NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARSITEK SEBELUM WAKTU

"Kamu kelihatan bingung, Viona. Padahal kalau kamu melihat cermin sedikit lebih lama, kita punya garis rahang yang sangat mirip."

Wanita itu melangkah maju. Gaun birunya berkibar ditiup angin yang tidak terasa dingin maupun panas—sebuah angin hampa yang hanya ada di tempat ini. Wajahnya halus, tanpa kerutan, dan matanya tidak berwarna perak seperti Elena yang baru saja meluruh di kolong jembatan. Matanya berwarna biru safir yang dalam, memancarkan kecerdasan predator yang tenang. Ia memutar payung biru di tangannya, dan setiap kali payung itu berputar, retakan di tanah lapangan kering itu seolah menutup kembali.

Viona menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal pasir. "Jadi, Ibu... atau siapa pun lo, lo yang mulai semua kekacauan ini? Ibu yang selama ini gue rawat, yang duduk di kursi roda itu... cuma palsu?"

Wanita itu tertawa, suara tawa yang jernih namun sanggup membekukan aliran darah. "Palsu adalah istilah untuk mereka yang tidak mengerti konsep duplikasi. Elena yang kamu kenal adalah residu. Sebuah ampas emosional yang sengaja ditinggalkan agar Nathan punya alasan untuk tetap hidup di duniamu yang sempit. Aku? Aku adalah desain aslinya. Aku adalah Arsitek yang membangun fondasi Ordo Chronos sebelum ayahmu memutuskan untuk menjadi 'pahlawan' yang mencuri Jantung Waktu."

Viona melihat tangannya yang retak. Serpihan kecil kulitnya, yang kini tampak seperti porselen putih, jatuh ke tanah dan langsung menguap. "Nathan nggak mencuri. Dia nyelamatin gue dari lo."

"Nyelamatin kamu?" Arsitek Elena tersenyum miring, matanya berkilat meremehkan. "Dia menanamkan mesin paling berbahaya di semesta ke dalam tubuh seorang bayi. Dia menjadikanmu brankas berjalan karena dia tahu Ordo tidak akan berani menghancurkan brankasnya sendiri. Kamu bukan anak bagi Nathan, Viona. Kamu adalah barang bukti yang disembunyikan."

"Bohong!" teriak Viona. Ia mencoba mengepalkan tangannya, namun rasa sakit yang tajam membuatnya tersungkur. Roda gigi di telapak tangannya berderit nyaring, suaranya seperti mesin yang kehabisan oli. "Gue tahu gimana Ayah natap gue. Gue tahu gimana rasanya disayang. Sesuatu yang kayaknya nggak bakal pernah lo pahami."

"Kasihan sekali," desis Arsitek Elena. Ia mengangkat payung birunya dan mengarahkannya tepat ke dada Viona. "Kasih sayang adalah pelumas yang digunakan manusia untuk memaklumi kegagalan. Dan sekarang, kegagalan itu sudah mencapai batasnya. Jantung itu menolakmu, Viona. Tubuh manusiamu terlalu rapuh untuk menanggung beban Master Gear."

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki Viona bergetar. Jarum-jarum jam raksasa mulai mencuat dari dalam tanah, membentuk lingkaran jeruji yang mengurung Viona. Lapangan kering itu mulai berubah warna menjadi hitam pekat, menyerupai tinta yang tumpah.

"Gue nggak bakal kasih benda ini ke lo," gumam Viona. Ia meraba saku jas hujannya, mencari pena perak yang tadi ia bawa. Pena itu masih ada, namun cahayanya sudah padam. "Gue sudah nulis 'Sekarang' di tangan gue. Lo nggak punya kuasa atas waktu gue lagi."

"Tinta darahmu tidak akan bertahan lama di 'Pemberhentian Terakhir'," sahut Arsitek Elena. Ia melangkah mendekati jeruji jarum jam. "Di sini, tidak ada hari esok. Hanya ada pengulangan yang abadi. Kalau kamu tidak menyerahkannya secara sukarela, aku akan membiarkanmu hancur menjadi debu, lalu aku akan memungut Jantung itu dari sisa-sisa abumu."

Viona melihat ke sekeliling. Tempat ini terasa seperti penjara yang sempurna. Tidak ada jalan keluar, tidak ada Adrian yang bisa meretas sistem, dan tidak ada Julian yang bisa menagih utang. Hanya ada dia dan bayangan masa lalu ibunya yang mengerikan.

"Eh, denger ya, Tante," Viona berusaha berdiri, meskipun lututnya gemetar hebat. Ia menggunakan bahasa sehari-hari yang biasanya ia gunakan untuk memaki rekan kerjanya di kantor, sebuah upaya kecil untuk mempertahankan kewarasannya. "Gue sudah capek denger ceramah soal takdir, sejarah, atau apalah itu. Kalau lo emang Arsitek yang hebat, kenapa lo butuh bantuan Alfred buat nyari gue? Kenapa lo nggak samperin gue dari sepuluh tahun lalu?"

Langkah Arsitek Elena terhenti. Ekspresi tenangnya retak sesaat, digantikan oleh kilatan kemarahan yang dingin. "Karena ayahmu mengunci frekuensimu dalam hujan. Dia menciptakan anomali cuaca yang membuatmu tidak terlihat oleh radar Ordo selama ada air yang jatuh dari langit. Tapi kamu sendiri yang menghancurkan perlindungan itu saat kamu memicu Master Gear."

Viona teringat kata-kata Alfred: Hujan di kota ini tidak pernah hanya sekadar air.

Ternyata, setiap rintik hujan yang ia benci selama ini adalah tameng yang dibangun ayahnya. Hujan itu adalah pelukan Nathan yang melindunginya dari pantauan ibunya sendiri. Dan sekarang, di tempat yang kering kerontang ini, Viona benar-benar telanjang di hadapan musuhnya.

"Vio... jangan dengerin dia..."

Sebuah suara sayup-sayup terdengar dari arah papan rute halte. Viona menoleh dan melihat sosok buram Adrian muncul di antara riak udara. Adrian tampak seperti hologram yang terganggu sinyalnya; tubuhnya berkedip-kedip, menunjukkan kode-kode biner yang mengalir cepat di sekujur pakaiannya.

"Adrian?! Lo bisa masuk ke sini?" tanya Viona penuh harap.

"Nggak sepenuhnya... gue cuma bisa... nyelipin frekuensi lewat pena perak lo..." suara Adrian terputus-putus. "Vio, tempat ini bukan lapangan. Ini adalah hard drive utama Ordo. Arsitek itu... dia mau reformat jiwa lo. Jangan biarin dia sentuh tangan kiri lo!"

"Banyak bicara untuk seorang kurir yang sudah sekarat," ucap Arsitek Elena dingin. Ia mengibaskan tangannya, dan proyeksi hologram Adrian meledak menjadi butiran cahaya yang menghilang.

"ADRIAN!"

"Sekarang, Viona. Selesai," Arsitek Elena sudah berada tepat di depan jeruji. Ia menjulurkan tangannya yang halus menembus sela-sela jarum jam. "Berikan tanganmu. Jadikan ini akhir yang tenang."

Viona mundur, namun punggungnya menabrak pilar halte yang dingin. Retakan di wajahnya mulai menjalar ke arah matanya. Ia merasa seolah-olah seluruh eksistensinya sedang ditarik oleh gravitasi yang sangat kuat menuju pusat telapak tangannya.

"Kalau gue mati... Jantung ini bakal hancur bareng gue, kan?" tanya Viona dengan napas tersengal.

"Tidak. Jantung itu abadi. Hanya wadahnya yang bisa hancur," jawab Arsitek Elena tenang.

Viona melihat pena perak di tangannya. Tiba-tiba, ia teringat pesan terakhir ibunya (Elena versi residu): Cari halte yang tidak pernah ada hujannya.

Tempat ini tidak ada hujan. Tapi bukan berarti hujan tidak bisa diciptakan.

"Lo bilang Ayah nyembunyiin gue dalam hujan, kan?" Viona tersenyum pahit, sebuah senyum nekat yang membuat Arsitek Elena menyipitkan mata. "Kalau gitu, gue bakal bawa hujan itu ke sini."

Viona tidak menggunakan pena itu untuk menulis di tangannya. Sebaliknya, ia menusukkan ujung pena perak itu ke pusat roda gigi di telapak tangan kirinya yang sudah retak parah.

KREEEEAAAK!

Bunyi logam yang patah bergema di seluruh lapangan. Cairan emas murni—darah waktu—menyembur keluar dari telapak tangan Viona, membasahi lantai halte yang kering. Cahaya emas itu membumbung tinggi ke langit yang kosong, membentuk gumpalan awan yang gelap dan berat.

"Apa yang kamu lakukan?! Kamu akan memicu kiamat lokal!" teriak Arsitek Elena, suaranya untuk pertama kali terdengar panik.

"Gue cuma mau mandi, Tante. Gerah banget di sini," sahut Viona dengan sisa tenaganya.

Guntur menggelegar di langit "Pemberhentian Terakhir". Rintik air pertama mulai jatuh. Namun, ini bukan air biasa. Setiap tetes yang jatuh adalah fragmen memori yang kembali—suara tawa Nathan, rasa hangat teh botol di pinggir jalan, perihnya luka saat jatuh dari sepeda. Hujan itu jatuh begitu deras, membasahi Arsitek Elena yang mulai berteriak saat kulitnya yang sempurna mulai melepuh terkena hujan "kemanusiaan" tersebut.

Bagi Arsitek yang terbuat dari logika murni, emosi adalah asam yang mematikan.

"Viona! Berhenti! Kamu juga akan hancur!"

Viona berdiri di bawah guyuran hujan emas itu. Tubuhnya yang tadinya retak mulai tersambung kembali, bukan oleh sihir Ordo, tapi oleh ingatan-ingatan yang ia terima kembali. Ia merasakan perih, ia merasakan sedih, ia merasakan rindu yang luar biasa. Semua rasa sakit yang dulu ingin ia hapus, kini menjadi perekat yang menyatukan jiwanya kembali.

Tiba-tiba, halte bus itu mulai memudar. Papan rute bertuliskan "Pemberhentian Terakhir" jatuh dan pecah, menyingkapkan tulisan lain di baliknya: PINTU KEBERANGKATAN.

Viona melihat sesosok pria berdiri di ujung lapangan, memegang payung biru tua yang rusak. Bukan Adrian, bukan Julian.

Pria itu mengenakan jaket denim tua dan tersenyum lembut ke arah Viona. Nathan.

"Vio... lari ke arah Ayah," panggil Nathan. "Pintu ini nggak bakal terbuka lama."

Viona hendak berlari, namun sebuah tangan mencengkeram pergelangan kaki kirinya dengan sangat kuat. Arsitek Elena, yang kini wajahnya hancur setengah, merangkak di tanah dengan mata yang menyala merah penuh dendam.

"Kamu... tidak akan... kemana-mana..." geram Arsitek Elena. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada garis waktu untuk siapa pun!"

Wanita itu menarik Viona dengan kekuatan yang luar biasa. Di saat yang sama, awan hujan emas di langit mulai berputar membentuk pusaran lubang hitam yang menghisap segala sesuatu di lapangan itu.

"Ayah!" teriak Viona sambil berusaha melepaskan diri.

"Viona, percaya sama diri kamu sendiri!" seru Nathan. "Gunakan penanya! Tuliskan tujuanmu yang sebenarnya!"

Viona melihat pena perak yang masih tertancap di telapak tangannya. Ia harus menulis sesuatu. Sesuatu yang lebih kuat dari 'Sekarang', sesuatu yang bisa menghentikan Arsitek sebelum mereka berdua tertelan lubang hitam.

Dengan jari-jemari yang bergetar, Viona mencabut pena itu dan menggoreskan satu kata terakhir di udara, tepat di depan wajah Arsitek Elena yang mengerikan.

"Selamat tinggal, Ma," bisik Viona saat ujung pena itu menyelesaikan goresannya.

Kata yang tertulis di udara itu meledak dalam cahaya putih, namun bukan kata 'Esok' atau 'Kemarin' yang ia tulis. Arsitek Elena membelalakkan mata saat melihat kata tersebut, sebelum seluruh lapangan itu hancur menjadi partikel cahaya.

"Vio, tunggu! Jangan masuk ke sana!" teriak Nathan dari kejauhan, tapi suaranya tertelan oleh ledakan dimensi yang baru saja tercipta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!