NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Hilman melangkah kembali ke arah rumah dengan tenang, mengabaikan suara gaduh mobil Rian yang mulai didorong paksa oleh para santri menjauh dari gerbang. Begitu ia menginjakkan kaki di teras, ia melihat Nayla masih berdiri di balik jendela, bersandar pada bahu Sarah dengan air mata yang mulai luruh membasahi pipinya.

​Hilman masuk ke dalam rumah. Tanpa berkata-kata, ia langsung menghampiri Nayla. Ia mengabaikan rasa canggung di depan Umi dan adiknya. Hilman menarik tubuh mungil Nayla ke dalam pelukannya, mendekap kepala istrinya itu di dadanya yang masih naik-turun karena emosi yang tertahan.

​"Sudah... dia sudah pergi," bisik Hilman lembut sambil mengusap kepala Nayla yang tertutup kerudung.

​"Mas... maafin aku," isak Nayla sesenggukan. "Gara-gara aku, nama baik Mas sama pesantren jadi tercoreng. Harusnya aku nggak bawa masalah masa lalu aku ke sini. Aku... aku takut Abah sama Umi jadi benci aku."

​Umi Sarah mendekat, mengusap punggung menantunya itu dengan penuh kasih sayang. "Nduk, dengerin Umi. Masa lalu itu seperti debu, kalau sudah ditiup ya hilang. Yang datang tadi itu ujian untuk kesabaran suamimu, dan alhamdulillah Hilman bisa menjagamu dengan cara yang terhormat. Tidak ada yang benci kamu, Sayang."

​Nayla mendongak, menatap Hilman dengan mata yang sembap. "Mas nggak marah sama aku? Dia tadi bilang aku nggak level sama Mas..."

​Hilman tersenyum tipis, kali ini senyumnya sangat teduh. Ia menghapus air mata di pipi Nayla dengan ibu jarinya. "Mas tidak butuh pengakuan dari orang mabuk untuk tahu seberapa berharganya istri Mas. Levelmu itu bukan ditentukan oleh Jakarta atau desa, tapi karena kamu sudah jadi separuh agamaku. Sekarang, berhenti menangis, ya?"

​Nayla mulai sedikit tenang, tapi dasar sifatnya yang tidak bisa diam, ia malah mencebikkan bibirnya. "Tapi Mas tadi keren banget... pas nangkep tangan dia itu lho. Kayak di film-film aksi. Ternyata suamiku kalau lagi marah gantengnya nambah sepuluh kali lipat."

​Hilman terbelalak, lalu berdehem keras karena malu dipuji begitu di depan Umi dan Sarah. "Nayla, baru saja menangis, sudah bisa menggoda lagi."

​"Abisnya Mas gagah banget sih!" Nayla malah semakin erat memeluk pinggang Hilman, melupakan rasa sakit di kakinya. "Tapi Mas... tangan Mas sakit nggak? Tadi kenceng banget lho nangkepnya."

​"Tangan Mas nggak sakit," balas Hilman sambil mulai membimbing Nayla kembali ke sofa. "Yang sakit itu hati Mas kalau lihat ada laki-laki lain berteriak-teriak manggil nama kamu seperti itu."

​Sarah yang melihat itu hanya bisa tersenyum simpul sambil membawa kembali piring-piring yang tertunda. "Mas Hilman cemburu ya, Mbak?" goda Sarah pelan.

​"Bukan cemburu, Sarah. Itu namanya menjaga amanah," sangkal Hilman cepat, meski wajahnya mulai memerah lagi.

Nayla tertawa kecil mendengar bantahan Hilman. Meski suasananya baru saja tegang, kehadiran Hilman yang begitu melindungi membuat rasa takut Nayla menguap seketika. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Hilman, merasa sangat beruntung memiliki "Mas" yang tidak hanya pintar mengaji, tapi juga jago menjaga harga diri istrinya.

​"Ya sudah, karena urusannya sudah selesai, kalian bersiap-siaplah," sela Umi Sarah. "Hujannya sudah reda, matahari juga sudah mulai naik. Kasihan Ayah dan Bunda pasti menunggu kalian untuk makan siang di rumah."

​"Inggih, Umi," jawab Hilman takzim.

​Nayla mencoba bangkit, namun saat baru berdiri, ia kembali meringis sambil memegangi pinggangnya. "Aduh... Mas, kayaknya efek 'beladiri' Mas tadi malam lebih kerasa daripada drama Rian barusan."

​Hilman buru-buru menahan tubuh Nayla. "Makanya, pelan-pelan. Kan sudah Mas bilang jangan banyak gerak dulu."

​Setelah berpamitan dan mencium tangan Abah Kiai serta Umi Sarah, juga memeluk Sarah, mereka akhirnya berjalan menuju mobil. Hilman dengan sangat telaten membukakan pintu mobil untuk Nayla, memastikan istrinya duduk dengan nyaman di kursi empuk agar tidak terlalu menekan bagian yang masih perih.

​Di sepanjang perjalanan menuju rumah Pak Lurah (Ayah Nayla), suasana di dalam mobil terasa hangat. Nayla terus menatap profil samping wajah Hilman yang sedang fokus menyetir.

​"Mas..." panggil Nayla pelan.

​"Kenapa, Nay? Ada yang sakit?" tanya Hilman tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

​"Makasih ya. Tadi Mas keren banget. Aku nggak nyangka Gus yang biasanya pegang kitab, tangannya bisa sekuat itu nahan preman kota kayak Rian," ucap Nayla tulus, kali ini tanpa nada menggoda.

​Hilman tersenyum tipis, satu tangannya terulur untuk menggenggam tangan Nayla di atas paha. "Pesantren itu nggak cuma ngajarin doa, Nay. Kita juga diajarkan untuk menjadi tameng bagi orang yang kita sayangi. Mas nggak akan biarkan satu orang pun menghina kamu lagi."

​Nayla tersenyum lebar, ia mencium punggung tangan Hilman yang sedang menggenggamnya. "Nanti kalau sudah sampai di rumah Ayah, Mas jangan bilang-bilang soal Rian ya? Nayla takut Ayah marah atau kepikiran."

​"Tergantung, Nay. Kalau Rian masih nekat, Mas harus lapor Ayah. Tapi untuk sekarang, biarlah ini jadi rahasia kita," jawab Hilman bijak.

​Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki halaman rumah Pak Lurah yang asri. Namun, pemandangan di depan teras membuat jantung Nayla kembali berdegup kencang. Di sana, Ayah dan Bunda sudah berdiri dengan raut wajah yang sangat serius, didampingi oleh Arkan yang tampak sedang memegang ponsel dengan kening berkerut.

​Sepertinya kabar tentang keributan di gerbang pesantren sudah sampai ke telinga mereka lebih cepat dari mobil Hilman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!