"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema Zane
Siang itu, kafe elit di sudut jalan Reykjavik terasa sangat tenang. Dinding kaca besarnya memperlihatkan pemandangan pelabuhan yang dingin, kontras dengan aroma kopi panggang dan roti hangat di dalam ruangan. Di meja sudut yang paling tersembunyi, Salena dan Zane duduk berhadapan.
Salena mengaduk kopinya dengan gerakan pelan, matanya menatap tajam ke arah Zane yang tampak termenung menatap butiran salju yang mulai turun di luar.
Pikirannya masih tertuju pada pengumuman di kampus tadi pagi. Kehadiran Kharel adalah parasit yang harus segera dicabut.
"Zane," panggil Salena pelan.
Zane menoleh, sorot matanya yang biasanya liar kini tampak lelah. "Ya, Sal?"
"Boleh aku bertanya sesuatu yang sedikit... pribadi?" Salena meletakkan sendok kecilnya.
"Berdasarkan apa yang Daisy katakan, dan apa yang kulihat dari pengaruh mu, keluargamu di New York, dinasti Vance itu sangat berkuasa, bukan? Kau adalah Dewa di sana."
Zane hanya tersenyum getir, tidak membantah.
"Lalu, kenapa kau membiarkan ini berlarut-larut?" tanya Salena dengan nada menuntut yang khas seorang calon pengacara.
"Kenapa kau harus bersabar sejauh ini menghadapi wanita gila itu? Di dunia kita, orang seperti Kharel seharusnya bisa disingkirkan dengan satu jentikan jari. Kau bisa menghancurkan reputasinya, mengusirnya dari Islandia, atau... yah, membuatnya menghilang dari jangkauanmu selamanya. Apa yang menahanmu?"
Zane menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap langit-langit kafe seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.
"Bukan kekuasaan keluargaku yang akan menghancurkannya, Salena," jawab Zane dengan suara rendah yang bergetar.
"Kau benar, dengan satu telepon ke New York, aku bisa membuatnya kehilangan segalanya. Aku bahkan bisa membuatnya menghilang tanpa jejak dari pergaulan sosialita Manhattan maupun Islandia. Itu hal yang mudah bagiku."
Zane menjeda kalimatnya, matanya kembali menatap Salena dengan kejujuran yang menyakitkan.
"Tapi ada satu alasan kenapa aku tidak melakukannya, Phoenix."
Salena terdiam, menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Phoenix adalah saudaraku. Kami tumbuh bersama di tengah dinginnya persaingan bisnis keluarga kami yang kejam. Dia adalah satu-satunya orang yang membelaku saat semua orang menyalahkan ku," Zane mengepalkan tangannya di atas meja.
"Masalahnya, Phoenix mencintai Kharel dengan cara yang sakit. Dia tahu Kharel gila, dia tahu Kharel merusak persaudaraan kami, tapi dia tetap memilih untuk menggenggam tangan wanita itu."
Zane mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jika aku menghancurkan Kharel, aku juga akan menghancurkan Phoenix. Phoenix tidak akan sanggup bertahan jika Kharel dihilangkan. Baginya, Kharel adalah dunianya. Dan aku... aku tidak sanggup menjadi orang yang menghancurkan hidup satu-satunya saudara yang pernah kumiliki, meskipun dia sendiri sekarang membenciku karena obsesinya."
Salena terpaku. Ia menatap wajah Zane yang dipenuhi dilema moral yang mendalam.
Selama ini, Salena hanya melihat Kharel sebagai pengganggu dan Zane sebagai korban. Ia tidak memikirkan tentang Phoenix pria malang yang ditamparnya kemarin yang berdiri di tengah-tengah antara sahabat dan kekasih gila.
"Jadi, kau bersabar karena kau tidak ingin Phoenix kehilangan alasan untuk hidup?" bisik Salena.
Zane mengangguk pelan. "Itu adalah pengorbanan terakhirku untuknya, Salena. Aku membiarkan diriku, difitnah, dan lari ke ujung dunia hanya agar Phoenix tidak perlu melihat kekasihnya hancur di tanganku. Aku lebih baik terlihat lemah di matamu daripada menjadi pembunuh bagi kebahagiaan saudaraku sendiri."
Salena tertegun. Ia menyandarkan punggungnya, merasa sedikit malu karena sempat berpikir terlalu sederhana.
"Aku mengerti sekarang... Aku bahkan tidak memikirkan itu sebelumnya, Zane. Aku pikir ini hanya soal kau yang tidak berani, tapi ternyata ini soal kau yang terlalu peduli pada saudaramu."
Salena meraih tangan Zane dan menggenggamnya erat. "Tapi Zane, jika Phoenix terus membiarkan Kharel menyerang kita, dia jugalah yang sedang menghancurkanmu. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika kau tidak bisa menghancurkannya karena Phoenix, maka biarkan aku yang menghadapinya dengan caraku sendiri. Cara yang legal, namun tetap akan membuatnya jera."
Zane menatap Salena, melihat api tekad yang menyala di mata gadis itu. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian dalam labirin ini.
🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰 😍