Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petualangan
Shahinaz menguap lebar. Waktu sudah sore, tapi dia baru saja bangun, cukup menikmati waktu liburnya meski hanya memuaskan diri untuk tidur saja. Kamarnya yang gelap dan tertutup korden tebal, cukup menyisakan suasana malam seolah masih memeluknya, padahal matahari sudah hampir terbenam hari ini. Jadi berapa jam dia tidur?
"Papah, Mamah, bibir Shahinaz udah nggak suci lagi!" Shahinaz tiba-tiba histeris lagi. Kemarin saja dia baru bisa tidur setelah lelah tantrum dan menangis sesenggukan.
Shahinaz bukan lebay. Meski dia dulu terkenal banyak yang mengagumi dan mengajaknya pacaran, Selana tidak menggubris satupun karena saat itu prioritasnya adalah bagaimana caranya mendapatkan uang dan bertahan hidup. Ditambah Shahinaz memiliki prinsip, ciuman pertamanya akan dia berikan untuk suaminya kelak.
"Cowok brengsek, sekali lagi lo ketemu gue, habis lo ditangan gue!" Shahinaz bangkit dari tidurnya, lalu berjalan gontai menuju ke kamar mandi. Dia akan mandi dulu, baru memikirkan bagaimana caranya mengenyangkan perut nanti.
Meski kelaparan setengah mati, urusan kebersihan tetap menjadi nomor satu. Shahinaz membiarkan air dingin menyegarkan wajahnya, mengusir sisa-sisa mimpi buruk yang mengganggu tidurnya. Namun otaknya tidak bisa diajak berpikir jernih, pikirannya terus melayang ke kejadian kemarin.
"Sial, sial, sial!" seru Shahinaz sambil menggeplak kepalanya sendiri.
Menuntaskan mandinya dengan cepat, lalu mencari pakaian yang sekiranya nyaman untuk diajak beraktivitas. Beruntung selera mereka sepertinya sama, dia memilih celana dan kaos oblong untuk menemani harisnya sampai esok tiba.
Dorrr... Dorrr... Dorrr...
Ada orang yang sepertinya menggedor pintu utama Shahinaz dengan tidak sabaran. Tapi bukankah seharusnya tidak ada yang bisa masuk ke halaman rumahnya lantaran gerbang utamanya sudah dia kunci? Shahinaz bergegas membukanya, tapi bagaimana jika yang datang ke rumahnya sebenarnya adalah debt collector yang siap menagih hutangnya?
Menggigit bawah bibirnya sebelum memutuskan, lalu berdoa dalam hati berharap tidak ada masalah yang datang lebih serius setelah ini!
"Shahinaz, lo udah buat gue panjat gerbang, dan lo juga udah buat gue jadi gembel dari tadi!" serobot Auretheil yang wajahnya sudah memerah menahan emosi.
"Sorry banget, gue baru bangun. Emang kenapa? Ada masalah sampai lo panjat gerbang begitu?" tanya Shahinaz sambil menyibakkan rambutnya yang masih acak-acakan.
"Masalahnya ada di lo Shahinaz. Udah gue chat, gue telepon dari tadi pagi juga, tapi lo nggak jawab-jawab. Gue pikir lo kenapa-napa atau masih marah sama gue soal masalah kemarin, makanya gue cepet-cepet datang ke sini buat klarifikasi," jelas Auretheil dengan nafas yang kembang kempis, "Dan lo tau? Gue udah nunggu lo dari sejam yang lalu, gue pikir lo pingsan atau mati suri tadi!"
Shahinaz merasa tertegun mendengar penjelasan Auretheil. Padahal dia sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan jika bunga-bunga yang dihancurkan mereka tidak diberi ganti rugi, Shahinaz hanya emosi dan bingung dibagian caranya membersihkan kekacauan itu. Dia mengusir para pengrusug juga lantaran tidak ingin terlalu jauh terlibat oleh konflik.
"Gue mau tanya, hidup gue sebelumnya nggak terlalu impulsif kan? Atau ada sesuatu yang pernah gue buat, sampai lo takut begini. Kayaknya lo khawatir banget sama gue." pasti ada yang tidak beres dengan tokoh Shahinaz sebelum diisi olehnya bukan? Melihat Auretheil sampai nekat panjang gerbang saja, dia sudah yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Auretheil paham satu hal sekarang, sahabat masa kecilnya seolah tidak mengenali hidupnya sendiri. Bagaimana dia bisa melupakan tragedi hebat yang pernah menimpa gadis itu? Auretheil meraih pergelangan tangan kiri Shahinaz, lalu menunjukkannya tepat di depan mata Shahinaz sendiri dengan penuh emosinya.
"Lo lupa sama ini? Lo lupa bagaimana frustasinya lo kehilangan kedua orang tua lo secara bersamaan, sampai akhirnya lo berpikir untuk mengakhiri diri lo sendiri?" tanya Auretheil dengan nada tinggi.
Shahinaz menundukkan kepalanya. Benar ada bekas sayatan yang sudah hampir hilang di area sekitar nadi tangan kirinya. Tapi kenapa bisa Shahinaz dalam novel bisa senekat itu? Sefrustasi apapun dirinya hidup sebatang kara saat dikehidupannya dulu, dia tidak pernah ada niatan untuk bunuh diri. Paling mentok, dia hanya menyalahkan takdir buruknya sambil menjedot-jedotkan kepalanya ke dinding. Itu saja, tidak lebih!
"Gue tau lo pasti sakit ditinggal sendirian sama keluarga lo di dunia ini. Tapi lo nggak bener-bener sendiri Sha, ada gue, ada orang tua gue, ada seluruh keluarga gue yang siap menerima lo kapan aja," kata Auretheil sambil menitikkan air matanya, "Dari selepas orang tua lo pergi, Ayah gue juga sering nawarin diri buat jadi pengganti orang tua lo kan? Dan lo selalu nolak Sha, lo nggak mau diadopsi oleh siapapun."
Shahinaz berdehem untuk menetralkan detak jantungnya. Jujur, tidak ada ingatan pemilik tubuh yang mengarahkan pada tindakan mengakhiri dirinya sendiri. Sejauh dia memusatkan pikirannya, semuanya hanya berpusat pada orang tuanya yang meninggal, dia hidup sebatang kara, lalu fokus dengan kehidupannya mengurus toko. Kalau soal menyayat nadi? Itu sepertinya tidak ada di dalam ingatannya.
"Gue cuma takut lo ngelakuin hal nekat kayak dulu Sha, makanya gue cepet-cepet dateng ke sini. Lo udah gue anggap kayak keluarga sendiri Sha, lo berarti banget buat gue." lanjut Auretheil yang membuat Shahinaz semakin dilanda rasa bersalah. Padahal bukan dia pelaku yang sebenarnya.
"Gu... Gue..." Shahinaz jadi tergagap di tempat tidak tau harus menjawab apa.
Atau karena Shahinaz yang terlalu membawa banyak beban ingatan, makanya ada ingatan yang perlahan-lahan mulai menghilang dari otaknya, termasuk kehilangan ingatan soal kejadian fatal itu. Dia jadi menggigiti kukunya dengan rasa khawatir yang berlebih.
"Ngelihat reaksi lo sekarang, gua akhirnya paham, lo beneran lupa sama diri lo sendiri kan? Semenjak kena lemparan bola basket, lo juga makin aneh, lo juga kayak berubah jadi orang lain," tanya Auretheil sambil mengetuk dagunya setengah berpikir, "Jadi, ayo ke rumah sakit. Gue nggak mau lo kenapa-napa, seenggaknya hingga gue tau otak lo masih baik-baik aja."
Shahinaz bertambah menjadi gugup, "Harus banget gue ke rumah sakit? Gue udah nggak apa-apa loh."
Auretheil memandang Shahinaz dengan penuh kekhawatiran. "Lo masih merasa bingung, kan? Gue paham kalau lo mungkin ngerasa baik-baik aja, tapi itu bukan alasan buat nganggap remeh kondisi lo juga. Kadang, kita nggak sadar kalau ada sesuatu yang salah dengan tubuh kita."
Shahinaz menggigit bibir bawahnya, matanya penuh keraguan, "Tapi... gue takut kalau nanti ke rumah sakit, semuanya malah jadi lebih rumit. Gue cuma... nggak pengen orang-orang tau tentang masalah ini. You know, gue cuma pengin dianggap normal aja."
"Lo nggak perlu khawatir soal orang lain, Sha. Yang penting sekarang adalah kesehatan lo. Gue yakin rumah sakit bisa bantu lo untuk tau apa yang sebenarnya terjadi." jawab Auretheil dengan penuh keyakinan.
Shahinaz menatap bekas luka di tangannya lagi. Kenangan tentang kehilangan dan kemarahan yang mungkin memicu tindakan itu membuatnya semakin gelisah. Dia heran, kenapa dia tidak mendapatkan ingatan yang satu itu juga? Apa karena kejadiannya sudah cukup lama, mengingat bekas sayatan itu sudah benar-benar hampir hilang?
Shahinaz menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab, "Oke, gue akan ikut lo ke rumah sakit. Tapi kalau ternyata hasilnya normal, lo harus janji jangan terlalu khawatirin gue lagi. Gue juga janji, gue nggak akan ngelakuin hal nekat dengan niatan mau menyakiti diri sendiri."
Auretheil mengangguk, "Tentu aja, yang penting kita pastikan lo baik-baik aja dulu. Kalau hasilnya emang lo normal, sesuai janji, gue nggak akan khawatirin lo secara berlebihan lagi."
"Oke, deal."
Dengan hati yang penuh keraguan dan rasa cemas, Shahinaz akhirnya mengikuti Auretheil keluar dari rumah menuju mobil gadis itu. Perjalanan ke rumah sakit terasa panjang dan penuh ketegangan, tetapi Shahinaz tahu ini adalah langkah benar yang harus diambil. Dia juga penasaran, kenapa ingatan yang diberikan kepadanya tidak terlalu sempurna?
"Pasti kita dulu dekat banget ya, makanya lo terlalu prioritasin gue di atas kepentingan lo sendiri." kata Shahinaz membuka pembicaraan.
"Dari sini aja gue tau, kalau ingatan lo bermasalah. Seberapa banyak sih, lo mengkonsumsi obat penenang? Masih sesuai sama yang dianjurkan oleh dokter kan?" tanya Auretheil dengan tatapan matanya yang fokus ke arah kemudi.
Shahinaz terdiam bungkam lagi. Terlalu banyak fakta menohok, padahal dia pikir pendiamnya Shahinaz dalam novel bukan karena ada sebab-akibat dan murni karena dia tipikal anak penyendiri. Mungkin karena obat anti-depresan yang dikonsumsi terlalu berlebihan, membuat memori yang diberikan Shahinaz novel cukup terbatas. Sisanya mungkin memori itu sudah pudar, hilang karena dosis obat yang terlalu tinggi.
"Ternyata hidup gue rumit juga ya." kata Shahinaz sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dia juga jadi bingung dengan yang terjadi kepada dirinya sendiri sekarang.
Auretheil menganggukkan kepalanya, "Lo mungkin lupa kita bisa dekat karena apa. Tapi kalau bukan karena lo, gue mungkin udah nggak ada di dunia ini. Kalaupun gue masih ada, gue mungkin nggak bisa hidup dengan bebas dan gue mungkin berada di antara hidup dan mati sekarang."
Otaknya jadi berputar ke masa lalu, tepat dimana Shahinaz menyelamatkannya dari tebing ketika sekolah mereka sedang melakukan piknik bersama. Saat itu umur mereka 10 tahun, banyak anak yang menindasnya karena postur badannya yang terlalu gempal dan berisi.
Hanya Shahinaz yang sejak awal bertemu mau berteman dengannya. Padahal gadis itu memiliki banyak teman, apalagi dengan ciri khasnya yang selalu melemparkan senyum keramahan dan terkesan periang. Namun, Shahinaz lebih memilih dirinya dibandingkan yang lain, dan itu sudah jelas membuat mereka iri dan dendam secara bersamaan.
Hingga piknik bersama sekolah di area bukit itu menjadi bumerang untuknya sendiri, banyak anak yang sudah merencanakan kejahatan, hingga ada yang berniat mendorongnya dengan harapan Auretheil bisa menggelinding untuk ditertawakan.
Naasnya posisi mereka tidak di tempat yang seharusnya, sehingga bukannya menggelinding, Auretheil justru tergelincir dan hampir jatuh ke tepi jurang jika tidak ada yang gesit menangkapnya.
Shahinaz yang berbadan kecil saat itu, mau menahannya sampai ada pihak guru yang datang untuk menolongnya.
"Gue hutang satu nyawa dan satu kebahagiaan yang nggak pernah gue lupain Sha. Lo mungkin lupa, tapi gue nggak akan ngelupain kebaikan yang lo berikan sama gue sampai kapanpun." kata Auretheil sambil tersenyum tipis.
Shahinaz menatap Auretheil dengan mata penuh rasa kekaguman. Memori yang Auretheil ceritakan menggugah perasaannya, menambah beban emosi yang tiba-tiba ada di dalam hatinya. Pasti berat hidup dicemooh orang, padahal gemuk tidaknya seseorang harusnya bukan menjadi patokan untuk berteman bukan?
"Gue... Ingatan gue cuma samar, gue juga nggak inget detailnya secara pasti." ujar Shahinaz agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih, "Gue nggak tau kalau gue pernah melakukan sesuatu yang begitu berarti buat lo."
Auretheil menoleh sejenak, senyumnya mengembang meskipun masih ada kekhawatiran di matanya. "Gue paham kalau ingatan lo mungkin nggak lengkap. Yang penting, lo sekarang tau seberapa berarti lo buat gue. Dan kalau gue bisa ngebantu lo, itu adalah hal wajib yang gue harus lakukan."
"Ngelihat lo yang sekarang, pasti berat banget sama perjuangan yang udah lo lalui." kata Shahinaz lagi.
"Nggak juga, karena ada dukungan keluarga dan lo secara nggak langsung, beban yang gue perjuangkan selama ini menjadi ringan."
Percakapan berhenti, karena mereka sudah tiba di rumah sakit. Shahinaz menjalani serangkaian tes, merasakan campuran perasaan antara kecemasan dan juga penasaran lebih lanjut tentu saja. Selama menunggu hasil, dia juga duduk di ruang tunggu dengan Auretheil di sampingnya, sambil mencoba merenung tentang banyak hal yang sudah terjadi sambil mengamati pergelangan tangan kirinya.
"Sha, terlepas dari apa hasil tes nanti, gue mau lo tau satu hal. Apapun yang terjadi, gue akan selalu ada untuk lo. Kita bakal hadapi ini bersama-sama." kata Auretheil dengan penuh keyakinan.
Shahinaz menganggukkan kepalanya, "Gue nggak tau apa yang bakal terjadi nanti, tapi setidaknya gue merasa lebih baik karena lo ada di sini."
Beberapa saat kemudian, dokter datang dengan hasil tes di tangan, "Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada masalah fisik yang signifikan. Namun, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ada indikasi bahwa mungkin ada gangguan memori atau trauma yang perlu ditangani lebih lanjut."
Shahinaz menghela napas panjang. "Jadi, apa langkah selanjutnya, Dokter?"
"Saya tetap akan merekomendasikan sesi terapi dengan seorang psikolog. Ini penting untuk mengatasi kemungkinan trauma dan masalah memori yang mungkin anda alami. Selain itu, jika anda merasa perlu, anda bisa mendiskusikan penggunaan obat dengan psikiater lagi untuk menyesuaikan dosis dan jenis obat yang anda konsumsi." jelas dokter.
Hidupnya yang sekarang sepertinya terlalu komplek. Tapi untuk menyakinkan Auretheil di sampingnya, dia menganggukkan kepalanya setuju-setuju saja. Meski, dia harusnya tidak perlu psikolog atau psikiater bukan?
Shahinaz yang sekarang terlampau waras. Dia ingin menikmati hidupnya untuk memuaskan hidup yang sebelumnya tidak pernah bisa ia jangkau. Kalaupun dia merasa dunia tidak adil, Shahinaz tidak akan melakukan hal impulsif seperti mengakhiri hidupnya sendiri.
Karena, hidup ini penuh petualangan dan dia belum mencoba semuanya!