NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:48
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sesampainya di Mall. Nadia dan Zane langsung masuk ke dalam. Mall itu dipenuhi cahaya terang dan etalase berkilau. Nadia berjalan beberapa langkah di belakang Zane. Zane melangkah pasti dari satu toko ke toko lain, menunjuk tanpa ragu, memberi instruksi singkat kepada pramuniaga yang langsung sigap melayani.

“Yang itu,” katanya, menunjuk deretan dress. “Ambil semua warna yang netral.”

“Rok span ini juga,” lanjutnya. “Celana kerja, dua potong. Ukurannya pas.”

Nadia hanya berdiri mematung. Tangannya sibuk meremas ujung tas lusuhnya, sementara satu per satu kantong belanja bertambah. Sepatu kerja, tas tangan, bahkan peralatan make-up...foundation, lipstik, maskara...semuanya diborong tanpa jeda. Angka di mesin kasir berderet panjang, fantastis untuk ukuran hidup Nadia.

“Pak, ini kebanyakan,” ucap Nadia lirih, nyaris tak terdengar. “Saya nggak enak…”

Zane menoleh sekilas, tatapannya dingin.

“Diam,” katanya singkat. “Kamu mau kerja denganku atau tidak?”

Nadia menunduk. Kata-kata itu cukup untuk mematikan sisa keberaniannya.

Saat mereka melangkah keluar toko, Zane kembali bersuara, suaranya rendah namun menusuk.

“Aku tidak suka perempuan yang tidak bisa merawat diri,” katanya tanpa menoleh. “Penampilan itu cermin.”

Nadia menelan ludah.“Jujur saja,” lanjut Zane, langkahnya tak melambat, “aku bisa sakit mata kalau harus melihat perempuan jelek. Apalagi yang datang ke kantor dengan tampilan seadanya… seperti kamu tadi.”

Kata-kata itu terasa seperti tamparan. Pipi Nadia memanas, matanya perih, tapi ia menahan diri. Ia memilih menunduj.

“Jangan salah paham,” sambung Zane, seolah memberi pembenaran. “Ini demi profesionalitas. Aku tidak mau reputasiku tercoreng hanya karena asisten pesuruh yang tak tahu cara berdandan.”

Nadia mengangguk kecil.“Iya,” jawabnya pelan.

Zane mendengus.“Bagus. Ingat satu hal,” katanya, berhenti sejenak dan menatap Nadia lurus-lurus, “hutang itu harus dibayar. Dan selama kamu belum lunas, kamu ikut aturanku.”

Nadia menunduk lebih dalam. Di dadanya, ada rasa perih yang tak bisa ia suarakan...antara malu, terhina, dan terikat. Ia tahu, setiap ejekan yang ia terima hari ini adalah harga yang harus dibayar. Bukan dengan uang, melainkan dengan diam.

Karena bagi Nadia, satu-satunya jalan untuk melunasi hutang itu hanyalah bertahan.

*********

Tak terasa waktu berputar cepat, mungkin sudah setengah hari Zane dan Nadia memutari Mall. Hingga akhirnya Zane mengajak Nadia untuk mampir ke sebuah restoran.

Restoran itu berdiri anggun dengan lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya hangat ke meja-meja berlapis taplak putih bersih.

Musik klasik mengalun pelan, menambah kesan eksklusif yang membuat langkah Nadia terasa semakin kikuk saat mengikuti Zane masuk.

Pelayan menarikkan kursi untuk mereka. Nadia duduk dengan punggung kaku, matanya menatap susunan alat makan di atas meja—garpu, pisau, sendok—tersusun rapi dalam jumlah yang membuat kepalanya pening.

Yang mana dulu? batinnya panik.

Zane duduk santai di seberangnya, membuka serbet dan meletakkannya di pangkuan dengan gerakan yang begitu natural, seolah dunia ini memang diciptakan untuknya.

Saat hidangan datang, Nadia menelan ludah. Ia mengambil garpu dengan ragu, lalu pisau, gerakannya canggung. Potongan daging di piringnya terasa seperti musuh yang sulit ditaklukkan. Garpu dan pisau itu beradu pelan, tak selaras dengan gerakan anggun orang-orang di sekelilingnya.

Zane memperhatikannya beberapa detik, lalu terkekeh kecil...bukan tawa ramah, melainkan ejekan.“Kamu serius?” ucapnya ketus. “Itu garpu, bukan sendok nasi.”

Nadia tersentak.“Saya… jarang makan di tempat seperti ini,” katanya.

“Kelihatan,” sahut Zane dingin. “Cara kamu pegang pisau saja sudah salah.”

Nadia menunduk, mencoba memperbaiki posisinya, tapi tangannya justru semakin gemetar.

Zane menggeleng pelan.“Aku benar-benar tidak habis pikir,” katanya sambil memotong makanannya dengan rapi. “Perempuan, tapi tidak tahu cara makan yang anggun. Tidak tahu tata krama di meja makan.”

Setiap kata terasa seperti jarum.

“Di dunia yang aku tinggali,” lanjut Zane, “hal-hal kecil seperti ini menentukan kelas seseorang.”

Nadia terdiam. Ia menelan suapan kecil, nyaris tak merasakan apa pun selain rasa pahit yang mengendap di dada.

“Saya minta maaf,” ucapnya pelan.

Zane mendengus.“Maaf tidak mengubah apa-apa,” katanya. “Kalau kamu mau bertahan di sekitarku...di lingkungan Pradikta...kamu harus belajar. Jangan mempermalukanku.”

Nadia mengangguk kecil, matanya menatap piring. Nafsu makannya hilang sepenuhnya.

Di tengah restoran mewah itu, dengan sendok dan garpu yang terasa asing di tangannya, Nadia merasa semakin jelas... bukan hanya pekerjaannya yang berubah. Hidupnya sedang di paksa menyesuaikan diri dengan dunia yang kejam, dunia yang tak memberinya ruang untuk salah, apalagi lemah.

Setelah beberapa menit, Zane selesai makan. Laki-laki itu meletakkan alat makannya dengan gerakan tegas, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya kembali tertuju pada Nadia...tajam, menekan, seolah mencari celah untuk kembali menusuk.

“Dengar baik-baik,” ucapnya datar. “Besok kamu datang ke kantor pakai semua barang yang aku belikan.”

Nadia mengangkat wajahnya perlahan.

“Semua…?” tanyanya ragu.

“Iya. Baju, sepatu, tas,” jawab Zane singkat. “Dan pastinya wajahmu harus dipoles dengan make-up.”

Nadia tercekat. Jemarinya refleks saling menggenggam di bawah meja.“Saya… saya bisa sedikit,” katanya pelan, lebih mirip pengakuan daripada jawaban.

Zane menyipitkan mata."Kau bisa make-up, kan?” tekanannya terasa jelas. “Jangan bilang kau tidak bisa.”

Nadia menelan ludah.

“Aku akan sangat, sangat merasa aneh,” lanjut Zane dengan nada sinis, “kalau tahu kamu tidak bisa merias wajahmu sendiri.”Ia terkekeh kecil, lalu melontarkan kalimat berikutnya tanpa ampun.“Itu keterlaluan untuk seorang perempuan.”

Kata-kata itu membuat dada Nadia terasa nyeri. Namun, lagi-lagi Nadia hanya bisa diam dan menunduk.

“Saya akan berusaha,” ucapnya lirih.

“Bukan berusaha,” sahut Zane dingin. “Kamu harus bisa.”

Ia berdiri, meraih jasnya, seolah pembicaraan itu sudah selesai.“Aku tidak mau melihat versi Nadia yang kemarin lagi,” tambahnya. “Kalau kamu mau bekerja di bawah namaku, kamu harus terlihat pantas.”

Nadia mengangguk kecil, tak berani membantah.

Saat Zane melangkah pergi lebih dulu, Nadia masih duduk di tempatnya. Restoran mewah itu terasa semakin asing, semakin dingin. Ia menyadari satu hal pahit...di mata Zane, ia bukan manusia dengan perasaan dan keterbatasan, melainkan proyek yang harus dibentuk sesuai standar.

Dan malam itu, ia pulang dengan kantong belanja mahal yang terasa lebih berat dari beban hatinya. Nadia tahu, bukan hanya wajahnya yang sedang di paksa berubah, tetapi seluruh hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!