Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Surat dari Masa Lalu dan Gelas Terakhir
Malam sebelum pernikahan tiba dengan ketenangan yang magis. Langit di atas lereng bukit tampak sangat jernih, bertaburan bintang yang seolah-olah turun lebih rendah untuk ikut menyaksikan kebahagiaan di rumah kayu itu. Aroma bunga sedap malam yang mulai mekar di halaman bercampur dengan wangi kayu pinus yang terbakar di perapian.
Di teras depan, Devan duduk bersama Baron. Tidak ada botol minuman keras di antara mereka, hanya dua cangkir kopi hitam panas yang mengepulkan uap. Baron menatap panggung pelaminan yang sudah berdiri megah dengan hiasan lampu-lampu temaram.
"Besok adalah hari terakhirmu sebagai orang bebas, Bos," canda Baron, mencoba memecah keheningan.
Devan tersenyum tipis, menatap cincin emas di jarinya yang berkilat terkena cahaya bulan. "Aku sudah lama tidak merasa bebas, Ron. Justru sejak mengenal Lia, aku merasa menemukan jalan pulang. Kamu tahu, dulu aku pikir aku akan mati di aspal jalanan, sendirian, atau membusuk di penjara. Aku tidak pernah bermimpi akan memiliki malam setenang ini."
Baron mengangguk pelan. "Kami semua bangga padamu. Kamu menunjukkan pada anak-anak bahwa ada jalan keluar dari kegelapan. Bahwa mawar tidak harus selalu berduri tajam untuk bertahan hidup. Besok, saat kau mengucapkan janji itu, bukan hanya Lia yang kau selamatkan, tapi juga harapan kami semua."
Devan menepuk bahu sahabatnya. "Jaga mereka, Baron. Jadikan Black Roses sebagai komunitas yang berguna, bukan lagi sekumpulan orang yang ditakuti karena kekerasan. Itu satu-satunya permintaanku padamu."
Sementara itu, di dalam kamar, suasana jauh lebih emosional. Lia sedang duduk di tepi tempat tidur saat Pak Gunawan masuk dengan langkah perlahan. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil yang tampak sangat tua namun terawat.
"Lia," panggil ayahnya lembut. Ia duduk di samping putrinya, menatap wajah Lia yang kini tampak sangat dewasa dan bercahaya. "Ada sesuatu yang harus kuberikan padamu. Ayah sudah menyimpannya selama hampir dua puluh tahun."
Pak Gunawan membuka kotak itu dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning. "Ini surat dari Ibumu. Dia menulisnya saat dia tahu penyakitnya tidak akan memberikan banyak waktu lagi. Dia memintaku memberikannya padamu tepat pada malam sebelum hari pernikahanmu."
Dengan tangan gemetar, Lia menerima surat itu. Tulisan tangan di dalamnya tampak sangat halus dan penuh kasih.
"Untuk putri kecilku, Lia...
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah menjadi bagian dari angin yang mengusap pipimu atau bintang yang menjagamu dari jauh. Maafkan Ibu yang tidak bisa mendampingimu mencoba gaun pengantinmu, atau membantumu menyisir rambut di hari besarmu.
Lia, cintailah pria yang kamu pilih bukan karena dia sempurna, tapi karena dia membuatmu merasa berani menjadi dirimu sendiri. Jangan takut pada masa lalu yang mungkin kelam, karena cinta yang tulus adalah cahaya yang paling terang. Jadilah rumah bagi suamimu, dan biarkan dia menjadi pelindungmu. Ibu tahu, kamu akan menjadi ibu yang jauh lebih hebat dariku.
Terbanglah tinggi, Mawar kecilku. Cintaku akan selalu melingkar di hatimu, selamanya."
Air mata Lia jatuh membasahi kertas tua itu. Ia terisak pelan, merasakan kehadiran ibunya di dalam kamar itu. Pak Gunawan memeluk putrinya erat, ikut menangis melepaskan beban yang selama ini ia pikul sendiri.
"Ibumu pasti sangat bangga melihatmu sekarang, Lia," bisik Pak Gunawan. "Dan aku... aku juga sangat bangga. Devan adalah pria yang tepat. Dia mencintaimu dengan cara yang sama seperti aku mencintai Ibumu."
Lia menghapus air matanya, ia merasa beban di hatinya benar-benar terangkat. Surat itu bukan hanya sebuah pesan, tapi sebuah restu dari alam yang berbeda. Ia kini siap. Ia tidak lagi memiliki keraguan sedikit pun.
Menjelang tengah malam, Devan berjalan menuju jendela kamar Lia dari luar. Ia mengetuk kaca perlahan. Lia membukanya, menatap Devan yang berdiri di bawah cahaya lampu taman.
"Belum tidur?" tanya Devan lembut.
"Baru saja selesai membaca surat dari Ibu," jawab Lia dengan senyum yang sangat tulus. "Kamu sendiri? Kenapa masih di luar?"
"Aku hanya ingin memastikan ini semua bukan mimpi," Devan meraih tangan Lia melalui jendela. "Lia, terima kasih sudah memilihku. Terima kasih sudah tidak menyerah pada pria berandalan seperti aku dulu. Besok, di depan Tuhan, aku akan menyerahkan seluruh sisa hidupku hanya untukmu dan anak kita."
Lia menggenggam tangan Devan erat. "Bukan aku yang memilihmu, Devan. Tapi hati kita yang saling menemukan di antara rak-rak buku perpustakaan itu. Aku mencintaimu, Serigalaku."
"Aku lebih mencintaimu, Ratuku."
Mereka saling menatap dalam keheningan yang penuh cinta, sebelum akhirnya Devan pamit untuk beristirahat di tenda bersama Baron. Malam itu ditutup dengan kedamaian yang sempurna. Seluruh alam semesta seolah-olah sedang menahan napas, bersiap untuk menyambut hari esok yang akan mengabadikan cinta mereka dalam ikatan suci.
Esok hari, fajar akan menyingsing, dan lonceng kebahagiaan akan berdentang di lereng bukit pinus itu.