Warning,,,!!!! 21+, harap bijak mencari bacaan.!
Delia Larasaty, gadis cantik berusia 22 tahun itu tidak pernah menyangka jika dirinya akan menikah dengan kakak iparnya sendiri, atau lebih tepatnya menikah dengan suami kakaknya.
Dia adalah Bramantyo Sanjaya atau Bram. Pria dengan wajah tampan yang saat ini berusia 30 tahun tapi masih terlihat muda.
Anak tunggal dari Tuan Sanjaya, pemilik Sanjaya's Group. Salah satu perusahan terbesar dikota jakarta.
Bram menikah dengan Ditha Larasaty, kakak kandung Delia. Tapi 6 bulan yang lalu saat Ditha melahirkan, kondiri Ditha melemah hingga dia dinyatakan koma. Hingga saat ini Ditha belum juga sadar dari komanya.
Kedua orang tua Bram tidak tega melihat kondisi anaknya yang semakin tidak terawat dan terus berlalur dalam kesidihan karna tepukul atas kejadian yang menimpa istrinya. Maka dari itu kedua orang tua Bram meminta Bram untuk menikah dengan Delia, agar Bram tidak berlarut - larut dalam kesedihan karna terus memikirkan Ditha yang belum tentu akan bangun dari komanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Takut
Kini sudah delapan bulan Ditha masih berbaring tidak berdaya, sepertinya dia terlalu menikmati tidur panjangnya hingga tak kunjung menunjukan tanda - tanda akan membuka mata. Segala upaya sudah Bram lakukan untuk kesadaran Ditha, hingga mendatangkan dokter dan peralatan medis dari luar negeri. Namun semua itu tak membuahkan hasil yang memuaskan. Kondisi Ditha tetap saja seperti itu.
Seorang laki - laki berpakaian tertutup duduk ditepi ranjang. Dia menatap lekat wajah pucat Ditha, begitu banyak penyesalan yang terpancar dari indera penglihatannya. Andai saja saat itu dia tidak memaksa Ditha untuk bertemu, mungkin kejadian buruk ini tidak akan menimpa Ditha. Selama delapan bulan ini dia begitu tersiksa memikirkan keadaan Ditha. Rasa bersalah yang begitu besar membuatnya merutuki dirinya sendiri.
"Permisi tuan, saya mau membersihkan tubuh nona Ditha." Ujar perawat yang ditugaskan untuk menjaga Ditha. Dia berdiri disamping ranjanh Ditha dengan membawa wadah berisi air hangat dan juga wash lap.
"Sini biar aku saja. Tolong kamu bantu membuka bajunya." Dia berdiri untuk mengambil wadah itu dari tangan perawat dan meletakannya di atas kursi.
"Baik tuan." Perawat berpindah ke sisi ranjang lainnya, dia mulai membuka baju Ditha.
Dengan telaten laki - laki itu menyeka tubuh Ditha menggunakan wash lap.
'Aku mohon buka matamu,,, sampai kapan kamu akan seperti ini. Aku sangat merindukan tawamu.'
...******...
"Mas Bram tungguin.!!" Teriak Delia sambil berlari mengejar Bram.
Saat sedang sarapan tadi, Bram makan dengan cepat hingga lebih dulu menghabiskan makannya. Selesai menghabiskan sarapannya, Bram beranjak begitu saja dari duduknya dan meninggalkan Delia yang masih mengunyah makanan dalam mulutnya. Melihat Bram yang berlalu, Delia hanya bisa berdecak kesal. Dia mengunyah dengan cepat dan langsung menelannya, selesai minum dia mengejar Bram dan meninggalkan sarapannya yang belum habis.
"Aku belum selesai sarapan, kenapa mas Bram pergi duluan.?!" Protes Delia dengan tersungut - sungut. Dia berjalan disamping Bram setelah berhasil mengejarnya.
"Aku pikir laki - laki itu akan datang setelah mengirimkan pesan padamu. Bukankah lebih baik aku pergi agar tidak mengganggu kalian." Ucap Bram dengan satu kali tarikan nafas.
Delia hanya bisa mengerutkan keningnya mendengar ucapan Bram. Tadi saat sedang sarapan, Andra memang mengirimkan pesan pada Delia. Ponsel Delia yang dia letakan di atas meja membuat Bram bisa melihat ada pesan masuk dari kontak yang bernama 'Kak Andra'. Bram bisa menebak jika dia adalah laki - laki yang baru saja bertemu dengan Delia.
"Apa mas Bram cemburu.?" Tanya Delia dengan polosnya. Dia memperhatikan raut wajah Bram yang terlihat kesal saat bicara tadi.
Bram menghentikan langkahnya. Dia menatap Delia dengan sorot matanya yang tajam. Delia yang merasa buluk kuduknya berdiri hanya bisa mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan Bram.
"Cemburu.?" Bram tersenyum sinis.
"Kamu pikir kamu siapa hingga aku harus cemburu dengan laki - laki itu.!" Ujarnya ketus.
Kali ini Delia berani menatap Bram. Tiba - tiba hatinya berdenyut nyeri. Entah kenapa ucapan Bram begitu mengusik hatinya. 'Kamu pikir kamu siapa', kalimat itu seperti benda tajam yang menusuk hatinya. Harusnya sejak awal Delia sadar jika dia bukan siapa - siapa bagi Bram. Delia merasa menyesal sudah melayangkan pertanyaan yang tidak masuk akal pada Bram. Pertanyaan yang seharusnya tidak dia lontarkan pada Bram, namun harusnya dia sudah tau jawabannya.
"Aku tau aku bukan siapa - siapa bagi mas Bram. Lagi pula aku hanya bercanda." Ujar Delia. Dia tersenyum setelah itu, berusaha menutupi rasa sakit yang menyerang lubuk hatinya.
"Ayo ke pantai mas, pasti udaranya sangat sejuk pagi - pegi begini." Delia menarik tangan Bram dan membawanya keluar hotel. Dia berusaha menutupi keadaan hatinya yang sedang buruk.
Tanpa penolakan, Bram menuruti permintaan Delia. Sambil berjalan Bram melirik Delia yang terus tersenyum dengan pandangan lurus kedepan. Senyum Delia begitu polos dan manis, tapi terasa begitu menyayat di hati Bram. Ada penyesalan dihatinya karna sudah mengatakan kalimat itu pada Delia. Bram sadar jika ucapannya sangat keterlaluan. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu, karna bagaimanapun Delia adalah istrinya.
'Maaf. Aku tidak tau kenapa bisa berkata seperti itu padamu. Aku hanya tidak suka laki - laki itu mendekatimu.' Gumam Bram dalam hati. Matanya terus menatap Delia dengan sendu.
Jarak dari hotel ke pantai yang sangat dekat, membuat keduanya dengan cepat sampai di tepi pantai. Delia melepaskan genggamannya dari tangan Bram, dia berlari kecil mendekati ombak dan terus berjalan hingga sapuan ombak mengenai kakinya sampai ke lutut.
Bram hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Delia. Delia terus tersenyum dengan merentangakan kedua tangannya menatap birunya air laut yang membentang luas sepanjang mata memandang.
Sapuan angin membuat rambut Delia tersibak kebelakang. Delia memejamkan matanya, meraskan sejuknya angin pantai yang menerjang wajahnya. Deburan obak yang teratur begitu menenangkan hatinya. Sejenak membuatnya lupa akan rasa sakit yang baru saja dia rasakan. Delia mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan.
Mungkin setelah ini dia akan lebih hati - hati, dia akan menata hatinya agar tidak merasakan sakit jika nanti Bram kembali mengatakan hal itu padanya.
'Ingat Delia, kamu memang bukan siapa - siapa untuknya. Kamu harus sadar diri dan tau posisimu.' Gumamnya.
Bram memilih untuk duduk ditepi pantai sambil terus memperhatikan Delia. Sudut bibirnya terangkat, melihat keceriaan Delia membuat hatinya terasa hangat.
Tanpa sadar Delia terus berjalan ketengah, melihat itu Bram segera berlari menyusul Delia dan menarik tangannya. Delia yang tidak bisa menjaga kesimbangan, terhuyung kebelakang dan jatuh di dekapan Bram.
"Apa yang kamu lakukan.!! Apa kamu berniat mengakhiri hidupmu.!!" Bentak Bram.
Dia segera menarik Delia dan membawanya ketepi pantai. Delia menundukan kepalanya, dia melihat celana jeans nya sudah basah hingga sampai kebagian paha.
'Apa aku melangkah sejauh itu.' Batin Delia.
"Aku tidak sadar berjalan sejauh itu, tadi aku memejamkan mata." Ujar Delia.
Bram berdecak kesal.
"Kamu ini terlalu bodoh dan sangat merepotkan.! Bagaimana jika kamu terbawa ombak dan aku tidak melihatmu tadi.!!" Bentaknya lagi. Bram sangat menyayangkan tindakan Delia yang sangat ceroboh dan tidak memperdulikan keselamatannya
"Maaf,,," Sura Delia bergetar. Dia tidak tahan mendengar suara keras Bram yang terus membentaknya. Air matanya lolos, Delia segara menghapusnya. Delia mengangkat wajahnya dan menetap Bram.
"Aku mau pulang,," Ucapnya dengan suara yang masih bergetar. Delia berusaha menahan tangisnya.
Entah sudah berapa kali Bram membentaknya dan menyebutnya bodoh. Membuat hatinya kembali merasakan sakit dan sesak. Bukankah Bram sudah tahu jika Delia tidak tahan jika di bentak, tapi dia terus mengulanginya
Bram menghela nafas, dia mendekat dan menarik Delia kedalam dekapannya. Bram memeluk Delia dengat erat, dia bahkan memberikan kecupan di pucuk kepala Delia.
Delia memejamkan matanya, dia merasakan ketenangan berada dipelukan Bram. Tanpa sadar tangannya melingkar dipinggang Bram.
"Aku takut terjadi sesuatu padamu. Maaf sudah membentakmu." Ucap Bram.
Dia tidak bisa menahan diri saat melihat Delia melakukan hal ceroboh, jantungnya bahkan hampir berhenti berdetak melihat Delia yang hampir saja tergerus ombak.
Maaf karna upnya sedikit - sedikit.🙏
Novel ini masih dalam revisi karna tidak lulus kontrak, gara - gara bab 20 ada adegan vulgarnya😁. Nanti kalau sudah selesai revisi dan lulus kontrak, bakal up rutin.😊
...****"****...
Haii para readers,,,, Makasih sudah mampir untuk membaca novel ini. Makasih juga untuk dukungan dan semangatnya yah.
Jangan lupa selalu tinggalkan Like dan Komennya disetiap bab, agar Author lebih semangat lagi😊
Beri Vote dan Rate jika berkenan😊🙏
Untuk yang mau kasih kritik dan saran boleh banget, selama mengunakan bahasa yang baik dan sopan tidak ada ungsur menghina, Author akan terima dengan senang hati😊
Semoga novel ini bisa menghibur kalian semua.😊