langit 1 - 0 Jalur Bumi."
Fatih tidak ikut tertawa. Senyumnya perlahan memudar, digantikan guratan kecemasan di keningnya. euforia kemenangan tadi perlahan surut, digantikan oleh logika yang mulai bekerja lagi.
Ia baru saja mempermalukan anak salah satu donatur terbesar di kampusnya. Ia baru saja menantang seorang Erlangga yang punya koneksi di mana-mana.
Ponsel Fatih bergetar di meja kayu yang lengket. Nama "Ibu" muncul di layar.
Jantung Fatih mencelos. Ia segera mengangkatnya, mengubah nada suaranya menjadi ceria seketika.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumussalam, Nak Fatih. Maaf Ibu telepon malam-malam. Kamu belum tidur?" Suara ibunya terdengar lembut, namun ada nada lelah yang tertahan di sana.
"Belum, Bu. Lagi ngopi sama Hadi. Kenapa, Bu? Ibu sehat kan?"
Ada jeda sejenak di seberang sana. Jeda yang membuat perasaan Fatih tidak enak.
"Ibu sehat, Alhamdulillah. Cuma... anu, Nak. Tadi Pak Haji pemilik kontrakan datang. Beliau bilang, bulan depan uang sewanya naik. Katanya ada perbaikan atap. Kalau kita nggak bisa bayar, beliau minta kita cari tempat lain..."
Dada Fatih sesak seketika. Kopi yang tadi terasa hangat kini terasa pahit di tenggorokan. Ibunya tinggal berdua dengan adiknya di kampung, di rumah kontrakan kecil. Fatih lah tulang punggung mereka sejak ayahnya meninggal.
"Naik berapa, Bu?" tanya Fatih, berusaha agar suaranya tidak terdengar panik.
"Naik tiga ratus ribu, Nak. Ibu... Ibu bingung. Warung lagi sepi."
Fatih memejamkan mata. Tiga ratus ribu. Bagi Erlangga, itu mungkin cuma harga segelas minuman di klub. Bagi Fatih, itu artinya ia harus mencari dua proyek desain logo tambahan bulan ini.
"Ibu tenang aja ya," ucap Fatih mantap, meski tangannya di bawah meja gemetar. "Fatih ada rezeki kok, Bu. Kemarin baru cair proyekan. Nanti Fatih transfer buat bayar kontrakan. Ibu nggak usah mikirin itu. Ibu jaga kesehatan aja."
"Alhamdulillah... Terima kasih ya, Nak. Kamu jangan lupa makan. Jangan kerja terlalu keras. Shalatnya dijaga."
"Iya, Bu. Assalamu'alaikum."
Sambungan terputus. Fatih meletakkan ponselnya. Bahunya merosot turun.
Hadi yang mendengar percakapan itu menatap sahabatnya dengan prihatin. "Nyokap?"
Fatih mengangguk. "Kontrakan naik."
Hadi terdiam. Ia tahu betul kondisi keuangan Fatih. Uang 150 ribu yang kemarin cair sudah habis untuk bensin dan makan.
"Tih..." Hadi ragu-ragu. "Lu yakin mau lanjut ngejar Zalina? Maksud gue... liat kondisi lu sekarang. Erlangga mungkin brengsek, tapi dia bisa jamin Zalina nggak bakal mikirin kontrakan yang naik. Cinta itu butuh logistik, Bro."
Fatih menatap rintik hujan di luar terpal. Kata-kata Hadi menusuk tepat di ulu hatinya. Itu adalah ketakutan terbesarnya. Bukan takut pada Erlangga, tapi takut ia tidak bisa membahagiakan Zalina. Takut ia hanya akan mengajak Zalina hidup susah.
"Gue tau, Di," lirih Fatih. "Makanya gue nggak pernah berani nembak dia. Gue cuma berani minta sama Allah. Karena cuma Allah yang bisa membolak-balikkan keadaan. Kalau emang Zalina rezeki gue, Allah pasti kasih jalan buat gue pantesin diri."
Fatih menyeruput kopinya sampai tandas. Pahit.
"Besok gue mau cari kerjaan tambahan. Apa aja. Jadi kuli panggul di pasar juga ayo."
Keesokan harinya, Senin pagi di kampus.
Berita tentang kejadian di pesta Zalina menyebar lebih cepat daripada virus flu. Di koridor jurusan Arsitektur, beberapa mahasiswa berbisik-bisik sambil melirik Fatih yang berjalan menuju studio gambar. Ada yang menatap kagum, ada juga yang menatap sinis—terutama teman-teman satu geng mobil Erlangga.
Fatih mengabaikan mereka. Ia fokus pada satu tujuan: menemui Pak Darma, dosen pembimbing akademiknya yang juga sering memberinya proyek sampingan sebagai drafter.
Fatih butuh uang. Ia berharap Pak Darma punya proyek gambar rumah tinggal yang bisa ia kerjakan minggu ini.
Fatih mengetuk pintu ruang dosen.
"Masuk."
Fatih membuka pintu. Pak Darma sedang duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan wajah serius. Tapi yang membuat langkah Fatih terhenti adalah sosok yang duduk di kursi tamu di hadapan Pak Darma.
Erlangga.
Erlangga duduk santai dengan kaki disilangkan, mengenakan kemeja polo bermerek. Ia menoleh saat Fatih masuk, dan senyum miring itu kembali muncul.
"Nah, ini dia bintang kita," ucap Erlangga santai.
Perasaan Fatih tidak enak. "Selamat pagi, Pak Darma. Mas Erlangga."
Pak Darma membetulkan letak kacamatanya, tampak canggung. "Pagi, Fatih. Duduk dulu."
Fatih duduk di kursi sebelah Erlangga. Jarak mereka hanya setengah meter, tapi aura permusuhan di antara mereka menciptakan dinding tebal.
"Begini, Fatih," Pak Darma berdehem. "Soal proyek asisten dosen untuk renovasi Gedung Serbaguna yang saya janjikan ke kamu minggu lalu..."
Mata Fatih berbinar. Itu proyek besar. Honornya cukup untuk bayar kontrakan ibunya dua bulan. "Iya, Pak? Saya sudah siapkan portofolionya."
"Maaf, Fatih. Saya harus membatalkannya," ucap Pak Darma cepat, tidak berani menatap mata Fatih.
Jantung Fatih berhenti berdetak sesaat. "M-maksud Bapak? Apa saya buat kesalahan?"
"Bukan, bukan," Pak Darma melirik sekilas ke arah Erlangga. "Hanya saja... ada perubahan tim. Pihak donatur kampus meminta agar tim yang terlibat punya... resource yang lebih mumpuni. Dan kebetulan Nak Erlangga menawarkan tim arsitek dari perusahaannya untuk membantu supervisi. Jadi posisi asisten mahasiswa ditiadakan."
Fatih menoleh cepat ke arah Erlangga.
Pria itu memasang wajah pura-pura polos. "Sorry ya, Bro. Gue cuma mau bantu kampus biar proyeknya lebih profesional. Kan sayang kalau gedung semahal itu dipegang sama yang belum berpengalaman. No hard feelings, kan?"
Rahang Fatih mengeras. Ini bukan soal profesionalitas. Ini sabotase. Erlangga menggunakan kekuasaan ayahnya sebagai donatur untuk memotong jalur rezeki Fatih.
"Tapi Pak," Fatih mencoba berargumen, suaranya sedikit parau. "Saya butuh nilai kredit dari proyek ini untuk syarat beasiswa saya semester depan."
"Saya tahu, Fatih. Tapi keputusan rektorat sudah bulat," Pak Darma tampak menyesal, tapi tak berdaya.
Hening.
Fatih menatap Erlangga. Di mata Erlangga, ia melihat pesan yang jelas: Ini baru permulaan. Gue bisa bikin hidup lu lebih susah dari ini.
Fatih menarik napas panjang, menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Ingin rasanya ia menarik kerah baju Erlangga. Tapi ia ingat ibunya. Ia ingat Zalina. Kekerasan hanya akan membuatnya dikeluarkan dari kampus, dan itu artinya kemenangan mutlak bagi Erlangga.
Fatih berdiri. "Baik, Pak Darma. Saya mengerti. Terima kasih."
Tanpa menoleh lagi pada Erlangga, Fatih keluar ruangan.
Saat pintu tertutup, Erlangga tertawa kecil di dalam ruangan. "Bagus, Pak. Nanti saya bilang Papa soal proposal dana riset Bapak."
Di koridor yang sepi, Fatih menyandarkan punggungnya ke dinding. Kakinya lemas. Proyek itu harapannya. Beasiswa itu nyawanya. Dan Erlangga baru saja merenggut keduanya dalam satu jentikan jari.
Ya Allah... ujian macam apa ini? batin Fatih menjerit. Baru semalam hamba merasa menang, pagi ini hamba langsung dibanting ke tanah.
Sore harinya, Zalina duduk di taman kampus sendirian.
Ia sedang menunggu Nisa, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia mencoba menghubungi Fatih lewat pesan Instagram sejak pagi untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi, tapi tidak ada balasan. Akun Fatih sepi, postingannya hanya foto-foto sketsa bangunan tanpa caption curhat sedikitpun.
"Zal!"
Nisa datang berlari-lari kecil, wajahnya panik.
"Kenapa, Nis? Kok ngos-ngosan?"
"Lu udah denger belum?" Nisa duduk di sebelah Zalina, mengatur napas. "Fatih... beasiswanya terancam dicabut."
Mata Zalina membelalak. "Hah? Kok bisa? Fatih kan IPK-nya tinggi terus!"
"Gue denger dari anak BEM. Katanya nama dia dicoret dari proyek dosen karena ada intervensi dari pihak donatur. Dan lu tau siapa donatur utama fakultas teknik?"
Zalina terdiam. Firasat buruk menyergapnya. "Papanya Erlangga?"
Nisa mengangguk. "Gue curiga ini ulah Erlangga, Zal. Dia bales dendam soal kejadian semalam. Dia mau matiin langkah Fatih di kampus."
Darah Zalina mendidih. Ia tahu Erlangga arogan, tapi ia tidak menyangka Erlangga sejahat ini. Memainkan masa depan orang lain hanya karena cemburu?
Zalina bangkit berdiri. Tangannya mengepal.
"Mau ke mana lu?" tanya Nisa.
"Gue mau cari Fatih," jawab Zalina mantap. "Gue harus minta maaf. Gara-gara gue, dia jadi kena masalah."
"Tapi Zal, Fatih nggak ada di kampus. Tadi anak-anak bilang dia langsung cabut naik motornya setelah keluar dari ruang dosen. Mukanya kusut banget."
"Gue tau dia di mana," gumam Zalina. Ia teringat cerita Nisa dulu, bahwa kalau Fatih sedang banyak masalah, dia hanya punya satu tempat pelarian.
Masjid Agung.
Zalina memarkir mobilnya di area parkir Masjid Agung alun-alun kota. Ia mengenakan gamis panjang dan kerudung lebar, menyamar di antara jamaah lain.
Saat itu waktu Ashar baru saja selesai. Masjid mulai sepi.
Zalina berjalan pelan menuju teras masjid yang luas. Angin sore meniup ujung kerudungnya. Matanya mencari-cari sosok yang ia kenal.
Dan di sana dia.
Di pojok teras, bersandar pada pilar besar, Fatih duduk memeluk lutut. Di hadapannya tergeletak sebuah buku sketsa terbuka. Tapi Fatih tidak sedang menggambar. Ia sedang menunduk, bahunya terlihat turun, wajahnya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
Di sampingnya, ada sebotol air mineral murah dan sebungkus roti yang baru dimakan separuh.
Hati Zalina terasa diiris melihat pemandangan itu. Inilah realita Fatih yang sebenarnya. Tidak ada kegagahan seperti di atas panggung kemarin. Yang ada hanyalah seorang pemuda yang sedang memikul beban dunia di pundaknya sendirian.
Zalina memberanikan diri mendekat. Langkah kakinya terdengar pelan di lantai marmer.
"Assalamu'alaikum, Mas Fatih."
Fatih tersentak. Ia mengangkat wajahnya. Matanya yang merah karena kurang tidur melebar kaget saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Ia buru-buru merapikan posisi duduknya, menyeka wajahnya, mencoba terlihat tegar.
"Wa-wa'alaikumussalam. Zalina?" Fatih tampak bingung. "Kamu... ngapain di sini?"
Zalina duduk berjarak dua meter dari Fatih, menjaga adab. "Aku cari Mas. Aku denger soal beasiswa dan proyek itu."
Fatih tersenyum getir, memalingkan wajah ke arah menara masjid. "Berita cepet banget ya nyebarnya. Malu-maluin aja."
"Mas..." suara Zalina lembut. "Maafin aku. Ini semua pasti gara-gara kejadian semalam. Erlangga lakuin ini buat hukum aku lewat kamu."
"Bukan salah kamu, Zal," potong Fatih cepat. Ia menatap Zalina, tatapannya teduh meski penuh luka. "Ini ujian buat saya. Mungkin Allah mau negur saya. Mungkin kemarin saya sombong, merasa menang di atas panggung, merasa hebat. Padahal hakekatnya saya nggak punya apa-apa."
"Tapi ini nggak adil!" protes Zalina. "Erlangga main kotor! Aku bisa ngomong sama Ayah, atau lapor ke rektor..."
"Jangan," cegah Fatih. "Kalau kamu membela saya, Erlangga bakal makin nekat. Saya nggak mau kamu jadi tameng saya. Laki-laki macam apa yang sembunyi di balik punggung perempuan?"
Fatih menutup buku sketsanya. Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata Zalina. Untuk pertama kalinya, ia menatap dengan keberanian penuh.
"Zal, dengerin saya. Erlangga bisa ambil proyek saya. Dia bisa ambil beasiswa saya. Dia bahkan bisa bikin saya di-DO dari kampus kalau dia mau."
Fatih memberi jeda sejenak. Angin sore berhembus di antara mereka.
"Tapi ada satu hal yang nggak bisa dia ambil," lanjut Fatih, suaranya bergetar namun tegas. "Dia nggak bisa ambil sajadah saya. Dia nggak bisa ambil doa-doa saya buat kamu. Selama saya masih punya kening buat bersujud, saya nggak akan mundur. Biar dia tutup semua pintu rezeki di bumi, saya bakal ketuk pintu rezeki di langit lebih keras lagi."
Air mata menetes di pipi Zalina. Ia belum pernah melihat keyakinan sekuat ini pada manusia mana pun.
"Mas..." Zalina menghapus air matanya. "Kalau Mas berjuang lewat jalur langit, izinkan aku berjuang lewat jalurku sendiri."
"Maksud kamu?"
Zalina menatap Fatih dengan pandangan baru. Pandangan seorang wanita yang sudah menentukan pilihannya.
"Aku punya tabungan hasil kerja paruh waktuku. Aku mau investasikan ke usaha desain Mas. Kita bikin biro desain sendiri. Kecil-kecilan. Mas yang gambar, aku yang cari klien lewat koneksi Nisa dan temen-temenku. Kita lawan dominasi Erlangga dengan karya, bukan cuma dengan doa."
Fatih ternganga. Ia tidak menyangka tawaran itu akan keluar dari mulut seorang putri dosen yang biasa hidup enak.
"Kamu... kamu serius? Kamu nggak malu kerja sama mahasiswa yang beasiswanya dicabut?"
Zalina tersenyum. Kali ini senyumnya lepas, manis, dan menenangkan. "Kenapa harus malu? Mas Fatih yang ajarkan aku kemarin: Rumah untuk menenteramkan, bukan untuk memamerkan. Aku mau bantu Mas bangun pondasi rumah itu."
Sore itu, di bawah bayang-bayang menara masjid, sebuah kesepakatan diam-diam terjalin. Bukan pacaran, bukan janji manis. Tapi sebuah persekutuan dua hati yang siap melawan arogansi dunia dengan cara mereka sendiri.
Perang belum selesai. Justru, serangan balik baru saja dimulai.
(Bersambung ke Bab 5...)