Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja Yang Tak Pernah Sembuh
Senja selalu datang dengan warna yang sama: jingga, hangat, dan menipu.
Ia membuat segalanya tampak baik-baik saja, seolah dunia tidak pernah benar-benar melukai siapa pun.
Aku duduk di bangku kayu kafe kecil di tepi pantai, menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik garis laut. Angin membawa aroma asin, bercampur dengan suara ombak yang memecah pelan—seperti detak jantung yang berusaha tetap hidup.
Sudah lima tahun sejak orang tuaku pergi.
Bukan pergi seperti orang yang pamit, tapi pergi seperti senja: perlahan, tanpa suara, dan tidak pernah kembali.
Aku belajar satu hal sejak itu:
kehilangan tidak selalu datang dengan teriakan.
Kadang ia datang dalam diam, lalu tinggal selamanya.
“Masih suka datang jam segini?”
Suara itu membuatku menoleh.
Seorang perempuan berdiri di samping mejaku. Rambutnya tergerai, matanya tenang, tapi ada sesuatu di sana—sesuatu yang tidak bisa kusebut dengan kata selain luka yang rapi.
“Nara?” kataku pelan.
Dia tersenyum kecil. “Kamu masih ingat namaku.”
“Aku nggak pernah lupa.”
Itu bohong.
Aku sering lupa banyak hal akhir-akhir ini, tapi wajahnya… selalu muncul di antara ingatan yang paling sulit kuhindari.
Dia duduk di seberangku tanpa diminta. Senja memantulkan cahaya di matanya, membuatnya terlihat seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar bahagia, tapi juga tidak pernah sepenuhnya hancur.
“Kamu kelihatan lebih kurus,” katanya.
“Kamu kelihatan lebih kuat.”
Kami saling diam setelah itu.
Dua orang asing yang terlalu banyak tahu tentang satu sama lain.
Aku mengenalnya dua tahun lalu.
Di waktu yang salah.
Saat aku masih belajar hidup tanpa orang tua,
dan dia baru saja ditinggalkan oleh seseorang yang ia kira akan menjadi rumah.
“Aku pikir kamu udah pindah dari kota ini,” ucapnya.
“Aku sempat. Tapi ternyata, sejauh apa pun aku pergi, kepalaku tetap tertinggal di sini.”
“Di kota ini?”
“Di masa lalu.”
Dia tertawa kecil, tapi tawanya kosong. “Aku ngerti.”
Nara menatap laut, lalu berkata dengan suara hampir seperti bisikan,
“Aku dulu mikir kehilangan pacar itu yang paling sakit. Ternyata… kehilangan orang tua jauh lebih sepi ya.”
Aku mengangguk. “Pacar pergi, masih bisa digantikan. Orang tua… nggak ada versi keduanya.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Senja semakin gelap, dan lampu-lampu kafe mulai menyala satu per satu.
“Aku masih sering mimpiin dia,” kata Nara tiba-tiba.
“Dia datang, bilang maaf, terus pergi lagi. Bangun-bangun aku sadar… ternyata yang hilang bukan dia, tapi aku yang dulu.”
Aku menatap tanganku sendiri.
Tanganku yang sudah lupa rasanya digenggam tanpa rasa takut.
“Aku juga sering mimpi orang tuaku masih hidup,” kataku.
“Terus bangun dengan perasaan bersalah karena ternyata… aku baik-baik saja tanpa mereka.”
Nara menoleh. “Itu bukan salah kamu.”
“Tapi rasanya tetap salah.”
Kami terdiam lagi.
Dua orang yang sama-sama rusak, duduk di bawah senja yang pura-pura indah.
“Aneh ya,” kata Nara pelan,
“kita ketemu di waktu yang sama-sama hancur.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, aku sadar:
tatapan itu bukan tatapan seseorang yang ingin dicintai,
tapi seseorang yang ingin dimengerti.
“Mungkin,” jawabku,
“bukan untuk saling menyembuhkan… tapi untuk saling menemani saat belum sembuh.”
Nara tersenyum. Kali ini berbeda.
Bukan senyum bahagia, tapi senyum orang yang akhirnya berhenti sendirian.
Di balik cahaya senja,
aku sadar satu hal yang belum pernah kupikirkan sebelumnya:
mungkin cinta tidak selalu datang untuk membuat kita utuh,
tapi untuk duduk di samping kita saat kita sedang paling retak.
Dan mungkin…
itulah sisi tergelap dari senja.
Bukan karena ia gelap,
tapi karena ia mengajarkan bahwa tidak semua yang indah benar-benar menyelamatkan.