Jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat Shakala Fathan Elgio Genova, berusaha untuk memperjuangkan cintanya pada Zakira. Gadis manis yang ia temui tanpa sengaja di perusahaannya. Zakira adalah salah satu karyawan di perusahaannya.
Namun, sayangnya saat ia mengutarakan niatnya untuknya melamar gadis itu. Terjadi kesalahpahaman, antara Fathan dan Mamanya. Nyonya Yulia, yang adalah Mamanya Fathan. Malah melamar Nabila, yang tidak lain sepupu dari Zakira. Nyonya Yulia, memang hanya mengenal sosok Nabila, putri Kanayah dan Jhonatan. Mereka adalah rekan bisnis dan keluarga mereka memang sangat dekat.
Nyonya Yulia juga mengenal dengan baik keluarga bakal calon besannya. Akan tetapi, ia tidak pernah tahu, kalau keluarga itu memiliki dua orang anak perempuan. Terjadi perdebatan sengit, antara Fathan dan sang Mama yang telah melakukan kesalahan.
Nabila yang sudah lama menyukai Fathan, menyambut dengan gembira. Sedangkan Zakira, hanya bisa merelakan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha mawik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Fathan dan Soni sedang berada di perusahaan. Keduanya sedang mengawasi orang pekerja yang bertugas untuk mempersiapkan pesta ulang tahun perusahaan, sekaligus hari jadi mamanya.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Fathan.
"Hampir seluruh persiapan siap, hanya tinggal beberapa saja yang masih dalam tahap penyelesaian," jawab Soni.
"Bagaimana dengan undangan?" tanya Fathan lagi.
"Sudah semuanya sudah tersebar," jawab Soni lagi.
Fathan mengangguk, ia kembali melanjutkan langkahnya. Hingga terhenti tepat di depan meja kerja sekretarisnya, Zakira.
"Dimana, dia?" tanya Fathan.
"Dia sudah izin pulang," jawab Soni.
"Pulang? Apa dia sakit?" tanya Fathan lagi.
"Tidak. Dia hanya ada kepentingan keluarga, katanya," jelas Soni.
Fathan diam dan kembali fokus ke arah tempat, dimana ia biasa melihat Zakira berada.
"Apa, undangan untuk Tuan Kendra dan keluarga sudah diberikan?" tanya Fathan lagi.
"Sepertinya, belum," jawab Soni.
"Berikan padaku," pinta Fathan.
"Anda, mau memberikannya langsung?" tebak Soni.
Fathan mengangguk samar.
Soni menganggu dan memberikan selembar undangan pada bos nya.
"Baiklah!" ucap Soni kemudian meninggalkan ruangan Fathan.
****
Dikediaman Nathan dan Kanayah. Sukma terlihat sibuk memilih baju yang akan dia pakai untuk ke pesta ulang tahun perusahaan sekaligus mamanya Fathan. Hampir semua isi lemarinya, ia keluarkan.
"Oma! Oma ngapain? Ya, Tuhan!" seru Nabila.
Gadis itu terkejut, melihat kondisi kamar Sukma yang seperti kapal pecah.
"Oma lagi cari baju yang cocok, untuk Oma pakai di pesta ultah mamanya Fathan nanti," jawab Sukma.
"Ultah perusahaan mamanya Fathan, maksud Oma?" ralat Nabila.
"Sama aja," jawab Sukma.
Ia kembali sibuk dengan kegiatannya, memilih satu demi satu baju yang berserakan di lantai.
"Pakai baju biasa aja, Oma! Ini bagus." tunjuk Nabila pada sebuah gaun, dengan warna biru muda.
"Baju ini kamu bilang bagus? Bagus dari mana, Nabila?" ucap Sukma kesal.
Bagaimana tidak, pasalnya baju yang ditunjukkan Nabila adalah sebuah gamis lengkap dengan jilbabnya. Baju itu, oleh-oleh dari Kanayah, saat ia dan Nathan berangkat umroh. Kanayah memberikan oleh-oleh dua stel abaya Arab untuk Sukma. Mengingat perempuan paruh baya itu, tidak pernah menggunakan gamis setiap ada acara di rumah keluarga besar Kanayah.
Nabila merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Sukma, sembari bermain ponselnya. Ia membuka galeri dan memperhatikan photonya saat bersama Fathan. Dari sekian banyak photo yang ia abadikan, tak satupun yang memperlihatkan ekspresi senang atau bahagia di wajah pemuda tampan itu.
"Oma!" panggil Nabila.
"Apa, Bila?" sahut Sukma.
"Gimana, kalau aku batalin aja pertunangan ini?" cetus Nabila.
Sukma seketika berhenti dari kegiatannya memilih baju dan menatap ke arah Nabila.
"Maksud kamu?" tanya Sukma.
"Kayaknya, Nabil ada benarnya, deh!" sahut Nabila, ia masih saja menatap photo yang ada di ponselnya.
"Apa yang Nabil, katakan? Dia nyuruh kamu untuk mundur dan membatalkan semuanya?" tanya Sukma lagi.
"Tidak! Hanya saja, dia pernah menyuruh aku untuk memilih mundur dan...."
"Dan merelakan Fathan bersatu dengan Zakira begitu?" potong Sukma dengan nada tinggi.
Ia menatap tajam, ke arah gadis yang sedang duduk di atas ranjang.
"Apa kamu sudah gila?" ucap Sukma bernada ketus.
Nabila terdiam, mendapat tatapan tajam dari Sukma. Nyalinya sedikit menciut, Nabila terlihat serba salah.
Sukma mendekati Nabila dan berdiri tepat dihadapan gadis itu.
"Dengar Nabila, jika kamu mundur dan membatalkan semuanya. Maka, Zakira akan bersorak gembira. Dia merasa tidak perlu menyingkirkanmu, sebab kamu sudah lebih dahulu mengalah untuknya," ucap Sukma.
"Dia juga merasa menjadi pemenang tanpa harus berperang denganmu. Kamu pikir Zakira itu baik? Padahal sebaliknya, dia itu licik. Dia memanfaatkan wajah lugu dan polosnya untuk membuat semua orang menaruh simpati padanya," lanjut Sukma.
Nabila terdiam, berusaha kembali mencerna apa yang Sukma katakan.
"Besok adalah hari yang sudah kita tunggu. Hari dimana, Fathan yang tidak akan lagi berani menolak untuk menikahi kamu," ujar Sukma.
"Tapi, aku ragu melakukannya Oma! Aku terlalu takut, kalau sampai gagal dan Fathan mengetahuinya. Aku yakin, dia pasti akan mengatakan pada semuanya," ucap Nabila.
"Keraguanmu itu, tidak beralasan. Seharusnya, kamu itu mempertahankan apa yang seharusnya jadi milikmu. Bukan, mengalah!" seru Sukma geram.
Nabila kembali terdiam, dia merasa takut melihat kemarahan yang Sukma tunjukkan.
"Dengar, Sayang! Kamu jangan khawatir memikirkan rencana itu. Oma akan membantu kamu, untuk melakukannya," ucap Sukma. Kali ini , nadanya sedikit lembut dari yang tadi.
Nabila mengangguk pelan, ia takut. Jika ia menolak lagi, maka Sukma akan marah seperti tadi.
****
"Gimana, Daddy?" tanya Kiano, pada pria yang selalu jadi panutannya.
"Daddy, baik-baik saja," jawab Kendra.
"Tapi, tadi kata Zavira dadanya Daddy sakit," ucap Kiano.
"Cuma agak sesak sedikit," kilah Kendra.
"Tuh, kan! Makanya, Daddy itu jangan terlalu capek," kata Kiano dengan wajah panik.
Ia segera pulang dan membatalkan makan malam bersalam kliennya. Saat zang istri menelpon, mengatakan bahwa Daddy-nya sakit. Tidak lupa, ia juga menelpon kedua anaknya untuk segera pulang.
Kiano terlihat sangat mengkhawatirkan Daddy-nya. Terlebih, sejak ditinggal sang istri, Kendra memang terlihat lebih rentan. Kendra terlihat seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya, setelah kepergian sang istri. Untuk itulah, ke-tiga anaknya sangat menjaganya dengan baik.
"Maaf, Tuan! Ada tamu," ucap salah satu pelayan.
"Fathan!" ucap Zavira.
"Selamat sore," sapa Fathan.
"sore." sahut ketiganya serentak.
"Selamat sore, Opa!" ucap Fathan menyapa Kendra. Ia meraih tangan pria itu dan mencium tangannya. Ia juga meraih tangan Kiano dan menundukkan kepalanya pada Zavira.
Kendra tersenyum, melihat sikap calon cucu menantunya. Ia bisa dengan cepat belajar kebiasaan di keluarga mereka.
"Duduklah, Ummi akan buatkan minum!" Zavira beranjak menuju dapur.
"Bagaimana kabar kedua orang tua mu?" tanya Kiano.
"Baik, Om!" jawab Fathan singkat.
Kendra tersenyum melihat sikap kaku Fathan.
"Saya ke sini, ingin mengantarkan ini." Fathan mengeluarkan selembar undangan dan menyerahkan pada Kendra.
"Terimakasih," ucap Kendra.
"Undangan, Daddy?" tanya Kiano.
"Iya, ulang tahun perusahaan sekaligus ultah mamanya Fathan," jawab Kendra.
Kiano mengangguk pelan.
"Repot sekali, kenapa tidak dititipkan saja pada Zakira?" sela Zavira yang datang dengan nampan berisi minuman dan cemilan.
"Zakira... dia pulang cepat hari ini," ucap Fathan.
"Oh, iya! Dia ada terapi hari ini, tadi juga Tante ada nitip barang sama dia," ujar Zavira tersenyum.
"Kamu nitip apa, Sayang?" tanya Kiano.
"Ada, deh!" jawab Zakira.
Fathan takjub, melihat kemesraan kedua orang tua Zakira. Di umur yang tidak lagi muda, keduanya terlihat semakin mesra
Kiano memutar matanya malas. Kendra tersenyum melihat kelakuan anak menantunya.
"Assalamualaikum...."
Fathan seketika menoleh dan semburat senyum terbit di wajahnya. Zakira pulang bersama Kakaknya. Namun, senyum itu memudar, tatkala melihat seseorang yang datang bersama Zakira dan Zaki.