NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Perpustakaan Gulungan Tua

Lantai kayu di bangunan sayap Puncak Terasing berderit setiap kali tongkat Guiren menyentuhnya. Udara di sini berbeda dengan udara pegunungan yang segar, di sini, napas terasa berat oleh debu yang mengendap selama puluhan tahun dan bau apek kertas yang mulai menua.

Perpustakaan ini bukan tempat bagi kitab-kitab kultivasi emas yang diperebutkan murid inti. Ini adalah gudang bagi gulungan-gulungan yang dianggap gagal, cacat, atau sekadar sampah sejarah yang terlalu sayang untuk dibakar namun terlalu tidak berguna untuk dijaga.

Guiren menggerakkan sapunya dengan ritme yang lambat. Visi peraknya menangkap tumpukan gulungan sebagai balok-balok energi yang redup dan mati. Di sudut terjauh, Xiaolian sedang menyusun kembali rak-rak yang miring, jemarinya yang lincah menyeka sampul kulit yang sudah mengelupas.

"Kak, rak di sudut ini sepertinya tidak pernah disentuh selama satu abad," bisik Xiaolian. Suaranya memicu gema di ruangan yang sunyi. "Debunya begitu tebal hingga menutup celah di balik papan."

Guiren mendekat. Ia merasakan aliran udara yang aneh dari balik rak yang disebutkan adiknya, sebuah tarikan energi yang dingin dan sangat tipis. Ia meletakkan sapunya, lalu meraba permukaan kayu yang kasar. Di balik tumpukan gulungan yang sudah menjadi sarang serangga, ia merasakan sebuah silinder kayu yang terjepit di antara dinding dan lantai.

Ia menariknya keluar.

Tabung itu tidak terbuat dari bambu biasa, melainkan kayu hitam yang permukaannya terasa sedingin es. Tidak ada segel sekte di sana, hanya sebuah goresan kasar yang menyerupai mata yang tertutup.

Guiren duduk bersila di lantai yang kotor, meletakkan tabung itu di pangkuannya. Xiaolian mendekat, duduk di sampingnya sambil memegang lampu minyak kecil yang cahayanya menari-nari di dinding.

"Apa itu, Kak?"

"Sesuatu yang disembunyikan," jawab Guiren.

Ia membuka tutup tabung itu. Aroma tinta yang sangat tajam, seperti bau karat besi dan darah yang mengering menyeruak keluar. Di dalamnya terdapat gulungan kertas yang teksturnya lebih mirip kulit manusia daripada serat tanaman. Saat Guiren membuka gulungan itu, Visi Qi-nya mendadak berdenyut hebat. Karakter-karakter di atasnya tidak diam, mereka tampak bergetar, seolah-olah tinta itu masih hidup dan berusaha merangkak keluar dari permukaan kertas.

Seni Melukis Dunia Dalam.

Guiren meraba permukaan tulisan itu dengan ujung jarinya. Ia tidak membutuhkan mata untuk membaca niat yang tertuang di sana. Teknik ini tidak mengajarkan cara meminjam kekuatan alam atau memanggil elemen. Teknik ini memerintahkan praktisinya untuk memalingkan kuas mereka ke dalam, menuju kekosongan di dalam jiwa dan mulai melukis sebuah dunia di sana.

Namun, di bagian bawah gulungan, terdapat catatan tambahan dengan tulisan tangan yang berbeda, lebih kasar dan penuh peringatan.

Jangan diteruskan.

Catatan itu menjelaskan sejarah singkat teknik tersebut. Hampir semua yang mencoba metode ini berakhir dalam tragedi. Untuk melukis dunia di dalam diri, seseorang harus menghancurkan batas antara kenyataan dan imajinasi. Mereka yang gagal akan terjebak di dalam "lukisan" mereka sendiri, kehilangan akal sehat hingga menjadi cangkang kosong yang gila. Bagi yang fisiknya tidak kuat, tekanan dari dunia yang diciptakan di dalam dantian akan menghancurkan meridian, membuat tubuh mereka meledak dari dalam.

"Mati atau gila," gumam Guiren.

Xiaolian yang mengintip dari bahunya tampak memucat. "Kakak... jangan. Ini terasa jahat. Buang saja."

Guiren terdiam. Ia meraba dadanya, merasakan wadah tinta yang dingin dan Tubuh Kertas Surgawi miliknya yang haus akan sesuatu yang lebih dari sekadar teknik standar sekte. Baginya, jalur kultivasi normal adalah jalan yang panjang dan berliku, penuh dengan aturan yang tidak memihak pada orang buta sepertinya.

Ia membutuhkan sesuatu yang sejalan dengan kegelapannya. Jika ia harus melukis dunia, biarlah dunia itu lahir dari kegelapan yang selama ini ia huni.

"Dunia ini sudah memperlakukan kita seolah-olah kita gila karena berharap untuk bertahan hidup, Lian-er," ucap Guiren, suaranya terdengar sangat tenang namun mengandung getaran tekad yang tidak bisa dibantah. "Jika harga untuk melindungimu adalah mempertaruhkan kewarasanku, maka itu adalah harga yang murah."

Guiren menggulung kembali kertas itu dengan gerakan gesit yang hati-hati. Ia tidak langsung mempelajarinya sekarang, namun ia menyembunyikan tabung kayu itu di balik jubah murid luarnya yang longgar.

Xiaolian menatap kakaknya dengan cemas. Ia melihat perubahan pada garis rahang Guiren, sebuah kekakuan yang menandakan bahwa kakaknya telah memilih jalan yang tidak mungkin ditarik kembali.

"Aku akan menjagamu, Kak," bisik Xiaolian akhirnya, suaranya parau. "Jika kau mulai tersesat di dalam sana, aku akan menjadi suara yang membawamu pulang."

Guiren hanya mengangguk, namun pikirannya sudah melayang jauh ke dalam kegelapan batinnya sendiri. Di sana, di balik kain penutup matanya, ia mulai membayangkan goresan pertama yang akan ia buat di atas kanvas jiwanya.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!