Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.19
Hari Turnamen.....
Gong raksasa dari perunggu berbunyi, getarannya menggetarkan dada ribuan murid luar yang berkumpul di Arena Batu Kapur.
Suasana tegang. Udara terasa berat oleh campuran keringat, ambisi, dan ketakutan. Di panggung kehormatan, para Tetua Sekte duduk di kursi-kursi tinggi mereka, menatap lautan manusia di bawah seperti dewa melihat semut.
"Tahun ini," suara Tetua Pengawas bergema tanpa pengeras suara, diperkuat oleh Qi, "Kami tidak mencari orang bodoh yang hanya tahu mengayunkan pedang. Jalan kultivasi penuh dengan iblis batin (Heart Demon). Jika jiwamu lemah, kekuatanmu akan membunuhmu."
Tetua itu mengibaskan lengan bajunya.
Wuuuung!
Dari lantai arena yang luas, kabut berwarna ungu kemerahan mulai merembes keluar dari celah-celah batu. Dalam hitungan detik, kabut itu menebal, menelan seluruh peserta hingga mereka tidak bisa melihat jari tangan mereka sendiri.
Babak 1: Formasi Labirin Seribu Mimpi Buruk.
"Aturannya sederhana," lanjut suara Tetua itu, kini terdengar seperti datang dari segala arah. "Temukan jalan keluar dari kabut ini. Yang keluar dalam waktu satu batang dupa akan lolos ke babak duel. Sisanya... akan dibiarkan tersesat dalam ketakutan mereka sendiri."
Shen Yu berdiri diam di tengah kabut.
Seketika, suara riuh penonton dan peserta lain lenyap. Hening. Senyap yang mematikan.
Ia mencoba melangkah maju, tapi tanah di bawah kakinya terasa lunak, seperti lumpur hisap.
"Yu'er..."
Suara itu. Shen Yu membeku.
Ia menoleh. Di balik kabut, muncul sosok Shen Liang, ayahnya. Namun, ayahnya tidak sedang mencangkul. Tubuh ayahnya tertusuk puluhan tombak, darah segar mengalir deras membasahi tanah sawah.
"Yu'er... kenapa kau tinggalkan kami?" rintih bayangan ayahnya, wajahnya pucat pasi. "Karena kau pergi... mereka datang. Mereka membantai desa. Ini semua salahmu..."
Di samping ayahnya, muncul ibunya, Liu Ying, yang merangkak dengan kaki patah. "Anak durhaka... kau mengejar keabadian di atas mayat orang tuamu..."
Napas Shen Yu memburu. Jantungnya dipukul palu godam. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam rasa takut bahwa kepergiannya akan membawa petaka kini divisualisasikan dengan mengerikan di depan matanya.
"Tidak... Ayah... Ibu..." Shen Yu mundur selangkah. Kakinya gemetar.
Bayangan itu berubah lagi. Kali ini Han Hu muncul, tubuhnya kering kerontang, merangkak ke arahnya. "Ikut aku ke neraka, Shen Yu... Iblis kecil..."
Keringat dingin membanjiri punggung Shen Yu. Giok Retak di dadanya mulai berdenyut panas, Aura Haus Darah ingin mengambil alih untuk menghancurkan ilusi ini dengan kekerasan.
Bunuh! Hancurkan apa pun yang bicara! bisik Giok itu.
Mata Shen Yu mulai memerah. Tangannya mengepal, siap meledakkan Tinju Penghancur Batu.
Namun, tepat sebelum ia kehilangan kendali, sebuah ingatan melintas.
Suara seruling bambu di sore yang hujan. Wajah tenang gadis buta yang tidak bisa melihat ilusi dunia, namun mendengar kebenarannya.
"Dunia adalah kebisingan, Shen Yu. Dengarkan nada aslinya."
Shen Yu memejamkan matanya rapat-rapat.
Ia menarik napas dalam, menahan dorongan membunuh dari Giok itu, dan mulai bersenandung di dalam hatinya. Bukan mantra, melainkan melodi sederhana yang diajarkan Su Ling.
Melodi Pembersih Hati.
Tuuu... Tuuu...
Irama itu mengalir di benaknya seperti sungai jernih. Perlahan, detak jantungnya yang kacau mengikuti tempo lagu itu. Rasa takutnya surut.
Saat Shen Yu membuka matanya lagi, ia tidak melihat ayah atau ibunya yang berdarah. Ia tidak melihat Han Hu.
Ia melihat gumpalan asap Qi yang berputar-putar mencoba masuk ke lubang hidungnya.
"Palsu," gumam Shen Yu dingin.
Ia menepis asap itu dengan tangannya.
Pemandangan mengerikan itu pecah berkeping-keping seperti kaca. Jalan setapak batu kapur kembali terlihat di bawah kakinya.
Di sekelilingnya, Shen Yu melihat pemandangan yang menyedihkan. Murid-murid lain sedang berteriak histeris, menebas udara kosong dengan pedang mereka, atau menangis meringkuk di lantai sambil memanggil ibu mereka.
Ada seorang murid berbadan besar yang sedang memukuli kepalanya sendiri ke dinding arena, terjebak dalam ilusi rasa sakit.
Shen Yu tidak berhenti. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, memasang wajah datar, dan berjalan santai melewati kekacauan itu.
Ia berjalan lurus, mengikuti insting pendengaran-nya yang menangkap suara angin murni dari pintu keluar di ujung arena.
Langkah kakinya ringan. Tidak ada keraguan.
Di Luar Arena
Para Tetua sedang mengamati jalannya ujian melalui cermin air raksasa.
"Tahun ini banyak yang berbakat," komentar seorang Tetua berjenggot putih. "Lihat Bai Jianfei. Dia menghancurkan ilusi itu dengan aura petirnya dalam waktu lima menit."
"Luo Feng juga lumayan, dia butuh tujuh menit," tambah Tetua lain.
"Tunggu," sela Tetua Wanita dari Puncak Herbal. Matanya menyipit menatap sudut cermin. "Siapa anak itu?"
Semua mata tertuju pada sosok Shen Yu.
Sementara peserta lain berlari panik atau bertarung keluar, Shen Yu berjalan santai seolah sedang jalan-jalan sore di taman. Ia tidak mengeluarkan senjata, tidak mengeluarkan aura meledak-ledak. Ia hanya... berjalan. Ilusi kabut seolah enggan menyentuhnya.
"Akar Roh Campuran... Qi Tahap 2 Awal..." gumam Tetua Pengawas bingung. "Bagaimana mungkin kultivasinya yang rendah bisa menahan serangan mental sekuat itu? Bahkan Tahap 5 pun kesulitan."
Di sudut panggung, Tetua Mo tersenyum tipis di balik cangkir tehnya. Anak itu... dia belajar trik baru lagi.
Shen Yu melangkah keluar dari kabut. Cahaya matahari menyambutnya.
Ia adalah orang ketiga yang keluar. Tepat di belakang Bai Jianfei (ke-1) dan seorang murid misterius berjubah hitam (ke-2).
Bai Jianfei, yang sedang membersihkan pedangnya, menoleh sedikit. Alis pedangnya terangkat sepersekian inci melihat siapa yang berdiri di sana seorang murid luar biasa dengan pakaian lusuh. Namun, Bai Jianfei segera membuang muka, tidak menganggap Shen Yu ancaman.
Sepuluh menit kemudian, Luo Feng terhuyung-huyung keluar dari kabut. Wajahnya pucat, napasnya berat. Ia baru saja bertarung melawan ilusi monster laut.
Saat ia mendongak dan melihat Shen Yu sudah berdiri bersandar di dinding sambil minum air, mata Luo Feng membelalak.
"Kau?! Bagaimana kau bisa keluar lebih dulu?!" teriak Luo Feng tidak percaya. "Kau pasti curang!"
Shen Yu menutup kantong airnya. Ia menatap Luo Feng dengan tatapan bosan.
"Kau terlalu berisik, Luo Feng. Iblis batinmu pasti suka suaramu yang cempreng itu."
Wajah Luo Feng memerah padam. "Kau... tunggu sampai babak duel! Aku akan memotong lidahmu!"
Gong berbunyi lagi. Waktu habis.
Dari 1.000 peserta, hanya 64 orang yang berhasil keluar dari Labirin Ilusi. Sisanya diseret keluar oleh tetua dalam keadaan pingsan atau terguncang jiwanya.
Shen Yu melihat sekeliling. 63 lawan tersisa. Kebanyakan adalah Tahap 3 ke atas. Dia adalah satu-satunya Tahap 2 yang lolos.
"Babak Kedua Dimulai!" seru Tetua Pengawas. "Duel Satu Lawan Satu. Sistem Gugur."
Papan nama besar melayang di udara, mengacak pasangan duel.
Nama Shen Yu muncul.
[Pertandingan 4: Shen Yu (Tahap 2) VS "Si Tangan Besi" Tie Niu (Tahap 3 Puncak)]
Kerumunan bersorak. Tie Niu terkenal sebagai petarung brutal yang menggunakan sarung tangan baja berduri.
Jin Bo, yang menonton dari tribun penonton (karena ia sengaja kalah/tidak ikut demi menghindari sorotan musuh keluarganya), menggertakkan gigi. "Tie Niu... lawannya tipe fisik murni. Ini buruk. Shen Yu tidak punya senjata."
Di arena, Tie Niu seorang raksasa setinggi dua meter tertawa menggelegar melihat lawannya yang kurus.
"Hei, Kurcaci! Menyerahlah sekarang, atau aku akan mematahkan tulangmu menjadi bubuk!"
Shen Yu berjalan naik ke panggung batu. Ia tidak terlihat takut. Sebaliknya, ia merasa penasaran.
Ramuan Tubuh Baja yang ia minum semalam... seberapa kuat efeknya?
"Ayo kita coba," gumam Shen Yu, mengepalkan tangannya yang kini terasa sekeras besi dingin.