Maula, harus mengorbankan masa depannya demi keluarga.
Hingga suatu saat, dia bekerja di rumah seorang pria yang berprofesi sebagai abdi negara. Seorang polisi militer angkatan laut (POMAL)
Ada banyak hal yang tidak Maula ketahui selama ini, bahkan dia tak tahu bahwa pria yang menyewa jasanya, yang sudah menikahinya secara siri ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Ternyata menjadi seorang pengasuh anak tidaklah terlalu buruk. Bagiku pekerjaan apa saja itu baik yang penting halal dan gajinya juga sesuai dengan apa yang kita lakukan.
Dan di sini aku sungguh merasa nyaman, aku benar-benar bisa menikmati pekerjaanku sebagai pengasuh Naka dan Hazel.
Meski baru satu bulan bekerja, dan pagi tadi aku baru saja menerima gaji pertamaku, tapi aku merasa sudah menjadi ibu bagi mereka. Seaola-olah ada magnet yang membuatku menganggap Naka dan Hazel seperti anaku sendiri. Entah, apa karena rasa kasihan, atau karena pada intinya aku orang baik yang nggak tega'an, tapi yang jelas aku akan selalu berusaha menjadi sosok yang bisa melindungi anak-anak itu. Perlindungan yang tidak lagi mereka dapatkan dari bundanya.
Ada doa juga dalam hati kecilku yang selalu ku panjatkan untuk Naka dan Hazel.
Jika ayahnya menikah lagi, ku harap wanita itu akan bisa menjadi sosok ibu yang baik dan perhatian layaknya ibu kandung pada putrinya.
Bukan ibu tiri seperti...
Aku menggantung kalimatku sendiri karena tiba-tiba teringat dengan ibu sambungku. Sms dari Naomi beberapa waktu lalu juga seakan ikut nimbrung dalam pikiranku.
Dia mengatakan bahwa ayah butuh uang untuk membeli obat.
Karena aku juga sudah gajian, malam nanti akan ku kirim sebagian gajiku ke bu Iin untuk di serahkan ke ibu guna memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus untuk membeli obat ayah.
Mendengkus lirih, ku ayunkan kaki menuju lantai satu. Selagi Hazel mengerjakan tugas yang ku beri, aku akan mengambil makanan kesukaan dia.
Tadi aku sempat mengatakan pada anak itu jika tugasnya selesai tepat waktu, aku akan memberinya coklat.
Tepat ketika kakiku berada di anak tangga terakhir, sepasang netraku langsung menangkap sosok wanita cantik tengah duduk di sofa ruang tv dengan bu Ella. Mereka tampaknya sedang mengobrol membahas soal anak-anak.
Baru saja aku hendak menyapa, bu Ella sudah melihatku duluan dan langsung tersenyum sambil menyerukkan suaranya.
"Eh, itu Maula" Kalimat itu ia tujukan untuk wanita dengan balutan kemeja salur yang di padukan dengan celana jeans. Detik itu juga dia pun menoleh ke arahku.
"Selamat siang!" Sapaku saat hendak melewati ruang keluarga.
Tadinya aku mau langsung ke dapur, tapi karena bu Ella memintaku berkenalan, akhirnya aku pun menghentikan langkahku.
"Oh iya Airin, ini Maula. Guru privat Naka dan Hazel"
"Halo, saya Airin" Ucapnya ramah, lengkap dengan seulas senyum.
"Saya Maula"
"Senang bertemu denganmu" Katanya lagi, yang ku respon dengan senyum tipis.
"Namanya sama kayak Hazel. Nama panjangnya siapa?" Tanya.
"Maula Anindya" Jawabku.
"Iya nih, Airin, pas ibu di kasih tahu kalau namanya Maula, ibu juga langsung keget. Kok bisa ya, sama'an sama nama Hazel. Waktu pertama kali bertemu ternyata memang benar namanya Maula, dan orangnya cantik"
Tak ada kesan judes di wajah Airin, tapi kenapa bu Ella bilang Hazel seperti takut padanya.
"Berarti jodoh sama Hazel bu, pasti mbak Maula ini guru yang tepat buat Hazel"
"Ya mungkin saja, Airin" Sahut bu Ella.
"Maaf bu, mbak Airin, saya permisi ke dapur dulu. Ada sesuatu yang harus saya ambil. Saya juga harus segera naik lagi karena masih mengajar Hazel di atas"
"Si Hazelnya belum selesai belajar ya mbak?" Sambar Airin bertanya.
"Belum, mbak. Sekitar satu jam lagi selesai"
"Satu jam?" Gumamnya. "Padahal aku pengin me time sebentar sama dia, tapi nggak bisa, ya?"
"Bisa kok mbak, sambil mbak Airin menunggu, mbak bisa ngobrol dulu sama bu Ella"
"Maula benar, Ai. Kamu tunggu saja! Nanti di bawa ngobrol pasti tahu-tahu sudah jam dua belas" Itu kata bu Ella, yang langsung aku setujui.
"Jam satu aku sudah harus di rumah sakit, bu. Ada konsultasi setelah jam makan siang. Tapi nggak apa-apa. Aku bisa datang dan main dengan Hazel di lain waktu"
"Kalau memang nggak bisa nunggu, biar saya panggilkan Hazel. Nggak apa-apa belajarnya terjeda, toh nggak setiap hari" Pungkasku memberi saran.
"Enggak usah mbak Maula, lain kali saja saya menemuinya"
"Nggak apa-apa, mba. Mbak Airin sudah menyempatkan waktunya buat menemui Hazel. Sayang kalau malah nggak bisa ketemu"
"Beneran nggak apa-apa?" Tanyanya seperti tak enak hati.
"Benar mbak. Nggak apa-apa"
"Makasih kalau gitu"
Aku hanya tersenyum, tak jadi ke dapur, akhirnya aku berpamitan kembali ke atas untuk memanggil Hazel dan memintanya turun.
Sejujurnya aku ingin tahu ekspresi seperti apa yang Hazel tunjukan ketika bersama mbak Airin. Apakah yang bu Ella katakan aku juga berfikiran sama dengannya.
"Hazel, sudah selesai nak?" Tanyaku ketika sudah berada di lantai atas.
"Belum bu, kan masih ada waktu sepuluh menit"
"Iya, tapi bukunya di tutup dulu iya, sisa waktunya buat nanti lagi, sekarang Hazel turun dulu dan temui tante Airin di bawah. Kasihan dia sudah menunggu lama-lama, kangen pengin ketemu Hazel"
Anak itu langsung ambigu begitu mendengar ucapanku. Sepasang iris pekatnya menyorot nanar ke arahku.
"Nak!" Panggilku ketika dia malah menunduk sedih.
"Hazel kenapa?"
Dia masih diam seribu bahasa.
"Cuma menemui tante Airin doang kenapa wajahnya berubah jadi nggak semangat gitu sayang!"
"Boleh nggak kalau Hazel nggak temui tante Airin?" Pandangannya masih tertunduk saat menanyakan itu.
"Kenapa?" Tanyaku penasaran.
Gelengan kepala Hazel membuatku benar-benar tak mengerti.
"Tapi kalau ada tamu yang ingin bertemu dengan kita harus di temui dulu meskipun hanya sebentar, nak"
"Tapi Hazel nggak mau ketemu sama tante Airin"
"Kalau Hazel punya alasan yang tepat, Hazel boleh nggak temui tante Airin. Boleh ibu tahu alasan Hazel kenapa nggak mau menemui tante Airin"
Alih-alih langsung menjawab, anak yang duduk berhadapan denganku mengangkat kepalanya, namun hanya sejenak. Detik kemudian dia menundukkan kepala, kembali mengunci rapat mulutnya.
"Hazel, ayo bicara. Kasih tahu ibu apa hal yang membuat Hazel enggan menemui tante Airin" Bujukku selembut mungkin.
Satu detik, dua detik. Hingga beralih ke satu menit, anak itu akhirnya bersuara.
"Tapi ibu Maula jangan kasih tahu siapa-siapa, iya!"
Bibirku reflek mengerut, lalu menganggukkan kepala tanda setuju.
"Janji!" Cicitnya.
"Insya Allah janji, nak"
Ku lihat lekat-lekat wajah anak yang masih menyimpan kecemasan khas anak kecil.
Aku menunggu dengan sabar sampai dia benar-benar mengatakan sesuatu.
Sebelum mengeluarkan kalimatnya, anak gadis ini menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Tante Airin mau bunuh ayah!"
"Astaghfirullah" Lirihku terkejut.
"Jangan mengada-ngada sayang, nggak boleh ngomong begitu nak"
"Kan, ibu nggak percaya sama Hazel, makannya Hazel diam aja dan nggak kasih tahu siapa-siapa kalau tante Airin mau bunuh ayah" Celetuknya dengan nada polos.
"Kenapa Hazel bisa berkata seperti itu, dan mengira tante Airin mau bunuh ayah?"
"Hazel dengar sendiri waktu itu"
"Dengar apa?" Tanyaku mengorek lebih dalam lagi.
"Waktu pas tante Airin ke sini, tante Airin di telfon orang, di telfon tante itu bilang giliran ayah Aril yang pengin dia bunuh"
Astaghfirullah... Aku membeku di tempatku, ingin sekali menganggap ucapan Hazel adalah angin lalu, tapi hati kecilku malah mempercayainya.
"Hazel nggak salah dengar?" Tanyaku memastikan.
"Enggak bu, Hazel dengar sendiri. Tante Airin pengin bunuh ayah"
Aku diam, bola mataku menyorot serius mengikuti gerakan bola mata Hazel.
"Nggak apa-apa ibu nggak percaya sama Hazel, tapi tolong jangan kasih Hazel ketemu sama tante Airin, Hazel takut"
"Ibu percaya nak" Kataku.
Ku akui, aku juga melihat seperti ada aura negatif di balik topeng wajah Airin yang lugu, banyak senyum dan sikap ramahnya. Dia seperti memiliki kepribadian ganda.
"Okay, Hazel tetap disini, ibu akan turun lagi untuk kasih tahu tante Airin kalau Hazel lagi nggak mau menemui siapapun"
"Tapi Hazel takut bu"
"Ada ibu Maula yang akan selalu lindungi Hazel. Selama ibu bersama Hazel, Hazel akan baik-baik saja, jadi nggak perlu takut. Mengerti?"
Dia mengangguk seraya menelan salivanya.
Dan aku benar-benar bingung harus memberikan alasan apa pada Airin.
"Okay, Hazel nggak akan menemui tante Airin, ibu akan turun sekarang buat kasih tahu dia"
sama aku pun juga
next Thor.... semakin penasaran ini
maaf kalo suuzon ya Rin
abisnya kamu jahat seh