NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Suara yang Tertukar

Langkah kaki Arlan bergema di lorong apartemen Sektor Tujuh, namun bunyinya tidak berasal dari lantai beton di bawah sepatunya. Suara ketukan itu justru terdengar jatuh dari langit-langit, menciptakan distorsi arah yang membuat telinganya berdenging. Arlan berhenti sejenak, menatap telapak tangannya yang masih meninggalkan noda hitam bubuk karbon sisa konfrontasi di kantor logistik tadi siang. Noda itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata saat ini, sebuah bukti biometrik bahwa ia masih memiliki tekstur di dunia yang mulai licin.

Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang mendadak beraroma ozon tajam, seperti bau sisa petir yang terperangkap di ruang sempit. Pintu unit apartemennya berdiri membisu di hadapannya.

"Kau pulang terlambat, Arlan. Makan malam sudah mendingin dua kali," sebuah suara menyambutnya saat pintu terbuka.

Arlan membeku di ambang pintu. Suara itu bukan milik ibunya. Itu adalah suara bariton yang dalam, sedikit parau di ujung kalimat, dengan intonasi yang sangat akrab di telinganya selama belasan tahun. Itu adalah suara ayahnya.

"Ibu?" Arlan melangkah masuk, matanya mencari sosok di balik meja makan.

Ibu sedang duduk membelakangi pintu, kepalanya tertunduk menatap piring kosong. Bahunya tidak bergerak, tidak ada naik-turun napas yang alami. Arlan teringat bagaimana ayahnya dulu selalu duduk di kursi yang sama setiap kali ingin membicarakan masalah serius tentang pengiriman barang kurir yang hilang.

"Ibu tidak ada di sini, Arlan. Hanya ada kita, dan rahasia yang kau simpan di dalam tasmu itu," suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, berasal tepat dari mulut ibunya, namun getarannya adalah milik sang ayah.

"Hentikan ini. Siapa kau?" Arlan mengepalkan tangan, koin perak di sakunya mulai terasa sangat dingin, menyerap panas dari paha kirinya.

"Kenapa kau bertanya begitu pada ayahmu sendiri? Bukankah kau baru saja memulihkan fotoku dari botol biru yang kau temukan di got itu?" Sosok itu menoleh perlahan. Wajahnya adalah wajah ibu, dengan tahi lalat yang masih berada di posisi yang salah, namun tatapan matanya kosong seolah hanya ada lubang hitam di sana.

"Ayah sudah meninggal tahun dua ribu dua belas. Kau hanya salinan yang gagal menjaga frekuensi," Arlan mundur, punggungnya menempel pada pintu yang baru saja ia tutup.

"Meninggal? Kami tidak mengenal istilah itu, Nak. Kami hanya dipindahkan ke frekuensi yang lebih efisien. Kemarilah, Arlan. Berikan tanganmu. Aku ingin merasakan sidik jari yang kau banggakan itu," ibu berdiri, namun suaranya tetap konsisten menggunakan nada bariton ayah yang lembut namun manipulatif.

"Jangan berani-berani kau menyentuhku dengan suara itu!" teriak Arlan. Suaranya memantul di dinding, namun gema itu mati sebelum mencapai sudut ruangan. Hampa akustik mulai menyelimuti unit apartemen itu.

"Suara ini adalah memorimu, Arlan. Bukankah kau sangat merindukannya? Kau bahkan sering memutar rekaman video lama di ponselmu hanya untuk mendengar aku tertawa," ibu melangkah mendekat. Gerakannya sangat simetris, kaki kiri dan kanan melangkah dengan durasi detik yang persis sama.

"Kau mencuri data privasiku. Kalian para Eraser benar-benar tidak punya martabat," Arlan merogoh saku tas kurirnya, mencari alat perekam digital yang biasa ia gunakan untuk mencatat manifestasi barang hilang.

"Martabat adalah beban bagi mereka yang takut dihapus. Bergabunglah dengan kami, Arlan. Jadilah bagian dari surga tanpa duka. Kau tidak perlu lagi merasa kesepian di tengah keramaian kantor yang tanpa sidik jari itu."

"Surga kalian adalah kuburan bagi identitas. Aku lebih memilih berduka daripada harus hidup sebagai salinan tanpa jiwa sepertimu," Arlan menghidupkan alat perekamnya, jari-jarinya bergerak cepat di atas layar sentuh.

"Kau keras kepala, persis seperti Arlan yang asli. Tapi Arlan yang asli sudah terjebak di dalam frekuensi dua puluh titik dua belas megahertz. Dia memanggilmu setiap malam lewat statik radio, bukan?"

Arlan tersentak. Bagaimana sosok ini tahu tentang sinyal radio hitam yang sering ia dengar? "Apa yang kalian lakukan padanya?"

"Kami hanya menyalin bagian terbaik darinya. Dan sekarang, giliranmu untuk disinkronkan. Suara ini hanya permulaan. Sebentar lagi, kau tidak akan bisa membedakan mana detak jantungmu dan mana detak jantung sistem."

Ibu—atau entitas yang memakai suara ayahnya itu—kini hanya berjarak dua meter. Suhu di ruangan itu jatuh drastis. Arlan bisa melihat uap napasnya sendiri keluar secara manual, sementara ibu tetap tidak mengeluarkan uap apa pun meski mulutnya terus terbuka mengeluarkan suara ayah.

"Dengarkan frekuensi ini, Arlan. Bantu aku keluar dari botol itu. Bantu aku, Nak..." Suara itu kini berubah menjadi isakan lirih yang sangat memilukan, nada yang sama yang didengar Arlan saat ayahnya terjebak dalam kebakaran tahun dua ribu dua belas.

"Cukup!" Arlan menekan tombol 'Play' pada alat perekamnya dengan pengaturan inversi fase maksimal.

Sebuah bunyi dengung frekuensi tinggi meledak dari pengeras suara kecil alat tersebut. Bunyi itu bukan suara musik, melainkan gelombang destruktif yang dirancang untuk membatalkan frekuensi suara palsu di ruangan yang mengalami distorsi audio.

"Apa... apa yang kau lakukan?" Suara ayah mendadak pecah menjadi suara statis radio yang tajam.

Ibu berhenti melangkah. Tubuhnya mulai bergetar hebat, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Mulutnya menganga lebar, namun yang keluar bukan lagi kata-kata, melainkan derit logam yang bergesekan dengan kaca.

"Ini adalah solusi ketiga, Peniru. Jika kau tidak bisa berhenti mencuri suara orang mati, aku akan memberikan frekuensi yang akan membungkam sistemmu!" Arlan menaikkan volume perekamnya.

"Sakit... Arlan... hentikan... statik ini... menghapusku..." Suara ayah terdengar tumpang tindih dengan lengkingan frekuensi tinggi, menciptakan harmoni yang mengerikan.

Bau ozon semakin tajam hingga menusuk hidung Arlan. Ia melihat percikan listrik kecil muncul di udara di sekitar kepala ibunya, tanda bahwa sinkronisasi audio lingkungan sedang mengalami kegagalan total. Cahaya di ruangan itu mulai berkedip antara hijau-kebiruan dan kelabu gelap.

"Kau bukan ayahku. Kau hanya residu yang gagal!" Arlan berteriak di tengah kebisingan itu, air mata kemarahan mulai menggenang di matanya.

"Kami... akan... menemukanmu... di sektor... berikutnya..." Suara itu akhirnya lenyap, digantikan oleh suara ibu yang asli yang terdengar sangat lemah dan parau.

"Arlan? Kenapa telingaku sakit sekali?" Ibu terjatuh berlutut, memegangi kepalanya. Matanya mulai berkedip normal kembali, namun ketakutan di sana terasa sangat nyata.

Arlan segera mematikan alat perekamnya. Keheningan yang menyakitkan kembali menguasai ruangan. Ia mendekati ibunya, namun tangannya tertahan di udara. Ia tidak tahu apakah yang ada di depannya sekarang adalah ibunya yang asli yang baru saja sadar dari pengaruh frekuensi, atau sekadar taktik penyamaran berikutnya yang lebih canggih.

"Ibu? Kau benar-benar Ibu?" tanya Arlan dengan suara bergetar.

"Tentu saja ini ibu, Arlan. Kenapa kau menyalakan suara bising itu? Rasanya seperti ada ribuan jarum yang masuk ke otakku," ibu menatapnya dengan pandangan nanar.

Arlan melihat ke arah radio di sudut ruangan. Lampu indikatornya masih menyala di frekuensi 20.12 MHz, mengeluarkan desis halus yang terdengar seperti bisikan nama ayahnya yang memudar. Ia menyadari bahwa rumah ini sudah tidak aman lagi. Dinding-dinding apartemen ini telah menjadi mikrofon bagi para Eraser.

"Kita harus pergi dari sini, Bu. Sekarang juga," ucap Arlan tegas.

"Pergi? Ke mana? Ini rumah kita, Arlan. Ayahmu baru saja bicara padaku tadi, dia bilang dia akan pulang sebentar lagi," kata ibu dengan senyum yang dipaksakan.

Arlan memejamkan mata, merasakan Dilema Martabat yang merobek batinnya. Ibunya telah terinfeksi oleh harapan palsu yang disuntikkan lewat suara mendiang suaminya. Jika ia membawa ibunya pergi, ia mungkin membahayakan nyawa mereka berdua. Jika ia meninggalkannya, ia akan membiarkan ibunya menjadi wadah permanen bagi para Peniru.

"Ayah tidak akan pulang, Bu. Itu hanya gema yang salah arah. Ikut aku, atau kita berdua akan terhapus selamanya dari dunia ini."

Ibu menatap Arlan dengan sorot mata yang perlahan meredup, seolah cahaya di dalam jiwanya sedang disedot oleh lubang hitam yang tak terlihat. Ia mencoba berdiri, namun kakinya gemetar dan ia kembali terduduk di kursi makan. Suasana di dalam rumah itu kini terasa sangat berat, seakan-akan gravitasi telah berlipat ganda dan menekan setiap inci kulit Arlan.

"Kenapa kau bicara begitu jahat tentang ayahmu, Arlan? Dia ada di sana, di balik radio itu, menungguku memberikan koordinatmu," bisik ibu, suaranya kembali normal namun nadanya terdengar seperti kaset yang diputar terlalu lambat.

"Koordinat apa, Bu? Apa yang sebenarnya mereka minta darimu?" Arlan mendekat, tangannya masih menggenggam alat perekam digital seolah itu adalah senjata pelindung.

"Mereka bilang... kau membawa beban yang tidak seharusnya dibawa oleh manusia. Mereka bilang, jika aku memberikan koin perak yang kau simpan, mereka akan mengembalikan ayahmu secara utuh. Bukan sekadar suara, Arlan. Tapi tubuhnya, hangatnya, dan senyumnya."

Arlan merasakan jantungnya seolah diremas. Dilema martabat menghantamnya dengan telak. Di satu sisi, ia sangat merindukan sosok ayah yang tewas dalam kebakaran gedung tahun dua ribu dua belas itu; di sisi lain, ia tahu bahwa koin di sakunya adalah satu-satunya benteng terakhir melawan penghapusan realitas.

"Itu bohong, Bu. Mereka tidak bisa mengembalikan siapa pun. Mereka hanya menyalin kulit dan suara, tapi mereka tidak bisa menyalin rasa sayang Ayah padaku. Jika Ayah masih hidup, dia tidak akan pernah memintaku menyerahkan memori ini pada mereka," tegas Arlan, suaranya parau menahan tangis.

"Tapi suara itu... suara itu begitu nyata, Nak. Rasanya seperti dia berdiri tepat di belakangku, membisikkan resep masakan yang sering kita buat dulu."

"Itu hanya audit audio, Bu. Mereka mencuri fragmen memori dari botol biru yang aku temukan di basement sektor tujuh kemarin. Mereka menggunakan sejarah kita untuk menghancurkan masa depan kita."

Tiba-tiba, lampu di ruang tengah padam. Keheningan yang sangat pekat—hampa akustik—kembali menyelimuti mereka. Di tengah kegelapan, indikator frekuensi pada radio tua itu menyala dengan warna hijau merkuri yang menyakitkan mata. Arlan melihat bayangan ibunya di cermin lemari es; bayangan itu tidak bergerak mengikuti gerakan ibu yang sedang menangis, melainkan berdiri tegak dengan posisi tangan yang siap menerkam.

"Arlan, lari..." bisik ibu, kali ini dengan kesadaran penuh yang murni. "Sesuatu... sesuatu sedang masuk melalui kabel telepon."

Arlan melihat kabel telepon di dinding mulai bergetar hebat, mengeluarkan cairan perak kental yang berbau seperti oli mesin busuk. Cairan itu mulai merayap di lantai, membentuk pola-pola geometris yang rumit, seolah sedang memetakan posisi Arlan secara presisi.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Bu!" Arlan meraih lengan ibunya, mencoba menariknya berdiri.

"Kau harus pergi! Jika mereka mendapatkan koin itu, semua orang yang ada di dalam foto lama itu akan benar-benar terhapus. Pergi ke lobi, temukan satpam yang asli. Cari dia!" Ibu mendorong Arlan dengan kekuatan yang tidak terduga.

"Tapi siapa yang akan menjagamu?"

"Aku sudah lama mati, Arlan. Sejak api tahun dua ribu dua belas itu, aku hanya salinan yang mencoba bertahan demi melihatmu tumbuh. Sekarang, jadilah manusia yang nyata. Jangan biarkan mereka memilikimu!"

Arlan tertegun. Kata-kata ibunya barusan adalah pengakuan yang paling menyakitkan. Apakah selama ini ia tinggal bersama salinan yang memiliki kesadaran, atau ibunya yang asli yang perlahan mulai kehilangan kemanusiaannya? Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara statis radio meledak kembali, kali ini dengan volume yang mampu memecahkan gelas-gelas di atas meja.

"SINKRONISASI GAGAL. UNIT ANOMALI TERDETEKSI," sebuah suara mekanis keluar dari speaker radio, bukan lagi suara ayah, melainkan suara ribuan orang yang berbicara bersamaan.

Arlan tidak punya pilihan lagi. Ia menyambar tas kurirnya, menatap ibunya untuk terakhir kali di bawah cahaya hijau merkuri yang berkedip. Ibunya tersenyum kecil—sebuah senyum yang memiliki tekstur emosi asli, sebuah martabat yang tidak bisa disalin oleh mesin mana pun.

"Aku akan kembali untukmu, Bu. Aku janji," bisik Arlan.

Ia berbalik dan berlari menuju pintu keluar. Saat ia menginjakkan kaki di lorong apartemen, ia merasa dunia seolah miring. Suhu di lorong itu melonjak panas secara mendadak, kontras dengan kedinginan di dalam rumah tadi. Arlan berlari menyusuri tangga darurat, menghindari lift yang ia tahu telah menjadi jebakan frekuensi.

Setiap kali sepatunya menghantam anak tangga, suara langkahnya terdengar tertunda satu detik—sebuah lag frekuensi yang menandakan bahwa keberadaannya sedang diproses oleh sistem penghapusan distrik. Ia terus berlari hingga mencapai lobi bawah.

Lobi itu tampak sunyi, namun Arlan melihat satpam yang biasanya berjaga kini berdiri mematung di sudut, menatap langit-langit dengan mata yang mengeluarkan cairan perak. Arlan teringat koin perak kedua yang ia temukan di saku baju satpam asli; ia meraba sakunya dan merasakan getaran koin itu semakin kuat, seolah sedang berkomunikasi dengan sesuatu di luar sana.

"Dante, kau mendengarku? Aku keluar dari rumah. Mereka menggunakan suara ayahku," Arlan bicara pada alat komunikasinya sambil terus berlari menuju pintu keluar gedung.

"Arlan... segera menjauh... sektor tujuh sedang mengalami... pergeseran topografi... jangan percaya pada jalan yang kau lihat..." suara Dante muncul di tengah bising statik.

Arlan berhenti di depan gerbang apartemen. Ia melihat ke arah jalanan yang biasanya lurus menuju kantor logistik. Namun pagi yang seharusnya datang dengan cahaya fajar kini tampak kelabu datar. Nama jalan di papan penunjuk arah mendadak berubah menjadi rangkaian angka acak yang terus berganti.

"Duniaku sedang dihapus," bisik Arlan dengan napas manual yang memburu.

Ia menoleh ke belakang, ke arah jendela apartemennya di lantai empat. Di sana, ia melihat bayangan ibunya melambai pelan, sebelum perlahan-lapan seluruh bangunan apartemen itu tampak memudar, kehilangan saturasi warnanya, dan berubah menjadi sketsa pensil yang buram.

Arlan mengepalkan tangannya, merasakan perih di telapak tangannya karena noda bubuk karbon yang mengering. Ia harus tetap bergerak. Ia tidak boleh membiarkan disorientasi ruang ini menelannya. Dengan navigasi bintang manual yang samar terlihat di langit perak, ia mulai melangkah menuju zona yang belum terpetakan oleh para Peniru.

"Aku masih bernapas. Aku masih berdarah. Dan aku masih memiliki sidik jari," gumamnya sebagai mantra pelindung batin.

Di kejauhan, lampu jalan mulai menyala dengan warna hijau-kebiruan yang asing, menandakan bahwa pengepungan terhadap anomali bernama Arlan telah dimulai secara makro. Arlan menghilang di balik tikungan jalan yang mulai bergeser, membawa duka suara ayahnya sebagai bahan bakar untuk perlawanan yang lebih besar.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!