Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERMIN YANG BERDUSTA
"Jangan gerak, atau pena ini bakal nembus tenggorokan lo di dunia sana."
Suara itu dingin, setajam silet yang digesekkan ke kaca. Viona membeku. Ia bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa menekan tengkuknya, namun saat ia melirik ke arah bahunya secara langsung, tidak ada siapapun di sana. Ruang tamu apartemennya kosong, hanya ada ibunya yang terduduk lemas di kursi roda. Namun, di dalam pantulan cermin besar yang tergantung di dinding, sosok bayangan hitam bertopeng perak berdiri tepat di belakangnya, menodongkan Pena Takdir yang berpendar biru elektrik ke leher bayangan Viona.
"Siapa lo?! Keluar kalau lo punya nyali, jangan main di balik kaca!" tantang Viona. Suaranya bergetar, namun amarahnya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.
"Gue? Gue cuma 'kurir' yang nggak suka kerja lembur," sahut bayangan itu dalam cermin. "Julian bilang dia kasih lo waktu tiga hari, tapi menurut gue itu kelamaan. Mending kita selesaikan sekarang. Kasih gue kotak itu, dan gue bakal bikin lo lupa kalau hari ini pernah terjadi."
Viona melirik kotak kayu tua di pangkuan ibunya. Ibunya masih dalam kondisi trans, matanya putih tanpa pupil, seolah jiwanya sedang ditarik ke dimensi lain. Bekas lebam di leher ibunya tampak berdenyut, mengeluarkan uap tipis berwarna hitam.
"Nggak akan. Kotak ini punya bokap gue, dan lo nggak punya hak buat nyentuh ini," desis Viona.
"Bokap lo itu pecundang, Viona. Dia minjem sesuatu yang nggak sanggup dia bayar. Dan sekarang, bunganya sudah numpuk sampai ke langit."
Tanpa peringatan, sosok dalam cermin itu menggerakkan tangannya. Di dunia nyata, Viona merasakan tekanan fisik yang sangat kuat di lehernya, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya. Ia terangkat dari lantai, kakinya menendang-nendang udara. Oksigen mulai menipis di paru-parunya.
Viona berjuang melawan rasa sesak yang menghimpit. Matanya mulai berkunang-kunang, namun jemarinya masih mencengkeram erat payung biru pemberian Alfred yang tersandar di meja. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menghentakkan ujung payung itu ke lantai.
Zrrttttt!
Pendar biru dari payung itu meledak, menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan permukaan cermin di dinding. Serpihan kaca berhamburan ke segala arah, berdenting jatuh ke lantai seperti ribuan kristal. Seketika, tekanan di leher Viona hilang. Ia jatuh tersungkur, terbatuk-batuk sambil menghirup udara sebanyak mungkin.
Di lantai, serpihan kaca itu tidak memantulkan bayangan ruangan. Sebaliknya, setiap kepingan kaca menampilkan potongan-potongan memori yang berbeda: ayahnya yang sedang berbicara serius dengan Alfred di sebuah halte bus, ibunya yang sedang menangis di depan sebuah pintu besi berat, dan Baskara—bosnya yang brengsek—sedang menjabat tangan Julian di sebuah ruangan gelap.
"Viona... lari..."
Suara ibunya terdengar lirih. Viona mendongak. Ibunya sudah kembali sadar, meskipun wajahnya sangat pucat. Tangan ibunya yang gemetar mendorong kotak kayu itu ke arah Viona.
"Bu, Ibu nggak apa-apa? Siapa yang ngelakuin ini sama Ibu?" Viona memeluk kaki ibunya, air mata mengalir deras.
"Nggak penting siapa mereka, Nak. Yang penting kamu harus pergi ke rumah lama kita di daerah pegunungan. Kuncinya... kuncinya ada di dalam payung itu," bisik ibunya sebelum kepalanya terkulai lemas. Beliau pingsan karena kelelahan psikis yang luar biasa.
Viona terpaku. Ia menatap payung biru tua yang kini tampak bersinar redup di tangannya. Ia meraba-raba bagian gagangnya yang melengkung. Di sana, tersembunyi sebuah tombol kecil yang hampir tidak terlihat. Ketika ditekan, bagian bawah gagang payung itu terbuka, menyingkapkan sebuah kunci kuno berwarna perak dengan simbol gagak yang persis seperti hiasan pada payung milik Alfred.
"Jadi ini semua sudah direncanakan?" gumam Viona pada diri sendiri.
Ia tidak punya waktu lagi untuk meratap. Jika kurir bayangan tadi bisa menemukannya di sini, maka apartemen ini bukan lagi tempat yang aman. Viona segera mengemasi beberapa keperluan, mengambil kotak kayu ayahnya, dan menyelimuti ibunya yang masih tak sadarkan diri. Ia harus membawa ibunya ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum ia berangkat mencari jawaban.
Namun, saat ia membuka pintu apartemennya untuk keluar, sosok lain sudah berdiri di sana. Bukan Julian, bukan si kurir bayangan, melainkan Riko, teman sekantornya.
Riko berdiri dengan napas terengah-engah, pakaiannya basah kuyup karena hujan yang tampaknya belum mau berhenti sejak sore tadi. Wajahnya terlihat sangat panik.
"Viona! Syukurlah lo masi ada di sini! Lo harus cabut sekarang!" Riko memegang bahu Viona, matanya melirik waspada ke koridor apartemen yang sepi.
"Riko? Kok lo bisa tahu rumah gue? Dan kenapa lo kayak habis dikejar setan?" tanya Viona penuh curiga. Ia menyembunyikan payung birunya di balik punggung.
"Baskara... dia gila! Tadi setelah lo pergi, gue nggak sengaja denger dia teleponan di ruangannya. Dia nyebut-nyebut nama lo sama 'Pena Takdir'. Terus ada orang aneh dateng ke kantor, cowok pake jas hujan transparan—"
"Julian?" potong Viona cepat.
Riko mengangguk cepat. "Iya, kayaknya itu namanya. Mereka bilang mereka butuh 'darah murni' buat ngaktifin pena itu secara permanen. Dan orang itu bilang, darah murni itu ada di lo karena bokap lo dulu pengurus Ordo apa gitu. Gue nggak ngerti, tapi mereka beneran menuju ke sini!"
Viona merasakan dingin kembali merambat di hatinya. Jadi Baskara terlibat lebih dalam dari sekadar persaingan kantor? Bosnya itu ternyata sudah menjual kemanusiaannya demi kesuksesan, dan sekarang ia menginginkan sesuatu yang lebih besar dari Viona.
"Rik, lo harus dengerin gue. Gue nggak bisa jelasin sekarang, tapi gue butuh bantuan lo buat bawa Ibu ke rumah sakit terdekat. Bisa?" Viona menatap mata sahabatnya itu, mencari kejujuran.
Riko sempat ragu, namun ia mengangguk mantap. "Oke. Gue bawa mobil di bawah. Tapi lo mau kemana?"
Viona mengeratkan pegangannya pada kotak kayu dan payung birunya. "Gue harus ke tempat di mana semuanya dimulai. Gue harus nyari tahu apa yang sebenarnya Ayah pinjem sepuluh tahun lalu."
Saat mereka berdua sedang memindahkan ibu Viona ke kursi roda untuk menuju lift, lampu di koridor apartemen tiba-tiba berkedip dan mati total. Kegelapan pekat menyelimuti mereka. Di ujung koridor, terdengar suara langkah sepatu pantofel yang teratur, bergema di atas lantai marmer.
Tak... tak... tak...
Setiap langkah itu diikuti oleh suara gesekan sesuatu yang logam di dinding—seperti seseorang yang menyeret sebilah belati atau... sebuah pena perak.
"Viona... kamu lupa ya? Di kantor tadi kan saya bilang, riwayat kamu sudah habis," suara Baskara terdengar dari kegelapan, namun suaranya kini terdengar ganda, seolah ada entitas lain yang berbicara melalui mulutnya.
Riko gemetar hebat di samping Viona. "Vio... itu Baskara? Kenapa suaranya kayak monster?"
Viona membuka payung birunya, pendar cahaya birunya kini menjadi satu-satunya sumber cahaya di koridor itu. Ia berdiri di depan Riko dan ibunya, menjadi tameng bagi mereka.
"Riko, pas gue bilang lari, lo bawa Ibu masuk ke lift dan jangan pernah noleh ke belakang, paham?" bisik Viona tanpa mengalihkan pandangan dari kegelapan.
"Tapi lo gimana, Vio?!"
Viona tersenyum pahit. "Gue baru sadar, payung ini bukan cuma buat nahan hujan. Ini buat nahan badai kayak dia."
Dari kegelapan, Baskara muncul. Matanya bersinar merah redup, dan di tangannya, Pena Takdir memancarkan aura hitam yang pekat. Ia tidak lagi tampak seperti manajer kantor yang rapi; ia tampak seperti predator yang sedang lapar.
"Kasih saya kotaknya, Viona, dan mungkin saya bakal biarin Riko hidup untuk ngeliat kamu jadi ratu di dunia baru saya," ujar Baskara sambil menjilat bibirnya.
Viona menarik napas panjang. "Mau lo apa sih, Baskara? Lo sudah punya segalanya, kan?"
Baskara tertawa, suara tawa yang memekakkan telinga. "Segalanya? Kamu nggak tahu apa-apa soal kekuatan, Viona. Pena ini bisa nulis ulang sejarah, tapi dia butuh tinta yang spesial. Dan tinta itu ada di dalam jantung kamu."
"Sekarang, Riko! Lari!" teriak Viona.