Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Lonceng Pembunuh Iblis
Kolam Sumsum Darah yang tadinya kental dan merah mendidih, kini telah berubah menjadi genangan air bening yang tawar.
Semua esensi kehidupan kuno, Qi Darah yang tak ternilai, dan Niat Pembunuhan yang terkandung di dalamnya telah tersedot habis. Di tengah kolam yang kini dangkal itu, Lin Xuan membuka matanya.
Sepasang pupil hitamnya memancarkan kilau merah pekat selama beberapa detik sebelum kembali meredup. Ia berdiri perlahan. Air bening menetes dari otot-ototnya yang kini terlihat sangat proporsional tidak terlalu besar, namun memancarkan kepadatan yang tidak masuk akal.
Di bawah kulit pucatnya, kerangka tubuhnya kini seutuhnya berwarna hitam legam dengan kilau metalik yang samar. Tulang Besi Hitam miliknya telah mencapai tahap Puncak, hanya selangkah lagi menuju tahap Tulang Tembaga Darah. Luka-luka di lengan kanannya akibat Pedang Kilat Hantu telah sembuh tanpa bekas.
Lin Xuan melangkah keluar dari kolam, mengenakan kembali jubah hitamnya.
"Dantian mu sudah stabil," suara Gu Tianxie terdengar puas di kepalanya. Tentu saja, hantu tua itu menyembunyikan fakta bahwa retakan di dasar pilar Lin Xuan hanya dilapisi oleh segel darah, bukan benar-benar disembuhkan. "Dengan fisikmu sekarang, kau bisa menghancurkan senjata artefak tingkat rendah hanya dengan tangan kosong."
Bai Qing'er, yang sejak tadi menunggu dengan sabar sambil bersandar di gerbang batu, tersenyum di balik cadarnya.
"Kau meminum habis kolam yang membunuh ratusan ahli di masa lalu tanpa meledak," puji Bai Qing'er. Ia melemparkan sebuah token kayu ke arah Lin Xuan. "Ini Token Transmisi Suara milikku. Simpan baik-baik. Jika aku butuh pisau yang tajam, aku akan mencarimu."
Lin Xuan menangkap token itu. Terukir pola bunga lili darah di permukaannya. Ia menyimpannya ke dalam kantung tanpa banyak ekspresi.
"Kau lebih baik berdoa agar tidak menjadi target pisauku di pertemuan berikutnya," balas Lin Xuan dingin.
Bai Qing'er tertawa renyah, tawanya bergema di lorong makam yang sunyi. "Aku menantikannya, Mu Chen."
Dengan formasi ilusi yang kembali ditutup rapi oleh Bai Qing'er, keduanya keluar dari Hutan Darah Hitam tepat saat garis fajar mulai membelah cakrawala Benua Timur. Mereka berpisah tanpa kata, kembali ke bayang-bayang masing-masing.
Begitu Lin Xuan melangkah masuk ke dalam Gua Nomor 99 dan baru saja duduk di atas ranjang batunya, suara memekakkan telinga membelah keheningan pagi.
TENGGG! TENGGG! TENGGG!
Bukan lonceng perunggu biasa yang berbunyi. Suara ini sangat berat, dipenuhi oleh Niat Membunuh yang menekan dada. Gelombang suaranya membawa fluktuasi Qi yang membuat darah setiap kultivator di bawah ranah Core Formation berdesir tidak nyaman.
"Lonceng Pembunuh Iblis," gumam Gu Tianxie, nadanya berubah serius. "Sekte ini sedang membunyikan alarm tertinggi. Seseorang menyadari panen malammu."
Sebuah suara yang diperkuat oleh Qi menyapu seluruh Puncak Awan Dalam.
"Seluruh Murid Dalam, dari Lapisan 1 hingga Puncak Foundation Establishment, berkumpul di Alun-Alun Balai Hukuman sekarang juga! Siapa pun yang terlambat setengah batang dupa, akan dianggap sebagai pemberontak sekte dan dieksekusi di tempat!"
Itu adalah suara Tetua Mo.
Lin Xuan bangkit. Wajahnya sedatar biasanya. "Gu, segel semua sisa aura Sumsum Darah dan Niat Membunuh ke dalam cincin. Sisakan hanya aura meridian yang cacat."
"Sudah kulakukan sejak kau keluar dari Hutan Darah Hitam," jawab Gu. "Tetaplah menunduk. Tetua bermarga Mo itu memiliki mata seperti elang pemburu."
Alun-Alun Balai Hukuman terbuat dari batu obsidian hitam. Saat Lin Xuan tiba, ratusan Murid Dalam telah berbaris rapi. Udara dipenuhi ketegangan. Tidak ada yang berani berbisik.
Di atas mimbar batu, Tetua Mo berdiri dengan jubah hitamnya yang berkibar tertiup angin. Di belakangnya, berjajar belasan algojo sekte bertopeng besi, memegang pedang pemenggal kepala yang memancarkan aura dingin.
Di sisi kanan mimbar, Wang Long duduk di sebuah kursi kayu, wajahnya pucat namun matanya menatap setiap murid dengan liar.
"Enam Murid Dalam telah tewas dalam satu bulan terakhir," suara Tetua Mo memecah keheningan, dingin dan tanpa ampun. "Termasuk Ma Kang, keponakan dari Tetua Wang. Mayat mereka ditemukan dalam kondisi kering kerontang. Energi roh dan Qi Darah mereka disedot habis."
Kepanikan menyebar di barisan murid. "Disedot habis? Itu... itu Seni Iblis!"
"Benar," Tetua Mo menyapu pandangannya ke arah kerumunan. "Hantu Malam yang kalian bicarakan bukanlah penyusup dari luar. Pelindung Formasi Sekte tidak pernah ditembus. Sang pembunuh... ada di antara kalian."
Ribuan mata saling menatap dengan curiga. Lin Xuan berdiri di barisan belakang, mengatur napasnya agar tidak terlalu lambat atau terlalu cepat, meniru ritme murid Lapisan 6 yang ketakutan.
Tetua Mo mengangkat tangan kanannya. Sebuah cermin perunggu berbentuk segi delapan (Ba Gua) melayang di udara, memancarkan cahaya merah darah.
"Ini adalah Cermin Pelacak Darah (Blood-Tracing Mirror). Artefak Tingkat Bumi," Tetua Mo menjelaskan. "Cermin ini akan bereaksi terhadap siapa pun yang memiliki aura Qi Darah milik orang lain di dalam Dantian-nya, atau menyembunyikan Niat Pembunuhan yang tidak wajar."
Wang Long berdiri, menunjuk ke arah barisan. "Mulai dari dia! Mu Chen! Periksa dia dulu! Gua miliknya berada paling dekat dengan lokasi hilangnya Ma Kang!"
Ratusan pasang mata langsung tertuju pada Lin Xuan yang berdiri tenang di sudut. Zhao Yun, yang kini berdiri di barisan depan Murid Langsung, menatap Lin Xuan dengan cemas, namun ia tidak berani menyela di depan Tetua Mo.
Tetua Mo melirik Lin Xuan. Ia mengarahkan Cermin Pelacak Darah ke arah pemuda bertopi caping itu.
Sebuah pilar cahaya merah menyorot tubuh Lin Xuan.
Di dalam Dantian Lin Xuan, Gu Tianxie memutar kekuatan Cincin Samsara Darah hingga batas maksimal, menelan setiap tetes aura pembunuhan dan menyisakan ilusi sembilan pilar yang seolah-olah hancur berantakan akibat meridian yang putus.
Satu detik. Dua detik. Lima detik berlalu.
Cermin itu tetap diam. Cahayanya tidak berkedip, tidak pula berubah warna. Sama sekali tidak ada reaksi.
Tetua Mo menurunkan cerminnya. "Aura darahnya murni miliknya sendiri. Dan meridian di lengan kanannya sangat kacau, masih belum pulih dari efek serangan balik teknik pedang di turnamen lalu. Dia bahkan tidak memiliki cukup Qi yang stabil untuk membunuh seekor binatang buas Tingkat 1, apalagi kultivator Foundation Establishment."
Wang Long menggertakkan gigi, tidak terima. "Tapi Tetua—!"
"Duduk, Wang Long!" bentak Tetua Mo. "Cermin ini adalah warisan sekte. Apakah kau meragukan keakuratannya?"
Wang Long terdiam, duduk kembali dengan kepalan tangan yang gemetar.
Lin Xuan menunduk dengan hormat. "Terima kasih atas keadilan Anda, Tetua Mo."
Pemeriksaan dilanjutkan. Cahaya merah menyapu barisan murid demi murid. Beberapa murid gemetar hingga mengompol, namun cermin itu tetap diam.
Hingga akhirnya, cahaya merah itu menyorot seorang murid bertubuh kurus di barisan tengah.
WUUUNG!
Cermin Pelacak Darah tiba-tiba bergetar hebat. Cahayanya berubah menjadi hitam pekat dan memancarkan suara jeritan roh yang tertahan.
Wajah murid kurus itu langsung pucat pasi. "T-Tidak! Itu bukan aku! Ini salah paham!"
Dua algojo bertopeng seketika melesat dan menendang lipatan lutut murid itu hingga ia berlutut keras di lantai obsidian.
Tetua Mo melayang turun, menatap murid yang gemetar itu. "Li Ming. Kultivasi Puncak Lapisan 8. Dari kantung penyimpananmu, memancar sisa-sisa aura Yin yang sangat kental, bercampur dengan aura keputusasaan Ma Kang."
"Tetua! Hamba bersumpah! Hamba hanya memungutnya!" Li Ming menangis histeris. "Dua malam lalu, hamba berjalan di tebing utara dan menemukan kantung penyimpanan Ma Kang tergeletak begitu saja! Hamba tidak membunuhnya! Hamba hanya mengambil Batu Roh di dalamnya!"
Lin Xuan yang berada di belakang barisan, matanya sedikit menyipit.
Begitu rupanya, batin Lin Xuan. Saat ia menyiramkan racun penghancur mayat pada tubuh Ma Kang, ia mengambil kantung penyimpanan utamanya, tetapi dengan sengaja menendang jatuh kantung kecil milik Ma Kang ke semak-semak sebagai jebakan jika ada yang melacak jejak Qi. Li Ming yang serakah memungut kantung yang masih menempel dengan sisa aura pembunuhan Lin Xuan.
"Kau memungut kantung milik murid yang dibunuh oleh pembantai iblis, dan tidak melaporkannya?" Suara Tetua Mo sangat dingin, tanpa belas kasihan. "Keserakahanmu menodai Dao mu. Kau telah menyerap Batu Roh yang berlumuran aura darah kotor. Cermin ini tidak pernah berbohong."
"Tidak! Tolong—"
CRASH!
Tetua Mo bahkan tidak menggerakkan jarinya. Sebuah pedang tak kasat mata yang terbentuk dari Qi murni melesat dan memenggal kepala Li Ming dalam sekejap. Darah menyembur mewarnai lantai hitam.
Jeritan kengerian tertahan di tenggorokan para murid.
"Kasus ditutup," Tetua Mo mengumumkan dengan suara yang menggema ke seluruh puncak. "Li Ming adalah komplotan Hantu Malam, atau pelakunya sendiri yang menutupi jejaknya. Jika ada yang berani mempraktikkan Seni Iblis atau menjarah mayat sesama murid di sekte ini lagi, pedangku akan memotong jiwa kalian sebelum kalian bisa bereinkarnasi!"
Para murid membungkuk serentak, berseru patuh, "Kami mengerti, Tetua!"
Pembubaran dilakukan dalam keheningan yang mencekam. Wang Long pergi dengan wajah tidak puas, menendang bebatuan di jalannya.
Lin Xuan memutar tubuhnya untuk kembali ke guanya. Operasi malamnya aman. Cincin Samsara Darah benar-benar pusaka yang menentang surga, mampu menipu artefak pelacak tingkat tinggi sekalipun.
Namun, saat ia berbalik, ia merasakan sebuah tatapan tajam menembus punggungnya.
Lin Xuan menoleh sedikit.
Di atas mimbar, Tetua Mo tidak melihat ke arah mayat Li Ming. Mata elang sang Ketua Balai Hukuman itu sedang menatap lurus ke arah punggung Lin Xuan. Tidak ada kemarahan di matanya, melainkan sebuah keraguan yang sangat dalam.
Tetua Mo tahu, Li Ming terlalu lemah untuk membunuh Ma Kang tanpa perlawanan. Li Ming hanyalah kambing hitam. Tapi karena cermin tidak bereaksi pada yang lain, Tetua Mo harus mengorbankan Li Ming untuk menenangkan kepanikan sekte.
Dia mencurigaiku, batin Lin Xuan, Niat Membunuhnya bergejolak sesaat sebelum ditekan kembali. Dia tahu Li Ming bukan pelakunya.
Lin Xuan mengangguk hormat dari kejauhan ke arah Tetua Mo, lalu berjalan menembus kabut pagi, kembali menjadi murid cacat yang tidak berarti.