Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kontrakan kembali sunyi. Sangat sunyi. Omar membereskan sisa-sisa acara tahlilan. Ia mengangkat kursi, melipat karpet, hingga menyusun piring kotor. Setelah semuanya selesai, ia menghampiri Syakil yang sejak tadi duduk diam di ruang tengah, punggungnya bersandar pada dinding, sementara kepalanya tertunduk.
“Tuan,” ujar Omar pelan. “Saya akan pergi sebentar. Petugas KUA memberitahu saya bahwa surat pernikahan Anda dengan nyonya Arsy sudah jadi dan bisa diambil jam sepuluh malam.”
Syakil mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.
“Pergilah.”
Namun sebelum benar-benar melangkah pergi, Omar sempat menoleh ke arah pintu kamar Arsy.
“Kalau tuan ada butuh apa-apa, segera hubungi saya.” pinta Omar yang membuat Syakil mengangguk lagi.
Malam semakin larut. Lampu ruang tengah dimatikan. Syakil masuk ke kamar Arsy, membawa sedikit makanan dan segelas air hangat untuk Arsy. Ia duduk di tepi ranjang, dan menatap wajah istrinya lama sekali. Wajah istrinya itu tampak begitu rapuh saat tertidur. Tanpa sadar, Syakil merebahkan diri di sisi Arsy, memiringkan tubuhnya agar tidak mengganggu. Lengannya terulur di tubuh Arsy, membentuk pelukan pelindung di sekitar tubuh Arsy. Syakil tidak berniat tidur. Ia hanya ingin memastikan Arsy baik-baik saja. Namun rasa lelah yang terus mendera tubuhnya sedari tadi, tanpa sadar membuat Syakil tertidur.
Tengah malam berlalu dengan pelan. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul dua dini hari ketika Arsy akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali. Kelopak matanya bergetar pelan, lalu terbuka perlahan. Pandangannya buram. Kepalanya terasa berat, seperti habis menangis semalaman tanpa henti. Ia mengerjap pelan dan hal pertama yang ia sadari adalah kehangatan.
Lengannya terasa terbungkus sesuatu yang hangat dan kokoh. Napas seseorang menghembus pelan di dekat ubun-ubunnya. Aroma yang asing tapi menenangkan memenuhi inderanya. Arsy menelan ludah.
Ia mengangkat kepala sedikit, dan di sanalah ia melihat Syakil. Laki-laki itu tertidur pulas di sampingnya, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan saat terjaga. Alisnya yang biasanya terlihat tegas kini tampak lebih rileks. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur. Lengannya melingkar di tubuh Arsy, seolah secara naluriah melindunginya dari apa pun yang mungkin datang.
Arsy membeku. Jantungnya berdetak tak beraturan. Ia menatap wajah Syakil cukup lama. Terlalu lama hingga ia merasakan perasaan asing merayap di dadanya—bukan nyaman, bukan juga takut. Lebih seperti bingung, sesak, dan bersalah dalam waktu bersamaan.
Pelan-pelan, Arsy menggeser tubuhnya, berusaha keluar dari pelukan itu tanpa membangunkan Syakil. Gerakannya hati-hati, nyaris tak bersuara. Ia berhasil duduk di tepi ranjang dan menarik napas dalam-dalam. Kepalanya langsung menunduk dan membuat
air matanya jatuh lagi. Tangisnya tertahan, tapi dadanya berguncang hebat. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan suaranya agar tidak keluar. Bahunya bergetar.
Ayahnya sudah tiada. Dan sekarang ia terbangun di pelukan seorang laki-laki yang secara sah adalah suaminya, tapi tidak pernah ia cintai. Tidak pernah ia minta. Tidak pernah juga ia bayangkan akan ada dalam hidupnya dengan cara seperti ini. Arsy berdiri perlahan. Kakinya masih lemah, tapi tekadnya lebih kuat dari rasa sakit itu. Ia melirik Syakil sekali lagi. Laki-laki itu masih tertidur dan sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.
“Maafkan aku Syakil, aku tidak bisa melanjutkan hidupku dengan menjadi istrimu. Aku tidak mau terus membuatmu terbebani dengan kehadiranku.”
Ia melangkah keluar kamar dan mengambil tas berukuran besar dari lemari untuk memasukkan beberapa barang seadanya. Tangan Arsy terlihat gemetar saat ia mengambil ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada yang ia hubungi. Ia hanya ingin pergi. Bukan karena benci. Bukan juga karena marah. Tapi karena ia merasa tidak pantas untuk hidup berdampingan dengan Syakil.
Syakil terlalu baik dan sudah banyak berkorban untuk seseorang yang bahkan belum bisa membalasnya dengan apa pun selain beban.
Arsy membuka pintu kontrakan perlahan dan membuat udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk. Ia melangkah keluar, dan menutup pintu kontrakannya tanpa suara. Air matanya jatuh lagi saat ia menuruni anak tangga kecil di depan kontrakan. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, sebuah suara membuat langkahnya terhenti.
“Nyonya?”
Arsy terperanjat. Ia menoleh cepat, dan mendapati Omar berdiri beberapa meter darinya. Laki-laki itu tampak baru saja turun dari mobilnya, dengan jaketnya yang masih tergantung di lengannya. Wajah Omar berubah tegang saat melihat tas besar di tangan Arsy.
“Nyonya Arsy,” katanya pelan tapi tajam. “Mau ke mana jam segini?”
Arsy menggenggam tali tasnya dengan erat.
“Aku… aku mau pergi,” jawabnya lirih. “Tolong jangan bilang hal ini ke Syakil.”
Omar terdiam.
“Pergi?” ulang Omar dengan suaranya yang tertahan. “Pergi ke mana?”
“Ke mana saja,” Arsy menunduk. “Yang penting bukan di sini.” pinta Arsy yang membuat Omar melangkah mendekat.
“Nyonya, tidak boleh pergi dari sini ” katanya tegas. “Saya mohon tolong nyonya masuk kembali.”
Arsy menggeleng.
“Saya nggak bisa,” suaranya mulai bergetar. “Saya nggak mau jadi beban dan merusak hidup Syakil.”
“Nyonya—”
“Tolong!” Arsy menatap Omar dengan matanya yang basah. “Tolong biarkan saya pergi. Ini bukan hidup yang saya inginkan.”
Omar menghela napas panjang.
“Kalau Nyonya pergi sekarang,” ucapnya perlahan, “semua yang sudah Tuan Syakil lakukan untuk nyonya akan sia-sia.” pinta Omar yang membuat langkah Arsy terhenti.
“Apa maksudmu?” tanyanya pelan.
Omar menatap Arsy dalam-dalam. Ada emosi yang selama ini ia tahan.
“Apa nyonya tahu,” katanya pelan namun penuh tekanan, “Tuan Syakil hampir tidak tidur sejak ia menginjakkan kakinya ke Indonesia?”
Arsy terdiam.
"Sejak ia memutuskan pergi ke Indonesia, yang ada dalam pikiran tuan Syakil hanya nyonya. Tuan Syakil benar benar sangat mencintai anda nyonya, dia mencintai nyonya sejak nyonya dan beliau masih duduk di bangku SMA. Namun tuan Syakil memilih untuk tidak mengatakannya kepada nyonya karena saat itu dia tidak memiliki apa apa untuk bisa diberikan kepada nyonya. Karena itulah tuan akhirnya memilih untuk ikut dengan kedua orang tuanya pindah ke Kairo untuk membangun bisnis. Tidak pernah sedetikpun bagi tuan untuk tidak mengingat nyonya Arsy. Bahkan setelah ia tahu kalau nyonya disakiti oleh pak Radit, tuan bahkan secara khusus membeli rumah sakit tempat pak Radit bekerja dan mengatasnamakan rumah sakit tersebut menjadi milik nyonya hanya agar nyonya bisa membalas rasa sakit yang diberikan oleh pak Radit kepada nyonya. Apa setelah mengetahui semua ini, nyonya tega meninggalkan tuan Syakil yang jelas-jelas sangat tulus mencintai anda?!" Pinta Omar dengan menggebu-gebu dan membuat Arsy terdiam. Ia tak menyangka bahwa Syakil akan melakukan hal sebesar itu untuk dirinya.
"Nyonya, saya akui mungkin sekarang nyonya tidak mencintai tuan Syakil, tapi nyonya harus memberikan tuan Syakil satu kesempatan untuk bisa membuktikan kepada nyonya bahwa cintanya benar benar tulus kepada nyonya. Saya yakin, suatu saat nanti cinta itu akan hadir di dalam hati nyonya untuk tuan Syakil."