Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan Kabur Pertama
Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali.
Setiap kali memejamkan mata, aku melihat wajah Arman. Membayangkan dia sedang apa sekarang. Apa dia tidur dengan nyenyak di apartemennya, tidak tahu bahwa dalam beberapa jam lagi Marco dan anak buahnya akan datang? Apa dia masih mengetik artikel investigasinya, masih mengumpulkan bukti, masih berpikir dia bisa menyelamatkanku?
Bodoh. Kita berdua bodoh.
Dia bodoh karena mencoba melawan organisasi sebesar RED ASHES.
Dan aku bodoh karena... karena apa? Karena menerima pernikahan ini? Karena tidak kabur sejak awal? Karena perlahan-lahan mulai bergantung pada monster yang mengurungku?
Aku menatap langit-langit kamar. Menghitung retakan yang sudah hapal di luar kepala. Tujuh belas retakan. Sama seperti dua minggu lalu saat aku dikurung selama tiga hari.
Tiga hari yang mengubah semuanya.
Tiga hari yang membuatku... patuh.
Tapi malam ini, sesuatu berubah lagi dalam diriku.
Mungkin karena Arman. Mungkin karena aku tahu ada orang di luar sana yang masih peduli padaku. Yang masih mau berjuang untukku.
Atau mungkin karena aku sudah lelah jadi boneka.
Sekitar pukul dua pagi, aku mendengar suara aneh.
Bukan suara biasa yang sering kudengar di malam hari. Ini berbeda. Seperti mesin yang mati. Lalu bunyi beep panjang.
Aku duduk di tempat tidur. Menajamkan pendengaran.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Lampu indikator kecil di gelang digitalku mati. Biasanya selalu menyala hijau redup. Tapi sekarang... mati total.
Jantungku berdegup cepat.
Aku coba tekan layar gelang itu. Tidak menyala. Mati total.
Apa... apa ini kerusakan sistem?
Aku bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke pintu dengan pelan. Mencoba memutar kenob.
Terbuka.
Pintu terbuka tanpa perlawanan.
Aku hampir tidak percaya. Aku coba tutup lagi, lalu buka lagi.
Tetap terbuka.
Sistem keamanan mati.
Entah kenapa. Entah karena apa. Tapi ini... ini kesempatan.
Kesempatan yang mungkin tidak akan datang lagi.
Otakku berputar cepat. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mencoba kabur? Sekarang? Tengah malam begini?
Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Kalau Leonardo bangun besok dan sistem sudah diperbaiki, aku akan terjebak lagi. Selamanya.
Dan Arman... Arman akan diculik. Mungkin dibunuh.
Keputusan bodoh muncul di kepalaku.
Aku harus kabur. Sekarang. Dan entah bagaimana caranya, aku harus peringatkan Arman.
Aku berlari ke lemari. Mengambil pakaian paling gelap yang ada. Celana jeans hitam, kaos lengan panjang hitam, jaket hoodie abu-abu. Sepatu kets yang paling nyaman.
Tanganku gemetar saat berganti pakaian. Setiap suara kecil membuatku tersentak. Takut tiba-tiba pintu terbuka dan Leonardo masuk.
Tapi tidak ada yang datang.
Aku membuka laci meja, mengambil sedikit uang yang pernah Leonardo berikan untuk jaga-jaga. Beberapa ratus franc Swiss. Semoga cukup.
Aku melirik ke kalung di leherku. Kalung dengan tracker. Harus dilepas.
Tapi bagaimana? Aku tidak tahu cara buka klip di belakangnya. Terlalu rumit.
Sial.
Aku tidak punya waktu. Harus pergi sekarang.
Aku membuka pintu kamar pelan-pelan. Mengintip ke koridor.
Gelap. Sepi.
Aku melangkah keluar dengan kaki bertelanjang dulu, membawa sepatu di tangan agar tidak berisik.
Turun tangga pelan-pelan. Setiap derit kayu membuatku berhenti, menahan napas.
Sampai di lantai bawah. Melewati ruang tamu yang gelap. Lampu dari luar villa yang sedikit menerangi ruangan membuat bayangan-bayangan menakutkan di dinding.
Pintu depan. Aku harus sampai pintu depan.
Aku berjalan lebih cepat. Jantung berdegup sangat kencang sampai terasa sakit di dada.
Sampai di pintu. Aku coba buka.
Terkunci.
Tentu saja terkunci. Ini pintu utama.
Tapi... sistem keamanan mati. Berarti kunci digital harusnya tidak berfungsi.
Aku coba putar kenob dengan lebih kuat.
Klik.
Pintu terbuka.
Oh Tuhan. Ini nyata. Ini benar-benar terjadi.
Aku melangkah keluar. Udara malam yang dingin langsung menyambar kulitku. Aku menggigil tapi tidak peduli.
Kebebasan. Ini rasa kebebasan.
Aku memakai sepatu dengan terburu-buru. Lalu berlari.
Berlari secepat yang kubisa meninggalkan villa yang sudah jadi penjara selama berbulan-bulan ini.
Pagar besi tinggi di depan. Tapi pintunya... pintunya juga terbuka sedikit. Sistem keamanan benar-benar mati total.
Aku meluncur keluar. Kaki ku menyentuh jalan aspal di luar pagar.
Jalan yang gelap. Sepi. Hanya lampu jalan yang menyala redup di beberapa titik.
Aku tidak tahu arah. Tidak tahu harus kemana. Yang kutahu cuma satu hal.
Aku harus menjauh sejauh mungkin dari sini.
Aku berlari mengikuti jalan. Turunan kecil. Belok kanan. Lalu lurus lagi.
Napas ku tersengal-sengal. Kaki mulai pegal. Tapi aku tidak berhenti.
Tidak boleh berhenti.
Setelah berlari entah berapa lama, aku melihat cahaya di kejauhan. Bangunan. Desa kecil.
Aku hampir menangis lega.
Tapi belum. Belum aman. Harus sampai stasiun. Harus naik kereta. Harus ke kota besar dimana aku bisa sembunyi. Dimana aku bisa hubungi Arman. Dimana aku bisa... entahlah. Yang penting jauh dari Leonardo.
Aku masuk ke desa kecil itu. Beberapa rumah dengan lampu yang sudah mati. Jalanan sepi. Hanya sesekali ada kucing yang lewat.
Aku melihat papan petunjuk. Stasiun kereta ada di ujung desa. Sekitar satu kilometer lagi.
Aku bisa sampai. Aku pasti bisa sampai.
Aku berlari lagi. Lebih pelan dari tadi karena kaki ku sudah hampir tidak kuat. Tapi tetap bergerak.
Lima ratus meter lagi. Empat ratus. Tiga ratus.
Aku sudah bisa melihat stasiun kecil itu di kejauhan. Bangunan sederhana dengan lampu redup.
Dua ratus meter.
Tiba-tiba cahaya menyilaukan dari belakang. Mobil.
Aku tidak terlalu peduli. Mungkin cuma penduduk desa yang pulang malam.
Tapi mobil itu melambat. Berjalan sejajar denganku.
Jantungku langsung berhenti.
Tidak. Tidak. Tidak.
Aku mempercepat lari. Tapi mobil itu juga mempercepat. Lalu berhenti tepat di depanku. Menghalangi jalan.
Pintu mobil terbuka.
Marco turun.
Dengan tiga orang lain yang tidak kukenal.
"Nyonya Valerio," ucap Marco dengan senyum sinis. "Jalan-jalan malam? Tanpa penjagaan? Berbahaya, lho."
Aku mundur. Berbalik mau lari ke arah berlawanan.
Tapi sudah ada mobil lain yang datang dari belakang. Mengepungku.
Dari mobil kedua turun dua orang lagi. Berjas hitam. Wajah keras.
Aku terjebak.
"Jangan mendekat!" teriakku. Suaraku gemetar parah. "Aku teriak! Aku akan minta tolong!"
Marco tertawa. "Teriak apa pun yang kau mau, Nyonya. Desa ini sudah tidur. Dan bahkan kalau ada yang dengar, mereka tidak akan bantu. Mereka tahu siapa yang punya vila besar di bukit itu. Mereka tidak mau berurusan dengan kami."
Aku menatap sekeliling. Mencari jalan keluar. Tapi tidak ada.
Lima orang. Aku sendirian. Tidak ada senjata. Tidak ada apa-apa.
"Don sudah tahu kau kabur sejak kau keluar dari kamarmu," lanjut Marco sambil berjalan mendekat pelan. "Andrey langsung kasih tahu. GPS di kalung mu masih aktif walau gelang mu mati. Sistem keamanan memang sedang maintenance, tapi itu bukan berarti kau bebas lepas, Nyonya."
Kalung. Aku lupa kalung sialan ini.
Marco sudah sampai di depanku. Tangannya yang besar meraih lenganku dengan kasar.
"Lepaskan!" aku memberontak. Mencoba menarik lenganku. Tapi genggamannya terlalu kuat.
"Jangan buat ini lebih susah, Nyonya," ucapnya sambil menyeretku ke mobil. "Don sudah nunggu. Dan percayalah, dia tidak dalam mood yang baik."
Aku terus memberontak. Menendang. Mencakar. Tapi percuma.
Salah satu anak buah Marco memegangiku dari belakang. Mengunci kedua tanganku.
Aku berteriak sekuat tenaga. "TOLONG! ADA YANG TOLONG!"
Tapi seperti yang Marco bilang, tidak ada yang keluar dari rumah-rumah. Tidak ada yang peduli.
Mereka memasukkanku ke mobil dengan paksa. Marco duduk di sampingku, memastikan aku tidak bisa lompat keluar.
Mobil melaju. Kembali ke arah villa.
Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya.
Hampir. Aku hampir sampai stasiun. Hampir bebas.
Tapi hampir tidak cukup.
Tidak pernah cukup.
Perjalanan kembali ke villa terasa sangat cepat. Atau mungkin aku yang sudah kehilangan persepsi waktu.
Mobil berhenti di depan pintu utama. Marco menyeretku keluar. Membawaku masuk.
Dan di sana, di ruang tamu yang redup cahaya, Leonardo berdiri.
Mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih yang beberapa kancing atasnya terbuka. Rambut sedikit acak-acakan. Seperti dia baru bangun.
Tapi yang paling menakutkan adalah wajahnya.
Kosong.
Tidak ada emosi. Tidak ada marah. Tidak ada kecewa. Tidak ada apa-apa.
Hanya kekosongan yang lebih menakutkan dari teriakan.
Marco mendorongku ke depan. Aku hampir jatuh tapi berhasil menjaga keseimbangan.
Leonardo menatapku. Lama. Seperti sedang melihat sesuatu yang sangat mengecewakan.
"Kau mengecewakan aku, Nadira," ucapnya pelan. Sangat pelan.
Air mataku jatuh lagi. "Aku... aku harus pergi... aku tidak bisa di sini lagi... kumohon, Leonardo... lepaskan aku..."
"Lepaskan?" Dia mengulangi kata itu seperti kata asing. "Setelah semua yang kulakukan untukmu? Setelah aku melindungimu, memberimu kemewahan, memperlakukanmu seperti ratu?"
"Ini bukan perlindungan! Ini penjara!" teriakku. Sudah tidak peduli lagi. "Kau mengurungku! Kau mengontrol semua yang kulakukan! Kau mengancam keluargaku! Kau mau bunuh teman ku! Ini bukan hidup!"
Leonardo hanya menatapku. Lalu dia tersenyum tipis.
Senyum yang membuat darahku membeku.
"Marco, bawa dia ke kamarnya," perintahnya tanpa mengalihkan pandangan dariku. "Kunci pintunya. Jangan biarkan siapa pun masuk. Termasuk aku."
Marco mengangguk. Meraih lenganku lagi.
"Tunggu," Leonardo mendekat. Berdiri tepat di depanku. "Kau pikir itu penjara, Nadira? Kau belum tahu apa itu penjara sebenarnya."
Tangannya menyentuh wajahku. Mengusap air mataku.
"Tapi sekarang kau akan belajar."
Dia mengangguk pada Marco.
Marco menyeretku ke tangga. Aku tidak melawan lagi. Tidak ada gunanya.
Kami sampai di kamarku. Marco mendorongku masuk. Lalu menutup pintu dari luar.
Bunyi klik yang sangat final.
Aku terdiam di tengah kamar. Menatap pintu tertutup itu.
Gagal.
Aku gagal kabur.
Dan sekarang... sekarang aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tapi dari nada suara Leonardo tadi, dari tatapan kosongnya, dari kata-katanya yang terakhir...
Aku tahu hukuman kali ini akan jauh lebih buruk dari tiga hari sendirian.
Jauh lebih buruk.
Dan aku hanya bisa menunggu dengan ketakutan yang melumpuhkan seluruh tubuhku.
Menunggu Leonardo memutuskan apa yang akan dia lakukan pada istrinya yang memberontak.
Pada boneka yang berani memotong talinya sendiri.
Pada tawanan yang mencoba kabur dari sangkar emasnya.