Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.
BENAR! DIA TAKUT.
Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.
Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.
Di sinilah kehidupannya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 : Bagian Tengah
Setelah perjalanan yang terasa lama namun sebenarnya hanya memakan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di bagian tengah yang dimaksud oleh Mbah Semi.
Awalnya, Raka, Arief, dan Alya membayangkan tempat ini seperti stasiun kereta api atau bandara—mungkin ada jalur antrean, loket tiket, atau sesuatu yang terasa lebih ‘manusiawi’.
Namun, begitu mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri…
Pikiran mereka langsung buyar.
Tempat ini lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
Wilayah tengah ini menyerupai sebuah kotak luas dengan bangunan-bangunan kecil yang berjajar seperti kios. Ada penjual yang menawarkan barang-barang aneh, benda bercahaya, kantung kain dengan simbol misterius, hingga ramuan yang mendidih dalam botol kaca.
Namun, pusat perhatian mereka jatuh pada sesuatu yang jauh lebih luar biasa.
Jajaran gerbang dimensi.
Gerbang itu tinggi dan megah, berdiri kokoh dengan warna hitam pekat yang tidak memantulkan cahaya.
Namun, di dalamnya…
Terdapat pusaran energi yang berputar perlahan, memancarkan aura kebiruan dengan kilatan ungu yang sesekali menyala seperti kilat dalam badai.
Cahaya itu menari-nari di permukaan gerbang, mengalir seperti arus sungai yang tidak bisa ditebak alirannya.
Saat menatapnya, ada sensasi aneh yang menggelitik di belakang kepala mereka—seperti melihat sesuatu yang bukan dari dunia ini, sesuatu yang lebih tua dan lebih kuat dari pemahaman manusia.
Mereka merinding.
Namun, keindahannya terlalu luar biasa untuk diabaikan.
Raka menganga lebar. “What The... ini keren banget.”
Arief mengerjapkan mata berkali-kali. “Kayak… Kayak pintu masuk ke masa depan.”
Alya mengangguk pelan, masih terhipnotis. “Atau Isekai nggak sih…”
Raka mencubit lengannya sendiri. “Gue nggak mimpi, kan?”
Arief menepuk punggungnya. “Kalau mimpi, mimpi kita sama, Rak.”
Alya menyeringai kecil. “Gue berasa kayak di film fantasi. Kalau masuk ke sana beneran bisa ke Isekai nggak ya.”
Raka dan Arief yang melihat Alya tiba-tiba. Mereka saling memandang dengan pemahaman yang sama di mata mereka. Anak perempuan ini bukan hanya suka mistis dan misteri, dia juga seorang wibu!
Ada ketidakberdayaan di wajah mereka. Namun mereka tidak menghentikan Alya. Lagipula, jika Alya benar-benar memikirkannya. Dunia Ghaib termasuk Isekai (dunia lain) bagi manusia biasa seperti mereka.
Mereka bertiga terus menatap gerbang dimensi itu dengan kekaguman penuh.
Raka akhirnya berseru sambil menunjuk gerbang. “Bro, bayangin kalau kita bisa bikin gerbang kayak gini di rumah. Nggak perlu macet-macetan lagi, langsung ‘whoosh’ teleport ke kampus!”
Arief tertawa. “Atau luar negeri! Tinggal loncat, eh, sampai di Jepang. Makan ramen, balik lagi sebelum maghrib buat kelas besok.”
Alya berdecak kagum. “Anjir, kalau kayak gitu, kita nggak perlu tiket pesawat lagi. Murah, cepat, efisien.”
Mereka bertiga saling berpandangan, lalu berseru bersamaan.
“Kita butuh satu gerbang di kosan!”
Fandi menghela napas panjang, lalu menepuk kepala mereka satu per satu kecuali Alya.
“Oke, cukup. Fokus.”
Raka mendongak, bingung. “Lah, kenapa?”
Fandi menatap mereka dengan serius.
“Kalian nggak ingat kata-kata ku sebelumnya?”
Alya mengernyit. “Tapi gerbangnya cantik Mas Fandi.”
Fandi menyipitkan mata ke arah gerbang.
“Cantik tidak selalu baik, kalian nggak ingat si Parto, uh, Parti? Juga, jaga pikiran kalian dan jangan biarkan kosong. Kalau pikiran kalian kosong, ada kemungkinan sesuatu bakal masuk. Selain itu, gerbang itu bisa narik jiwa kalian yang goyah tanpa pikiran, gue nggak mau bolak balik cuma buat nemuin kalian lagi. Satu Dimas aja udah cukup buat gue.”
Raka, Arief, dan Alya langsung kaku di tempat.
Arief menelan ludah. “Maksud lo kerasukan?”
Raka juga ragu-ragu sebelum berkata, "Ditransfer paksa juga?"
Fandi mengangguk pelan.
Raka langsung mengurut pelipisnya. “Sial, gue baru aja mikirin Raja Ampat… Semoga nggak ada yang masuk ke tubuh gue.”
Alya mengerang. “Gue cuma kepikiran tiket pesawat murah. Itu masih aman, kan?!”
Fandi menghela napas dan menepuk bahu mereka.
“Pokoknya, tetap sadar. Jangan melamun. Kita nggak tahu apa yang bisa keluar dari gerbang ini kalau kita lengah.”
Mereka bertiga langsung berdiri tegap, menatap gerbang dengan waspada.
Baru kali ini, keinginan mereka untuk teleport ke mana saja langsung hilang dalam sekejap dan mereka fokus mengikuti Fandi dan Mbah Semi.
Namun Mbah Semi berhenti tiba-tiba. Mbah Semi menghela napas panjang, wajahnya penuh keraguan. Alih-alih langsung menjawab, dia hanya menggelengkan kepala berulang kali, seolah mencoba menolak kenyataan yang baru saja dia sadari.
Lalu, dengan tatapan serius, dia menoleh ke arah Fandi.
“Ini benar-benar masalah yang sangat besar. Temanmu… tidak ada di atas tanah.”
Seolah disambar petir, wajah Raka, Arief, dan Alya yang tadinya kagum langsung berubah drastis.
Mereka saling berpandangan, lalu menatap Mbah Semi dengan ekspresi tidak percaya.
Raka menunjuk dirinya sendiri, lalu ke arah Mbah Semi. “Lho, Mbah? Maksudnya apa ‘nggak ada di atas tanah’?”
Arief mengerutkan dahi. “Jangan-jangan Dimas bukan diculik setan…”
Raka langsung menepuk pundak Arief dengan ekspresi kebingungan yang nyata. “Tapi diculik… UFO?!”
Alya langsung menoleh ke Raka dengan mata menyipit. “Astaga, Mas Raka, ini serius!”
Fandi, yang sejak tadi serius mendengarkan Mbah Semi, langsung menepuk lengan Raka dengan kesal.
“Ngaco, mana ada!”
Raka mengangkat tangan. “Eh, bisa aja kan? Alien juga eksis di beberapa mitos Jawa, ya gak, Mbah?”
Mbah Semi memicingkan mata, tidak mau menanggapi.
Alya menghela napas. “Aduh, Mas Raka, ini bukan waktunya teori konspirasi…”
Raka mengecilkan suara. “Tapi kalau beneran UFO, gimana cara kita nyelametin Dimas? Kita nggak punya pesawat luar angkasa, bro.”
Fandi mengeram kesal dan menekan pelipisnya.
“Bukan UFO, woy! Maksud Mbah Semi… dia ada di pulau apung, ya kan, Mbah?”
Mbah Semi mengangguk pelan, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum samar. “Hihihihi... Ternyata kamu masih ingat topografi dunia ghaib…”
Fandi tersenyum percaya diri. Dia sudah sering bolak-balik ke dunia ghaib dulu, jadi wajar kalau dia paham lebih banyak dari teman-temannya.
Namun sebelum dia sempat menjelaskan apa pun kepada Raka, Arief, dan Alya, bayangan hitam tiba-tiba muncul entah dari mana.
Gelombang kegelapan itu berputar seperti pusaran asap pekat, menyatu membentuk sosok tinggi tak berbentuk. Suara berat nan menyeramkan bergema di udara.
"MENEMUKAN MU."
Udara di sekitarnya berubah dingin. Bayangan hitam itu langsung menutup Fandi.
Refleks, Fandi bergegas berteriak.
“Mbah Semi, Blue! Titip yang lain!”
Tapi sebelum siapa pun bisa bereaksi, bayangan itu menelan tubuhnya sepenuhnya.
Fandi menghilang.
“MAS FANDI!”
Alya, yang sejak awal sudah merasa ada yang aneh, melompat tanpa ragu-ragu. Tangannya menggapai bayangan hitam yang masih tersisa, mencoba menarik Fandi kembali.
Tapi begitu jarinya menyentuh kegelapan itu—
Dia juga ikut menghilang.
Seketika, candaan tadi menguap.
Raka dan Arief tidak bisa berkata-kata.
Hawa dingin menyeruak, menyelinap ke tulang mereka seperti kabut dingin di pagi buta.
Mbah Semi menggeram, wajahnya berubah serius. Blue, dalam wujud harimaunya, mendesis pelan, ekornya menegang waspada.
Namun setelah Fandi dan Alya menghilang, Mbah Seni dan Blue dengan cepat kembali normal.
"Pergi, ayo sewa penginapan sebelum Fandi kembali." Kata Blue.
Raka dan Arief saling memandang.
"Ini nggak apa-apa kita biarin Fandi dan Alya, Blue?" tanya Raka sedikit khawatir.
Mbah Semi terkikik. "Hihihi, ini hanya hal sepele untuk Fandi. Kamu kira bagaimana dia bisa bertahan hingga sebesar itu kalau dia bahkan tidak bisa menyelesaikan hal ini."
Maksudnya? Apa Fandi sering menghadapi hal ini?
Raka dan Arief saling memandang. Melihat dua makhluk superior itu seperti ini. Raka dan Arief tidak bisa melakukan apapun selain pasrah dan mengikuti arahan mereka.
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏
cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
maaci kak oThor
normal nya liat Kunti ga sampai sedetik udh pingsan ato ga kabur duluan 😀 sereeemmm
tp Krn Arif gengnya Fandy jd beda
sehat-sehat ya kak,🤗
selama ini taunya Kunti itu mm perempuan, dan ada yg bilang ga punya muka...
selama ini jg taunya cuma Kunti bjau putih sama Kunti merah...