Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah baru
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama mansion Ardiansyah yang tebal, menciptakan garis-garis terang yang jatuh di atas lantai marmer. Suasana kamar terasa tenang, seolah waktu berhenti berputar untuk memberi ruang bagi dua insan yang baru saja melewati malam paling krusial dalam hidup mereka.
Di atas tempat tidur berukuran king size dengan seprai sutra berwarna maroon, Gia perlahan membuka matanya. Rasa hangat dan berat yang familiar terasa di pinggangnya. Ia tersadar sepenuhnya saat merasakan dada bidang yang kokoh menempel erat di punggungnya. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam,.keintiman, kelembutan, dan penyerahan diri yang utuh, menerpa pikirannya, membuat rona merah seketika menjalar dari leher hingga ke pipinya.
Gia menahan napas sejenak, takut gerakan sekecil apa pun akan membangunkan pria di belakangnya. Namun, napas berat yang teratur menunjukkan bahwa Ares masih tertidur pulas.
Perlahan, Gia mencoba membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan diri dari dekapan Ares.
Saat wajahnya kini berhadapan dengan dada bidang Ares, Gia terpaku. Ia bisa melihat garis rahang Ares yang tegas namun kini terlihat rileks. Tubuh Ares yang gagah perkasa, yang sering ia lihat terbalut setelan jas formal, kini terasa sangat nyata dan intim.
Gia merasa malu-malu luar biasa. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Ares, menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan aroma sabun yang khas. Jantungnya berdebar kencang, perpaduan antara rasa malu, kebahagiaan, dan rasa takut akan perubahan apa yang menantinya setelah malam pertama mereka.
Ares menggeliat pelan, lengannya yang kekar semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Gia, menariknya lebih dekat hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Gia bisa merasakan detak jantung Ares yang stabil dan menenangkan.
"Hmm... pagi kecil" suara Ares serak dan berat khas bangun tidur, terdengar sangat seksi di telinga Gia.
Gia semakin menyembunyikan wajahnya di dada Ares, suaranya teredam.
"Pa-pagi, Mas..."
Ares tertawa pelan, getaran suaranya terasa hingga ke dada Gia. Ia menggunakan jari-jarinya untuk mengangkat dagu Gia, memaksa istrinya menatap matanya. Tatapan Ares tidak lagi sedingin es seperti biasanya, kini tatapan itu penuh dengan kelembutan, kepemilikan, dan kekaguman.
"Apa Mas menyakitimu semalam?"
Gia menyembunyikan wajahnya, kenapa Ares harus menanyakan hal itu lada Gia. Itu sungguh sangat memalukan baginya.
"Kenapa malu? Hmm? Padahal semalam kamu tidak sepemalu ini" Goda Ares dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan.
Wajah Gia semakin memerah mendengar godaan Ares. Ia memukul dada Ares pelan, membuat tawa suaminya semakin keras.
"Mas! Jangan bahas semalam!"
Ares membawa tubuh Gia ke atas tubuhnya, menatap wajah istrinya yang rona merahnya belum hilang.
"Semalam adalah malam terbaik dalam hidup Mas, Gia. Terima kasih karena sudah memberikan dirimu sepenuhnya pada Mas"
Gia terpaku mendengar ucapan tulus Ares. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum bahagianya di bahu Ares.
"Saya juga senang, Mas. Semuanya terasa sangat indah"
Ares mencium puncak kepala Gia, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang. Pagi itu, tidak ada kata formalitas, tidak ada kontrak pernikahan, tidak ada batasan. Hanya ada Ares dan Gia, dua manusia yang akhirnya menemukan rumah di dalam dekapan satu sama lain.
Setelah sarapan romantis di kamar, Ares memutuskan untuk mengambil cuti setengah hari demi menemani Gia. Mereka berada di ruang keluarga, duduk di sofa panjang. Ares sedang membaca dokumen kantor, sementara Gia sedang sibuk dengan tablet grafisnya, mencoba membuat sketsa baru untuk proyek kolaborasinya.
Ares sesekali menatap Gia dengan tatapan posesif yang lembut, memastikan istrinya tidak terlalu lelah. Pagi itu terasa begitu sempurna, begitu damai.
Namun, kedamaian itu mendadak pecah.
Ponsel Ares yang diletakkan di meja kopi bergetar pelan. Ares meraih ponselnya dengan enggan, mencoba tidak membangunkan suasana santai mereka. Saat membuka ponsel, dia mendapati sebuah berita yang menyebar di media sosial
Ares menatap layar ponselnya, dan darahnya mendadak dingin. Wajahnya yang tadi lembut mendadak berubah menjadi sedingin es, dipenuhi oleh kepanikan yang tersembunyi.
"Ada apa Mas?" Gia menyadari perubahan wajah Ares.
"Ibu tirimu sepertinya masih belum puas. Dia mulai menyebarkan berita tentang statusmu ke media!"
Wajah bahagia Gia lenyap seketika. Dia tau kalau label anak haram akan terus melekat pada dirinya dan itu yang ia takutkan. Untuk sementara Gia sempat terlena karena perlindungan dari Ares. Namun Gia lupa kalau dia tidak akan bisa membungkam mulut orang-orang di luar sana untuk tidak membicarakan tentang dirinya.
"Sayang, kamu tenang saja. Mas akan mengurus semua ini! Mas akan pastikan kalian ini Ibu tirimu tidak akan berani berulah lagi!"
"Tidak papa Mas. Gia tidak akan pernah bisa menyembunyikan statusku selamanya. Gia tidak masalah sama sekali. Tapi yang Gia takutkan bagaimana dengan reputasi Mas dan Mama" Gia tak terlalu memikirkan tentang dirinya yang akan dihujat oleh banyak orang, toh dari dulu dia sudah terbiasa.
Dia hanya takut kalau dirinya akan menyusahkan Ares dan Nyonya besar karena menyusahkan mereka padahal Gia sudah dilindungi dan dirawat dengan begitu baik.
"Jangan pikirkan tentang itu. Semuanya biar Mas yang urus!" Ares menarik Gia dalam dekapannya. Ares merasa Gia tidak pernah bisa hidup dengan tenang tanpa gangguan dari lara parasit itu.
semoga ada bonchap nya.
selamat Gia dan Ares