Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Menggoda
Pagi datang dengan cahaya yang ragu-ragu, seolah tak ingin mengganggu ketenangan yang masih menggantung dari malam sebelumnya. Kia bangun lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di dapur apartemen, menyeduh kopi, membiarkan aroma pahit-manis itu memenuhi ruang kecilnya. Ada rasa ringan yang aneh di dadanya—bukan euforia, bukan juga cemas—melainkan antisipasi yang belum diberi nama.
Teleponnya bergetar.
Pagi. Aku lewat jam makan siang. Boleh?
—Daffa
Kia menatap layar beberapa detik lebih lama dari perlu. Jarinya mengetik balasan singkat.
Boleh.
Sederhana. Tanpa embel-embel. Tapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Siang itu, kota terasa lebih hidup. Kia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, menata ruang tamu tanpa sadar—merapikan bantal, menyeka meja—lalu berhenti, tersenyum pada dirinya sendiri. Ia tidak sedang menunggu janji. Ia hanya membuka pintu untuk kemungkinan.
Ketukan datang tepat pukul dua belas lewat sepuluh. Daffa berdiri di ambang pintu dengan senyum yang tak berlebihan, membawa sekantong kecil makanan. “Aku janji nggak lama,” katanya, setengah bercanda.
“Masuk,” jawab Kia. “Kita lihat nanti.”
Mereka makan siang di meja kecil dekat jendela. Obrolan ringan mengalir—tentang pekerjaan, tentang film yang tertunda ditonton, tentang hujan yang semalam turun tanpa aba-aba. Ada tawa yang muncul alami, ada diam yang tidak kikuk. Sesekali, mata mereka bertemu, lalu berpaling, seolah sama-sama menyadari tarikan yang belum perlu ditarik.
Setelah makan, Daffa membantu membereskan. Tangannya bersentuhan dengan Kia ketika sama-sama meraih piring. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk mengirimkan arus hangat yang membuat Kia menahan napas.
“Maaf,” kata Daffa refleks.
“Tidak apa-apa,” jawab Kia, terlalu cepat.
Mereka tertawa kecil—tawa yang menutupi sesuatu yang lebih besar.
Kia menyalakan musik pelan. Suasana menjadi santai, tapi ketegangan justru semakin terasa. Daffa duduk di sofa, Kia di ujung yang lain. Jaraknya aman. Terlalu aman.
“Kamu berubah,” kata Daffa tiba-tiba, memecah keheningan.
“Semua orang berubah,” jawab Kia. “Kita hanya jarang mengakuinya.”
Daffa mengangguk. “Kamu lebih… hadir. Dulu kamu sering pergi ke dalam kepalamu sendiri.”
Kia tersenyum tipis. “Dan kamu dulu sering pergi sungguhan.”
Kejujuran itu tidak melukai. Justru membuka. Daffa bergeser sedikit mendekat, masih menyisakan ruang. “Aku belajar tinggal,” katanya pelan. “Pelan-pelan.”
Kia menatap tangannya sendiri. “Aku belajar membiarkan.”
Sunyi kembali, kali ini berdenyut. Daffa mengulurkan tangan, ragu, berhenti di udara. Kia mengangkat pandangannya, memberi isyarat kecil dengan anggukan. Jari-jari mereka bertemu. Tidak saling menggenggam. Hanya bersentuhan. Cukup lama untuk menyadari bahwa sentuhan sederhana pun bisa menggoda.
Kia merasakan kehangatan merambat. Bukan hasrat yang meledak, melainkan kesadaran akan tubuhnya sendiri—tentang jarak, tentang napas, tentang pilihan untuk tetap atau mundur. Ia memilih tetap.
Daffa menutup jarak satu inci lagi. Bahunya hampir bersentuhan dengan bahu Kia. “Kalau terlalu cepat, bilang,” katanya, suara rendah.
Kia menghela napas. “Kalau terlalu lambat… aku juga akan bilang.”
Senyum kecil muncul di wajah Daffa. Ia menyentuh punggung tangan Kia dengan ibu jarinya—gerakan ringan, nyaris tak terlihat. Tapi Kia merasakannya. Detaknya meningkat. Ia membalas dengan menautkan jari, sebentar, lalu melepaskan. Permainan tarik-ulur yang tidak disengaja.
Mereka berdiri hampir bersamaan, bergerak ke balkon. Angin siang menyapa, membawa suara kota. Kia bersandar pada pagar. Daffa berdiri di sampingnya, cukup dekat untuk berbagi kehangatan.
“Kamu wangi,” kata Daffa tanpa berpikir panjang, lalu terkekeh kecil. “Maaf, itu terdengar—”
“Jujur,” potong Kia, menoleh. “Aku menghargainya.”
Tatapan mereka mengunci. Daffa mengangkat tangan, menyentuh helai rambut Kia yang terlepas dari ikatan. Ia merapikannya ke belakang telinga—gerakan yang intim, penuh izin. Kia menahan napas, lalu menghembuskannya perlahan.
Sentuhan itu membuka pintu yang selama ini tertutup rapat. Bukan pada tubuh, melainkan pada keberanian untuk merasa. Daffa menurunkan tangannya, memberi ruang. “Aku ingin,” katanya, berhenti sejenak, memilih kata. “Aku ingin dekat. Tapi aku ingin kita tetap aman.”
Kia mengangguk. “Aku juga.”
Ia melangkah setengah langkah mendekat. Daffa tidak mundur. Jarak di antara mereka kini tinggal sehela napas. Kia merasakan kehangatan dada Daffa tanpa menyentuhnya. Ia mengangkat tangan, menyentuh lengan Daffa—mengukur respons. Daffa memejamkan mata sebentar, lalu membuka, menahan diri dengan senyum tipis.
“Begini saja dulu,” katanya.
Kia tersenyum, setuju. Mereka kembali ke dalam. Duduk berdampingan, kali ini tanpa jarak yang disengaja. Bahu bersentuhan. Daffa mengusap punggung Kia, pelan, seperti menenangkan. Kia menyandarkan kepala, merasakan stabilitas yang tidak menekan.
Waktu berjalan lambat. Musik berganti. Cahaya sore meredup. Ada momen ketika Kia menoleh dan bibir mereka hampir bertemu—hampir. Daffa berhenti, memberi pilihan. Kia tidak menciumnya. Ia tertawa kecil, menepuk dada Daffa ringan.
“Jangan sekarang,” katanya. “Aku ingin mengingat hari ini tanpa tergesa.”
Daffa mengangguk, menerima. “Terima kasih.”
Menjelang senja, Daffa bersiap pulang. Di pintu, mereka berdiri berhadapan. Daffa meraih tangan Kia, menautkan jari sebentar—lebih lama dari sebelumnya. “Aku senang hari ini,” katanya.
“Aku juga,” jawab Kia.
Tidak ada ciuman perpisahan. Hanya sentuhan yang menjanjikan. Ketika pintu tertutup, Kia menyandarkan punggungnya, tersenyum kecil. Tubuhnya masih mengingat—bukan pada apa yang terjadi, tetapi pada apa yang ditahan. Dan justru di situlah godaannya.
Malam turun. Kia menulis catatan kecil di ponselnya: Batas bukan penghalang. Batas adalah undangan untuk percaya.
Di kejauhan, kota menyala. Dan Kia tahu, ketegangan ini—yang halus, yang sadar—adalah awal yang ia pilih.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya