NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: PENANGKAPAN

#

Pagi itu aku bangun jam lima.

Gak bisa tidur lebih lama. Terlalu deg-degan.

Kemarin sore Pak Hendra dari KPK telpon Bu Ratna. Dia bilang hari ini, Rabu pagi, mereka akan lakukan penangkapan terhadap H. Bambang sama Pak Julian.

Di sekolah. Saat jam pelajaran. Biar semua orang tau.

Aku udah gak diskors lagi. Kemarin KPK kirim surat resmi ke sekolah. Surat perintah buat cabut diskors kami berlima. Karena kami saksi penting dalam kasus korupsi.

Jadi hari ini aku balik ke sekolah. Pertama kalinya setelah dua minggu diskors.

Jam setengah tujuh aku berangkat. Jalan kaki kayak biasa. Lima kilometer.

Tapi kali ini... rasanya beda.

Gak ada beban. Gak ada takut. Gak ada malu.

Karena aku tau... aku udah lakuin yang bener.

***

Sampai di gerbang sekolah, udah ada kerumunan.

Siswa-siswa pada ngumpul. Bisik-bisik. Ngeliatin sesuatu di depan gedung utama.

Ada tiga mobil hitam parkir di sana. Mobil resmi. Ada tulisan KPK di sampingnya. Ada lampu sirene di atasnya.

Jantungku berdetak cepat.

Ini dia. Ini saatnya.

Aku liat Vanya, Adrian, Arjuna berdiri di bawah pohon. Nareswari belum dateng. Masih istirahat di rumah.

Aku jalan ke arah mereka.

"Kalian udah dari tadi?"

Vanya ngangguk. "Iya. Dari jam enam. Kami gak mau ketinggalan momen ini."

Adrian senyum. "Akhirnya Sat... akhirnya mereka ditangkep."

Arjuna diem. Mukanya serius. Tatapannya kosong.

"Jun... lu kenapa?" tanya aku.

Arjuna geleng pelan. "Gue... gue cuma mikir. Bokap gue juga temen deket H. Bambang. Mungkin bokap gue juga terlibat. Mungkin... mungkin bokap gue juga bakal ditangkep."

Aku gak tau harus ngomong apa. Aku cuma tepuk pundak Arjuna. "Apapun yang terjadi... kita bareng."

Arjuna senyum tipis. "Makasih, Sat."

***

Jam delapan tepat.

Bel masuk berbunyi. Tapi gak ada yang masuk kelas. Semua siswa masih berkumpul di luar. Penasaran.

Pintu gedung utama terbuka.

Keluar enam orang. Pake rompi oranye bertuliskan KPK. Mereka jalan cepat ke gedung B. Gedung tempat ruang yayasan ada.

Di belakang mereka, ada Pak Hendra. Penyidik senior yang kemarin kami temuin.

Siswa-siswa pada bisik-bisik.

"Itu KPK!"

"Mereka mau nangkep siapa?"

"Pasti Pak Bambang sama Pak Julian!"

"Akhirnya! Akhirnya mereka ditangkep!"

Lima menit kemudian, petugas KPK keluar dari gedung B.

Dan di tengah mereka...

H. Bambang sama Pak Julian.

Diborgol.

Tangan mereka dikaitkan borgol besi. Mengkilat kena matahari pagi.

H. Bambang mukanya merah. Marah. Teriak-teriak.

"INI FITNAH! INI REKAYASA! ANAK-ANAK ITU PEMBOHONG! MEREKA YANG BIKIN-BIKIN SEMUA INI!"

Pak Julian juga teriak. "KAMI TIDAK BERSALAH! KAMI AKAN TUNTUT KALIAN SEMUA!"

Tapi petugas KPK gak peduli. Mereka terus jalan. Bawa H. Bambang sama Pak Julian ke mobil.

Siswa-siswa pada ngeliatin. Diem semua. Gak ada yang ngomong.

Cuma suara teriakan H. Bambang yang bergema.

"LEPASKAN SAYA! SAYA KEPALA YAYASAN! SAYA PUNYA HAK! LEPASKAN!"

Petugas KPK masukin H. Bambang ke mobil. Pintu ditutup. Suara teriakannya teredam.

Pak Julian juga dimasukin ke mobil lain.

Di belakang mereka, petugas KPK bawa dus-dus besar. Dus-dus berisi dokumen. Bukti-bukti dari kantor H. Bambang.

"Kami sita semua dokumen ini untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut!" teriak Pak Hendra.

Guru-guru pada diem. Gak ada yang berani ngelawan.

Mobil KPK nyalain sirene.

NGIIIING NGIIIING NGIIIING.

Mobil-mobil itu jalan keluar gerbang sekolah. Pelan. Melewati kerumunan siswa.

Siswa-siswa pada minggir. Buka jalan.

Dan saat mobil udah lewat...

PLOK! PLOK! PLOK!

Tepuk tangan.

Dari satu siswa. Terus yang lain ikut. Terus makin banyak. Sampe semua siswa tepuk tangan.

Keras. Rame. Penuh kelegaan.

"AKHIRNYA!"

"MEREKA DITANGKEP!"

"KEADILAN MENANG!"

Siswa-siswa pada teriak seneng. Pada peluk-pelukan. Pada nangis.

Aku liat semua itu dengan mata berkaca-kaca.

Vanya peluk aku dari samping. Dia nangis. "Sat... kita... kita berhasil..."

Adrian juga peluk kami. Dia nangis. "Gila... gila ini beneran terjadi..."

Arjuna berdiri di sebelah kami. Dia gak nangis. Tapi senyum. Senyum lega.

***

Siswa-siswa mulai mendekat ke kami.

Mereka pada jabat tangan. Pada peluk. Pada bilang terima kasih.

"Terima kasih udah berani!"

"Kalian pahlawan kami!"

"Kalian luar biasa!"

Bahkan beberapa guru juga dateng.

Pak Ahmad. Guru Fisika yang dulu marahin aku. Dia jabat tangan aku sambil nunduk. "Satria... maaf. Maaf pak selama ini diem aja. Pak tau ada yang gak beres. Tapi pak pengecut. Pak gak berani ngomong. Terima kasih... terima kasih udah berani melakukan yang pak gak bisa lakukan."

Bu Sari. Guru Matematika. Dia peluk aku sambil nangis. "Satria... ibu bangga sama kamu. Kamu anak yang sangat berani. Ibu minta maaf gak bisa bantuin kamu lebih banyak."

Guru-guru lain juga pada dateng. Pada minta maaf. Pada bilang terima kasih.

Untuk pertama kalinya... aku ngerasa dihargai di sekolah ini.

Bukan dihina. Bukan dijauhin.

Tapi dihargai.

***

Di tengah kerumunan, Bu Ratna dateng.

Mukanya basah air mata. Dia jalan ke arah kami. Dia peluk kami berlima. Erat banget.

"Kalian... kalian pahlawan tanpa tanda jasa. Kalian... kalian anak-anak yang paling berani yang pernah ibu temui. Ibu bangga. Ibu sangat bangga sama kalian."

Bu Ratna nangis di pelukan kami.

Kami juga nangis. Semua keluar. Semua lega. Semua seneng.

Siswa-siswa di sekeliling kami pada tepuk tangan lagi.

Keras. Rame.

Kami berlima berdiri di tengah lapangan sekolah.

Dikelilingin siswa-siswa. Guru-guru. Orang-orang yang dulu ngehina kami. Tapi sekarang ngasih applaus.

Ini... ini momen yang gak akan pernah aku lupain.

***

Tapi di tengah kebahagiaan itu...

Aku liat sesuatu.

Di ujung lapangan. Di bawah pohon.

Bagas sama Keyla berdiri di sana.

Mukanya... mukanya penuh kebencian.

Mata mereka natap aku. Tajam. Penuh dendam.

Bagas bisik sesuatu ke Keyla. Keyla ngangguk.

Terus mereka jalan mendekat ke aku.

Siswa-siswa pada minggir. Buka jalan.

Bagas berhenti di depan aku. Jarak cuma satu meter.

Dia liat aku dari atas ke bawah. Dengan tatapan meremehkan.

"Lu pikir lu menang, Satria?"

Suaranya dingin. Pelan. Tapi penuh ancaman.

Aku gak jawab. Cuma liat dia.

Bagas senyum miring. "Bokap gue ditangkep gara-gara lu. Bisnis bokap gue hancur gara-gara lu. Nama keluarga gue rusak gara-gara lu."

Dia melangkah lebih deket. Mukanya cuma sejengkal dari muka aku.

"Ini belum selesai, Satria. Bokap gue punya uang. Punya pengacara terbaik. Punya koneksi ke mana-mana. Dia bakal keluar. Dia bakal bebas. Dan dia... dia akan membalas ini. Pada lu. Pada keluarga lu. Pada semua orang yang lu sayang."

Keyla di sebelah Bagas senyum kejam. "Kita tunggu aja. Kita liat siapa yang menang di akhir."

Mereka berdua jalan pergi. Ninggalin aku berdiri di sana.

Siswa-siswa pada diem. Gak ada yang tepuk tangan lagi.

Adrian pegang pundak aku. "Sat... jangan dengerin mereka. Mereka cuma nakut-nakutin."

Tapi aku tau.

Ini belum selesai.

Ini baru awal.

Pertempuran sesungguhnya... mungkin baru akan dimulai.

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!